
Cecile pulang ke apartemennya, ia melempar tas kerjanya ke sembarang tempat dan menangis sejadi-jadinya diatas ranjang. Dirinya sudah berputus asa, harapan untuk memiliki Andreas sepertinya telah lenyap sudah.
Hampir seharian ia menangis, kedua matanya sampai membengkak lantaran terlalu banyak mengeluarkan air mata. Setelah amarahnya mulai mereda, wanita itu duduk termenung ditepi ranjang.
" Lebih baik aku kembali ke rumah orang tuaku. " cetusnya setelah berpikir panjang. Yah, untuk apalagi dirinya berada di kota ini. Andreas telah membuangnya, sedangkan Stefan ternyata hanyalah seorang anak pungut.
Wanita itu beranjak dari ranjang dan berniat mengemasi pakaiannya. Namun, tiba-tiba saja kepalanya serasa berputar. Ini sering ia alami akhir-akhir ini.
Ting..Tong...
Terdengar bel apartemennya berbunyi. Dirinya yakin jika itu pasti adalah Stefan. Ia segera menutup kembali lemari pakaiannya. Sudah dipastikan pria itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Ceklek...
Cecile langsung berbalik setelah membukakan pintu untuk Stefan. Biasanya lelaki tersebut akan geram jika diperlakukan seperti ini. Namyn kali ini berbeda, ia langsung memeluk pinggang Cecile dari belakang sembari menunjukkan tentengan yang ia bawa.
" Aku membawa makanan kesukaanmu, Bakso iga lengkap dengan saos dan sambal yang melimpah dan juga jus strowberry. Biasanya moodmu akan membaik setelah memakan sesuatu yang pedas. Ayo kita makan bersama, selera makanku menghilang jika kau tidak ada disisiku. " bujuknya pada Cecile sambil meletakkan kepalanya di ceruk leher wanita tersebut.
Andai, andai saja lelaki itu adalah Andreas. Tentu dengan senang hati ia akan menerimanya serta memberikan senyuman hangatnya untuk lelaki itu. Stefan memang sangat mengerti dengan dirinya, namun tidak ada tempat dihatinya untuk lelaki itu.
" Aku tidak ingin apa-apa. Kau pergi saja dari sini. Aku ingin sendiri. " tolaknya halus, ia tahu Stefan pasti akan marah jika ia menolak mentah-mentah pemberiannya.
" Ayolah Cecile, kumohon. Lupakanlah masalahmu dulu. Aku tahu kau begini karena Andreas dan Stevia. Aku berjanji, aku pasti bisa menyingkirkan mereka berdua secepatnya. " bujuk Stefan kembali.
Cecile menyeringai seolah mengejek,
" Heh,, rasanya sulit untuk mempercayai pria pecundang sepertimu. Sudah berapa kali kau mencoba, tapi hasilnya selalu saja gagal. Kau memang tidak seperti Andreas, dia sangat pintar. Lihat saja, baru beberapa minggu dirinya bekerja, banyak sekali kemajuan yang ia ciptakan. " wanita itu mulai membanding-bandingkan Stefan dan Andreas.
Stefan mengepalkan tangannya erat, Cecile seolah sedang menguji kesabarannya.
" Diam kau! Makan atau aku akan menyumpalkan semua ini kedalam mulutmu. " ucapnya sambil mengeratkan gigi karena kesal.
Cecile menelan salivanya, lagi-lagi dirinya tak mampu menahan bicaranya. Kali ini dirinya lebih baik menurut, pria itu bisa saja bertindak kasar padanya.
Keduanya menuju ruang makan. Cecile mulai membuka bakso milik mereka berdua. Akan tetapi, entah kenapa bakso tersebut aromanya berbeda dari yang biasanya. Baunya sungguh aneh, sama sekali tak nyaman di indera penciumannya.
__ADS_1
Wanita itu memperhatikan Stefan yang makan dengan begitu lahap. Sepertinya sangat enak, tapi dirinya justru merasa mual dengan bakso yang ada dihadapannya. Cecile hanya memperhatikan tanpa memakan bakso di hadapannya.
Stefan menautkan kedua alisnya, ia tak suka wanita itu hanya memandangi sambil sesekali mengaduk-aduk bakso dimangkuknya.
" Kenapa? Tidak suka. Ayo cepat, makan sebelum dingin. " perintahnya pada Cecile.
Wanita itu hendak menolak, namun Stefan keburu melotot kepadanya Dengan terpaksa ia menyuapkan sesendok bakso ke mulutnya.
