Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
APA YANG SEDANG KAU SEMBUNYIKAN?


__ADS_3

Andreas keluar dari kamar mandi dengan wajah ditekuk sambil memegangi pinggangnya yang terasa nyeri. Apa yang ia takutkan akhirnya benar-benar terjadi, Stevia seolah menjadi sosok yang menghantui dirinya sekarang. Ia melirik sekilas wanita yang masih duduk ditepi ranjangnya, sesaat kemudian dirinya segera mengalihkan pandangan ke lain arah.


" Andreas, apa kau tidak apa-apa? Atau badanmu terasa sakit sehabis jatuh barusan? Atau kau mau aku pijat supaya enakan? " Stevia mendekati lelaki yang saat ini sedang duduk di sofa kamarnya.


Ucapan wanita itu seolah terdengar sebagai ejekan bagi Andreas. Dalam hati Stevia pasti tengah menertawakannya. Itu sungguh merupakan sebuah penghinaan baginya.


" Sudahlah. Tidak perlu berpura-pura perhatian. Jatuh seperti itu sudah biasa bagiku. Lebih baik kau jauh-jauh sana. Dasar wanita jorok! Bisa-bisanya tidur pakai gaun seperti itu. "


Stevia memberengkut kesal, padahal Andreas sendiri semalam tidur tanpa membersihkan diri bahkan diapun tak melepas sepatunya. Namun, dirinya harus sabar menghadapi tipe pria seperti ini. Dan tersenyum adalah jurus paling ampuh untuk menghadapinya.


" Baiklah. Aku akan segera mandi supaya suamiku semakin tergila-gila padaku. Coba saja kalau kita bisa mandi bersama, pasti menyenangkan. Berendam bersama, membersihkan diri, saling memijat. Pasti badan langsung segar setelahnya. " goda Stevia memancing.


Ternyata ucapannya berhasil membuat pikiran Andreas travelling kemana-mana. Masih begitu terasa olehnya aroma wangi yang menguar dari tubuh Stevia, sangat halus dan lembut. Membayangkan Stevia yang berendam bersamanya sambil memijat dan ber-cinta dalam bath up bersama. Andreas semakin larut dalam fantasinya.


" Bagaimana, Sayang? Apa menurutmu seperti itu juga menyenangkan?" Bisik Stevia ditelinga Andreas dengan suara setengah men- desah.


Andreas kembali terkesiap, sungguh bodoh dirinya dengan begitu saja tergoda oleh ucapan Stevia. Tangannya segera mengobrak-abrik angan- angan kotor dalam otaknya.


" Hei,, cepat mandi sana. Jangan membuatku semakin kesal ! " Andreas mendorong tubuh Stevia menjauh darinya. Hah,, sehari bersama wanita itu sudah membuatnya menjadi gila.


Stevia tertawa renyah, ternyata sangat mudah membangunkan kucing tidur seperti Andreas. Pria itu masih saja mendorong dirinya ke arah kamar mandi.


" Ayolah Andreas. Apa kau tidak mau mandi bersamaku? Pasti menyenangkan sekali. " godanya kembali diiringi gelak tawa.


" Cepat sana masuk! Dasar culun tak tahu diri. Jangan memancing emosiku jika kau tak ingin menyesal nanti." Paksa Andreas memaksa wanita itu masuk kedalam kamar mandi. Ia membuang nafas kasar setelah berhasil menghilangkan Stevia dari pandangannya.


" Heh,, lama-lama aku bisa gila dibuatnya. " gerutunya sambil mengacak rambutnya karena kesal.


Saat Andreas hendak melangkah, tiba-tiba Stevia muncul kembali daru balik pintu kamar mandi.


" Andreaasss. " panggilnya menggoda.


Habis sudah kesabaran pria tersebut. Ia berbalik dan menatap tajam wanita dihadapannya. Stevia justru semakin tertantang untuk menggodanya.

__ADS_1


" Eeummuuahhhh.." sebuah ciuman jauh yang cukup lama ia tujukan untuk Andreas.


Andreas geregetan, iapun bertindak seolah menangkap ciuman tersebut, melemparnya ke lantai dan menginjak-injaknya dengan kasar.


" Rasakan ini ! " ia terus saja menginjak lantai itu sambil menatap kesal pada Stevia.


Stevia semakin tertawa lepas, ia membuat beberapa ciuman jauh kembali dan menujukkan semuanya pada Andreas. Andreas terlihat semakin geram, saat pria itu mendekatinya buru-buru ia masuk dan mengunci pintu dari dalam.


Andreas mengatur nafas untuk mengendalikan emosi. Jika terus-terusan begini, lama-lama diapun bisa kena serangan jantung seperti papanya. Ia memutuskan keluar dari kamar yang sukses membuatnya kegerahan kali ini.


Stevia merendam tubuhnya didalam bath up yang telah diberi aroma therapy. Rasanya sungguh nyaman, otot-ototnya yang kencang kini semakin terasa rileks. Yah, dirinya perlu menyempatkan diri untuk ritual seperti ini agar tahan menghadapi kakunya seorang Andreas Dirgantara.


