Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
RAPAT TENDER


__ADS_3

Andreas tengah disibukkan oleh setumpuk file di meja kerjanya. Nanti siang rencananya akan diadakan rapat tender di perusahaannya.


Beberapa perusahaan telah mengajukan diri untuk dapat bekerjasama dengan perusahaan Dirgantara's Company yang akan membangun kompleks apartement mewah dilengkapi dengan mall di dalamnya.


Ini merupakan proyek pertama bagi Andreas. Dirinya harus mempelajari betul-betul perusahaan yang ingin bekerjasama dalam pembangunan proyeknya.


Tok..Tok...Tok..


" Masuk."


Stefan melangkah masuk ke ruangan Andreas. Ia membawa salah satu data perusahaan yang akan mengikuti tender tersebut. Ia meletakkan file itu dihadapan Andreas.


" Apa ini? " ia tak mengerti maksud dari Stefan.


" Itu data dari perusahaan Oxford. Beberapa tahun ini perusahaan kita bekerjasama dengan mereka dalam pembangunan. Aku sangat mengenal bosnya, dia sangat baik dan disiplin. Diapun telah memiliki arsitektur sendiri yang sangat mumpuni. Aku mau kau memilihnya dalam tender nanti. " pinta Stefan pada Andreas.


" Tapi kak? Sekarang sudah banyak perusahaan baru yang cukup kompeten. Rasanya tidak adil jika tender ini dibuat tanpa memperhitungkan yang lainnya. Kalau begitu, Kenapa tidak dari awal kita minta perusahaan Oxford saja yang menanganinya. " sarkas Andreas.


Darah Stefan ingin mendidih rasanya mendengar penolakan Andreas. Dia pikir Andreas akan dengan mudah dipengaruhi olehnya. Perusahaan Oxford selalu memberikan bagian keuntungan padanya selama memegang proyek perusahaan mereka. Jika perusahaan itu kalah tender, maka dirinya pasti akan kehilangan salah satu sumber pendapatannya.


" Ya sudah. Kakak hanya memberi saran. Perusahaan itu sangat bagus menurutku, mereka juga memberikan harga yang lebih rendah dibandingkan yang lainnya. Aku merasa tidak enak saja sebab selama ini mereka belum pernah mengecewakan perusahaan kita. " Stefan berusaha mengambil simpati Andreas. Pria itupun pergi dengan raut wajah penuh kekecewaan.


Andreas membuang nafas kasar, dirinya tidak boleh terbawa perasaan. Pendiriannya tetap sama, ia harus jeli dalam memilih perusahaan yang benar-benar kompeten demi kemajuan perusahaannya.


...------------...


Stefan kembali keruangannya dengan perasaan kesal. Ia segera memanggil Cecile keruangannya.


Tak berselang lama Cecile memenuhi panggilan atasannya.


" Ada apa memanggilku, Pak? " tanyanya dingin.


Wanita itu hanya menunduk, hatinya terlampau sakit mengingat perbuatan bejat Stefan semalam.


Stefan memperhatikan Cecile, wanita itu sepertinya sangat marah padanya. Ia memilih untuk bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan tak ingin membahas kejadian semalam. Kali ini dirinya butuh bantuan Cecile untuk membujuk Andreas.


" Aku mau kau ke ruangan Andreas. Bujuk dia supaya mau memilih perusahaan Oxford sebagai pemenang tender. Rapat tender akan dilaksanakan siang ini. Waktu kita tidak banyak. Kaupun pasti juga ikut rugi jika sampai proyek ini diberikan kepada perusahaan lain." jelas Stefan dingin.


Cecile perlahan mulai mendongakkan wajahnya. Wanita itu tersenyum sinis,


" Heh. Ternyata kau masih butuh bantuanku juga rupanya. Jika saja ini tidak ada hubungannya dengan Andreas? Aku tak sudi menuruti perintahmu! "

__ADS_1


Stefan berdiri lalu mendekat pada Cecile. Pria itu tiba-tiba saja menarik dan mencengkeram lengan Cecile dengan keras lalu melu*at bibir wanita tersebut dengan kasar.


Cecile berusaha melawan, tetapi dirinya sungguh tak berdaya sampai akhirnya Stefan menghempaskan tubuhnya begitu saja. Ia memegangi kedua lengannya yang nyeri. Dirinya kembali ketakutan jika kejadian semalam terulang kembali.


Stefan menyeringai penuh kemenangan.


" Aku tidak butuh penolakan. Kau hanyalah sebuah boneka yang harus selalu menurut dengan apa yang aku perintahkan. Apa kau mengerti!" suara Stefan menggelegar dengan tatapan nyalang.


Cecile semakin tertekan, ia mengangguk pelan untuk meredam kemarahan Stefan. Lelaki itu puas, Cecile mau menurut padanya.


" Bagus. Cepat lakukan perintahku, jangan sampai gagal. Waktumu tidak banyak!" perintahnya penuh penekanan.


Cecile segera keluar dari ruangan Stefan yang sudah seperti neraka baginya. Ia menghapus airmata serta memperbaiki penampilannya terlebih dahulu baru kemudian menuju ke ruangan Andreas.


" Suatu saat aku pasti akan membalas semua perbuatanmu. " tekadnya dalam hati.


***


Cecile segera memasuki ruangan Andreas setelah mengetuk pintu sebelumnya. Andreas tersenyum simpul melihat kedatangan sang kekasih.


" Ada apa kau kemari? Apa kakak yang menyuruhmu kesini? "


Andreas paham, sang kakak pasti memanfaatkan sang kekasih untuk membujuknya agar mengubah pendiriannya.


Andreas merasa tak nyaman, tetapi ia tak tega melihat Cecile yang nampak bersedih seperti ini.


