Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
KEPUTUSAN RIRIN


__ADS_3

Tomy kembali ke kediaman Ririn dengan perasaan cemas. Ia takut Ririn belum kembali kerumah semenjak kejadian tadi di pantai. Ia telah berkeliling dan menyusuri jalanan, namun dirinya tak menemukan Ririn, padahal gadis itu berjalan kaki.


Pria itu mengetuk pintu saat tiba di didepan rumah. Dirinya pasti akan sangat kebingungan jika sampai Bu Dian menanyakan keberadaan putrinya.


Ceklek...


Bu Dian membukakan pintu untuknya. Pandangan Tomy langsung tertuju pada Ririn yang telah berganti pakaian dengan surainya yang masih basah. Gadis tersebut tengah mengobrol dengan Alan, calon suaminya.


" Nak Tomy juga kehujanan? Bukankah tadi kalian berangkat bersama? Kenapa kalian pulang sendiri-sendiri? Untung tadi Ririn bertemu dengan Alan yang menyusulnya. " tegur Bu Dian.


Pandangan Ririn dan Tomy saling bertemu ketika mendengar pertanyaan dari Bu Dian. Namun, Ririn buru-buru menurunkan pandangannya lantaran tak ingin terjerat kembali pada mantan atasannya.


" Maaf, Bu. Tadi aku pergi ke toilet tanpa berpamitan terlebih dahulu pada Ririn. Saat aku keluar, ternyata turun hujan cukup lebat. Aku mencari Ririn, tetapi tidak menemukannya. Sekali lagi, saya minta maaf." sesal Tomy beralasan.


Bu Dian bisa menerima alasan yang disampaikan oleh Tomy. Iapun segera menyuruh pemuda tersebut untuk masuk dan berganti pakaiannya.


Alan melihat perubahan sikap Ririn semenjak di pantai tadi. Ia menemukan Ririn sedang menangis saat keduanya bertemu barusan. Dan kini, gadis itu nampak murung serta lebih pendiam sekarang.


" Rin, apa kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.


Ririn tersenyum datar, ia mencoba menepis kesedihan di hatinya.


" Aku baik-baik saja, Alan. Kau tidak perlu khawatir. Mungkin aku hanya masih gugup menghadapi pernikahan kita. " jawabnya berbohong.


Alanpun terdiam, hatinya sedang galau saat ini. Ia benar-benar tidak siap jika sampai Ririn membatalkan pernikahan mereka. Bagaimanapun, dirinya telah mencintai dan memimpikan gadis tersebut sejak lama.


" Kalau begitu, lebih baik sekarang kau beristirahat dan jaga kesehatan. Aku tidak mau kau malah sakit pada saat hari pernikahan kita. Kalau begitu aku pamit dulu. " pria itu berdiri dan untuk pertama kalinya ia memberi kecupan di puncak kepala Ririn.


Ririn terkesiap, tetapi dirinya tidak bisa menolak. Ia harus menerima kenyataan bahwa sebentar lagi ia akan menjadi milik Alan seutuhnya.


Gadis itupun bangkit dan menuju ke kamarnya. Rasanya ia ingin kembali menangis untuk mengurangi luka di hatinya.


Ketika berjalan menuju kamar, tiba-tiba tangan seseorang menariknya ke balik tembok. Dirinya terperanjat melihat kehadiran Tomy disana. Pria itu menggandeng dan membawa Ririn ke dalam kamarnya. Tomy menutup daun pintu dan memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya.


Keduanya saling berhadapan, Tomy mengangkat kepala Ririn yang tertunduk sedari tadi. Betapa miris hatinya melihat gadis yang ia cintai kini tengah berlinang airmata.

__ADS_1


Suaranyapun tercekat, ia merasakan sesak yang teramat di dadanya. Jika saja tidak sedang berhadapan dengan Ririn, mungkin iapun bisa saja menangis saat ini. Namun, dirinya adalah seorang lelaki. Ia tak boleh lemah dihadapan wanita yang ia cintai.


" Rin, kumohon batalkan pernikahan ini. Jangan menyiksa dirimu seperti ini. Aku akan menjelaskan pada ibumu tentang hubungan kita. Aku pasti akan menikahimu, Rin. " ucap Tomy meyakinkan.


Air mata Ririn justru mengalir semakin deras. Hatinya dilema antara mempertahankan pernikahan yang sudah di depan mata ataukah bersama dengan orang yang ia cintai.


" Pak Tomy? Aku tidak bisa. Keluargaku dan keluarga Alan pasti akan menanggung malu jika pernikahan ini dibatalkan. Keluarga Alanpun sudah begitu baik dan selalu membantu keluargaku selama ini." jelas Ririn berurai airmata.


Tomy masih saja tak terima,


" Tapi Rin? Bukankah pernikahan tanpa didasari oleh cinta justru hanya akan menyakiti kedua belah pihak? Rin, dengarkan isi hatimu. Kau berhak bahagia, sayang. " ucap Tomy mengiba.


Pria itu menarik Ririn ke dalam dekapannya. Gadis itu menyandarkan kepala sambil menumpahkan seluruh airmatanya di bahu Tomy. Pria itu menyapu lembut puncak kepala Ririn untuk menenangkan.


Sesaat Ririn mulai terbuai oleh suasana, namun kesadarannya kembali ketika mengingat tentang pernikahannya.


Ia mendorong tubuh Tomy perlahan agar menjauh darinya.


