
Andreas dan Stevia sama-sama salah tingkah. Stevia merapihkan pakaian yang hampir saja dikoyak oleh Andreas.
" Euh..emm..maafkan aku. Aku.."
Andreas begitu sulit merangkai kata ia tak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan semua pada Stevia. Rasanya ia ingin melepaskan semua perasaan yang bergejolak dalam hatinya.
" Oh..iya aku mengerti. A-ku juga tadi hanya terbawa suasana saja." Stevia memotong kata-kata Andreas. Ia membuang nafas kasar sambil mengipas-ngipas wajahnya karena gugup.
Pria itu ingin menjelaskan yang sebenarnya, namun beberapa orang tengah mengetuk kaca mobil mereka.
Andreas membuka sebagian kaca mobil, tampak beberapa pria memakai jas hujan yang tak lain adalah anak buah Papa Wildan.
" Tuan Muda, Tuan Besar meminta kami untuk menjemput anda. Silahkan naik mobil di depan, kami akan membereskan mobil anda nanti." jelas salah satu diantara mereka.
Andreaspun mengajak Stevia untuk keluar. Dua orang penjaga telah menyiapkan payung untuk mereka. Keduanya masuk kedalam mobil yang ada didepannya. Sang sopir seketika melajukan mobil dan mengantar mereka ke kota.
Keduanya duduk dibangku belakang kemudi. Andreas melirik Stevia sesaat, wanita itu tengah memandang kesisi jalan. Ingin rasanya ia mengungkapkan yang sebenarnya, tetapi dirinya mengurungkan niat sebab ada sopir diantara keduanya.
Stevia memang tak berani menatap Andreas. Ia merasa sangat malu atas kejadian tadi. Ciuman tersebut bahkan masih membayanginya hingga saat ini.
Hanya keheningan yang mewarnai perjalanan hingga mereka tiba dikota. Andreas meminta sang sopir untuk mengantar ke apartemennya saja. Ia ingin berbicara berdua dengan Stevia dan berniat menyatakan perasaannya. Yah, dirinya tak ingin menahannya terus-terusan. Biar saja dirinya kalah, memang pada kenyataanya dirinya benar-benar jatuh cinta pada Stevia .
***
Andreas dan Stevia telah tiba di loby apartemen, wanita itu terkesiap ketika Andreas tiba-tiba menggandeng tangannya dan membawanya berjalan beriringan menuju apartemen mereka.
Masih dalam mode diam, tetapi Stevia bisa merasakan betapa eratnya genggaman tangan Andreas. Wanita itu menunduk, namun hatinya sungguh berbunga-bunga saat ini.
" Oh Tuhan. Apa? Apa dia akan mengajakku untuk mengulang kejadian tadi atau yang le-bih dari itu?" pikirnya menduga -duga.
Stevia memang seorang model dan dirinya cukup mengerti tentang masalah percintaan. Apalagi, banyak diantara teman-temanya sesama model yang sering melakukan kencan one night stand maupun berhubungan layaknya suami istri dengan kekasih mereka.
Akan tetapi, dirinya tidak ingin seperti itu. Dirinya masih menjaga norma dan prinsip " making love after marriage". Namun, ia kini telah menikah dengan Andreas, tidak berdosa bukan jika mereka berdua saling menyatukan hati dan jiwa mereka saat ini?
__ADS_1
Hati Stevia begitu gelisah, ia membayangkan jika seandainya Andreas meminta haknya sekarang dan dirinya belum mempersiapkan apa-apa.
Dirinya pernah tanpa sengaja menonton video ilegal bersama para sahabatnya. Biasanya si wanita akan memakai lingerie seksi hingga membuat si pria bergairah dan menegang seketika. Lalu? Apa Andreas akan tertarik padanya tanpa memakai yang semacam itu?
Ia pintar namun masih awam dengan masalah percintaan. Memang selama ini dirinya belum pernah berpacaran setelah memutuskan pertunangannya dengan Andreas. Ciuman tadi merupakan ciuman pertama baginya dan kesan yang dirasakannya adalah rasanya menagihkan.
" Kenapa pikiranku jadi mesum begini. " rutuknya dalam hati.
Wanita itu selalu menunduk dari tadi hingga tanpa sadar ia menabrak Andreas yang berhenti secara tiba-tiba. Ia terperanjat ketika melihat sosok Tomy dan Ririn yang berada di depan pintu apartemen mereka.
Andreas dan Tomy saling bersitatap, sekilas Tomy melihat tangan Andreas yang menggenggam tangan Stevia. Hatinya sungguh sesak, ia belum siap menerima kenyataan jika keduanya telah saling mencintai.
