
Makan malampun tiba, seluruh keluarga yang hadir segera menuju ke tempat perjamuan makan. Keluarga Pak Wildan telah menyuguhkan berbagai macam hidangan spesial untuk menyambut tamunya .
Posisi Andreas dan Stevia kini saling berhadapan. Andreas benar-benar tak menyangka jika Si Culun dulu, kini telah berubah menjadi gadis yang luar biasa. Sesaat ia terpana oleh kecantikan seorang Stevia, namun ia berusaha menolak dan menutupi kekagumannya.
" Tidak Andreas. Apa kau lupa dengan ucapanmu sendiri? Bahkan jika gadis itu berubah menjadi bidadaripun kau juga tidak akan pernah menyukainya. " bisik pikiran jahat dalam batinnya.
Yah, lelaki sejati harus bisa memegang kata-katanya. Apalagi saat Stevia berbisik bahwa dirinya sengaja memberikan kejutan pada Andreas, itu berarti mungkin ini semua memang telah direncanakannya.
Ia teringat pertemuan pertama mereka beberapa waktu yang lalu. Apa jangan-jangan Steviapun tahu siapa dirinya yang sebenarnya?
Pikiran Andreas kini diliputi oleh ribuan pertanyaan dan persangkaan tentang wanita tersebut.
" Andreas, kenapa kau melamun? Apa kau kagum dengan kecantikan Stevia sekarang? Benar kan apa kata Mama? " sindir Bu Renata pada putranya. Sedari tadi ia memperhatikan pandangan Andreas tak lepas dari Stevia.
Wajah Andreas memerah karena malu. Untung saja Stevia tak mendengar karena Bu Renata hanya berbisik kepadanya. Ia tak menanggapi ucapan sang Mama. Dirinya memasukkan satu sendok penuh makanan seperti seorang yang sedang kelaparan.
Bu Renata hanya mampu geleng-geleng kepala, tapi ia senang sepertinya Andreas tertarik pada gadis pilihannya.
Makan malam baru saja selesai. Pak Wildan melihat sahabatnya juga telah membersihkan bibirnya dengan tissue.
" Aldo, setelah ini bagaimana kalau kita minta Andreas dan Stevia saling bertukar cincin dihadapan kita semua. " usul Pak Wildan pada calon besannya.
Pak Aldo tersenyum senang, iapun sangat setuju dengan usulan sahabatnya.
" Tentu saja. Biar kita semua yang jadi saksi peresmian hubungan mereka. " jawabnya bersemangat.
Pipi Stevia merona, meskipun ia tak ada perasaan dengan Andreas. Namun, dirinya senang melihat Pak Aldo terlihat bahagia dan begitu bersemangat. Sudah cukup lama Papanya merasa terpuruk semenjak perusahaannya bangkrut.
Andreas dan Stevia berdiri di tengah-tengah mereka. Pemuda itu mengeluarkan kembali kotak perhiasan yang tersimpan disaku celananya.
" Andreas romantis dikit, dong. " Bu Renata menggoda putranya diiringi sorak sorai seluruh anggota keluarga.
BLUSHH...
Pipi Stevia merona kembali, senyum nan cantik tersimpul dikedua sudut bibirnya.
Andreas tak kalah gugup, ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Yang jelas, ia tak boleh menyukai gadis dihadapannya tersebut.
" Tenang Andreas. Ini hanyalah pura-pura saja. Tidak perlu terbawa perasaan. " ia berusaha menyangkal isi hatinya.
__ADS_1
Andreas merubah posisinya berhadapan dengan Stevia. Tanpa sengaja pandangan keduanya saling bertemu, Andreas memanfaatkan hal ini untuk segera melamar Stevia.
Ia menarik perlahan jemari Stevia nan lentik dan menyematkan sebuah cincin bertahtakan berlian di jari manis wanita itu. Begitupun Stevia, wanita itu berganti menyematkan cincin yang sama dijari Andreas.
Pikirannya menerawang mengingat kejadian dimasa silam. Dulu, ia begitu bahagia bahkan merasa menjadi wanita paling bahagia. Bagaimana tidak? Ia akan menjadi kekasih sekaligus calon istri dari pemuda yang sangat ia idolakan sejak kecil. Itu seperti sebuah mimpi indah, namun pahit pada kenyataannya.
Dirinya terkesiap saat Andreas menarik tangan cukup kasar darinya, masih sama seperti yang dulu. Bedanya, dulu ia memang sangat berharap pada Andreas, tapi sekarang ini sama sekali tak ada arti baginya.
Stevia menanggapi itu dengan senyuman. Tiba-tiba saja ia menarik tengkuk Andreas dan mendekatkan wajahnya kesamping wajah Andreas. Tubuh mereka kini saling berhimpit. Akan tetapi, Stevia ternyata menginjak kaki Andreas dengan highheels miliknya.
