Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
KABAR MENGEJUTKAN DARI RIRIN


__ADS_3

Tomy lega akhirnya bisa mendamaikan Stevia dan Andreas. Jika dirinya masih mengejar Stevia, mungkin disaat seperti ini bisa ia manfaatkan untuk merebut Stevia dari sahabatnya. Namun, jalan pemikirannya kini telah berubah.


Semenjak Andreas mengatakan bahwa ia sangat cocok dengan Ririn, Tomy mulai memikirkan dan menata hatinya betul-betul. Memang hubungannya selama ini begitu dekat dengan Ririn, ia sangat nyaman bersama wanita tersebut. Akan tetapi, kenapa dirinya tak pernah berpikir sejauh itu.


Lelaki itu mengingat beberapa kejadian yang ia alami bersama Ririn. Mungkin jika dipikir-pikir mereka sepertinya memang mirip sepasang kekasih. Bahkan selama ini, Tomy jarang bisa dekat dengan seorang wanita, terkecuali Ririn.


Tomy teringat saat dirinya menyelamatkan Ririn dari dasar kolam. Perasaannya begitu khawatir dan cemas waktu itu. Ia mengingat ketika dirinya memberikan nafas buatan pada wanita itu, secara tidak langsung dirinya telah mereguk bibir ranum milik sekertarisnya tersebut.


Sebuah senyum tersungging dibibirnya, tanpa sadar ia memegang bibirnya. Kini manis bibir Ririn seolah masih membekas disana.


" Hei Tom, kenapa kau malah melamun? Apa yang sedang kau pikirkan! " ungkap Andreas pernasaran.


Ucapan Andreas langsung membuyarkan angan lelaki tersebut. Dirinya jadi salah tingkah saat Andreas menepuk sebelah bahunya.


" Ti,, tidak. Hanya saja aku tadi mengajak Ririn untuk jogging bersamaku dan Stevia. Tapi, sepertinya dia tidak jadi datang. " ia melirik jam yang tergantung di dinding. Waktu menunjukkan hampir pukul tujuh pagi.


Pucuk dicinta ulampun tiba, yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul juga. Tomy nampak sumringah mendengar bel apartemennya berbunyi, bergegas ia membukakan pintu untuk wanita tersebut.


" Kau kemana saja? Kupikir kau masih asyik bergemul dengan guling kesayanganmu. " cibir Tomy bercanda.


Ririn menyunggingkan senyumnya.


" Maaf Pak. Biasa jalanan macet, jadi kuputuskan untuk berjalan kaki. Sekalian pemanasan. " ucapnya beralasan.


" Huh..pemanasan apanya? Paling juga biar irit nggak usah bayar angkot. Ya sudah, ayo masuk dulu Stevia dan Andreas ada didalam. " Tomy mengajak Ririn masuk ke dalam dan bergabung dengan yang lainnya.


Stevia begitu senang, ternyata ada Ririn juga bersama mereka.


" Ririn? Ternyata kau kesini juga. Baguslah kalau begitu, jadi kita bisa double date hari ini. " ungkap Stevia melirik kedua sejoli tersebut.


Wajah Ririn merona seketika, begitupun Tomy, lelaki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Keduanya jadi salah tingkah, Ririn mencoba menetralkan perasaannya agar Tomy bisa nyaman seperti biasa.


" Ya iyalah Vie. Aku kasihan saja melihat Pak Tomy harus jadi obat nyamuk diantara kalian. Kalau begini kan, Pak Bos nanti ada temannya juga. " ucap Ririn beralasan. Sebenarnya ia sendiri juga ingin menyampaikan sesuatu kepada Tomy.

__ADS_1


" Semoga Pak Tomy tidak akan marah kepadaku nanti. " batinnya was-was.


***


Keempatnya mulai beranjak dari apartemen. Mereka jogging menuju taman yang terletak tidak jauh dari sana.


Andreas dan Stevia saling memberi kode. Keduanya berlari didepan sedikit lebih cepat dari Tomy dan Ririn untuk memberi ruang keduanya mengobrol.


Tomy berusaha mengimbangi Ririn yang nampak kelelahan.


" Kita berhenti disitu sebentar. Kau sepertinya sudah kelelahan. " ajak Tomy pada gadis tersebut.


Ririn mengangguk, ia mengikuti Tomy yang duduk dibangku trotoar jalan.


" Kita tertinggal dari Pak Andreas dan Stevia. Mereka lumayan jauh sekarang. " ucapnya sambil mengusap keringat dengan handuk dibahunya.


Tiba-tiba Tomy menyodorkan sebotol minuman yang dibawanya untuk Ririn.


