Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
TERGODA


__ADS_3

Kepala Stevia terasa begitu berat seperti ditimpa batu. Penglihatannyapun sudah mulai kabur. Ini memang pengalaman pertamanya mabuk, sebelumnya ia sama sekali belum pernah mencicipi barang haram tersebut. Apalagi dirinya minum dalam jumlah yang banyak.


Ia menatap Tomy yang seolah menjadi beberapa bayangan dimatanya. Stevia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk meraih kesadaran.


" Kau baik-baik saja? Jangan minum lagi, kau sudah terlalu mabuk. "


Tomy mengambil gelas sloki di tangan Stevia. Ia berniat mengajak wanita itu pulang. Akan tetapi, salah seorang waiter tiba-tiba menumpahkan segelas jus di pakaiannya.


" Hei,, kalau jalan hati-hati !"


" Maaf, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja. " waiter tersebut menunduk takut, tapi Tomy memintanya untuk segera pergi.


Ia melihat baju bagian depannya kotor terkena tumpahan jus. Rasanya ia risih pulang dengan pakaian seperti itu, Steviapun pasti akan ikut kotor jika ia memapahnya.


" Kau tunggu disini, jangan kemana-mana. Aku akan ke toilet sebentar. " pesannya pada Stevia. Wanita itu tak menjawab, hanya meletakkan kepalanya di meja bar. Ia menitipkan Stevia pada pegawai bar.


Setelah Tomy pergi, Andreas segera menghampiri Stevia. Ia lihat sepertinya Cecile juga masih asyik berjoget. Sebenarnya iapun yang membayar waiter barusan untuk menumpahkan jus di pakaian Tomy. Ia berniat menggunakan kesempatan tersebut untuk membawa Stevia pergi dari sana.


Andreas geleng-geleng kepala melihat Stevia mabuk berat. Ia mencoba memapah wanita itu dan membawanya pergi.


" Dasar bodoh. Untuk apa dia mabuk-mabukan seperti ini." gerutunya pelan.


Stevia merasakan pergerakan pada tubuhnya. Samar-samar ia melihat bayangan Andreas. Ia mencoba mengerjap kembali, tapi wajah Andreaslah yang ada di pelupuk matanya.


" Lepaskan. " gumamnya sembari mencoba mendorong Andreas. Namun, itu tak ada artinya sama sekali. Pengaruh alkohol membuatnya seolah tak berdaya


" Tuan, maaf anda siapa? Tadi Nona ini dititipkan pada saya. Anda tidak bisa membawanya pergi begitu saja."


Andreas mendengus kesal, pegawai bar menghalangi jalannya.


" Dia istriku. Jika ada yang mencari katakan saja suaminya telah menjemput. Kau bisa lihat ini kan?" Andreas memperlihatkan sepasang cincin yang sama di jemari keduanya.


Pegawai bar itupun mundur dan membiarkan mereka pergi dari sana.


Andreas membawa Stevia menuju parkiran mobil. Wanita itu kini mulai meracau.


" Andreas Dirgantara bodoh, Andreas Dirgantara menyebalkan, Aku membencimu Andreas Dirgantara. Aku membencimu. "


Stevia memukul-mukul tubuh Andreas. Wanita itu mulai kehilangan keseimbangan. Tubuhnya semakin gontai hingga membuat Andreas kesulitan membawanya.


" Heuh.. Menyusahkan sekali. " keluh Andreas.


Dengan cekatan pria itu akhirnya membopong Stevia ala brydal style. Seketika Stevia meringkuk dalam pelukannya bagaikan bayi besar yang membutuhkan kehangatan.


Andreas tersenyum simpul, Stevia semakin bertambah cantik jika dilihat dari dekat. Ia berniat membawa gadis itu ke apartemennya. Tidak mungkin membawa Stevia pulang dalam keadaan seperti ini.

__ADS_1


...---------...


Tomy telah kembali dari toilet. Meskipun pakaiannya basah, yang penting tumpahan jus dari badannya telah menghilang. Ia berniat menghampiri Stevia dan membawa pulang kerumahnya.


Entah apa yang akan ia lakukan nanti pada gadis itu. Yang terpenting saat ini dirinya bisa berduaan dengan gadis pujaannya.


Betapa terkejutnya Tomy saat tak menemukan Stevia di tempatnya. Iapun segera menemui pegawai bar yang ia minta untuk menjaga Stevia.


" Bukankah sudah ku katakan padamu untuk menjaganya! Kenapa kau malah membiarkannya pergi bersama orang lain?!" ungkapnya penuh amarah.


" Ma-af Tuan. Tadi orang itu mengaku kalau dia adalah suami Nona barusan. " jawabnya gugup.


Aarrgghhh....Shiittt...


" Siapa orang yang berani mengaku sebagai suami Stevia! " gumamnya kesal. Iapun segera pergi meninggalkan club dan berharap bisa menemukan Stevia diluar sana.


...*******...


Setelah asyik dugem, Cecile kembali ke bangku tempatnya dan Andreas duduk barusan. Ia terkejut saat tak menemukan Andreas disana.


Salah satu pegawai bar mengatakan bahwa Andreas telah membayar seluruh tagihan dan pria itu harus pulang terlebih dahulu.


