
Andreas keluar dari kamar mandi, ia melihat Stevia yang telah berpakaian rapi pagi ini. Pria itu memalingkan wajah dan berpura-pura acuh. Dirinya sangat malu mengingat kejadian pagi tadi.
" Andreas, hari ini aku akan menemui Pak Tomy. Dia menawariku untuk menjadi model produk pakaian olah raga. Apa kau mengijinkanku? "
Stevia menyadari bahwa sekarang dirinya adalah seorang istri. Biar bagaimanapun segala sesuatu yang ia lakukan harus atas dasar persetujuan sang suami. Entah dianggap ataupun tidak, Andreas tetaplah suaminya.
Andreas mengosok-gosok rambut basahnya sedikit kencang. Ada rasa tak nyaman saat mendengar nama Tomy disebut oleh Stevia. Namun, ia mencoba mengikis rasa itu karena mungkin suatu saat Stevia akan menjadi milik sahabatnya.
" Pergi saja, aku tak peduli. Kau berhak mengurus hidupmu sendiri dan aku juga berhak melakukan apapun sesukaku. " jawabnya acuh.
Stevia mendengus pasrah, dibutuhkan kesabaran ekstra untuk menghadapi lelaki seperti Andreas. Ia yakin sekeras-kerasnya batu, suatu saat akan lapuk juga terkikis oleh tetesan air. Ia mendekati Andreas dan mengulurkan tangan pada sang suami.
" Apa?" Andreas memicingkan mata tak mengerti.
Stevia tersenyum, iapun meraih tangan kanan sang suami dan mencium telapak tangan Andreas dengan lembut.
Perasaan Andreas berdesir, hatinya menghangat mendapat perlakuan seperti barusan. Selama ini dirinya tak pernah mengerti apasaja kebiasaan suami istri, termasuk hal sepele seperti ini.
" Aku pergi dulu. Baju gantimu telah aku siapkan. Sarapanmu juga ada disana. "
Andreas kembali kagum pada istrinya. Untuk standar seorang istri yang baik, bisa dikatakan Stevia telah memenuhi kriterianya.
" Tunggu Andreas. Jangan sampai kau terpancing, ini hanyalah trik si Culun untuk menjeratmu. Tetaplab selalu waspada. "
Akalnya jadi teringat kembali akan hal itu. Yah, Stevia pernah berkata bahwa ia akan membuat Andreas menyesal. Itu artinya wanita itu mungkin ingin menjebaknya lalu melakukan balas dendam atas perlakuan buruk Andreas dulu padanya.
Acuh, itulah satu-satunya trik agar ia tidak sampai terperangkap dalam jebakan Stevia. Bukannya menjawab, pria itu langsung berpaling dan mengambil pakaian gantinya.
Stevia pasrah, ia berusaha mendinginkan pikirannya. Memang cinta butuh perjuangan, begitu kata pepatah.
" Assalamualaikum. " sapanya sebelum keluar.
" Wa'alaikumsalam. "
Stevia mengembangkan senyumnya. Andreas mau menjawab salam saja sudah merupakan sesuatu yang berharga baginya. Berawal dari hal kecil untuk sesuatu yang besar. Berawal dari menjawab salam, cinta akan tumbuh semakin dalam. Itu pepatah terbarunya.
Wanita itu hendak melangkah keluar, tetapi tiba-tiba saja terdengar seseorang mengetuk pintu kamar mereka. Dengan segera Stevia menyambar gagang pintu, sedangkan Andreas yang sedang berganti pakaian mencoba menguping dari walk in closed.
" Nona, Tuan Besar meminta anda untuk menemui beliau diruang kerja. " ucap salah satu pelayan disana.
Stevia penasaran untuk apa mertuanya memanggil. Ia melirik jam yang bertengger ditangannya, masih ada waktu baginya sebelum menemui Tomy.
__ADS_1
" Baiklah. Aku akan kesana. "
Pelayan tersebut mengantarkan Stevia sampai di depan ruang kerja Pak Wildan. Wanita itupun masuk kedalam, nampak olehnya Pak Wildan yang tengah sibuk memeriksa beberapa dokumen. Dari penampilannya yang rapi, kemungkinan mertuanya akan pergi kekantor.
Pak Wildan menyadari kedatangan Stevia, pria itu meminta Stevia untuk masuk dan duduk dikursi yang berhadapan dengannya.
" Ada apa Papa memanggilku kemari? Apakah ada sesuatu yang penting? "
Rasa penasaran membuat Stevia memutuskan untuk bertanya lebih dulu. Iapun tak memiliki waktu yang banyak sekarang.
" Oh ya, Nak. Maaf Papa memanggilmu kesini karena ingin menyerahkan ini padamu. "
Pak Wildan mengeluarkan sebuah koper, ia meminta Stevia untuk membuka koper tersebut dan melihat isinya.
Betapa terkejut wanita itu saat mengetahui bahwa koper tersebut berisi uang yang begitu banyak. Yah, Pak Wildan ingin menepati janjinya. Ia ingin membantu Stevia untuk melunasi hutang-hutang keluarganya.
" Untuk apa uang sebanyak ini, Pa. " Stevia masih tak mengerti, ia tertegun melihat uang sebanyak itu didepan matanya.
" Itu uang yang Papa janjikan waktu itu. Jumlahnya ada 20 milyar. Dan ini, surat kepemilikan saham yang telah Papa pindah tangankan kepadamu. Papa sangat berterimakasih karena kau mau menikah dengan Andreas. " terang Pak Wildan.
