
Orang-orang itu berusaha berdiri dan mengangguk. Malam ini, rumah sakit dan bengkel motor sangat sibuk. Orang di belakangnya tentu adalah Byakta, pemuda waktu itu sudah tidak berani lagi.
Byakta mengeluarkan uang sendiri untuk memperbaiki motor mereka. Setelah menerima kata-kata dari Toro, dia tentu takut. Tapi dendam dalam hatinya semakin kuat, kalau tidak membunuh Toro, dia tidak bisa tidur dengan tenang. Lalu dia mendengar seorang anak muda berkata, “Kak Byakta, aku dengar dari teman-teman, kali ini dia yang duluan menyerang kita, kita bisa lapor polisi!”
Byakta tiba-tiba mendapatkan ide, dengan koneksinya, walaupun tidak mungkin mengurung Toro selamanya di penjara, tapi untuk 2 sampai 3 tahun tentu tidak masalah. Dia berkata, “Baik, kamu lapor polisi sekarang. Aku akan menggunakan koneksiku. Kita lihat seberapa hebat dia, apakah bisa lebih hebat dari polisi!”
Toro tentu tidak memikirkan hal ini. Belum sempat tidur, mobil polisi sudah sampai depan pintu. Tanpa basa basi, polisi langsung memborgolnya dan membawa dia ke kantor polisi.
Kebetulan, seluruh kota sedang ditindak tegas. Orang yang menginterogasi Toro adalah seorang petugas yang bisa menghajar belasan orang, tentunya adalah pengawas tingkat dua dari markas besar. Dia juga seorang polisi wanita yang cantik, berumur sekitar 24 tahun-an. Dari tampang maupun aura sampai tubuhnya, semuanya terlihat sangat sempurna. Tidak disangka bisa mencapai semua ini dalam umur yang masih muda, hal ini pasti membuat orang-orang seumuran merasa iri.
Polisi wanita itu duduk sambil meletakkan topi polisinya ke meja. Dia mengibaskan rambut pendeknya, gerakannya membuat kedua asisten pria di sampingnya tertegun. Dia bersikap biasa dan membuka dokumennya, sikapnya termasuk tenang.
Setelah mendapatkan informasi dasar dari Toro, dia bertanya, “Apakah kamu yang melukai 13 orang di depan salon kecantikan dan juga merusak 5 motor?”
Toro menjawab dengan jujur, “Iya, itu aku.”
“Jelaskan alasannya!”
Toro berkata, “Aku adalah satpam, mereka mencari masalah, jadi aku menahan mereka.”
__ADS_1
Polisi pria di samping langsung berkata, “Sekarang 13 orang itu melaporkanmu melukai mereka, apa yang ingin kamu katakan? Kalau tidak ada alasan lain, cepat tanda tangan!”
Toro tertawa sampai bergetar, dia berkata, “Kejadian yang begitu jelas, kalian masih bilang aku yang melukai mereka? Kenapa aku harus tanda tangan?”
Polisi pria itu hanya tersenyum pahit dalam hati. Hal ini memang sangat jelas, dia juga tahu 13 orang itu bukan warga baik, mereka punya rekam kasus. Apalagi mereka 13 orang dihajar oleh 1 orang dan malah lapor polisi, dia juga baru pertama kali melihatnya.
Kasus seperti ini kalau dulu, 13 orang geng motor itu pasti akan menghindar dari polisi. Tapi kasus ini mendapatkan tekanan dari luar, dia dengar salah satu orangnya mempunyai hubungan dengan kepala polisi di daerah kota utara. Apalagi sekarang sedang di masa krisis, mereka terpaksa menangkap pelakunya dan memprosesnya secara hukum.
Menyuruh Toro untuk menceritakan kejadiannya secara detail, tapi di lapangan juga tidak ada saksi sama sekali. Walaupun ada, juga tidak akan keluar menjadi saksi. Dari rekaman cctv, memang Toro yang menyerang duluan, tapi senjata yang dibawa pihak lawan diabaikan. Toro mendengus dingin, “Petuas Polisi semuanya pasti bijaksana, kalian berkata sesuai fakta. Aku tidak punya alasan lagi.”