Cecile mendengus kesal, ini kali pertama Andreas meninggalkannya saat sedang berkencan. Ia mencoba membuka ponselnya, barang kali Andreas meninggalkan sebuah pesan disana.


" Maaf.. Aku harus pulang duluan. Papa memintaku untuk segera menemuinya."


" Lagi-lagi tua bangka itu menghalangiku untuk bersama Andreas. " gerutunya kesal. Iapun akhirnya memutuskan untuk pulang seorang diri.


......................


Andreas telah tiba di pelataran gedung apartemennya yang berada dilantai atas. Pria itu segera mengeluarkan Stevia dari dalam mobilnya.


" Kau ini berat sekali..Euhh..." ia mengangkat tubuh Stevia dan menggendongnya kembali ala bridal style. Ia mengalungkan kedua tangan Stevia diatas pundaknya.


Sepanjang perjalanan Andreas tak henti-hentinya memandangi wajah cantik Stevia. Ada kelegaan tersendiri dalam dirinya lantaran telah berhasil membawa wanita itu bersamanya.


" Andreas aku membencimu..."


" Andreas kau jahat .."


Stevia kembali meracau pelan.


Hati Andreas seakan tercubit karenanya. Ada rasa bersalah yang menjangkiti dirinya saat mengingat kejadian tadi. Sepertinya Stevia sangat terluka akibat ucapan kasarnya tadi.


Akhirnya pria tersebut berhasil membawa Stevia masuk kedalam apartemennya. Ia membawa wanita itu masuk kedalam kamar dan berniat membaringkannya di atas ranjang.

__ADS_1


Akan tetapi, tangan Stevia ternyata tak mau lepas darinya. Wanita itu menarik tubuhnya hingga iapun terjatuh disamping Stevia. Posisi mereka saat ini begitu intim. Andreas dapat memandangi wajah Stevia dengan jarak yang begitu dekat.


Deghh..Deghh..Deghh..


Jantung Andreas tiba-tiba saja berdetak tak beraturan. Kini ia bisa merasakan hembusan nafas Stevia yang menyapu wajahnya.


" Andreas aku membencimu.."


Bibir mungil Stevia tak henti-hentinya meracau menyebut namanya.


Kini ingatan Andreas terbayang kejadian beberapa waktu lalu. Saat ia telah mencuri sebuah ciuman dari Stevia. Ada kepuasan tersendiri dalam dirinya saat mengingat hal itu. Dan kini, entah dorongan apa yang membuatnya ingin melakukan hal gila itu lagi.


Andreas mulai mendekatkan wajahnya, merasakan hembusan nafas Stevia yang terdengar tak beraturan. Perlahan ia memberikan sebuah lum*t*n kecil di bibir mungil itu. Terasa begitu manis baginya.


Pria itu tersenyum, ia kembali mencium bibir Stevia namun kali ini ciuman itu semakin lama. Andreas memainkan bibirnya diatas bibir Stevia, mel*m*tnya kembali hingga bibir Stevia terlihat basah dibuatnya.


Anehnya ia bisa merasakan jika Steviapun menikmati ciumannya. Dorongan nalurinya berkata untuk melakukan ciuman itu lebih dalam lagi. Ia mulai mencium dan mendorong lidahnya masuk kedalam rongga mulut Stevia.


Glek...


Kini mereka saling bertukar saliva, menautkan lidahnya dan berpagut satu sama lain.


Andreas begitu menikmatinya, apalagi saat tubuh Stevia mulai ikut bereaksi. Jakun Andreas bergerak naik turun merasakan bagian dada Stevia yang menempel di dadanya.


Dress selutut yang dikenakan Steviapun ikut terangkat naik saat wanita itu menggerak-gerakkan kakinya. Nampak olehnya paha mulus nan putih dan terlihat begitu kencang.


Andreas kini dibuat menggila karenanya. Ia tak mampu menahan gejolak dalam dadanya untuk menikmati kemolekan tubuh Stevia yang telah terpampang nyata di depannya.


Tangannya mulai bergerilya mengusap-usap atasan Stevia. Kakinya naik turun bermain dipaha mulus wanita itu. Rasanya Andreas ingin melakukan yang lebih dari ini saat sesuatu dalam dirinya mulai terbangun dari tidurnya.


Tangan Andreas hendak menyusup dibalik kemeja yang dikenakan Stevia. Namun, disaat yang bersamaan akal sehatnya mulai kembali.


" Andreas.. Ingat . Wanita itu hanya menggodamu. Ingatlah ...Walau secantik apapun dirinya, kau tidak boleh tergoda olehnya. "


Seketika Andreas melepaskan tautan bibirnya dan menjauh dari Stevia. Pria itu berdiri dan mengusap kasar wajahnya. Ia menatap Stevia yang terbaring diatas ranjangnya.


" Culun...Aku tidak akan tergoda olehmu. " gumamnya seorang diri.


" Aaarrrgggghhh...Siaaall. " gumamnya kesal.


Sesuatu yang telah menegang membutuhkan pelepasan. Ia segera berjalan ke kamar mandi untuk menuntaskan hasratnya yang tertunda.


Bersambung.....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...

__ADS_1


__ADS_2