Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
HARI PERNIKAHAN YANG TAK DIINGINKAN


__ADS_3

Hari pernikahan Ririn telah tiba, siang ini acara akad nikah rencananya akan dilaksanakan. Andreas, Stevia dan Tomy memutuskan untuk menghadiri pernikahan Ririn. Mereka diminta untuk menjadi saksi saat acara ijab qobul nanti.


Setelah melewati drama yang cukup panjang semalam, akhirnya Tomy mengikuti kata-kata sahabatnya untuk tetap hadir di pernikahan Ririn. Andreas dan Stevia membujuk pria itu agar bisa berlapang dada dan menerima keputusan Ririn.


Sungguh berat memang, tetapi Tomy sadar bahwa dirinya tidak boleh memaksakan kehendak. Ririn berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Lagi pula, ini semua lantaran salahnya juga yang baru menyadari perasaan cintanya pada Ririn.


Ririn telah dirias, wanita tersebut nampak begitu cantik dengan gaun putih menjuntai yang kini melekat di tubuhnya. Gadis itu menatap pantulan dirinya di depan cermin, airmatanya kembali meluncur deras mengingat pernikahannya yang akan dilaksanakan hanya dalam hitungan jam.


Ada rasa sesal dalam batinnya atas keputusan yang telah ia ambil secara terburu-buru.


" Harusnya pernikahan ini tidak terjadi. Harusnya aku bisa bersanding dengan pria yang aku cintai. Ya Tuhan, Bagaimana ini? Aku tidak menginginkan pernikahan ini. " Sesalnya dalam hati.


Airmatanya semakin tak dapat dibendung, untuk membatalkan rasanya juga sudah tidak mungkin. Hanya air mata itu yang mampu menggambarkan perasaannya saat ini. Berkali-kali ia menghapus air matanya, namun tetap saja air mata itu keluar tanpa seizinnya.


Dadanya terasa sesak, wanita itu semakin terlarut dalam tangisnya. Sesekali nafasnya tersengal menahan sesak di dadanya. Hingga akhirnya, Bu Dian dan Stevia menjemputnya untuk segera memasuki gedung acara.


Bu Dian dan Stevia terperanjat melihat Ririn berlinang airmata.


" Astagfirulloh Rin, kau kenapa Nak? Kenapa kau menangis seperti ini? " wanita itu segera menghampiri putrinya. Ririn seketika berhambur dalam pelukan sang ibu.


Stevia mengelus punggung Ririn untuk menenangkan. Agaknya ia bisa mengerti apa yang menyebabkan sahabatnya jadi seperti ini.


Setelah agak tenang dan mulai mampu menahan tangisnya, perlahan Ririn melonggarkan pelukannya dari sang ibu.


Bu Dian memiliki firasat buruk akan putrinya. Semalam, dirinya tanpa sengaja melihat Ririn keluar dari kamar Tomy sambil menangis. Mungkinkah perasaannya benar? Saat melihat pandangan Ririn dan Tomy ia bisa menafsirkan jika keduanya seperti memiliki ketertarikan satu sama lain.


Dengan lembut Bu Dian memberanikan diri untuk bertanya mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada putrinya.

__ADS_1


" Rin, kamu kenapa? Apa kau sedang ada masalah? Ini hari pernikahanmu, Nak. Seharusnya kau bahagia saat ini. "tutur Bu Dian.


Ririn menyapu airmatanya dengan tissue, bahkan riasan di wajahnya saja hampir menghilang akibat linangan airmata.


" Bu, aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Aku tidak mencintai Alan, A-ku mencintai pria lain, Bu. " ungkap Ririn disela isak tangisnya.


DEG...


Bu Dian begitu terkejut mendengar apa yang disampaikan putrinya. Jika saja Ririn terbuka sejak awal, mungkin pernikahan ini masih bisa diurungkan. Akan tetapi, pernikahan putrinya sudah di depan mata. Apa kata orang-orang nanti jika sampai Ririn membatalkan pernikahannya?


Bu Dian merasakan dilema yang luar biasa dalam hatinya. Disatu sisi, ia tak tega melihat putrinya bersedih hati seperti ini. Namun, disisi lain akan banyak pihak yang kecewa, terutama keluarga Alan. Wanita paruh baya itupun ikut bercucuran airmata.


