
Setelah pembicaraan semalam, Stefan langsung menuju ke apartemen Cecile untuk mendinginkan pikirannya. Ia begitu kecewa atas putusan yang disampaikan oleh Pak Wildan. Ia tak terima jika Andreas ataupun Stevia memimpin perusahaan menggantikan pria tua tersebut. Sedangkan dirinya, ia sudah beberapa tahun ikut mengelola perusahaan itu, tapi kemampuannya seolah tak dianggap sama sekali.
Dirinya melampiaskan amarahnya dengan mendatangi Cecile. Mungkin hanya dengan menyalurkan hasrat dapat membuat gejolak dalam hatinya sedikit mereda. Awalnya wanita tersebut terkesan malas, tapi saat ia menjanjikan hadiah jam tangan mewah akhirnya wanita tersebut menuruti keinginannya.
Hampir satu jam lamanya mereka saling memadu kasih. Stefan begitu menikmati permainan Cecile. Wanita itu sangat mengerti bagaimana memanjakan seorang lelaki.
Keduanya bergelut dan hampir merasakan indahnya nikmat dunia. Namun, konsentrasi mereka buyar begitu saja saat mendengar bel apartemen berkali-kali berbunyi diluar sana.
Ting..Tong.. Ting...Tong..
Awalnya Stefan tak ingin mempedulikan siapa yang ada diluar sana, tetapi bel tersebut terus saja berbunyi.
Cecilepun demikian, gelenyar kenikmatan yang hampir ia rasakan hilang begitu saja. Dirinya penasaran, siapa sebenarnya yang sedang bertamu diluar sana. Wanita segera menyambar piyamanya dan memastikan siapa yang datang.
" Tunggu sebentar. Aku lihat dulu siapa yang datang. " cecile berjalan keluar kamar.
Stefanpun ikut beranjak, kepalanya terasa berat sekarang. Hampir saja ia mendapatkan kepuasan, namun ada saja yang mengganggu.
" Arggghhh, sialan. Siapa yang mengganggu malam-malam begini!"
Stefan duduk ditepi ranjang, ia memungut pakaiannya yang teronggok di lantai. Pria itu menyusul Cecile lantaran penasaran dengan siapa yang datang.
Cecile tiba di depan pintu. Hampir saja ia membuka pintu, namun ia urungkan sebab dirinya ingin tahu terlebih dahulu siapa yang ada diluar sana.
" An-dreas? "
Ia begitu terkejut saat tahu siapa yang dilihatnya dari lubang pintu. Lelaki itu nampak kesal sebab tak kunjung dibukakan pintu. Cecile segera berbalik, sangat berbahaya jika Andreas tahu Stefan sedang bersamanya saat ini.
" Siapa yang datang malam-malam begini? Mengganggu saja. "
Tiba-tiba saja Stefan telah berada dibelakangnya, buru-buru Cecile menarik pria itu masuk lagi kedalam.
" Ada Andreas di depan. Cepatlah bersembunyi. " pintanya was-was..
Stefan terkesiap mendengar adik angkatnya berada diluar. Ingin rasanya ia segera kabur, tapi sayangnya hanya ada satu pintu keluar dari sana.
Iapun kembali masuk ke kamar dan mencari tempat persembunyian. Sebab sepertinya yang diluar sana sudah tak sabar menunggu.
Cecile buru-buru kembali keluar, ia memperbaiki penampilan dan piyama yang sedang dipakainya.
Ceklek..
Andreas menatap wanita itu penuh selidik, ia masuk kedalam tanpa permisi sambil memperhatikan ke segala sudut ruangan.
Cecile semakin gugup melihat gelagat Andreas yang sepertinya sedang curiga. Ia menghampiri lelaki tersebut dan seperti biasa memeluk Andreas dari belakang.
__ADS_1
" Aku merindukanmu, sudah lama sekali kau tak datang kesini. Kupikir kau telah melupakanku setelah menikah dengan si Culun. " ungkapnya seolah-olah teraniaya.
Andreas tersenyum datar, ada rasa bersalah yang terbersit dihatinya. Jujur saja akhir-akhir ini dirinya hampir-hampir tak memikirkan kekasih yang ia sia-siakan.
Pria itu berbalik, hatinya luluh seketika melihat netra Cecile yang mulai berkaca-kaca.
" Maafkan aku. Aku terpaksa menuruti permintaan Papaku. " ia merasa tak enak hati.
Kini gadis itu kembali memeluknya, Cecile tiba-tiba menangis dalam pelukannya. Ini bukan airmata yang dibuat-buat, sesungguhnya dalam hati kecilnya dirinya merasakan sakit yang begitu dalam.
Kehilangan seorang Andreas merupakan kegagalan dalam hidupnya. Pria yang begitu ia cintai selama ini, belum lagi dirinya justru semakin terjerembab dalam pusara cinta Stefan. Pria yang terpaksa harus ia terima lantaran lelaki itu telah merenggut kesuciannya.
" Andreas. Kumohon jangan tinggalkan aku. " ucapnya disela-sela airmata yang terus mengalir membasahi kedua pipi.
Andreas semakin trenyuh, sesungguhnya ia rapuh jika dihadapkan dengan tangisan seorang wanita. Apalagi ia sadar, dirinyalah yang membuat Cecile jafo seperti ini. Ia menarik wajah wanita itu hingga sejajar dengan wajahnya.
" Kau tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu. " ia tersenyum tipis dan menatap wanita itu dengan tatapan ketulusan.
