Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
STEFAN DEPRESI


__ADS_3

Keluarga Dirgantara membawa Stefan kembali ke kediaman mereka, setelah kondisi lelaki tersebut berangsur membaik.


Namun, Stefan yang dulu sangatlah berbeda dengan yang sekarang. Ia lebih banyak diam, pandangannyapun kosong. Lelaki itu sepertinya begitu terpukul atas kematian Cecile.


Bu Renata menuntun Stefan menuju ke kamarnya lalu bergabung dengan yang lain di ruang keluarga. Wanita paruh baya tersebut mendengus perlahan.


" Aku takut kematian Cecile membawa dampak buruk bagi mental Stefan. Dari yang Mama lihat, Stefan sama sekali tak mau merespon perkataan orang lain. Pandangannya kosong, Mama benar-benar takut Stefan jadi depresi setelah ini, Pa. " ungkapnya cemas.


Pak Wildan juga merasakan hal yang sama, namun dirinya tak mau mengambil kesimpulan terlalu dini.


" Mungkin dia masih belum bisa menerima kepergian Cecile dan calon putranya. Kita lihat dulu kedepannya, dia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri." pikir Pak Wildan.


Andreas dan Stevia setuju dengan pemikiran Papanya. Stefan memang butuh waktu untuk bisa menerima semuanya.


" Yang terpenting saat ini, kita harus menyemangati kak Stefan. Kita tunjukkan bahwa kita semua disini juga menyayanginya. Semoga dengan begitu, ia tak merasakan kesepian lagi. " usul Andreas.


Semuanya telah sepakat, mereka akan merawat dan mengurus Stefan hingga pria tersebut dapat kembali seperti sedia kala. Merekapun membubarkan diri setelahnya dan kembali ke kamar masing-masing.


Kebetulan kamar Andreas dan Stevia melewati kamar Stefan. Stevia berhenti ketika samar-samar terdengar suara tangisan dari dalam kamar Stefan.

__ADS_1


" Apa kau mendengarnya? Kak Stefan sepertinya sedang menangis." Stevia menarik tangan Andreas untuk menghentikan langkahnya sementara.


Andreas memasang telinganya untuk memastikan. Ternyata ucapan istrinya benar. Stefan tengah menangis didalam kamarnya.


Perlahan keduanya membuka daun pintu untuk melihat keadaan lelaki tersebut. Betapa terkejut keduanya saat nampak oleh mereka, Stefan tengah meringkuk sambil memeluk guling di tepi dinding kamarnya.


" Cecile, kumohon kembalilah kesini. Lihatlah, anak kita sangat membutuhkanmu, sayang. " ucapannya sungguh menyayat hati, pria itu menangis sambil terus memeluk guling yang ia dekap.


Stevia dan Andreas begitu iba melihatnya, mereka memutuskan untuk masuk dan memberi pengertian pada Stefan.


Andreas menepuk bahu Stefan, ia mencoba untuk menenangkan lelaki tersebut.


Namun, pandangan Stefan justru berubah nyalang mendengar ucapan Andreas.


" Diam kau! Cecile ku belum mati. Cecile ku masih hidup! Kalian jangan asal bicara! " sahutnya brutral.


Andreas dan Stevia terkesiap, mereka sama sekali tak menyangka jika Stefan akan semarah ini. Padahal niat mereka baik, mereka ingin Stefan bisa menerima kenyataan.


Tiba-tiba lelaki itu menatap Stevia dan menunjuk kearahnya dengan tatapan penuh kebencian.

__ADS_1


" Kau?! Kau pasti yang membuat Cecile ku pergi meninggalkanku. Kau perempuan jahat! Dasar perempuan iblis! " gertak Stefan dengan nada yang meninggi.


Andreas hampir terpancing amarah, dirinya tak terima istrinya dihina seperti barusan. Akan tetapi, Stevia langsung mencegahnya. Ia menyadari kondisi Stevan yang masih terguncang kejiwaannya.


Andreas berusaha untuk mengendalikan dirinya. Perlahan ia mundur dan emosi Stefanpun berangsur membaik. Pria itu perlahan naik ketas ranjangnya, lalu meringkuk diatas sana. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut agar tak terlihat oleh Andreas.


Andreas membuang nafas kasar, ia tak menyangka seorang Stefan yang begitu gagah dan berpendidikan bisa bersikap labil seperti ini.


" Tak kusangka cinta bisa membutakan segalanya. " gerutunya kesal.


Ia mengajak Stevia keluar dari kamar Stefan agar pria tersebut menjadi lebih tenang.


" Maafkan sikap kakakku tadi. Aku masih bisa terima jika diriku yang dihina, tapi aku tidak rela jika seseorang menjelek-jelekkan istriku. " ungkapnya tak enak hati pada Stevia.


" Kau tenang saja. Aku tidak apa-apa. Aku yakin kak Stefan bersikap seperti barusan lantaran diluar kesadarannya. " wanita itu mencoba berpikir positif. Lagi-lagi sikap Stevia membuat Andreas semakin kagum kepadanya.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya😣

__ADS_1


__ADS_2