" Pak Tomy. Aku mohon, mulai saat ini lupakanlah aku. Kita saling mencinta, tapi kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Tolong hargai keputusanku ini. Biarkan aku memilih jalanku sendiri. " pinta Ririn berderai airmata. Ia pun langsung berlari keluar meninggalkan kamar Tomy setelah memantapkan pilihannya.


Tomy terdiam mematung, hatinya teramat perih mendengar keputusan Ririn barusan. Tanpa terasa, bulir airmata membasahi kedua sudut matanya.


***


Andreas dan Stevia bergegas untuk kembali ke rumah Ririn. Mereka terkejut saat Tomy mengirimkan pesan bahwa dirinya ingin kembali ke kota hari ini.


" Sayang, apa menurutmu Ririn menolak cinta Tomy? Atau Tomy tidak berani mengungkapkan perasaannya? Aku pikir setelah kita meninggalkan mereka berdua, keadaan akan berubah membaik. " Sesal Stevia. Wanita itu tengah sibuk mengemasi barang-barangnya.


Andreaspun ikut membantu istrinya mengemas beberapa souvenir hasil berburu mereka kemarin,


" Akupun belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya. Lebih baik kita segera kesana dan menanyakan langsung pada Tomy. "


Keduanyapun segera check out dari hotel tempat mereka menginap dan segera kembali ke rumah Ririn.


***

__ADS_1


Tomy telah mengemas seluruh pakaian dan memasukkannya kedalam koper. Tekadnya sudah bulat, dirinya harus pergi dari rumah Ririn sekarang juga. Yang jelas, ia tak akan sanggup untuk menyaksikan Ririn bersanding dengan pria lain besok.


Pria itu nampak gelisah di dalam kamarnya. Ia sengaja menunggu kedatangan Andreas dan Stevia barangkali mereka akan ikut kembali ke kota bersamanya.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari arah luar. Dengan segera ia membukakan pintu, siapa tahu Andreas dan Stevialah yang datang.


" Bu Dian?" gumamnya pelan saat melihat Ibu Ririn tengah berdiri di depan kamarnya.


Wanita tersebut mengamati Tomy dari atas sampai kebawah.


" Nak Tomy mau kemana pagi-pagi begini sudah rapi ? Ibu mau mengajak Nak Tomy untuk sarapan bersama. " tanya Bu Dian penasaran.


Tomy kebingungan untuk menjawab, dengan terpaksa ia membohongi wanita tersebut.


" Saya akan kembali ke kota hari ini, Bu. Ada klien yang memaksa ingin bertemu denganku hari ini juga. Maaf, beberapa hari ini saya telah merepotkan Ibu sekeluarga. " pamit Tomy sopan.


Bu Dian terkejut mendengar Tomy yang tiba-tiba saja berpamitan untuk pergi dari rumahnya. Sebenarnya, dirinya semalam tanpa sengaja juga melihat Ririn keluar dari kamar Tomy sambil menangis.


" Apa yang sebenarnya terjadi dengan Ririn dan Nak Tomy. Ya Tuhan, kenapa perasaanku tidak enak begini. " batin Bu Dian gelisah. Wanita itu kembali tersadar dari lamunannya saat Tomy beberapa kali memanggilnya.


" Sayang sekali. Padahal tinggal besok pernikahan Ririn digelar. Ibu sangat berharap Nak Tomy , Nak Andreas dan Stevia mendampingi dan menjadi saksi di pernikahan Ririn besok. " ungkap Bu Dian kecewa.


Tomy sebenarnya tidak tega, tetapi mau bagaimana lagi? Perasaannya sendiri sedang tersiksa saat ini.


" Maafkan saya, Bu. Sebenarnya saya sendiri juga menyayangkan. Namun, klien saya ini benar-benar klien penting dan sudah sangat sering bekerjasama dengan perusahaan. Nanti lain waktu, jika ada kesempatan saya akan mampir kesini kembali. " tolak Tomy halus.


Tak berselang lama, Andreas dan Steviapun telah tiba disana. Mereka berniat segera menemui Tomy untuk meminta penjelasan. Setelah Bu Dian meninggalkan kamar Tomy, keduanyapun masuk ke dalam kamar Tomy.


Tomy menceritakan apa yang telah terjadi sebenarnya. Tentang Ririn yang memiliki perasaan sama dengannya. Namun, gadis itu tidak bisa membatalkan pernikahan yang akan digelar besok. Ririn memutuskan untuk mempertahankan pernikahannya dan memilih melepaskan dirinya.


Andreas dan Stevia merasa iba, mereka mencoba menyemangati Tomy supaya tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


" Sudahlah Tom, kau harus belajar untuk ikhlas dan menerima semuanya. Yang terpenting kau telah mengutarakan perasaanmu. Masalah jodoh itu urusan Tuhan. Jika memang Ririn tidak berjodoh denganmu, Tuhan pasti telah menyiapkan jodoh yang terbaik untukmu. " Andreas mencoba menyemangati.


Tomy membuang nafas kasar, ia mencoba mencerna kata-kata sahabatnya. Yah, mungkin Andreas benar. Ia harus belajar mengikhlaskan semuanya. Ini adalah konsekuensi yang harus ia hadapi. Dirinya terlalu terobsesi untuk mendapatkan Stevia hingga tak menyadari kehadiran cinta sejatinya.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2