
Sebuah panggilan masuk ke telepon rumah keluarga Dirgantara. Kebetulan Andreas yang mengangkat panggilan tersebut.
Andreas sangat terkejut mendengar berita bahwa kakaknya Stefan mengalami kecelakaan bersama seorang wanita. Sang penelpon mengenali Stefan dari kartu tanda pengenal yang ada disaku korban. Mereka membawa keduanya ke rumah sakit terdekat.
Andreas bisa menebak, pasti wanita yang bersama Stefan adalah Cecile. Buru-buru ia menyampaikan kabar duka ini kepada seluruh keluarganya.
Pak Wildan dan Bu Renata sedang bercengkrama di ruang keluarga. Mereka heran melihat Andreas yang datang dengan raut wajah panik.
" Ma, Pa. Kak Stefan dan Cecile mengalami kecelakaan di jalan X. Warga membawa mereka ke rumah sakit terdekat. Sementara ini belum ada kepastian mengenai keadaan keduanya. " tutur Andreas tergesa-gesa.
Pak Wildan dan Bu Renata tak kalah paniknya. Mereka memutuskan untuk segera menuju rumah sakit yang dimaksud. Andreas dan Stevia mengikuti mobil mereka dari belakang.
****
Keempat orang tersebut telah tiba di rumah sakit. Mereka segera menuju IGD tempat Stefan dan Cecile ditangani saat ini.
Keduanya sama-sama tak sadarkan diri. Stefan mengalami luka ringan, namun dirinya masih belum sadarkan diri. Sedangkan Cecile, wanita itu sedang kritis saat ini. Ia mengalami luka parah di bagian kepala, belum lagi pendarahan akibat keguguran.
Andreas segera menghubungi keluarga Cecile yang berada diluar kota, bagaimanapun orang tuanya harus tahu apa yang sedang terjadi kepada putri mereka.
Pak Wildan dan Bu Renata semakin terperanjat saat mengetahui kehamilan Cecile. Setahu mereka, Cecile merupakan kekasih Andreas. Namun, Andreas menjelaskan bahwa selama ini Cecile telah berselingkuh dengan Kak Stefan.
" Jadi calon bayi dalam kandungan Cecile itu a-dalah anak kakakmu? Ya Tuhan, tragis sekali nasib gadis ini. Apa Stefan tahu jika Cecile sedang hamil? " Bu Renata merasa iba.
" Iya, Ma. Janin dalam kandungan Cecile merupakan benih Kak Stefan. Tapi, aku tidak tahu apa kakak sudah mengetahuinya atau belum. " ungkap Andreas.
Netra Bu Renata berkaca-kaca, jika benar itu janin dari Stefan berarti itu merupakan calon cucunya juga. Stevia mengusap perlahan pundak Bu Renata untuk menenangkan. Meskipun Cecile selama ini jahat padanya, namun iapun tak tega melihat kondisi wanita itu sekarang.
Disaat semuanya larut dalam kesedihan, perlahan Cecile membuka matanya. Wanita itu menatap pada Andreas, lelaki yang ia cintai selama ini. Ia mencoba untuk berbicara meskipun nafasnya seolah terasa berat.
__ADS_1
" An- dre-as?! " panggilnya pelan dengan suara tersengal-sengal.
Meski samar-samar, Andreas mampu mendengar suara Cecile yang lemah. Semua yang ada diruangan itu terkejut dan langsung memperhatikan ke arah sumber suara. Andreas merasa panik, lalu langsung mendekati mantan kekasihnya.
" Cecile syukurlah kau sudah sadar. " ucapnya lega. Namun, dirinya miris melihat Cecile yang kini lemah tak berdaya.
" An-dreas ma-afkan a-ku. A-ku te-lah meng-khi-a-na-timu se-lama-ini. " Cecile kesulitan untuk berbicara, netranya berkaca-kaca menunjukkan rasa sesalnya yang mendalam.
Andreas sungguh iba melihatnya, bagaimanapun wanita itu pernah cukup lama mengisi hatinya. Semua yang ada diruangan ikut terharu dan iba melihatnya.
" Jangan terlalu banyak bicara. Kau masih sangat lemah saat ini. Iya, aku sudah memaafkanmu sekarang." Entah mengapa Andreas merasa ini adalah saat-saat terakhir Cecile. Lelaki itupun mengusap titik airmata di sudut matanya.