" Ups maaf. Makanya, jangan terlalu galak, Sayang. " godanya pada Andreas.
Andreas rasanya ingin memekik karena nyeri. Jika saja tidak ada keluarganya disana pasti ia akan membuat pembalasan pada gadis itu. Ia menahan sakit dan memilih diam agar tak merusak suasana.
" Dasar gadis kurang ajar. Dia pasti sengaja melakukannya. " umpatnya dalam hati.
Semua yang ada disana ikut terperangah melihat pasangan yang baru saja bertemu, tapi bisa jadi sedekat itu.
" Stevia sepertinya sangat agresif ya sekarang. " goda Bu Renata pada calon menantunya.
" Iya Tante. Aku sangat merindukan Andreas. Tak kusangka calon suamiku semakin tampan sekarang. Kau juga merindukanku kan Andreas? " Stevia menatap Andreas dengan pandangan yang sulit diartikan.
Setelah dari ruang makan, mereka memutuskan untuk berbincang-bincang diruang tamu. Andreas menahan tangan Stevia saat gadis itu hendak beranjak. Ia melirik sekeliling, semua orang telah pergi dari sana.
" Hei culun, kau pasti sengaja melakukannya kan? Atau ini semua memang rencanamu sedari awal?! " umpatnya kesal pada Stevia. Ia mengeratkan gigi karena geram.
Stevia menanggapi dengan tersenyum padanya,
" Memangnya kenapa kalau aku sudah merencanakannya dari awal? Meskipun aku bilang tidak, kau pasti juga tidak akan percaya bukan. Bukankah kau selalu berpikiran buruk tentangku? Tapi aku senang, kau semakin tampan jika marah seperti ini. " Stevia justru menggodanya.
Wanita itu berlalu, rasanya ia puas melihat Andreas begitu geram padanya.
" Permainan kita baru dimulai, Andreas Dirgantara. " batinnya senang.
...*********...
Keduanya menyusul yang lain diruang tamu. Bu Renata semakin bersemangat untuk menggoda keduanya.
" Tuh kan, Calon pengantin berduaan terus. Kayaknya udah ngebet dech Pa. "
__ADS_1
Pak Wildan tak kalah pandai membuat dua insan itu semakin terpojok olehnya.
" Ya sudah, Ma. Nikahnya dimajukan minggu depan saja gimana? Biar cepet halal trus bikin cucu yang banyak buat kita. Mumpung kakek neneknya masih kuat nggendong. Mama Papanya produksi lagi. "
Gurauan Pak Wildan disambut gelak tawa yang lainnya. Sungguh mereka telah berhasil membuat keduanya seperti kepiting rebus kali ini.
Andreas menatap sinis pada Stevia, sedangkan Stevia justru mengerlingkan mata sembari menggigit bibir bawahnya. Pria itu berlagak hendak muntah seolah ia merasa jijik karenanya. Untung tingkah mereka tak terlihat oleh yang lainnya.
Ting...Tong...
Terdengar bel rumah kembali berbunyi. Salah satu asisten rumah tangga membukakan pintu. Ternyata Stevanlah yang baru saja datang. Ia baru pulang setelah selama lebih dari seminggu bertugas di luar kota.
" Itu Stevan baru datang. "
Bu Renata segera menyambut putranya. Wanita itupun sangat menyayangi Stevan seperti putranya sendiri.
" Kenapa kau terlambat,Nak. Andreas tadi sudah tak sabaran. Acara pertunangannya sudah selesai. "
Bu Renata memang menyuruh Stevan untuk segera pulang karena ada acara dirumah. Namun, ia tidak memberitahu Stevan bahwa malam ini adalah malam pertunangan Stevia dan Andreas.
Jantung Stevan seakan terguncang karena amarah. Ia tak menyangka Andreas secepat itu melamar Cecile tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Apalagi gadis itu, berarti selama ini Cecile berani mempermainkannya?
Ia melangkah ke ruang tamu bersama Bu Renata. Namun, dirinya heran saat tak menemukan Cecile disana.
" Stevan, apa kau mengenal gadis yang ada disana. Dia Stevia, mantan tunangan Andreas dulu. " ujar Bu Renata pada putranya.
Yang merasa disebut namanya menoleh, sedikit banyak Steviapun mengenal Stevan dahulu.
" Hai, Kak Stevan. Apa kabar?" sapanya ramah.
Stevan begitu terkejut saat melihat gadis yang menyapanya barusan. Dirinya ingat betul bahwa wanita itulah yang selalu menolong Andreas waktu itu.
Dirinya tak menyangka jika itu adalah Stevia, mantan tunangan adiknya. Wanita itu sangatlah cantik, jauh berbeda dari yang dulu. Mungkin ini yang membuat Andreas langsung berpaling dari Cecile dan memilih Stevia.
" Cecile harus tahu mengenai hal ini. " pikirnya.
...Bersambung.......
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya.
__ADS_1
Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😍