Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
PERNIKAHAN BAGAI PANGGUNG SANDIWARA


__ADS_3

Pernikahan Andreas dan Stevia resmi digelar hari ini. Stevia telah selesai dirias oleh MUA profesional yang biasa merias dirinya. Wanita tersebut nampak begitu cantik berbalut gaun pengantin putih dengan bertabur ribuan swarovski.


Stevia menatap pantulan dirinya dari balik cermin. Wanita itu tersenyum getir, seharusnya hari ini adalah hari paling bahagia baginya. Hari dimana seorang wanita dan pasangannya mengikat janji suci menuju hubungan halal sekali seumur hidup.


Namun, sekarang ia harus menikah dengan seorang pria yang tidak pernah menganggapnya bahkan membenci dirinya. Dirinya harus siap berhadapan dengan lelaki itu tiap hari, tiap jam, tiap menit dan hampir sepanjang waktu mungkin mereka akan bersama.


Tanpa terasa setitik airmata hampir terjatuh dari sudut matanya.


" Stevia,, kau harus kuat. Ini adalah pilihan hidupmu sendiri dan kau harus bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri. " batinnya bertekad.


Buru-buru ia menghapus air mata yang hampir menetes. Yah, dialah yang menentukan pilihanannya saat ini dan pantang baginya untuk mundur kembali.


Wanita itu keluar dari kamar rias dan bersiap menuju pelaminan. Dengan ditemani Bu Verra dan Pak Aldo, Stevia melangkah melewati ribuan tamu yang hadir. Mereka semua begitu kagum menyaksikan kecantikan paripurna seorang Stevia Suryatama.


Andreas menatap kedatangan calon mempelai wanita yang dalam waktu kurang dari setengah jam ini akan berubah status menjadi istrinya. Meskipun bukan pernikahan yang ia harapkan, tapi tetap saja pernikahan ini membuatnya gugup hingga keringatnya bercucuran saat ini.


Bu Renata mendekati putranya dan memberikan selembar tissue.


" Ini, bersihkan keringatmu. Mama tahu kamu sedang grogi sekarang. Apalagi melihat calon istrimu yang sangat cantik. Pasti kau sudah tidak sabar untuk malam pertama. " goda Bu Renata berbisik di samping Andreas.


Andreas terkesiap mendengar godaan Mamanya barusan. Padahal, dirinya bahkan belum berpikir sampai kesana. Ia sudah bertekad dalam hati untuk tidak menyentuh Stevia, apalagi saat ia teringat kesepakatannya dengan Tomy kemarin.


Acara ijab qobul akhirnya dimulai, dengan lantang Andreas mengucapkan kalimat keramat tersebut dihadapan para saksi dan wali. Hanya dalam hitungan menit kini mereka telah sah menjadi sepasang suami istri.


Stevia mencium tangan lelaki yang kini telah resmi menjadi suaminya.


" Ya Allah,, semoga niatan yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula suatu saat nanti. " batinnya mencoba mengikhlaskan.


****


Setelah ijab qobul selesai, kini resepsi pernikahan langsung digelar. Kedua mempelai telah bersatu diatas pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari para tamu yang hadir.


Stevia memperhatikan Andreas yang sedari tadi seolah menjaga jarak darinya. Wanita itu tiba-tiba menarik paksa lengan Andreas agar mau berdekatan dengannya.


" Nah seperti ini lebih baik. Kita harus nampak romantis dihadapan semua orang. " gerutu Stevia sambil mengarahkan wajahnya ke kamera.


Ia mencubit kedua sudut bibir Andreas agar pria itu mau menunjukkan deretan giginya yang putih. Dengan terpaksa pria itu berpose ceria saat sang Photografer mengambil gambar mereka.


" Beraninya kau mengaturku, culun. Aku tak ingin pura-pura bahagia, karena aku memang tidak bahagia. " bisik pria itu ditelinga Stevia. Namun, sepersekian detik Andreas tersenyum ramah saat para tamu undangan menyalami mereka.

__ADS_1


" Aku tak peduli. Yang jelas jangan buat Mama dan Papa malu karena wajah pengantinnya yang ditekuk seperti badut. " balas Stevia berbisik. Ia pun tersenyum ramah saat para tamu bergantian menyalaminya.


Andreas mencebik kesal, ini semua seperti sebuah panggung sandiwara. Terlihat bahagia, tapi sesungguhnya ini hanyalah pernikahan semu yang dipaksakan.


Dirinya terkejut saat tiba-tiba Stevia memeluk pinggangnya erat.


" Pegangi aku. " wanita itu melengkungkan badan dan tersenyum di depan kamera.


Andreas dengan sigap menahan bobot tubuh Stevia dengan menahan pinggangnya agar tidak terjatuh. Keduanya tersenyum semanis mungkin, lalu kembali ke posisi semula.


" Bagus kau pintar sekali. " Stevia senang Andreas bisa diajak bekerjasama.


Kali ini ia mengangkat dan meletakkan salah satu lengannya di pundak Andreas. Wajahnya menengadah menatap pria tampan yang ada disampingnya.


