Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
STEFAN MASUK RUMAH SAKIT JIWA


__ADS_3

Semakin hari kondisi Stefan semakin memprihatinkan. Lelaki itu enggan makan, membersihkan diri dan enggan berbicara dengan orang lain.


Terkadang ia tertawa seorang diri, lalu tiba-tiba menangis dan mengamuk sambil memukul-mukul kepalanya. Lelaki itu bahkan nyaris membunuh dirinya sendiri dengan pecahan gelas yang ia jatuhkan.


Kedua orang tua serta adiknya selalu berusaha untuk melakukan pendekatan pada Stefan.


Ditengah-tengah kesibukannya mengurus perusahaan, Andreas dan Stevia selalu meluangkan waktu untuk mencoba mengajak bicara dari hati ke hati. Namun, hasilnya tetap sama, Stefan sama sekali tak merespon bahkan terkadang pria itu malah mengamuk tanpa sebab.


Kini seluruh anggota keluarga kembali bercengkrama di ruang keluarga. Semua begitu miris dan khawatir dengan kondisi Stefan yang sangat memprihatinkan.


" Ma, Pa. Apa mungkin sebaiknya kita bawa Kak Stefan ke psikiater atau ahli kejiwaan? Aku rasa kondisi kakak sudah tidak bisa ditolirer. Dia bukan hanya depresi, tapi juga mengalami gangguan mental. " saran Andreas.


Pak Wildan mendengus pasrah. Beliau sendiri agaknya sudah tidak tahu lagi, bagaimana caranya untuk membuat Stefan kembali seperti sedia kala.


Begitu pula Bu Renata, bulir-bulir airmata kembali bergulir seiring kesedihan yang beliau rasakan. Tidak akan ada seorang ibu yang tega melihat putra yang ia besarkan dengan sepenuh hati mengalami gangguan kejiwaan seperti itu.


Stevia mendekap tubuh ibu mertuanya. Iapun ikut larut dalam kesedihan. Ia merasa iba terhadap apa yang menimpa keluarga sang suami.


" Ma, mama jangan berlarut-larut dalam kesedihan seperti ini. Mama harus kuat agar Mama juga mampu menguatkan kak Stefan. Aku yakin, pasti kak Stefan bisa sembuh sepeeti sedia kala. " ucapnya menenangkan.


Bukannya terdiam, justru kini ibu mertuanya semakin tergugu. Bu Renata mencoba menghapus air matanya yang terus mengalir.


" Mama tidak bisa membayangkan, Vie. Bagaimana kalau seandainya Stefan harus dirawat di rumah sakit jiwa? Anakku tidak gila,Vie. " sanggah Bu Renata.


" Iya, Ma. Kak Stefan tidak gila, tapi kak Stefan membutuhkan perawatan khusus. Jika hanya kita yang merawat, kemungkinan keadaannya justru akan semakin memburuk. Kita membutuhkan orang-orang yang ahli dibidangnya, yang mampu menyembuhkan mental dan kejiwaan kak Stefan. " jelas Stevia panjang lebar.


Meskipun setengah hati, akhirnya Papa Wildan dan Mama Renata menyetujui usulan Andreas dan Stevia.


Terlebih dahulu, besok mereka akan memanggil psikiatri ternama untuk memeriksa kondisi kejiwaan Stefan.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Dokter ahli kejiwaan yang disewa Andreas telah datang ke kediaman keluarga Dirgantara. Beliau mencoba melakukan pendekatan dan pemeriksaan kesehatan mental pada Stefan.


Dari hasil yang beliau dapatkan, Dokter tersebut menyarankan agar Stefan dirawat di rumah sakit jiwa. Ia harus mendapatkan perawatan secara intensif untuk bisa sembuh seperti sedia kala.


Jika tidak, kondisi Stefan bisa menjadi semakin memburuk. Dan lebih parahnya lagi, ia bisa saja meregang nyawa lantaran tindakannya di luar nalar.


Setelah mendengar secara langsung dari sang Dokter, Bu Renata akhirnya setuju untuk membawa Stefan ke rumah sakit jiwa. Ia akan berusaha membujuk Stefan agar mau pergi bersama mereka.


