Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
HIBERNASI


__ADS_3

" Andreas ayo bangun, ini sudah siang! " Stevia menggoyang-goyangkan tubuh Andreas lebih kencang.


Wanita itu geleng-geleng kepala, bibirnya mungkin hampir dower karena lelah membangunkan sang suami. Jika saja disana ada pengeras suara, pasti ia sudah menaruhnya di dekat telinga Andreas dan berteriak sekencang-kencangnya.


Ia melirik jam dipergelangan tangannya, sudah hampir pukul setengah delapan pagi tetapi sang suami belum juga bangun. Padahal, pagi ini mereka akan ada meeting dengan klien pukul sembilan. Wanita itu telah rapi, meskipun sebenarnya dirinya sendiri masih mengantuk akibat tidur terlalu larut.


Stevia kebingungan, ia tak tahu bagaimana lagi caranya membangunkan sang suami. Ia mendesah halus, ditatapnya wajah Andreas yang masih tertidur lelap.


" Semoga ini berhasil. "


CUP...


Yah, Stevia mencoba mempraktekkan apa yang biasa dilakukan pasangan romantis. Namun, netranya membola seketika saat Andreas justru menangkup tubuhnya hingga berada diatas pria itu. Andreas sama sekali tak mau melepaskan ciuman mereka, pria itu terus saja menggempur bibir manis Stevia hingga wanita itu mengelak lantaran kesulitan bernafas.


" Terima kasih untuk ucapan selamat paginya. Mulai sekarang aku akan menulis ini sebagai daftar hal apa saja yang wajib kau lakukan setiap hari. " goda Andreas pada Stevia.


Stevia mendengus halus mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Andreas.


" Baiklah. Untuk masalah itu bisa kita bahas nanti. Yang terpenting sekarang, kau harus cepat bangun. Ini sudah hampir pukul delapan, sedangkan meeting dimulai pukul sembilan.


Andreas terperanjat, ia menatap ke arah jam dinding. Ternyata Stevia tidak membohonginya. Pria itu langsung mendorong Stevia bangun. Dan buru-buru beranjak ke kamar mandi.


" Kenapa kau tak membangunkanku dari tadi? Kita pasti terlambat ke kantor hari ini. " keluhnya pada sang istri.


" Bukannya aku tak membangunkanmu. Kau tidur seperti koala yang sedang hibernasi. Berkali-kali aku membangunkanmu, tapi kau tak menyahut sama sekali. " sahut Stevia. Wanita itu terkekeh melihat Andreas yang kalang kabut.


Hanya butuh waktu kira-kira lima menit, pria itu keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Stevia segera menyusul sang suami ke walk in closed untuk memberikan baju yang telah ia siapkan.


Aaaaaaa...


Stevia menjerit ketika tanpa sengaja melihat Andreas membuka handuk yang menutupi tubuh polosnya. Wanita itu berbalik dan memejamkan mata karena malu.


Andreas bergegas memakai handuknya kembali lantaran terkejut. Pria itu mencebik kesal,


" Balik badan."


" Tidak. Sebelum kau memakai handukmu kembali. " tolak Stevia. Ia masih sangat malu pada sang suami."


" Kita sudah menikah bukan? Bahkan seharusnya kita sudah melakukannya. " sarkas Andreas. Ia teringat semalam dirinya hampir saja memiliki Stevia seutuhnya. Namun karena ada trouble bulanan, ia harus mengalah dan menunggu beberapa hari lagi.

__ADS_1


" Biar saja. Kita baru akan melakukannya, bukan telah melakukannya." tolak istrinya kembali.


Andreas pasrah, iapun menghampiri sang istri dan merebut pakaian kerjanya dari tangan Stevia. Wanita itu masih saja terpejam dan tak mau mau membuka matanya.


" Sudah. Buka matamu. " pinta Andreas.


" Tidak. Kau senang sekali menjahiliku." Stevia masih tak percaya.


" Ya sudah kalau kau mau disini saja dan terlambat lebih lama. Kau harus ganti rugi jika sampai klien membatalkan kerjasamanya dengan kita. " ancam Andreas.


Dengan terpaksa Stevia membuka kedua matanya, dirinya tersenyum kecut, pipinya merah merona melihat Andreas berdiri sambil mengacungkan dasi kerjanya.


" Kebiasaan. Kau seperti anak kecil, memakai dasi saja kau belum bisa. " ejeknya sembari memakaikan dasi tersebut ke leher suaminya.


" Harusnya kau bersyukur. Masih ada pahala bonus untukmu karena suamimu tak bisa memakai dasi sendiri. " sahut Andreas.


" Huh...Pandai sekali kau beralasan." ia menoel hidung mancung suaminya.


Keduanya saling melempar senyum, kini Stevia telah selesai memakaikan dasi pada suaminya. Andreas mencium sekilas bibir wanita itu, tak lupa ia berterima kasih pada istrinya.


" Terima kasih. Jangan lupa ada yang sedang menunggumu. Jangan terlaly lama sebelum habis kesabaranku." bisiknya menggoda Stevia.


