Tentara Bayaran Top Di Kota

Tentara Bayaran Top Di Kota
Kepala Daerah Chandra


__ADS_3

Toro juga pernah merasakan penghinaan seperti ini, tetapi waktu itu dia masih kecil. Tapi Tomi yang seperti ini membuat dia merasa pria ini sangat tidak bernyali. Tapi dia bukan juga menghasut siswa untuk berkelahi, hanya menyampaikan pemikirannya, tidak ada maksud yang lain.


“Sialan, apa yang mau kamu lakukan?” Alura melihat Tomi yang marah berjalan masuk ke dalam bar. Gunawan dan yang lain juga ikut ke dalam setelah ragu sejenak.


Alura melihat Tomi tidak mempedulikannya, dia merasa tidak senang. Dia berkata kepada Toro, “Kak Toro, apakah kita akan membiarkan mereka dihajar? Mungkin saja mereka akan mati!”


Toro tersenyum dan berkata, “Sebagai seorang pria, siapa yang bisa menahan diri dengan penghinaan seperti itu. Kalau diganti kamu, menerima penghinaan seperti itu dan melihat wanita sendiri di permainkan oleh orang lain, apa yang akan kamu lakukan?”


“Aku akan mengumpulkan semua teman-teman untuk membunuh orang-orang itu!” Kata Alura sambil mengangkat tinjunya. Tapi dia berkata lagi, “Tapi mereka masih siswa, mereka pasti bukan lawannya orang-orang tadi.”


“Di sini adalah pinggiran kota barat, aku dengar dari bos bahwa daerah sini akan menjadi rata dengan tanah, kepala daerah juga sedang diganti. Jadi memungkinkan untuk terjadi apapun di sini!”


“Kita lihat ke dalam!”


Saat ini kondisi bar sedang berada di puncak, bahkan ada 4 orang penari tiang yang muncul di atas panggung. Tarian yang menggoda terus berputar di atas tiang, bahkan para MC nya juga terlihat menggila. Tomi dan yang lainnya sedang mencari Elisa mereka.


Toro menarik Tomi dan berkata, “Jangan hanya semangat di depan, kalau kalian beneran berkelahi dengan mereka, aku dan gendut tidak akan membantumu, Apakah kamu sudah memikirkannya?”


Tomi ternyata mendorong Toro dan menatapnya dengan tatapan merendahkan, dia berkata, “Tidak tahu kenapa Kak Alura bisa takut dengan orang yang hanya bisa membual sepertimu. Aku bisa menyelesaikan urusanku sendiri!” Sambil berkata, dia mengambil botol bir dari atas meja, karena dia sudah menemukan tempat duduk Tengkorak dan yang lain. Tangan Tengkorak terlihat masuk ke dalam baju Elisa dan meremas dadanya dengan kuat.


Pong!


Terdengar suara botol pecah yang keras, lalu diikuti suara makian yang sangat tinggi, “Bocah sialan, bunuh mereka semua!” Kepala botak si Tengkorak penuh dengan pecahan kaca, darah segar mengalir keluar dari kepalanya. Dia berdiri dan langsung menendang Tomi, anak buahnya sudah mulai bertarung dengan Gunawan dan yang lainnya.


Lalu, 4 orang itu dikalahkan dengan cepat. Tengkorak membungkus kepalanya dengan baju, tangannya yang satu lagi mengangkat botol bir yang belum dibuka. Mereka berempat terus ditendang dan dihajar. Toro hanya bisa menggelengkan kepalanya, kalau sekarang diganti Novianto dan yang lain, situasinya pasti sudah berubah, sayang mereka masih sangat mentah.


Elisa ingin membantu Tomi lagi, tapi sesuai dugaan, Tengkorak langsung melemparkan botol bir ke Elisa dan membuat dia mengerang kesakitan di sofa. Alura menyenggol Toro dan berkata, “Kak Toro, apakah kita tidak mau membantu mereka?”


Toro berjalan ke depan dan mengambil bir yang tidak tahu punya siapa, sambil membukanya dia berkata, “Tunggu sebentar, aku ingin melihat apakah mereka berempat memiliki darah panas.”


Di saat dia berbicara, Gunawan dan yang lain akhirnya berdiri dengan tatapan ganas. Tengkorak tidak menyangka 4 orang siswa bisa melakukan perlawanan. Yang membuat orang kaget adalah Turman, jangan melihat badan dia yang kurus, sekarang ditangannya ada sebilah pisau dekorasi yang tidak tahu didapatkan dari mana. Dia langsung menusuk perut Tengkorak, Tengkorak yang tidak hati-hati langsung terjatuh dan mengeluarkan darah.


Semua anak buah Tengkorak langsung bengong, mereka terdiam melihat bosnya sendiri. Turman juga tertegun, Gunawan langsung menariknya dan ingin berlari keluar. Listo yang pertama berlari kencang ke arah luar. Malahan Tomi mendekat ke Elisa dan ingin memeluk wanitanya.


