
Toro tersenyum dan berkata, “Anda terlalu memuji, aku hanyalah orang biasa!” Sambil berkata, dia mendengar suara sirine dari luar, salah satu pengawal pergi melihatnya. Setelah kembali ke dalam, dia bilang Sunakim dan yang lain sudah dibawa pergi ke rumah sakit, dan orang yang pergi mengambil uang sudah kembali, dia menyuruhnya keluar untuk menghitungnya.
Kirania berdiri dan berjalan keluar untuk menghitung uang. Lalita lalu membuang rokoknya dan berkata, “Kamu punya keahlian sehebat ini, kenapa bisa berada di tempat kecil seperti ini? Kamu menyia-nyiakan kemampuanmu!”
Toro tersenyum dan berkata, “Jadi maksud kak Lalita, aku harus bagaimana?”
Lalita seperti membuat sebuah keputusan yang sulit, dia berkata, “Kalau kamu mau bergabung dengan Geng Naga Biru kami, sekarang aku berani menjamin kamu menjadi wakil Ketua Gereja aku, kedepannya di Gereja Desember pasti ada posisi untukmu. Kemungkinan besar kamu bisa bergabung ke dalam ‘Bulu Merak’.”
“Ini termasuk rahasia Geng Naga Biru kalian?”
“Betul!”
Toro berkata, “Aku tidak ingin membunuh lagi, tidak ada artinya. Tempat ini lumayan baik untukku. Kalau aku mau turun gunung lagi, Kota Intan juga tidak bisa menampungku!”
Lalu dia berkata lagi, “Mohon kak Lalita bisa merahasiakan kejadian hari ini, dan jangan biarkan bawahanmu menyebarkannya keluar juga.”
Melihat Toro yang tidak seperti bercanda, Lalita pun mengangguk. Dia berpikir dalam hati: Orang seperti ini pasti bukan orang biasa. Dia tidak pernah mendengar tentang orang ini di kota Intan, sepertinya mau merekrut Toro bukanlah hal yang mudah.
Kirania masuk dari luar dan memberikan tatapan kepada Toro. Toro tentu tahu uangnya tidak akan kurang. Setelah menerima telepon keluar, Lalita kembali dan berkata, “Aku masih ada urusan, aku akan pergi dulu, semoga kita bisa bertemu lagi!”
Toro berdiri, “Kalau begitu aku tidak mengantarmu lagi, sampai bertemu lagi!”
Toro mengunci pintu salon kecantikannya, malam ini sepertinya tidak akan ada yang datang lagi. Tunggu besok saja untuk membereskan semua ini, Kirania juga sudah mengirimkan pesan kepada karyawannya, dia memberitahu mereka untuk istirahat 3 hari, salon kecantikannya juga perlu direnovasi.
__ADS_1
Tapi ketika melihat waktu, baru jam 10 malam. Inilah saat kehidupan malam mulai ramai, Toro meregang sebentar dan berkata, “Aku sudah membantumu mendapatkan harga diri dan juga uang. Bos yang cantik, bolehkah kamu mentraktirku makan?”
Kirania mengangguk, senyumannya terlihat sedikit canggung.
Toro dari awal sudah mengintai mobil Lexus putih milik Kirania. Sekarang dia memiliki kesempatan untuk mencobanya, tapi sepanjang jalan Kirania malah sangat tenang. Mereka sampai di sebuah restoran sekitar 10 km dari tempat mereka, setelah memarkirkan mobil, mereka berjalan masuk. Setelah makanan datang, Kirania juga hanya makan beberapa suap saja. Sampai keluar dari restoran, bos cantiknya ini seperti orang bisu, tidak berbicara sama sekali.
Ketika masuk ke dalam mobil, Toro melihat ke arah Kirania yang berada di sampingnya. Sepertinya kejadian hari ini membuat dia trauma, mentalnya juga terluka. Toro lalu berkata, “Hari ini kamu tetap tinggal di salon?”