Andreas mengusap rambut Cecile yang nampak sedikit berantakan. Dipandangnya wanita itu kembali, Cecile terlihat lebih kurus dari biasanya. Wanita itu nampak begitu seksi dengan piyama tidur berbahan satin dan berbelahan dada rendah.
Piyama terusan yang panjangnya hanya beberapa centi dibawah pangkal paha itu sukses membangkitkan gairah Andreas. Ia jadi teringat dengan tubuh mulus Stefia yang begitu dikaguminya.
Cecile melihat tatapan Andreas yang tak seperti biasanya. Sedikit banyak ia paham jika pria itu sedang membutuhkan penyaluran. Ini adalah saat yang ia tunggu-tunggu, Andreas terlihat tergoda olehnya.
Hasratnya pada Stefia membuat seolah-olah wanita yang didepannya tersebut adalah sosok wanita yang ia kagumi. Apalagi saat Cecile mulai membuka satu persatu kain kemejanya dan mengelus dengan lembut dada bidangnya.
Oh,, serasa bagaikan sengatan yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Keduanya cukup lama saling memagut dan mulai berkabut gairah. Cecile begitu mendambakan hal ini. Gairah seorang Andreas, itulah yang ia tunggu-tunggu selama ini.
BRAKkk....
Keduanya terkejut mendengar sesuatu yang terjatuh dari arah dalam kamar. Andreas kembali sadar, seketika ia mendorong tubuh Cecile menjauh darinya. Pria itu jadi teringat kecurigaannya barusan.
Yah, tidak biasanya Cecile begitu lama membuka pintu untuknya. Wajah Cecile nampak gugup saat membukakan pintu dan wajahnya terlihat basah oleh keringat.
Andreas langsung menuju tempat asal suara, ia melangkah masuk menuju kamar Cecile. Wanita itu semakin ketakutan jika Andreas berhasil memergoki Stefan yang sedang berada di dalam. Ia mencoba menghalangi Andreas untuk masuk ke kamarnya.
" Tidak ada apa-apa disini. Mungkin tadi hanya barangku saja yang terjatuh. " ucapnya gugup.
Andreas tak menanggapinya, ia menyingkirkan tubuh Cecile yang menghalangi jalannya. Netranya kembali memandang ke segala arah.
Tidak ada siapa-siapa disana. Akan tetapi, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Cecile darinya.
Netranya terpusat pada lemari cukup besar milik Cecile. Wanita itu sangat was-was, sebab kalau tidak salah barusan Stefan berniat masuk ke dalam sana. Ia hendak menghalangi Andreas, tapi dirinya takut pria itu semakin curiga.
Kriekkk....
__ADS_1
Andreas membuka lemari, namun tidak ada apapun selain baju didalam sana. Pandangannya tertuju pada sebuah jas dan kemeja pria yang tergantung diantara pakaian-pakaian wanita. Ia memperhatikan jas tersebut lamat-lamat.
" Jelaskan! Kenapa ada jas pria di dalam sini. " ucapnya dengan tatapan seolah hendak membidik elang.
Cecile menelan salivanya kasar, netranya terkesiap melihat jas Stefan yang tersimpan didalam sana.
" I,, itu milik Papa. Beliau sempat menginap beberapa hari disini saat aku sedang sakit dan patah hati karena kau menikahi wanita lain. Kemarin Papa lupa masih ada satu jasnya yang tertinggal disini. " ungkapnya beralasan.
Andreas sebenarnya tak begitu percaya. Netranya masih memperhatikan sekitar, barangkali ada hal lain yang mencurigakan disana. Namun, tampaknya tidak ada apapun yang mencurigakan.
Stefan bisa bernafas sedikit lega, untung saja ia buru-buru berpindah ke kolong kasur. Jika tidak, pasti Andreas sudah memergokinya di dalam lemari.
Cecile berusaha mengembalikan mood Andreas seperti tadi. Ia merutuki keteledoran Stefan, harusnya hari ini dia mampu menaklukkan Andreas. Iapun kembali memeluk lelaki tersebut.
" Papa sangat kecewa padamu. Beliau tak rela anak gadisnya dicampakkan olehmu. Tapi aku tetap bersikukuh bahwa aku hanya mencintaimu seorang. Aku akan setia menunggu hingga kau meninggalkan wanita itu. "
Entah mengapa mood Andreas berubah buruk saat ini. Ada sesuatu yang terasa mengganjal dihatinya. Pria itu kembali mendorong tubuh Cecile lepas darinya.
" Maaf. Aku harus pulang, ini sudah malam. Kapan-kapan aku akan kembali lagi. " ucapnya datar.
Cecile kecewa, Andreas seperti curiga padanya.
" Tapi, Andreas. Aku..."
Dirinya ingin membuat alasan, tetapi Andreas ternyata langsung pergi dari apartemennya.
" Andreas tunggu. "
Ia menarik pemuda itu hingga keduanya saling bersitatap. Netranya kembali berkaca-kaca.
Andreas mengalihkan pandangannya, namun sesaat ia mengecup sekilas puncak kepala Cecile untuk menenangkan.
" Kau cepatlah beristirahat. Kapan - kapan aku akan kesini lagi. "
Sambil mengusap puncak kepala Cecile, pria itu melangkah meninggalkan apartemen dengan berbagai prasangkanya.
" Semoga dia tak berbohong padaku." batin Andreas tak tenang.
Ia melangkah kembali, entah kemana. Dirinya seakan tak sanggup berhadapan terus-terusan dengan Stevia. Ini baru beberapa hari dirinya bersama wanita tersebut, ia tak bisa membayangkan menunggu beberapa bulan untuk melepaskan diri dari Stevia.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..
Jangan lupa tinggalka
__ADS_1