Stevia merasa sungkan untuk menerima, tetapi dirinya memang membutuhkan uang tersebut. Sesuai tanggal yang ditetapkan, minggu depan bank akan menyita rumah beserta seluruh isi milik keluarganya jika dia tidak segera melunasi hutang-hutangnya.
" Makasih, Pa. Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk membalas budi baik Papa selama ini. " ucapnya tak enak hati.
Dengan berat hati, Stevia menerima uang tersebut. Namun, teriakan seseorang membuat keduanya terkesiap dan menoleh ke arah sumber suara.
" Oh, jadi ini yang membuatmu setuju untuk menikah denganku. Dasar wanita murahan! " teriak Andreas penuh amarah.
Saat berganti pakaian tadi, Andreas ikut penasaran untuk apa Papanya memanggil Stevia. Dirinyapun bergegas mengikuti Stevia dari belakang. Perlahan pria itu menguping pembicaraan keduanya.
Andreas benar-benar tak menyangka, ternyata Stevia mau menikah hanya karena ingin mendapatkan harta milik keluarganya. Ia begitu kecewa, hampir saja bahkan mungkin dirinya telah jatuh dalam belenggu cinta Stevia.
Namun kenyataannya, wanita itu hanya memanfaatkannya saja. Kini, dirinya lebih baik pergi. Tak perlu menunggu beberapa bulan, secepatnya lebih baik ia menceraikan wanita itu.
Stevia berdiri, ia yakin Andreas akan salah paham karena belum tahu duduk perkara yang sebenarnya. Ia segera mengejar Andreas dan memberi penjelasan padanya.
" Andreas, tunggu. Ini semua tidak seperti yang kau dengar. A, aku menikah denganmu karena.."
Ia hendak meneruskan kalimatnya. Namun, apa yang menjadi tujuannya bersama Pak Wildan belum tercapai. Dan tidak mungkin ia membocorkan misinya yang sebenarnya. Netranya berkaca-kaca, pikirannya buntu saat ini untuk mencari alasan yang tepat.
" Karena apa? Kau tidak bisa beralasan bukan? Sudahlah, kini kedokmu telah terbongkar. Aku tidak akan pernah percaya lagi padamu! " ungkap Andreas dengan nanar matanya yang sarat akan rasa kecewa. Pria itu melanjutkan langkahnya kembali untuk meninggalkan rumah.
__ADS_1
Stevia kembali menyusulnya, ia berlari secepat mungkin saat Andreas hendak memasuki mobilnya. Untung saja, ia berhasil masuk sebelum pria itu mengunci mobil.
Andreas mendengus kesal, saat ini dirinya ingin pergi, tapi Stevia justru mengikutinya.
" Cepat keluar. " ia mengusir tanpa menatap wanita disampingnya.
" Tidak. Aku akan ikut denganmu sampai kau mau mendengarkan penjelasanku. " tegas Stevia.
Andreas memicingkan mata,
" Baiklah jika itu maumu. "
Pria itu melajukan mobilnya, saat keluar dari pekarangan rumah. Andreas tiba-tiba menaikkan kecepatan lajunya. Stevia terkesiap, hampir-hampir ia tersungkur karena lupa belum mengenakan sabuk pengamannya.
Andreas semakin menjadi-jadi, ia sengaja ingin membuat Stevia ketakutan karenanya. Nampak raut wajah Stevia yang pucat lantaran tegang. Dengan susah payah dirinya berhasil memakai sabuk pengaman.
" Andreas, jangan gila! Kita bisa celaka jika kau kebut-kebutan seperti ini! " Stevia menatap ke depan dengan tegang, Andreas menyalip banyak kendaraan dengan posisi sangat mepet.
Andreas tersenyum sinis, bukannya mengurangi laju, dirinya malah semakin menambah kecepatan. Andreas memang sering ikut balapan liar dengan mobil sport kesayangannya tersebut.
Netra Stevia membola seketika saat pria misterius yang hendak mencelakai suaminya tiba-tiba ada di seberang jalan. Dengan mengendarai motor sport, pria misterius itu menodongkan senjata kearah suaminya.
" Andreas awas !! "
Stevia ikut memutar stir kemudi hingga mobil tersebut menjadi oleng.
" Hei, apa yang kau lakukan! "
Andreas panik saat mobil jadi tak terkendali. Begitupun Stevia, dirinya ketakutan jika sampai penjahat itu kembali melukai suaminya. Buru-buru ia memencet nomor kantor polisi untuk meminta bantuan.
Belum sempat ia berbicara, tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh seseorang yang hendak menyeberang jalan didepannya. Andreas langsung membanting stir hingga mobilnya terjungkir ketepi jalan.
" Aaarrrrgghhhh. "
Keduanya ikut terjungkir bersama mobilnya. Beruntung Stevia masih meraih kesadaran, namun dirinya melihat Andreas masih pingsan dan terdapat luka dikepalanya.
" Andreas. Sadarlah. " ia mengguncang-guncang tubuh pria tersebut, tapi Andreas tak kunjung bangun.
Stevia kembali dikejutkan oleh motor sport yang barusan mengejar mereka. Pria itu hendak turun, namun ia kembali melajukan motornya saat mendengar bunyi sirine mobil polisi. Lantaran terkejut, Steviapun ikut pingsan setelahnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