Kirania menggelengkan kepalanya, dia melepaskan sepatu dan mengangkat kakinya ke kursi mobil. Kemudian memendamkan kepalanya ke kaki, kelihatannya begitu kasihan. Kemarahan di dalam hati Toro akhirnya meledak, “Kenapa dengan kamu ini? Kalau ada masalah ceritalah, kenapa diam terus!”
“Jalan Cahaya nomor 38, antar aku pulang!”
Mendengar suaranya, Toro tidak berdaya. Tapi dia juga tidak mungkin menggunakan kekerasan agar dia menceritakannya. Toro menyalakan mobilnya dan menuju ke alamat yang diberikan.
“Siapa kamu sebenarnya? Kenapa mau mendekatiku?”
Toro sudah tahu dia akan bertanya seperti itu. Tapi juga tidak tahu bagaimana menceritakannya, dia tidak suka berbohong. Dia berkata, “Aku hanyalah orang biasa, pulang dari luar negeri ke kota yang ramai ini. Aku hanya ingin pekerjaan yang biasa, menikah dengan seorang istri yang baik, dan hidup sederhana seperti orang pada umumnya.”
“Dan terkait mendekatimu, aku tidak pernah bermaksud begitu!” Kata Toro sambil bersandar ke belakang, “Aku hanyalah pekerja yang terpuruk.”
“Bohong! Pakaian, sepatu dan jam tangan yang kamu pakai pertama kali, semuanya bukan barang biasa. Melainkan merek internasional yang terkenal, kenapa kamu terus berpura-pura. Bagaimana dengan keahlianmu itu?”
“Aku sudah bilang, aku pernah menjadi pengawal beberapa tahun di luar negeri.” Kata Toro dengan jujur, tentu ada beberapa hal yang tidak akan dia katakan, “Barang-barang itu semua aku beli dengan gajiku yang dulu.”
__ADS_1
“Sudahlah, aku sudah bosan dengan kebohonganmu. Antar aku pulang!” Kirania sama sekali tidak percaya dengan ucapan Toro.
Toro tidak tahu kenapa topik pembicaraannya menjadi begitu berat. Dia menarik nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkan dompet dari bajunya, dari dalam dompetnya dia mengeluarkan sebuah foto yang digunting dari koran. Di atasnya ada sepasang pria dan wanita, yang pria tinggi dan tampan, sedangkan sang wanita terlihat agung dan bermartabat. Seperti sedang berada di acara penerimaan hadiah.
“Lihat ini!”
Kirania mengambil dan berkata, “Apakah ini kamu?”
“Bukan, ini adalah orang tuaku!” Kata Toro sambil menyalakan sebatang rokok, tapi Kirania langsung merebutnya. Toro berkata, “Mereka adalah aktor, puluhan tahun lalu mereka meninggal di Israel.”
Kirania tiba-tiba teringat aktor terkenal yang bernama Wilson Margens dan Tiffani Baruna, mereka adalah aktor yang disukai banyak orang. Terakhir diberitakan meninggal karena kecelakaan. Hal ini menggemparkan banyak orang dan membuat banyak penggemar yang sedih.
“Bagaimana kamu hidup sendiri waktu itu?” Rasa keibuan seorang wanita mulai muncul, Kirania tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya seorang anak usia 8 tahun-an yang kehilangan kedua orang tuanya. Ketika Orang tuanya sendiri bercerai, Kirania juga harus menangis selama 7 hari.
“Hidup sebagaimana mestinya, hanya saja aku tidak sempat berbakti kepada mereka, hal ini yang membuatku menyesal!” Puluhan tahun ini, dari menderita sampai terlupakan, Toro sudah terbiasa dengan semua ini. Ada beberapa hal yang bisa berubah dengan usaha, ada beberapa juga yang harus mengikuti takdir.
Kirania menepuk bahu Toro dan berkata, “Maaf!”
“Semua sudah berlalu.” Kata Toro sambil tersenyum, dia berkata, “Semua masa laluku sangat berantakan, tidak ada gunanya kamu mengetahuinya. Aku berharap ini pertama kali kita berbicara tentang ini dan juga terakhir kalinya!”
__ADS_1