Tomy berusaha menyembunyikan perasaannya yang terluka. Ia tersenyum dan menyapa keduanya seolah dirinya baik-baik saja.
" Kalian dari mana saja? Ririn sudah menunggumu sejak sore tadi. Ia begitu senang saat tahu aku tinggal disebelah apartemenmu. Ia ingin sekali bertemu denganmu. " terang Tomy.
" Kami baru saja pulang dari luar kota. Seharusnya kau menelponku terlebih dahulu. Aku pasti akan menyampaikan pada Stevia jika sahabatnya sedang berkunjung. " jelas Andreas dengan raut dingin. Ia tahu sahabatnya itu sedang kesal padanya. Namun, dirinya telah siap jika harus berhadapan dengan sahabatnya.
" Ririn, maaf membuatmu menunggu. Aku tidak tahu jika kau akan kemari. " ungkap Stevia tak enak hati.
" Ti- tidak apa-apa, Vie. Justru aku yang minta maaf karena kedatanganku yang mendadak. Aku belum memiliki nomormu yang baru. " Ririn gugup, ia bisa merasakan hawa ketegangan di sekitarnya.
" Ini sudah larut malam, maaf lebih baik aku segera pulang. Kapan-kapan aku akan berkunjung lagi kesini. " tambah Ririn. Gadis itu hendak beranjak, namun buru-buru Tomy menahannya.
" Kau sudah jauh-jauh datang, rasanya tidak adil jika kau harus pergi begitu saja. Eeumm,, bagaimana jika kau menginap disini bersama Stevia. Kalian bisa saling bertukar cerita dan melepas kangen mungkin? Biar Andreas menginap di apartemenku saja. " bujuk Tomy sambil menatap tajam pada Andreas.
Andreas membalas tatapan Tomy dengan tatapan tak kalah dinginnya.
" Baiklah. Vie, biar malam ini aku menginap di tempat Tomy. Kau bisa disini bersama Ririn. Tetapi ingat, jangan bergadang terlalu malam. Besok kita akan kembali bekerja."
Andreas memberi kode pada Tomy untuk segera menuju ke apartemen sahabatnya tersebut. Ia harus menjelaskan kenyataan yang sebenarnya pada Tomy sekarang juga.
Ririn dan Stevia memperhatikan keduanya yang kini sudah tak nampak dari pandangan mereka. Ririn memegangi dadanya lantaran lega.
__ADS_1
" Huh,, Vie. Aku merasa seperti berada ditengah-tengah kutub. Untung saja mereka sudah pergi sekarang. " ungkapnya lega.
" Kau benar. Aku takut mereka akan berkelahi nanti. Tapi bagaimana? Kita tidak mungkin mendatangi apartemen Tomy. Semoga saja mereka tak berbuat konyol lagi. Ayo kita masuk kedalam." ajak Stevia menggandeng sahabatnya masuk. Dalam hati Stevia cemas mengingat perkelahian Tomy dan Andreas di restoran beberapa waktu yang lalu.
***
Baru saja Andreas melangkah masuk, Tomy langsung mencecarnya dengan pertanyaan.
" Katakan apa sekarang kau benar-benar jatuh cinta pada Stevia! Apa kau lupa akan janjimu yang akan memberikan wanita itu padaku nanti! " bentaknya penuh kekesalan.
Andreas berbalik dan menatap serius pada sahabatnya.
" Yah, aku mencintainya saat ini dan aku tidak akan pernah memberikan istriku pada siapapun karena dia bukanlah sebuah barang." tegasnya pada pria dihadapannya.
Tomy tersenyum getir mendengar pengakuan Andreas, pria itu tiba-tiba melangkah maju dan meninju pipi Andreas.
Duugghhh..
" Bedebah! " umpatnya kesal, ia memukul Andreas hingga pria itu terjatuh.
Andreas kembali berdiri, ia tak ingin membalas pukulan sahabatnya. Ia tahu Tomy hanya ingin melampiaskan kekesalannya.
Dugaannya benar, lelaki itu nampak kecewa sekaligus pasrah sekarang.
" Baiklah. Aku akan mundur dan membiarkanmu memilikinya. Tetapi ingat, jangan sampai kau membuatnya terluka sedikitpun. Jika kau lakukan hal itu, aku pasti orang pertama yang akan membuat perhitungan denganmu. "
Seulas senyum penuh kelegaan tersimpul di bibir Andreas. Ia senang sahabatnya mampu menerima kenyataan. Iapun tanpa ragu memeluk Tomy karena senang.
" Terima kasih. Aku sangat berhutang budi padamu. "
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1