Uwk...Uwk..
Cecile langsung ingin muntah, wanita itu berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan seluruh isi perutnya disana.
Stefan yang cemas segera menyusul wanita tersebut. Ia memperhatikan Cecile dengan penuh rasa curiga.
" Apa kau sedang hamil?" tanyanya dingin.
DEG...
Pertanyaan itu sontak membuat Cecile terkejut bukan kepalang. Ia teringat peristiwa waktu itu, Stefan menyetubuhinya tanpa menggunakan pengaman. Dan sekarang, sudah dua minggu dirinya belum kedatangan tamu bulanannya.
" Jangan bercanda. Mana mungkin aku hamil. Aku hanya masuk angin biasa. " bantahnya tegas.
***
Andreas dan Stevia berniat berkunjung ke kediaman keluarga Andreas. Kebetulan Bu Renata barusan telpon dan mengabarkan bahwa Pak Aldo dan Bu Verra sedang berada di rumah beliau. Kebetulan sekali, jadi mereka bisa berkumpul dengan keluarga besar disana.
Keduanya telah tiba di halaman keluarga Dirgantara. Stevia menahan Andreas sebelum keluar.
" Kenapa? Apa kau ingin kucium dulu sebelum masuk, heeumm? " pria itu hendak mencium istrinya, tetapi Stevia langsung mencegah dengan jari telunjuknya.
" Kau ini! Aku hanya ingin kau bersikap sopan terhadap orang tua kita. Ubahlah sedikit demi sedikit perilakumu yang selalu semaunya sendiri. Hormati mereka. Aku yakin mereka pasti senang jika kau mau berbuat seperti itu." Stevia menasehati.
Andreas mendongakkan kepala seolah berpikir,
" Eemmm,, Biar kupikir-pikir dulu."
__ADS_1
" Baiklah. Tapi ada syaratnya. " lanjut Andreas.
" Syarat? Syarat apa? " Stevia bingung sekaligus penasaran.
Andreas tersenyum,
" Syaratnya,, Cepat katakan padaku. Kapan datang bulanmu itu akan berakhir. " ia melirik ke bagian inti Stevia, seketika wanita itu menonyor pipi sang suami pelan.
" Mungkin seminggu atau dua minggu lagi. " godanya bercanda.
" Hah,, kau jangan bercanda, bukankah ini sudah tiga hari. Harusnya sebentar lagi kau selesai." bantahnya tak percaya. Ia sengaja mencoret kalender satu persatu agar jangan sampai terlewatkan moment berharganya.
Stevia terkekeh mendengar penuturan sang suami,
" Jika aku telah memberikan umpan padamu, kau harus bersiap- siap untuk memancingnya. " wanita itu berbelit- belit.
Andreas mendengus kesal,
" Awas saja. Kuberi kau waktu empat hari jadi genap seminggu. Jika kau belum juga selesai, aku pasti akan memperkosamu! " ancamnya pada sang istri. Iapun turun dari mobil lantaran tak ingin mendengarkan bantahan lagi.
Stevia tertawa lepas melihat wajah Andreas yang sedang kesal. Wanita itu segera menyusul suaminya yang telah turun terlebih dahulu.
Ia pikir Andreas akan meninggalkannya, tetapi nyatanya lelaki itu justru berdiri sambil memasangkan tangannya di pinggang.
Stevia mengerti, ia memasukkan tangannya dalam gandengan Andreas. Keduanya berjalan bersama memasuki kediaman orang tuanya.
Setelah mengucapkan salam, Andreas segera mencium tangan kedua orang tuanya serta kedua mertuanya diikuti oleh Stevia.
Pak Wildan begitu heran dan terkejut menyaksikan perilaku Andreas. Mungkin ini kali pertama semenjak putranya remaja, Andreaa kembali mencium tangan kedua orang tuanya. Perilakunyapun sangat ramah, tidak acuh dan kasar seperti biasanya.
Ia mendekati Stevia, kemudian berbisik.
" Terima kasih. Tidak salah Papa memilihmu sebagai menantu. Papa sangat senang kini Andreas berubah menjadi lebih baik. " ungkap Pak Wildan tulus meskipun harus secara diam-diam.
" Sama-sama, Pa. " Stevia menyunggingkan senyumnya. Dalam hati dirinya berharap, Andreas akan terus seperti ini bahkan lebih baik lagi seterusnya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