" Ma? Mama mau mengajakku kemana? Apa kita akan menemui Cecile disana?" raut wajah Stefan berbinar seketika.


Bu Renata tak mampu memandang wajah putranya. Hatinya tersayat mendengar ucapan Stefan barusan. Untuk beberapa lama lelaki itu hanya diam, namun kali ini Stefan mau berkata dengan wajah yang sumringah kepadanya.


Suaranya tercekat ditenggorokan, hampir saja ia ingin berubah pikiran.


" Ya Tuhan, Maafkan aku. Semoga ini adalah jalan terbaik untuk putraku." batinnya bergejolak.


Stefan berjalan mendekat dan menghampiri sang Mama.


Bu Renata seketika berderai air mata, disaat ia hendak membawa putranya kerumah sakit jiwa. Stefan justru berlaku manis terhadapnya. Semua yang menyaksikanpun ikut terharu melihat pemandangan ibu dan anak tersebut.


" Iya, Nak. Mama harap setelah ini kau bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala. " jawabnya terbata-bata.


Mereka akhirnya membawa Stefan pergi. Sepanjang perjalanan pria itu bersenandung riang, ia begitu bersemangat untuk dapat bertemu sang pujaan hati. Berbeda dengan lainnya yang justru merasa berdosa pada pria tersebut.


Setelah setengah jam lamanya perjalanan, akhirnya mereka tiba di Rumah Sakit Jiwa tempat Stefan akan dirawat.


Sungguh miris, Stevia dan Bu Renata sampai bergidik menyaksikan beberapa orang yang mengalami gangguan jiwa tengah berada disana. Dan sebentar lagi, Stefan akan menjadi salah satu bagian disana.


Stefan menatap sekeliling, ia tak melihat keberadaan Cecile. Namun, justru disana banyak sekali orang gila.


" Ma? Kenapa kita kesini. Ini..tempat apa? Cecile tidak ada disini. " ungkapnya terlihat tidak senang.

__ADS_1


" Sekarang kita turun dulu, Nak. Cecile sepertinya menunggumu di dalam. " jawab Bu Renata berbohong.


Stefanpun menurut, tanpa harus dibujuk dirinya langsung turun dari mobil diikuti keluarganya. Ia langsung masuk ke area rumah sakit.


Betapa terkejut dirinya, saat dua orang perawat menggandeng dan membawanya masuk ke dalam.


Stefan merasa terancam, pria itu menolak untuk dibawa. Ia menatap penuh ketegangan pada sang Mama.


" Ma, siapa mereka Ma? Aku tidak mau pergi bersama mereka. Apa Mama berbohong padaku! " bentaknya kesal. Ia mencoba melepaskan tangannya dari kedua wanita tersebut.


Bu Renata semakin trenyuh menghadapinya, namun semuanya sudah terjadi. Stefan memang butuh pengobatan.


" Kau akan dirawat sementara disini, Nak. Mama ingin kau cepat sembuh dan bisa menerima kenyataan. " ungkapnya berderai airmata.


Stefan begitu kesal, ia menolak untuk dibawa oleh kedua perawat tersebut.


" Lepaskan aku! Aku tidak mau tinggal disini! " tolaknya sembari berusaha melepaskan genggaman kedua perawat itu.


Kedua perawat kewalahan mengatasi Stefan yang mengamuk, mereka meminta dua orang security untuk membantu. Kali ini Stefan tak mampu berkutik.


" Lepaskan aku! Aku mau pulang. Mama, Kau jahat! " bentaknya berliput amarah.


Bu Renata dan lainnya hanya mampu memandanginya dari kejauhan. Suasana berubah haru lantaran tak tega mendengar teriakan Stefan yang menolak untuk di tangani.


" Kalian jahat! Kalian semua jahat! " teriaknya kembali, hingga akhirnya Dokter terpaksa menyuntikkan obat bius padanya.


" Maafkan kami. Semoga ini merupakan jalan terbaik untuk kesembuhanmu. "


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗

__ADS_1


__ADS_2