Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
TAK SABAR


__ADS_3

Tomy membawa Ririn menuju kolam renang yang ada di lantai atas apartemen. Tadi, sewaktu Stevia mengajak dirinya hendak masuk ke apartemen Tomy, tiba-tiba seseorang membekapnya dari belakang. Dirinya terkejut dan ingin berteriak, tetapi untung saja pria itu segera menampakkan batang hidungnya dan membekap mulutnya yang hampir berteriak karena takut.


" Diamlah. Ayo kita pergi dari sini. " bisik Tomy kemudian membawa Ririn bersamanya.


Tanpa bertanya Ririn mengikuti kemanapun Tomy membawanya. Ia tahu kondisi pria itu sedang tidak baik saat ini.


Tomy duduk di salah satu bangku yang ada ditepi kolam. Dirinya hanya diam sambil berselonjor di atas bangku panjang tersebut. Pria itu menyangga kepala dengan kedua lengannya sambil memejamkan mata guna menenangkan pikiran.


Ririn duduk di bangku sebelah Tomy. Dirinya hanya mengamati apa yang sedang dilakukan pria itu saat ini.


" Merelakan orang yang kita cintai untuk bahagia bersama orang lain itu, rasanya sungguh sulit. " Tomy mencurahkan apa yang sedang ia rasakan saat ini. Hatinya tentu masih berat untuk melepaskan Stevia pada Andreas. Tapi, mau bagaimana lagi? Stevia telah menjatuhkan pilihannya pada Andreas.


Ririn tersenyum getir. Bagaimana tidak? Iapun pernah merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Tomy saat lelaki itu memilih Stevia sahabatnya sebagai tambatan hati.


" Mungkin benar kata pepatah, mencintai itu tidak harus memiliki, Pak. Seharusnya kita bisa ikut bahagia selama orang yang kita cintai juga bahagia. " Ririn menasehati.


Tomy seketika membuka matanya yang terpejam, lalu tersenyum mengejek pada gadis tersebut.


" Kau ini bicara seperti pernah merasakan saja. Bahkan pacaranpun kau tak mengerti. Tapi, benar juga perkataanmu, untuk apa kita memaksakan cinta yang justru hanya akan menyakiti kedua belah pihak. Tadinya aku egois dan begitu terobsesi untuk mendapatkan Stevia, aku berniat ingin memilikinya bagaimanapun itu caranya. Namun, bukannya mendekat bahkan wanita itu malah semakin menjauhiku. " ia tersenyum miris.


Tomy bangkit dari kursi dan berdiri ditepi kolam. Pandangannya menerawang, ia menarik nafas dalam-dalam sambil membentangkan kedua tangannya kesamping.


Pria itu langsung menjatuhkan diri ke dalam kolam dan menyelam sebentar di dasaran, sepertinya dengan begitu ia bisa mendinginkan otak supaya bisa berpikir dengan jernih.


Ririn terperanjat seketika sebab Tomy belum muncul ke permukaan.


" Apa jangan-jangan Pak Tomy bunuh diri? " batinnya ketakutan.


Tanpa berpikir panjang iapun ikut menjatuhkan dirinya kedalam kolam.


Tomy terkesiap mendengar gerakan air yang cukup kencang. Sepertinya seseorang ikut menceburkan diri kedalam sana. Iapun segera naik keatas untuk memastikan.


Dirinya terkejut ketika melihat Ririn yang sepertinya hampir tenggelam. Gadis itu terlihat panik, setahunya Ririn belum bisa berenang. Buru-buru Tomy menghampiri gadis yang saat ini telah menghilang dari permukaan.


Tomy mencari keberadaan Ririn. Benar saja, gadis itu telah tenggelam menuju dasar kolam. Tomy langsung mendekati lalu menarik tubuh Ririn dan berusaha membawanya ke atas.


Perjuangannya tak sia-sia, Tomy berhasil membawa wanita itu ke tepi kolam.


" Rin, Ririn?! Bangunlah!." Tomy menepuk-nepuk pipi Ririn yang sepertinya sudah tak sadarkan diri.


Secara reflek Tomy langsung memberikan nafas buatan lewat mulutnya pada Ririn. Setelah beberapa kali berhasil mengeluarkan air dalam tubuh wanita itu, akhirnya kini usahanya membuahkan hasil.


Uhuk...Uhuk...

__ADS_1


Ririn terbatuk-batuk saat merasakan nyeri dibagian pernafasannya.


" Syukurlah akhirnya kau sadar juga Dasar bodoh! Untuk apa juga kau mencebur ke kolam jika kau saja tidak bisa berenang. " Tomy menjitak kepala Ririn cukup keras hingga wanita itu meringis karenanya. Tomy kesal atas tindakan bodoh Ririn barusan yang bisa saja menghilangkan nyawanya. Namun,rasa lega menghinggapi dirinya ketika akhirnya kini wanita itu telah tersadar.


" Ayo, cepat bangun. Kau harus mengganti pakaianmu yang basah supaya tidak masuk angin." ia tak tega melihat Ririn yang tampak pucat dan mendekap kedua lengannya karena kedinginan.


Tomy berinisiatif untuk menggendong wanita itu ala bridal stlye. Ririn terkesiap saat Tomy secara tiba-tiba mengangkat tubuhnya, iapun mengalungkan kedua tangannya di tengkuk leher Tomy supaya tidak terjatuh.


