
Tok...Tok...Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan Andreas. Lelaki itu segera menyuruh tamunya yang tak lain adalah Tomy untuk masuk ke dalam.
" Tumben sekali kau datang ke kantorku? Sepertinya ada hal yang penting? " tanyanya sembari memeriksa beberapa berkas di atas meja.
" Maaf sepertinya aku mengganggu. Kau terlihat sibuk saat ini. " Tomy merasa sungkan lantaran nampak tumpukan berkas di meja sahabatnya.
Andreas menyeringai dan menatap lawan bicaranya sekarang.
" Kau ini seperti dengan siapa saja. Sejak kapan kau memiliki rasa sungkan padaku, heum? Yah, akhir-akhir ini aku sangat sibuk. Ngomong-ngomong, ada perlu apa kau kemari?" tanyanya kembali.
Tomy menghela nafas kasar, sebenarnya ia memang sungkan melihat kesibukan Andreas. Akan tetapi, dirinya juga tak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi selain sahabatnya tersebut.
" Hari Minggu ini Ririn akan menikah, Bro. Kemarin dia mengabariku dan mengucapkan terima kasih karena telah mengizinkannya bekerja di kantor selama ini. Dia mengatakan bahwa dirinya tidak akan melupakan semuanya. Setelah itu, Ririn langsung menutup teleponnya. " ungkapnya lesu.
Andreas baru teringat jika waktu itu dirinya berjanji untuk membantu menyatukan mereka. Namun, karena masalah dalam keluarganya sendiri dan kesibukannya di kantor, dirinya sampai lupa membantu Tomy.
" Astaga, maaf aku sampai lupa. Padahal aku sudah berjanji untuk membantumu waktu itu. Sorry Bro, akhir-akhir ini pekerjaanku menumpuk, belum lagi kondisi kak Stefan yang memprihatinkan. Kami terpaksa memasukkannya ke rumah sakit jiwa. " tutur Andreas pasrah.
Tomy ikut iba mendengar apa yang menimpa Stefan.
" Kasihan sekali kak Stefan, semoga dia bisa cepat sembuh nanti. Maaf aku benar-benar tidak tahu, kalau keluargamu sedang tertimpa musibah. " sesalnya.
__ADS_1
Andreas mengangguk pelan, pandangannya beralih pada seseorang yang baru saja memasuki ruangannya.
Kebetulan pintu ruangan Andreas sedikit terbuka barusan. Stevia ikut masuk saat tanpa sengaja melihat Tomy ada di dalam. Wanita itu segera menyapa dan duduk disamping Tomy.
" Sayang, Tomy datang kemari untuk meminta bantuan kita. Ririn minggu ini sudah akan menikah, aku sampai lupa jika beberapa minggu yang lalu Tomy meminta bantuan kita untuk mencegah pernikahan Ririn dengan sahabatnya. " jelas Andreas pada istrinya.
Steviapun ikut menyesal, dirinya juga turut melupakan hal itu.
" Maafkan kami, Tom. Kami benar-benar lupa lantaran persoalan keluarga kami sendiri sedang rumit akhir-akhir ini. Lalu? Apa rencanamu sekarang? Kenapa kau tak mengutarakan perasaanmu saja pada Ririn sebelum dia pergi waktu itu?" tanya Stevia.
Tomypun turut mempertanyakan kebodohannya, padahal dulu dirinya juga sering membual dengan gombalan-gombalan omong kosong pada Ririn.
" Akupun tidak mengerti, Vie. Saat Ririn mengajukan surat pengunduran diri sekaligus menyampaikan rencananya yang ingin menikah. Waktu itu aku justru terdiam, suaraku seakan tertahan. Aku membiarkannya pergi begitu saja tanpa menahannya." ungkap Tomy mengingat kejadian tersebut.
" Aku baru menyadari bahwa aku sangat membutuhkannya saat dirinya sudah tidak ada. " pungkasnya.
" Lalu? Apa kau juga tidak tahu bagaimana perasaan Ririn padamu? Atau Bagaimana perasaan Ririn pada lelaki tersebut? Bisa jadi Ririn dan pria itu saling menyukai sebelumnya." Stevia mencoba mengambil kesimpulan.
Raut wajah Tomy berubah muram. Benar kata Stevia, Ririn belum tentu menyukainya dan siapa tahu saja lelaki itu dulu adalah kekasih Ririn.
Rasa percaya dirinya menurun drastis, belum tentu apa yang ia perjuangkan nanti juga sehati dengannya.
" Benar katamu, Vie. Mungkin lebih baik aku mengikhlaskannya saja. Mungkin memang kami belum berjodoh. Siapa tahu juga pria itu adalah pria yang memang disukai oleh Ririn. " ungkapnya pasrah.
__ADS_1
Stevia terkesiap, Tomy sepertinya salah paham terhadapnya. Ia segera meralat kata-katanya.
" Bukan, bukan begitu maksudku. Kau jangan salah paham dulu. Menurutku, kau tidak boleh menyerah. Sebelum janur kuning melengkung, semua masih berhak memperjuangkannya. Kau harus mengungkapkan perasaanmu meskipun jawaban pahit yang akan kau terima. " ralat Stevia menyemangati.
Andreas ikut menyemangati, ia tak ingin sahabatnya kalah sebelum berperang.
" Istriku benar. Kau tidak boleh menyerah. Kau harus memperjuangkan cintamu. Jangan jadi pengecut atau kau akan menyesal nanti. " tegurnya pada Tomy.
Tomy mengembangkan senyumnya, semangat dalam dirinya kini telah kembali.
" Baiklah, terima kasih telah mendukungku. Kalau begitu besok kita harus berangkat! " ucapnya bersemangat.
" Berangkat kemana?" sahut pasangan suami istri tersebut kompak.
" Ke kampung halaman Ririn. Kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. " jawab Tomy bersungguh-sungguh.
Andreas dan Stevia saling bersitatap, ini sepertinya terlalu mendadak. Namun, mau bagaimana lagi? Waktu mereka tidak banyak. Mereka hanya punya waktu kurang dari satu minggu untuk mengubah pendirian Ririn. Dan tentunya, hari ini mereka harus lembur dan menyelesaikan seluruh pekerjaan mereka.
" Baiklah. Kami akan ikut denganmu." jawab keduanya serempak.
Tomy bersyukur lantaran memiliki para sahabat yang bisa diandalkan.
" Semoga aku masih punya waktu untuk mendapatkan cinta Ririn." tekadnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