Tengkorak tidak pernah merasakan hal seperti ini, pisau dekorasi memang tidak panjang, kecuali ditusuk ke area vital, kalau tidak, tidak mungkin mati secepat itu. Melihat Tengkorak berdiri, dia langsung memukul kepala Tomi dengan botol, bir dan darah saling bercampur di lantai. Dia berkata, “Tangkap bocah ini, aku akan membunuhnya hari ini!”

__ADS_1


Toro melihat kondisi sekitar, walaupun para pelanggan sedikit panik melihat darah, tapi para penjaga terus menatap semua ini dengan tatapan dingin. Ketika Tomi dibawa keluar dari sini, barulah seorang penjaga berjalan mendekat dan menanyakan kondisinya. Tapi kelihatannya dia menanyakan kondisi Tengkorak, ketika Tengkorak melambaikan tangannya, penjaga itu sepertinya berkata sesuatu dan berjalan pergi.


Pantesan, ternyata penjaga di tempat ini kenal dengan Tengkorak.


Ketika Toro dan Alura berjalan keluar, seorang anak muda berumur 30 an tahun dengna pakaian jas rapi berkata sesuatu kepada orang di belakangnya. Lalu dia berdiri dan berjalan keluar dengan santai. Sekarang kepala Tomi sudah penuh dengan darah, anak buah Tengkorak sedang menendangnya dengan keras, seperti butiran hujan yang terus mengenai tubuhnya, sepertinya sebentar lagi akan mati.


“Sialan, berani menggunakan pisau denganku!” Kata Tengkorak sambil menutupi perutnya. Dia lalu berkata kepada anak buahnya, “Ambil perbannya, hari ini kalau tidak membunuh bocah ini, aku tidak akan menjadi bos lagi!”


Seorang pria hanya bisa berkembang ketika melewati beberapa proses. Toro merasa Turman yang berani menggunakan senjata diluar dugaannya. Sepertinya Turman adalah orang berbakat yang bisa dilatih, kedepannya mungkin bisa berhasil.


Ketika Tengkorak selesai membereskan lukanya, seorang anak buahnya membawa mobil kemari. Dia mengambil sebuah tali dan diikat ke belakang mobil, ujung tali satunya diikat ke tangan Tomi dan Elisa. Tomi sudah tidak ada keberanian seperti tadi, dia sangat ketakutan, tapi juga tidak berusaha melawan. Dia hanya memeluk Elisa dengan erat.


Apa yang akan mereka lakukan, semua orang juga tahu. Kalau Toro tidak turun tangan sekarang, mungkin mereka akan mati. Dia berjalan ke samping Tengkorak dan memegang bahunya, “Teman, sudah cukup!”


Ketika Tengkorak menoleh ke belakang, dia hanya mengerutkan keningnya, “Siapa kamu?”


Pong!


Tinju ini bukan dari Toro, melainkan Alura yang berada di belakangnya. Setelah menumbangkan Tengkorak, dia langsung duduk di atasnya dan terus meninjunya tanpa henti. Sambil memarahinya, “Berani menghajar anak buahku, kenapa kamu tidak mencari tahu dulu nama besarku!”


Toro kaget dengan dua orang yang mau membantu ini, tidak disangka zaman sekarang masih ada pahlawan. Tapi dia merasa ada orang yang menatapnya di belakang, ketika menoleh ke belakang, dia melihat seorang pria yang berpakaian rapi dan sedang tersenyum kepadanya. Lalu anak muda itu berkata kepada dua orang yang berpakaian hitam itu, “Sudah!”


Diikuti pria berbaju hitam kembali ke sisinya, Toro berjalan ke depan Tengkorak dan berusaha tersenyum menatapnya. Dia menginjak dadanya dan membuat Tengkorak kesakitan, “Sekarang sudah cukup bukan?”


“Su, sudah cukup, kaki kakak, kaki kamu!” Kata Tengkorak sambil memegang kaki Toro dan memohon.


Ketika Alura melepaskan tali Tomi, Toro baru menggeser kakinya dan berkata, “Terus kenapa diam saja?”


Tengkorak dan anak buahnya langsung merangkak ke dalam mobilnya. Ketika mobil dijalankan, dia langsung menunjuk ke Toro dan berteriak, “Aku sudah mengingatmu, kamu tunggu saja!”


Anak muda itu berkata kepada orangnya, “Bawa 2 anak ini ke rumah sakit!”


“Baik!”


Ketika dua orang berbaju hitam ingin mengangkat Tomi, Alura menatap mereka dengan curiga. Melihat Toro mengangguk, dia baru memberikan jalan kepada dua orang berbaju hitam itu, dia berkata, “Kak Toro, aku ikut dengan mereka!”