" Rin, pernikahanmu sudah di depan mata, Nak. Apa kata orang-orang nanti? Keluarga Alan pasti juga akan malu besar jika pernikahan ini sampai batal. Kenapa kau tak mengatakan ini sebelumnya? Ibu sangat berhutang budi dengan keluarga Alan. Ibu? Ibu tidak sanggup mengecewakan mereka. " ungkap Bu Dian berlinang air mata.


Ririn benar-benar tak sanggup melihat sang ibu menangis seperti ini. Stevia tak mampu memberikan saran apa-apa. Menurutnya posisi Ririn benar-benar terhimpit saat ini.


Ia meminta tolong pada Stevia untuk memanggil Tomy agar datang menemuinya. Setelah pria tersebut datang, Ririn meminta Bu Dian dan Stevia memberi waktu padanya untuk berbicara berdua dengan Tomy.


Bu Dian dan Stevia akhirnya keluar, kini hanya tersisa Ririn dan Tomy dalam ruangan tersebut.


Keduanya sama-sama mematung sembari bersitatap penuh arti. Tomy begitu trenyuh menyaksikan Ririn yang bersimbah airmata. Tanpa diduga-duga, Ririn langsung berhambur pada pemuda di depannya.


Tomy terkesiap saat Ririn memeluk erat tubuhnya. Meskipun ragu, pria itupun membalas pelukan gadis yang sebentar lagi akan menjadi milik pria lain. Tanpa terasa, air matanya ikut mengalir lantaran tak sanggup mengganjal sesak dihatinya.


" Pak Tomy, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. " ungkapnya berderai airmata.


" A-ku juga mencintaimu, Rin. Aku benar-benar tak sanggup melihatmu bersanding dengan orang lain. " ungkap Tomy berliput duka.

__ADS_1


Lama keduanya saling memeluk hingga suara seseorang diluar mengalihkan perhatian keduanya.


" Rin, pihak pengantin lelaki sudah datang, Nak. Kau harus segera keluar sekarang. " ucap Bu Dian dari luar ruangan.


Perlahan Ririn mulai melepaskan pelukannya. Untuk terakhir kali sebelum ia bersanding dengan pria lain, dirinya ingin menatap wajah tampan pria yang ia cintai sejak pertama bertemu.


" Maafkan aku, Pak Tomy. Aku, aky terpaksa harus bersanding dengan Alan. Mungkin, ini sudah menjadi takdir kita. Mencintai tanpa harus memiliki. Semoga Pak Tomy bisa mendapatkan kebahagiaan sendiri nanti. " ungkap wanita itu berlalu meninggalkan Tomy dengan segala duka dihatinya.


Buru-buru Tomy mengejar Ririn dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang.


" Biarkan aku memelukmu sekali ini saja." ungkap pria itu berderai airmata.


Ririn membiarkan lelaki itu bersandar di bahunya, dirinyapun rasanya enggan untuk berpisah dengan pria tersebut.


" Pak Tomy tidak perlu menyaksikan pernikahanku. Aku tak sanggup jika harus melihat anda menjadi saksi disana." pinta wanita itu seraya menahan tangisnya.


Perlahan Ririn melepaskan dekapan Tomy, lalu meninggalkan pria tersebut disana.


Bu Dian dan Stevia menuntun Ririn dan membawanya menuju tempat akad nikah akan dilangsungkan. Keduanyapun rasanya ingin ikut menangis lantaran mengetahui kesedihan yang Ririn rasakan saat ini.


Hingga tak berselang lama pihak pengantin lelakipun tiba. Akan tetapi, betapa terkejut seluruh yang ada disana ketika mengetahui hanya kedua orang tua pihak lelaki saja yang datang.


..." Kemana Alan? Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia tidak ikut kemari? " batin Ririn bertanya-tanya....


Sementara Tomy, pria itu tetal berada disana. Berteman dengan seluruh duka yang ia rasakan saat ini. Dirinyapun memutuskan untuk tetap berada disana sampai acara ijab qobul Ririn terlaksana.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2