" Tatap aku. "


Andreas dengan terpaksa mendekatkan wajahnya dan menatap Stevia secara intens. Wanita itu semakin menarik dagunya hingga seolah keduanya akan berciuman. Dan..


Jepret...


Sebuah foto mesra berhasil diambil. Sang photografer mengacungkan jempol pada keduanya.


Andreas hanya mencebikkan bibirnya, ia sama sekali tak tertarik dengan hal-hal semacam itu. Dirinya lebih berharap acara ini segera berakhir dan ia dapat tidur nyenyak di ranjangnya. Rasanya sungguh melelahkan bersalaman dengan banyak orang sambil menebar senyum palsu.


Keduanya terperangah melihat kedatangan Cecile disana. Terutama Stevia, ia takut wanita itu akan mencari gara-gara dan merusak pesta pernikahannya. Buru-buru ia menggandeng lengan Andreas erat agar pria itu tak berbuat macam-macam.


Andreas ingin melepaskan diri, apalagi saat Cecile terlihat menatap ke arah mereka. Namun, dirinya kesulitan lantaran Stevia seolah mengumpulkan seluruh tenaga dalam untuk menahannya agar tidak kabur.


Stevia semakin memepetkan badannya pada Andreas dan mencium sekilas pipi pria itu untuk memanas-manasi Cecile. Rencananya ternyata berhasil, Cecile terlihat begitu kesal. Wanita itu segera pergi kembali sebelum sempat menyalami kedua mempelai.


Memang tadinya Cecile ingin mengacau Andreas dan membawa pria itu pergi bersamanya. Namun, dari yang ia lihat Andreas sepertinya bahagia, pria itupun tampak mesra menyambut para tamu undangan bersama Stevia.


" Apa kau puas sekarang? Dasar wanita licik. " bisik Andreas kesal, ia muak harus berpura-pura bahagia bersama Stevia.


" Aku tak peduli. Yang jelas aku memang puas melihat kekasihmu gondok sekali padaku." balas Stevia tertawa renyah.


Andreas mendengus kesal, jika saat ini tidak ada kedua orang tuanya. Pasti ia akan pergi dan mengejar Cecile untuk menenangkannya.


Tak berselang lama, Tomypun terlihat hadir bersama Ririn. Pemuda itu berdiri sejenak menatap ke pelaminan. Dadanya terasa sesak melihat Stevia kini bersanding dengan pria lain.

__ADS_1


" Pak Tomy, mari. " ajak Ririn saat menyadari pria itu tak berada disampingnya. Ia merasa iba memperhatikan Tomy dengan netra berkaca-kaca memandangi sepasang pengantin yang berada di atas altar.


Wanita itu menghampiri Tomy kembali,


" Pak Tomy kenapa? Jika Pak Tomy tidak kuat, lebih baik anda menunggu diluar saja. Jangan memaksakan diri. " Ririn mengelus pundak Tomy berharap menenangkan.


Tomy menarik nafas dalam dan mengeluarkannya kasar. Ia mencoba mengatur emosinya. Dirinya teringat kesepakatannya dengan Andreas.


" Tenang Tomy. Andreas pasti tidak akan mengingkari ucapannya. " batinnya menenangkan.


Pria itupun menggandeng Ririn, keduanya naik keatas panggung untuk menyalami kedua mempelai. Tomy menyalami Andreas dan memeluk pria itu sekilas.


" Ingat janjimu, Bro. Jangan kau apa-apakan Stevia. " tegasnya penuh penekanan.


" Kau tenang saja. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu. " Andreas berusaha meyakinkan.


Kini pria itu berpindah menyalami Stevia. Meskipun ia percaya pada Andreas, tapi dirinya tetap saja tidak ikhlas dengan pernikahan ini.


" Selamat. "


Hanya kata itu yang dapat keluar dengan susah payah dari mulut Tomy.


" Makasih. " Stevia tersenyum datar. Ia sadar jika pria dihadapannya begitu kecewa padanya. Namun inilah kenyataan dan semua harus bisa menerimanya dengan lapang dada.


Acara resepsi pernikahan berlangsung dengan begitu meriah hingga larut malam. Kini babak baru pernikahan Stevia dan Andreas akan segera dimulai. Akankah keduanya akan berakhir bahagia? Ataukah akan kandas begitu saja ditengah jalan?


Acara diakhiri dengan sorak sorai para tamu yang meminta pasangan untuk saling berciuman. Stevia merangkul tengkuk Andreas dan menatap lekat pria yang kini telah menjadi suaminya.


" Aku membencimu Stevia. " gumam Andreas penuh penegasan.


" Tapi aku akan menaklukanmu, Andreas Dirgantara. "


Stevia tersenyum menanggapi ucapan Andreas. Wanita itu bergerak lebih dulu, ia menarik tengkuk Andreas dan menenggelamkan bibir lelaki itu dibibirnya. Keduanya berciuman untuk beberapa saat. Stevia melepaskan pagutannya sesaat.


" Seperti ini Andreas. Aku memaksamu dan kaupun akan menerimanya."


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..

__ADS_1


__ADS_2