Keduanya bersitatap cukup lama sebelum akhirnya Tomy mengalihkan pandangannya ke depan. Ririn merasakan kehangatan dan kenyamanan saat berada dipelukan lelaki tersebut. Gadis itu merebahkan kepalanya di dada Tomy hingga berangsur-angsur ia terlelap dalam dekapan pria itu.


Saat hendak menuju apartemennya, tanpa sengaja dirinya melihat Andreas yang sedang menggandeng Stevia keluar dari apartemennya.


Ketiganya berhenti sesaat, dada Tomy masih sesak melihat Andreas menggandeng tangan Stevia. Iapun segera mengalihkan perhatian agar tak semakin terbawa perasaan.


" Apa yang terjadi dengan Ririn? Kenapa dia basah kuyup seperti itu?" tanya Stevia cemas melihat keadaan sahabatnya.


" Tadi dia terpeleset dipinggir kolam dan hampir tenggelam. Untung saja aku berhasil menyelamatkannya. Kau tak perlu khawatir, Ririn hanya tertidur. " jawab Tomy tersenyum datar.


Andreas yang sudah tak kuat membendung hasratnya, tak ingin lagi berlama-lama disana.


" Baguslah kalau begitu. Kau urus saja sekertarismu itu dengan baik. Aku rasa kalian berdua sangat cocok. Kalau begitu kami permisi! " Andreas kembali menarik Stevia untuk pergi bersamanya.


Tomy mendengus kesal,


Ia menatap Ririn yang tengah tertidur pulas, dirinya jadi teringat saat tadi dengan terpaksa mencium gadis itu. Ia jadi menyangkut pautkan hal itu dengan perkataan Andreas barusan.


" *Apa iya aku cocok dengan Ririn? "


" Ah..tidak-tidak. Itu hanya alasan Andreas saja supaya aku tidak mengganggu istrinya*. "


Iapun segera menepis seluruh isi otaknya dan membawa Ririn segera masuk ke apartemennya.


...----------...


Andreas segera menutup dan mengunci pintu saat dirinya dan Stevia telah masuk ke dalam apartemen mereka. Tanpa menunggu lama pria itu langsung menyandarkan Stevia di sisi pintu.


Stevia terkejut dengan serangan Andreas yang begitu tiba-tiba. Wanita itu pasrah saat kedua tangannya berada dalam genggaman Andreas. Sedangkan bibirnya telah dikunci oleh bibir lelaki tersebut.


Andreas begitu bernafsu, ia seperti kuda yang lepas dari tali yang mengikatnya. Perasaannya begitu bebas setelah selama ini mencoba menutup dan menghindar dari pesona Stevia. Ia ******* habis bibir yang sangat ia idam-idamkan tanpa memberi cela pada wanita itu untuk melawan.


Stevia melepas tautan bibir mereka, wanita itu terengah-engah lantaran kehabisan oksigen. Andreas tersenyum simpul,


" Maaf. Aku akan melakukannya lebih halus lagi. " bisiknya ditelinga Stevia.

__ADS_1


Kini keduanya menikmati manisnya bercumbu dengan penuh kelembutan.


Andreas mulai menurunkan ciumannya ke leher jenjang sang istri, menyapu lembut halusnya kulit Stevia dengan bibirnya, kemudian secara tiba-tiba meninggalkan tanda kepemilikan disana.


Stevia menggigit bibir bawahnya saat Andreas menciptakan lukisan-lukisan bertinta merah disana sini. Pria itu mulai melepaskan genggamannya terhadap Stevia lalu melepas satu persatu kancing kemeja kantornya.


Saat sedang asyik bermain-main, tiba-tiba Stevia mendorong tubuh


Andreas. Pria itu menautkan kedua alisnya,


" Kenapa?"


" A-ku ingin ke toilet sebentar." jawab Stevia gugup. Jujur dirinyapun tak enak hati lantaran sepertinya Andreas begitu berhasrat padanya.


Andreas mendesah kasar, dengan terpaksa ia melepaskan Stevia.


" Pergilah dulu. Atau? Kau mau aku ikut denganmu?" godanya pada sang istri.


Wajah Stevia merona seketika, dirinya langsung berlari menuju kamar mandi lantaran takut Andreas benar-benar menyusulnya.


Setelah hampir seperempat jam, Steviapun segera keluar dari kamar mandi. Raut wajahnya cemas, apalagi dirinya semakin terkejut lantaran Andreas sudah berdiri di depan pintu.


Andreas hendak kembali menyambar bibirnya, tetapi dengan sigap Stevia menahannya.


Andreas bertambah kesal, padahal ia sudah menunggu begitu lama didepan pintu kamar mandi menurutnya.


" Kenapa lagi?" ia berusaha mengontrol perasaannya.


Stevia kebingungan untuk menjawab


" Eee,,emmm,, eee.."


" Sudah jangan berbelit-belit. " Andreas mulai sedikit jengah.


" A-aku sedang datang bulan." jawab Stevia gugup.


Sugunung hasrat milik Andreas langsung ambyar seketika. Harapannya untuk mendapatkan indahnya surga dunia harus tertunda untuk sementara. Pria itupun berjalan gontai menuju ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


" Sabar,, sabar Andreas. Tinggal menunggu waktu yang tepat saja. Wkwkwk...


Bersambung,,


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗

__ADS_1


__ADS_2