__ADS_1


Toro mengangguk, setelah mobil membawa mereka pergi, pemuda itu baru berkata kepada Toro, “Teman, apakah berkenan minum secangkir kopi denganku!?”


Toro menatap orang ini, lalu anak muda itu melanjutkan, “Jangan salah paham, aku berteman dengan Lalita.”


Duduk di kedai kopi, Toro menjawab telepon dari Alura, dia bilang Tomi dan Elisa hanya luka luar saja, setelah dirawat beberapa hari akan baik-baik saja. Toro menutup teleponnya dan berkata kepada anak muda di depannya, dia berkata, “Ada apa? Kalau tidak ada, kopi juga sudah habis, aku ingin pulang tidur!” Sambil berkata, dia menatap pengawal di belakang anak muda itu sedang memperhatikan sekeliling termasuk Toro.


“Toro kita juga ngobrol sebentar, mungkin saja kita bisa bekerja sama?” Tanya anak muda itu.


Toro tersenyum, “Kepala daerah Chandra masih muda dan berprestasi, aku yang tidak memiliki kuasa dan uang, bagaimana anda bisa tertarik dengan preman kecil sepertiku!” Dia tidak mengerti, Chandra yang baru naik menjadi kepala daerah ini ternyata bisa datang ke bar, dan kalau dilihat sepertinya dia memang datang mencarinya. Sekarang dia membicarakan tentang kerja sama, seharusnya dia mencari bos-bos di daerah pinggiran barat sana, mana mungkin ke dia!


“Aku juga tidak suka basa basi, di belakangmu ada dukungan Geng Naga Biru, ditambah dukungan aku, kamu pasti akan besar dan menjadi bos di daerah sini juga tidak masalah!” Kata Chandra.


“Walaupun aku bisa menguasai seluruh pinggiran barat, tapi juga tidak berani jamin sistem di sini bisa dipulihkan!” Kata Toro sambil menggerakkan bahunya, walaupun Chandra ingin menjadi pelindungnya, tapi dia tidak bisa menerima syaratnya. Kalau organisasi hitam mengikuti jalan pemerintah, itu sama saja dikontrol oleh mereka dan akan menjadi bahan tertawaan.


Chandra juga tidak kecewa, dia hanya tersenyum dan berkata, “Kalau begitu apa maksudmu?”


Toro berkata, “Aku punya cara aku sendiri untuk berkembang, tidak perlu kalian yang atur.”


“Apakah kamu ingin masuk penjara? Pelanggaran kamu ini bisa membuat kamu selamanya di dalam sana.” Kata pengawal dari belakang.


“Diam!” Chandra memarahinya. Kemudian menatap ke Toro dan berkata, “Bawahanku tidak mengerti. Kalau kamu tidak setuju, aku terpaksa membantu kekuasaan lain, sampai saat itu jangan bilang aku tidak menghargai Geng Naga Biru!”


“Kita sudah bukan anak kecil, kamu tidak perlu menakutiku!” Kata Toro, “Kalau kamu memberikan kemudahan, aku jamin akan memulihkan sistem di sini, tapi tidak mungkin mengikuti kemauanmu. Kalau tidak, walaupun aku bisa menguasai daerah sini, aku akan dikalahkan oleh kekuatan lain. Aku tidak ingin membuat semuanya marah!”


Sambil berkata, Toro langsung berdiri dan berpura-pura ingin pergi, “Organisasi hitam punya cara hidup sendiri, kalau kamu menyuruhku membunuh siapa, aku langsung melakukannya, apa bedanya aku dengan pembunuh. Aku ingatkan, kalau mau melakukan hal seperti itu, hargaku sangat tinggi, kamu tidak akan sanggup membayarnya. Kita juga tidak perlu terburu-buru, kamu boleh mempertimbangkannya!”


“Berhenti!” Chandra berdiri dan mengulurkan tangannya, “Baik, aku setuju dengan syaratmu!”


Sebenarnya Chandra juga tahu kekacauan di pinggiran barat, tetapi kekacauan di sini di luar dugaannya. Kalau dia ingin menjadi kepala daerah dengan baik di sini, dia harus memiliki hubungan dengan kekuasaan di sini. Dia sudah bertemu dengan beberapa bos di sini, semua pemain lama itu tidak mengublisnya, bahkan mengeluarkan banyak sekali persyaratan yang tidak bisa dia terima. Lalu setelah mendapatkan informasi tentang Geng Naga Biru, dia baru tahu tentang Toro.


Tapi dia terlalu merendahkan bos yang tidak punya bawahan sama sekali ini. Dia tidak menyangka sikap Toro begitu keras, tetapi dia sudah lebih baik 100 kali lipat dari bos lain, dia mengulurkan tangan dan berkata, “Senang bekerjasama denganmu!”


Toro sudah menebaknya, dia menjabat tangan dan berkata, “Senang bekerjasama denganmu!”


 

__ADS_1


 


__ADS_2