" Ini minumlah, kau sepertinya cukup lelah. Biarkan saja, Stevia dan Andreas sudah cukup terlatih fisiknya. Mereka sangat menyukai olah raga. Tidak seperti kau, lihatlah badanmu saja sekurus ini. Mana kuat berlari jauh-jauh. " ejeknya menertawakan Ririn.


" Aku kurus, Pak. Tapi tenagaku kuat, menggendong Bapak saja aku masih sanggup. Ya jelaslah aku lelah, aku tadi sudah berlari dari kosan menuju apartemen Bapak. Biar irit, ini kan tanggal tua. " Netra Ririn membola dengan sempurna, entah mengapa dirinya bisa keceplosan seperti barusan.


Tomy mengernyitkan dahinya karena heran,


" Memangnya gaji yang kuberikan untukmu masih kurang? Apa aku perlu menaikkan gajimu lagi? " tanyanya penasaran.


Sebenarnya gaji yang diberikan Tomy sudah cukup besar sebagai seorang sekertaris. Lima juta perbulan sudah jauh melebihi standar UMK di sana. Tetapi, kebutuhan Ririn juga banyak. Ia harus membayar sewa kosan per bulan, belum lagi membayar sekolah ke empat adiknya. Dia anak pertama, sedangkan ayahnya telah meninggal beberapa tahun yang lalu lantaran sakit.


Sebulan yang lalu, ibunya menelpon dan mengatakan bahwa sahabatnya disana yang menjadi pegawai negeri datang ke rumah untuk meminangnya. Sang ibu setuju saja sebab beliau kenal pemuda tersebut.


Beliau membujuk Ririn, menurutnya Alan sudah cukup mapan. Jika Ririn menikah dengannya, Ririn bisa kembali ke kampung dan tidak perlu capek-capek bekerja.


Ririn yang waktu itu sedang galau, akhirnya menyetujui usulan ibunya begitu saja. Ia pikir, sudah tidak ada harapan baginya untuk mendapatkan hati Tomy. Jika dia bertahan dikantor terus-terusan, kemungkinan ia akan sulit move on dari lelaki tersebut.

__ADS_1


" Rin, Rin. Apa kau mendengarku? Kenapa kau malah melamun?" Tomy menggoyang-goyang lengan Ririn lantaran heran.


Ririn mulai tersadar dari lamunannya.


" I,, iya Pak. Tii-dak. Gaji yang Bapak berikan sudah sangat besar. Hanya saja saya ingin hidup hemat dan memiliki tabungan. " ia meringis hingga menunjukkan deretan giginya yang rapi.


" Ya Tuhan.. Apa aku harus mengatakannya sekarang ya? " batinnya kebingungan.


Tomypun akhirnya berdiri,


" Ya sudah. Ayo kita susul Andreas dan Stevia. Aku takut mereka akan mencari-cari kita." ajaknya pada Ririn.


Saat hendak berjalan, tiba-tiba Ririn menarik tangan lelaki tersebut. Tomypun kembali membalikkan badannya.


" Ada apa?"


Ragu- ragu sekaligus gelisah, tetapi Ririn tetap harus menyampaikannya pada Tomy.


" Maaf Pak. Sepertinya mulai bulan depan saya akan berhenti bekerja. Saya akan lamaran sekaligus me-nikah bulan depan." ucapnya terbata-bata.


Bak tersambar petir disiang hari, Tomy begitu terperanjat mendengarnya. Setahu pria itu, Ririn belum pernah menceritakan tentang kekasih ataupun pria yang dekat dengannya.


" Kau jangan bercanda. Memangnya siapa yang mau menikah denganmu? Jangan-jangan kau dinikahkan dengan bandot tua. " Canda Tomy berusaha menetralkan perasaannya.


Ririn menelan salivanya, Tomy seolah menganggapnya wanita tak laku. Tetapi biarlah, memang atasannya itu hanya menganggapnya sebatas karyawan saja.


" Saya akan menikah dengan teman SMA ku dulu, Pak. Rencananya bulan depan dia melamarku, dan beberapa minggu setelahnya kami akan melangsungkan pernikahan. Saya harap Pak Tomy bisa datang dipernikahan kami nanti. " jelas Ririn.


Tomy mematung seketika, entah mengapa ia merasakan sakit luar biasa di ulu hatinya. Rasanya ia tidak rela jika Ririn akan dimiliki


oleh orang lain.


" Perasaan apa ini? Apa aku benar-benar telah jatuh cinta padanya?" batinnya bertanya-tanya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like,koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2