Polisi wanita itu berkata, “Semua bukti mengarah kepadamu, kalau kamu tidak mempunyai bukti yang kuat, kamu hanya bisa mengakuinya!”
Toro tentu tidak masalah, lagipula juga susah dijelaskan, dia berkata, “Sama saja menghabiskan waktu di manapun. Kebetulan aku mendapatkan hukuman ini, jadi aku bisa hidup tenang beberapa tahun di penjara.”
Ucapan dia terdengar lembut, dia juga sudah mengartikan bahwa ada kejanggalan di kejadian ini, dia juga mengingatkan Toro untuk jangan tanda tangan. Semuanya masih ada kesempatan untuk merubah keadaannya.
Polisi wanita melihat datanya dan berkata, “13 orang ini mengalami patah tulang di tempat yang berbeda. Ada yang disebabkan oleh tinju, ada juga karena pukulan barang keras. Sekarang yang tidak sadar masih ada 5 orang……” Setelah menjelaskan sekilas, dia melihat ke Toro dan bertanya, “Kamu pernah menjadi tentara? Atau pernah berlatih teknik bela diri?”
Toro menggelengkan kepalanya dan berkata, “Tidak.”
__ADS_1
Polisi di sampingnya memberikan sebuah data, polisi wanitanya berkata, “Oh, ternyata kamu adalah anak mereka. Setelah mereka meninggal, kamu hidup sendiri selama belasan tahun di Israel. Selama itu data tentangmu kosong semua, apakah kamu bisa menjelaskan apa yang kamu lakukan?”
Toro berkata, “Seperti yatim piatu pada umumnya, melakukan apapun yang bisa dilakukan.”
Polisi wanita menghela nafas secara diam-diam. Faktanya, insiden ini adalah tugas yang indah bagi polisi manapun. Lagipula, memecahkan kasus cedera yang disengaja dan memiliki bukti kuat ini akan sangat membantunya di masa depan, tetapi dia tidak mau untuk membiarkan siapapun yang tidak bersalah menjadi batu loncatannya. Setelah meminta beberapa menit lagi, semua berakhir dengan Toro menolak untuk menandatangani.
Di depan kantor polisi, Kirania turun dari mobil bersama pengacara. Kebetulan dia bertemu dengan Lalita yang baru datang. Ketika mendengarkan laporan dari bawahannya, tanpa sengaja bawahannya menceritakan tentang Toro, sehingga dia langsung membawa mobil ke sini.
Lalita juga melihat Kirania, dia lalu mendekat dan bertanya, “Bagaimana dengan Toro?”
Kirania juga kaget, orang ini ternyata bisa mendapatkan informasi secepat itu, apalagi dia datang sendiri demi Toro. Tanpa sadar dia merasa sedikit cemburu, tapi dia tetap menjelaskannya, “Informasi Kak Lalita cepat juga, aku juga baru datang, belum tahu kondisinya.”
Lalita tersenyum dingin dan berkata, “Salah satu bawahanku melihat Toro dibawa oleh polisi. Dia langsung melaporkan kepadaku. Aku kenal Direktur Agus di sini, kemungkinan bisa membantu juga.”
Kirania mengangguk dan berkata, “Kita masuk bersama.”
Lalu, mereka langsung bertemu dengan Direktur Agus yang mereka bicarakan. Dia adalah seorang pria yang berumur 46 tahun-an, setelah mengetahui tentang kasusnya. Direktur Agus langsung tahu kejanggalan dalam kasus ini. Sekarang ada pengacara dan Lalita yang datang langsung, walaupun kepala polisi dari daerah kota utara menelponnya, dia juga tidak berani tidak menghormati Lalita.
Dia langsung menelepon ruang interogasi dan menyuruh mereka melepaskannya.
__ADS_1