" Persiapkanlah dirimu terlebih dahulu. Jangan sampai kau kalah dariku. " ia balas membisiki telinga suaminya.


Keduanya kembali tertawa renyah sembari meraih tas kerja mereka. Andreas merasa bodoh, kenapa tidak dari dulu ia jujur pada perasaannya. Kini dirinya bisa merasakan bahwa Stevialah wanita yang benar-benar mampu mengerti dan menyayanginya.


...----------------...


Andreas dan Stevia telah tiba di loby kantor. Keduanya turun bersama-sama, Andreas menggandeng sang istri ketika memasuki gedung kantornya.


Stevia terkesiap, senyumnya mengembang sempurna. Untuk pertama kali ia merasa dicintai seutuhnya.


Seluruh karyawan ikut terkejut melihatnya, sebab selama ini dikantor berhembus kabar miring bahwa Andreas memiliki hubungan gelap dengan sekertaris kakaknya, Cecile. Kini mereka bisa melihat, faktanya Andreas dan Stevia tampak begitu mesra sekarang.


Tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Stefan dan juga Cecile yang akan menuju ruang meeting. Stefan mengeratkan gigi lantaran kesal terutama pada Stevia.


Cecile berhasil menghasut lelaki tersebut dan mengatakan bahwa Stevialah yang telah mempengaruhi Andreas hingga Andreas memilih PT Greenfield yang mengelola proyek mereka ke depannya. Ia meminta Stefan agar bertindak cepat untuk menyingkirkan wanita itu sebelum ia berhasil menguasai Andreas.


Cecile tak kalah kesalnya dengan Stefan. Jika bisa dilihat dengan mata batin, pasti terlihat wanita itu tengah terbakar api cemburu saat ini. Apalagi, kini Andreas telah berani menggandeng mesra tangan Stevia di depannya.

__ADS_1


" Enak sekali. Seorang CEO bisa datang kapan saja semaunya. " ketus Stefan sinis.


Andreas terperanjat, ini pertama kali Stefan bersikap ketus padanya. Ia yakin bahwa kakaknya masih kesal lantaran ia menolak PT Oxford untuk menjalankan proyek mereka.


" Maafkan aku. Lain kali aku tidak akan mengulanginya kembali kak. " ungkap Andreas menyesal.


Stefan tak mampu membendung kekesalannya lagi, ia bosan harus bersembunyi dibalik topeng kebaikannya selama ini.


" Aku heran pada Papa. Bisa-bisanya ia menunjuk pria tak berkompeten untuk memimpin perusahaan. Aku tak yakin jika perusahaan ini bisa bertahan lama ditanganmu. " sindir Stefan kembali. Pria itu mengalihkan pandangannya dan berlalu begitu saja meninggalkan Andreas.


Andreas menundukkan wajahnya, kata-kata sang kakak sungguh mengena di hatinya. Ia memang tidak seperti kakaknya yang sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Apalagi sikap Stefan jauh berbeda dari biasanya. Ini pertama kali Stefan bersikap ketus kepadanya.


Stevia memperhatikan sang suami yang nampak berduka. Ia tak tega melihat kesedihan di wajah Andreas. Pria itu langsung beranjak menuju ruangannya. Stevia mengikuti pria itu dari belakang untuk memastikan keadaannya.


Andreas duduk dengan perasaan gelisah. Pikirannya tak kenang saat ini. Ia masih memikirkan sikap kakaknya.


" Jangan dimasukkan hati. Mungkin Kak Stefan masih belum bisa menerima keputusanmu. Aku yakin semuanya pasti akan kembali seperti sedia kala. " Stevia berusaha menyemangati. Ia menggenggam erat tangan Andreas untuk menguatkan.


Andreas mengangkat wajahnya, ia melihat sang istri tersenyum kepadanya.


" Katakan. Apa aku ini pria bodoh dan tak bertanggung jawab? " ungkap Andreas datar.


" Tentu saja. Bahkan belum genap sebulan, aku sudah terlambat datang ke kantor. " ucapnya tersenyum miris. Ia menundukkan wajahnya kembali untuk menutupi kekecewaannya.


Stevia mengangkat wajah lelaki itu dan mensejajarkan dengan wajahnya.


" Suamiku bukanlah orang yang bodoh dan tak bertanggung jawab. Buktikanlah pada dunia bahwa seorang Andreas Dirgantara adalah pemimpin yang bisa diandalkan. Ingat, ada aku istrimu. Aku pasti akan selalu mendukungmu dan menyemangatimu apapun yang akan terjadi. " Stevia mencoba meyakinkan.


Ucapan Stevia berhasil menaikkan rasa percaya diri Andreas. Mood pria tersebut kembali membaik sekarang.


" Terima kasih. "


" Sama-sama. Berjanjilah padaku, berusahalah menjadi lelaki yang baik dan bertanggung jawab atas segalanya. Aku percaya padamu. " sahut Stevia seraya mengembangkan senyumnya.


Andreas menarik tengkuk istrinya dan menenggelamkan bibirnya di bibir Stevia.


" Ini adalah penyemangat bagiku. "


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment rate lima n vote sikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2