Setelah hampir satu jam berendam dan membersihkan diri. Stevia segera keluar dengan menggunakan jubah mandinya. Jujur, iapun sebenarnya malu berbuat seperti itu pada Andreas. Tapi, mau bagaimana lagi? Dirinya tak boleh terlihat lemah dan selalu jadi yang tertindas seperti dulu. Ia bertekad untuk menjinakkan Andreas yang sombong dan kasar itu.


" Untung saja dia tidak ada. Aku bisa leluasa berganti pakaian. " gumamnya lega.


Saat mengambil pakaiannya dari dalam koper, tanpa sengaja ia menjatuhkan sebuah dokumen yang terselip diantara pakaiannya. Ternyata dokumen tersebut adalah dokumen yang diberikan oleh Papa Wildan padanya waktu itu. Surat dari Papa Wildan juga masih utuh bersama dokumen tersebut.


" Aku harus menyimpannya baik-baik. Jangan sampai Andreas tahu tentang hal ini. " gumamnya seorang diri.


Namun sial, saat berniat menyimpannya kembali tiba-tiba terdengar seseorang memutar tuas pintu kamar. Stevia kebingungan, ia yakin itu pasti adalah Andreas.


Buru-buru wanita itu naik keatas ranjang dan menyelipkan dokumen tersebut di belakang ranjang.


" Apa yang sedang kau lakukan? " Andreas menatap penuh kecurigaan. Ia seperti melihat Stevia tengah menyembunyikan sesuatu.


" Ti- tidak. Aku hanya lelah, rasanya aku masih ingin tidur lagi setelah ini. " jawabnya sedikit gugup.


Andreas menatap penuh selidik sanbil berjalan mendekati Stevia. Ia semakin yakin ada sesuatu yang sedang disembunyikan wanita itu.


Stevia bersiap siaga, dari tatapan Andreas sudah jelas jika pria tersebut mencurigainya. Saat semakin dekat, tiba-tiba Andreas berusaha untuk mencari sesuatu yang ada dibalik bantal Stevia. Dengan sigap, Stevia berusaha menghalangi maksud pria tersebut.


" Ayo cepat katakan. Apa yang sedang kau sembunyikan! " Andreas mencoba menarik bantal, namun Stevia malah mendudukinya.

__ADS_1


" Aku tidak menyembunyikan apapun. Jangan mengganggu privasiku. " bentak Stevia yang tengah gugup saat ini. Ia yakin Andreas akan salah paham jika sampai tahu tentang dokumen tersebut.


" Kau bohong! Aku yakin ada sesuatu yang kau sembunyikan dibawah sana. " Andreas semakin memaksakan kehendaknya, tanpa sadar ia justru menaiki Stevia. Lelaki itu hendak menarik bantal dengan tangannya, namun Stevia berusaha mendorong tangan Andreas menjauh dari sana.


Lantaran tenaga Andreas yang cukup besar, tangan Stevia kewalahan dan justru dirinya terbaring diatas ranjang dengan kedua tangan terbelenggu oleh Andreas. Pria itupun ikut terjatuh dengan posisi menindih tubuh Stevia.


Stevai melirik bagian dadanya, jubah mandinya jadi terbuka karena banyak melakukan pergerakan. Andreas ikut melirik kemana mata Stevia terfokus.


Tampak olehnya kaca mata yang menutupi dada wanita itu. Sesuatu terlihat menyembul disana. Netranya tak berkedip melihat apa yang ada didalam sana. Stevia memanfaatkan hal ini untuk mendorong tubuh Andreas yang berada diatasnya.


Andreaspun jadi salah tingkah, apalagi saat menyadari posisi mereka barusan. Buru-buru Stevia membenahi jubah mandinya yang berantakan.


" Pem- balut wanita. " ucapnya sambil menundukkan wajahnya karena malu.


" Apa maksudmu? " Andreas tak mengerti mengapa Stevia mengatakan hal tersebut.


" Aku menyembunyikan pembalutku dibawah sini. Ambilah jika kau mau melihatnya. " Stevia memasang wajah memelas dan berpura-pura pasrah.


" Apa!! " Andreas mendelik seketika saat tahu apa yang diperebutkannya barusan. Ini adalah sesuatu yang sangat memalukan baginya.


Buru-buru ia turun dari ranjang, mukanya memerah karena malu tak terkira. Ia berniat keluar dari kamar, namun dirinya teringat apa tujuannya masuk ke kamar barusan.


" Papa menunggu kita diruang keluarga. Ada hal penting yang akan ia sampaikan. " ia berkata tanpa berbalik dan langsung keluar dari kamarnya.


Stevia mendesah lega, untuk saja ia punya alasan yang tepat untuk membohongi Andreas. Ia segera mengambil dokumen dari balik bantalnya.


" Aku harus segera menyimpannya dengan baik. " ia bergegas menuju koper dan menyelipkan dokumen itu kembali ditempat yang aman. Mengunci koper tersebut dan menyimpannya di lemari bagian bawah.


" Huuhh,, untung saja. " gumamnya lega.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnyađź’–

__ADS_1


__ADS_2