" Kumohon. Aku tidak tahu lagi caranya agar bisa membujukmu. Tapi, aku juga mengenal Pak Johan si pemilik perusahaan Oxford. Beliau sangat baik dan bisa diandalkan. " pinta Cecile dengan netra berkaca-kaca. Ia tak kuasa membendung airmata akibat tekanan batin yang menghimpit dirinya.


Andreas paling lemah dengan airmata seorang wanita.


" Baiklah. Aku pasti akan mempertimbangkannya kembali. " ia mencoba mendorong perlahan Cecile dari atasnya, tetapi wanita itu justru membungkam mulutnya dengan bibir.


Saat keduanya berciuman, tiba-tiba saja Stevia masuk keruangan tersebut lantaran pintu ruangan yang sedikit terbuka.


Andreas menyadari kehadiran Stevia, dengan segera ia mendorong Cecile agar bangun dari pangkuannya. Lelaki itu sudah seperti seorang suami yang terciduk berselingkuh di depan istrinya.


Tangan Stevia bergetar, ingin rasanya ia menampar ja*ang yang berusaha merebut suaminya. Hatinya terlalu sakit menyaksikan kejadian barusan.


" Kalian keterlaluan. Bisa-bisanya berbuat seperti itu di dalam kantor. Apa kalian tak malu jika ada karyawan lain yang melihat! " ucapnya dengan suara bergetar.


Andreas merasa sangat bersalah, apalagi melihat Stevia yang nampak begitu kecewa karenanya. Namun, berbeda dengan Cecile yang justru seolah ingin menantang Stevia.

__ADS_1


" Aku tak peduli. Biar saja semua orang tahu bagaimana hubunganku dengan Andreas sebenarnya. Biar semua orang tahu jika sebenarnya kau seorang istri yang tak diinginkan! " sahutnya lantang.


Andreas mengusap wajahnya kasar, dirinya merasa terpojok dalam situasi ini. Dirinya harus bisa menentukan sikap.


" Cecile. Kembalilah ke ruanganmu. Aku tak ingin ada keributan disini. " pinta Andreas.


Cecile mendengus kesal, Andreas seakan tak berpihak kepadanya. Lagi dan lagi dirinyapun terpaksa pergi dengan perasaan dongkol setelah melihat Andreas menatap penuh ketegasan padanya.


Kini hanya ada Andreas dan Stevia yang saling terdiam membeku. Stevia mengusap airmata yang hampir meluncur di kedua sudut matanya. Ia tak ingin terlihat lemah di depan siapapun.


" Untuk apa kau kesini? " pertanyaan dingin itu meluncur dari mulut Andreas. Ia kembali duduk di meja kerjanya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Stevia membuang nafas kasar, ia berusaha mengontrol perasaannya. Iapun mendekati Andreas sembari meletakkan sejumlah file yang ada ditangannya. Hatinya tak boleh lemah, dirinya sadar masih ada bayang-bayang Cecile diantara mereka. Wanita itu sudah mengakar cukup lama dalam sanubari Andreas.


" Ini beberapa data perusahaan yang menurutku kompeten untuk menjadi mitra kita kedepannya. Kau bisa melihat dan mempelajarinya sendiri setelah ini. Aku sudah memeriksa daftar perusahaan yang akan mengikuti tender. Kebetulan, Raihanpun sudah mendapatkan informasi dari kesemuanya. Dan diantara mereka semua, ketiga perusahaan inilah yang patut untuk kita pertimbangkan."


Stevia nampak serius menjelaskan. Andreas sangat kagum dengan cara kerjanya, iapun tak meragukan kemampuan Raihan sebagai mantan asisten pribadi sang Papa.


" Lalu bagaimana dengan Oxford? Kak Stefan ingin agar kita kembaki bekerjasama dengan mereka." Andreas ingin tahu sampai dimana hasil kerja istrinya.


" Aku sudah menyelidiki di beberapa hotel dan apartemen yang telah dibangun sebelumnya. Setiap tahun kita harus menggelontorkan dana yang cukup besar untuk perbaikan beberapa fasilitas. Padahal seharusnya kerusakan seperti itu bisa diminimalisir dengan pemakaian alat dan bahan yang terbaik melihat dana yang kita keluarkanpun jumlahnya tidak main-main." jelas Stevia.


Andreas tersenyum puas,


" Baiklah. Aku akan mempertimbangkannya lagi nanti."


***


Rapat tender telah dibuka, puluhan perusahaan sedang mengikuti tender tersebut. Satu persatu perwakilan dari perusahaan-perusahaan itu mempresentasikan keunggulan perusahaan masing-masing.


Andreas cukup tertarik dengan beberapa nama yang diajukan Stevia. Hasil penelusuran Stevia sangat tepat, ketiganya memang handal dan kompeten untuk bisa dijadikan mitra selanjutnya. Iapun telah mempelajari tentang Oxford, pada realitanya perusahaan tersebut masih kalah jauh bersaing dengan perusahaan yang diusulkan oleh Stevia.


Rapat hampir usai, kini semua tengah menunggu keputusan daru Andreas. Cecile telah meyakinkan Stefan bahwa Andreas menyetujui usulan darinya.


Namun, betapa kecewa dirinya saat mendengar Andreas mengumumkan bahwa perusahaan GREENFIELD lah yang dipilih menjadi mitra selanjutnya mengingat perusahaan tersebut.


Pak Johan sangat marah padanya, ia mengancam akan membeberkan kecurangan Stefan selama ini jika sampai ia tak mampu membuat Andreas mengubah keputusannya.


" Aaarrghhh...Kurang ajar!! Andreas telah merusak segalanya." umpatnya kesal.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kaliam disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2