Cecile mencoba untuk tersenyum meskipun itu sangat sulit ia lakukan. Ia merasakan sakit luar biasa di seluruh anggota tubuhnya. Ia mengalihkan pandangannya pada Stevia dan berusaha meraih tangan wanita tersebut.
Stevia langsung mendekat, airmata tak luput menghiasi kedua pipi cantiknya. Ia meraih tangan Cecile dan menggenggamnya pelan.
Cecile mencoba tersenyum kembalu dan menatap nanar wanita dihadapannya.
Semua terperanjat saat tiba-tiba Cecile langsung tak sadarkan diri ketika mengatakan kalimat terakhirnya.
Andreas langsung memeriksa denyut nadi serta hembusan nafas wanita tersebut.
" Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Cecile telah pergi meninggalkan kita semua." ucap Andreas lemah.
Tangis seluruh penghuni ruangan pecah, suasana duka menyelimuti ruangan tersebut. Kini Cecile telah pergi untuk selama-lamanya.
Disaat semua sedang berkabung, suara dorongan pintu yang cukup keras mengalihkan perhatian mereka semua.
Stefan langsung berlari dan mendekati jenazah Cecile. Tadi saat sadar, dirinya langsung teringat akan wanita itu. Pak Wildan yang kebetulan menungguinya mencoba menenangkan. Namun, dirinya kewalahan. Stefan mencabut dengan kasar jarum infus ditangannya, kemudian berlari keruangan Cecile.
__ADS_1
Stefan menangis sejadi-jadinya saat merasakan tubuh Cecile telah dingin dan kaku. Ia menggoyang-goyang jenazah itu dan berharap Cecile mampu hidup kembali.
" Cil, kumohon jangan tinggalkan aku. Kita, kita akan menikah dan membesarkan anak kita bersama-sama. Aku sangat mencintaimu, Cil. " ucapan Stefan dengan teriakan yang menyayat hati.
Dirinya tak mampu menerima kenyataan, berulang kali kalimat tersebut keluar dari mulutnya. Semua yang ada disana jadi trenyuh dan ikut merasakan kesedihan yang pria itu alami.
Andreas mencoba menenangkan kakaknya, ia mendekati pria tersebut dan menggenggam erat kedua bahu Stefan.
" Kakak ikhlaskan Cecile. Ini sudah menjadi kehendak Tuhan. Kita hanya bisa mendo'akannya. " ucapnya mencoba menenangkan.
Stefan menatap Andreas dengan berlinang airmata,
" Kumohon katakan padaku. Cecileku belum meninggal, di-dia hanya tertidur kan Andreas? Lihatlah, diperutnya sekarang ada anak kami. Kami akan menjadi keluarga bahagia nanti, Andreas. " ucapnya trenyuh.
Andreas benar-benar tak sanggup melihat keadaan Stefan sekarang ini. Iapun ikut menumpahkan airmatanya dan memeluk sang kakak.
" Cecile telah meninggal, Kak. Kumohon kuatkan dirimu. Kita harus ikhlas menerima kenyataan. "
Stefan terbelalak, seketika ia mendorong tubuh Andreas menjauh darinya.
" Kau bohong! Kalian semua berbohong! Cecile ku tidak mungkin mati! Cecile ku tidak mungkin mati..hi..hi.."
Tubuh Stefan merosot ke lantai, ia benar-benar tak sanggup menerima kenyataan ini. Ia memendam cinta yang begitu besar pada Cecile meskipun cintanya itu bertepuk sebelah tangan.
Perlahan pandangannya mulai buram. Dirinyapun belum sehat, bahkan darah bekas infus di tangannya pun bercecer ke lantai. Akhirnya Stefan kembali tak sadarkan diri.
Andreas dan Papa Wildan segera memapah Stefan, lalu meminta bantuan para petugas medis untuk membawa pria itu kembali ke ruangannya. Stefan harus kembali dirawat dan merekapun berniat untuk membantu keluarga Cecile mengurus pemakaman.
" Semoga setelah Kak Stefan bangun nanti, dia sudah mampu menerima kenyataan dan menyadari semua kesalahannya. " batin Andreas berharap.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗...