
Mobil Andreas telah tiba di basement apartement. Sesekali ia memperhatikan Stevia, meskipun berlagak kuat, tetapi ia tahu wanita itu sedang menahan nyeri ditangannya.
Keduanyapun segera keluar dari dalam mobil agar luka Stevia bisa cepat diobati. Andreas berhenti sejenak, ia membuka jasnya lalu meletakkan jas tersebut di bahu Stevia. Seketika perasaan Stevia menghangat akibat perhatian kecil yang Andreas berikan padanya.
" Terima kasih. " ucap Stevia sambil menatap lawan bicaranya.
Keduanya bersitatap cukup lama hingga Andreas mengalihkan pandangannya.
" Sudahlah. Lebih baik kita cepat naik dan mengobati lukamu sebelum terserang infeksi. "
Stevia mengangguk, iapun mengikuti Andreas dari belakang. Keduanya menaiki lift menuju apartemen Andreas di lantai atas.
Saat hendak masuk kedalam apartemen, seseorang memanggil mereka dari arah belakang.
" Hai Bro. Akhirnya kau datang kesini juga."
Keduanya langsung menoleh, Andreas heran melihat kehadiran Tomy disana.
" Kau? Kenapa kau ada disini? Apa yang sedang kau lakukan? Apa kau mengikutiku? " cecar Andreas.
Tomy tersenyum simpul,
" Kau tidak perlu tegang seperti itu. Mulai hari ini kita resmi bertetangga. Apartemenku ada disamping apartemen milikku." jelas Tomy.
Andreas mendengus kesal, pasti sahabatnya itu berniat untuk mendekati Stevia. Dia heran, Tomy tak ada bosannya mengejar wanita itu.
Tomy berjalan mendekati Stevia untuk menyapa.
" Vie, mainlah ketempatku kapan-kapan. Aku disini tinggal bersama adikku. Aku kecewa karena kau berhenti dari dunia model. " netranya berbinar saat bisa menatap wanita tersebut dari dekat.
Stevia tersenyum simpul, ia berusaha menahan perih ditangannya.
" Baiklah. Kapan-kapan aku akan mampir ke apartemenmu. Maaf,, tapi aku sangat ingin menjajal dunia bisnis. Itu suatu hal yang baru bagiku. " jelas Stevia memaksakan senyumnya.
Andreas bisa melihat wanita itu sedang kesakitan, dengan segera ia menggandeng Stevia untuk membawanya ke dalam.
" Tomy? Kami ingin beristirahat dulu. Aku cukup lelah dihari pertamaku bekerja." Andreas langsung menarik istrinya ketika Tomy berniat menanggapi.
Tomy melihat sekilas rembesan darah di lengan kemeja milik Stevia sebelah kiri.
" Tunggu! " dirinya kembali menahan mereka dan cepat-cepat menghalangi jalan keduanya.
Netra Tomy membola, ternyata apa yang dilihatnya barusan benar-benar darah segar dari lengan Stevia. Ia menyingkap jas yang menutupi bahu wanita itu.
__ADS_1
" Andreas! Jelaskan apa yang terjadi dengan Stevia?! Kau memang suami tidak becus! Bisa-bisanya membiarkan istrimu terluka sepertu ini. " tegur Tomy kesal. Ia melihat lengan Stevia untuk memeriksa luka.
Andreas tak terima, ia menarik paksa tangan Tomy supaya tak menyentuh istrinya.
" Jangan menuduh sembarangan jika kau tidak tahu apa-apa. Ini semua murni kecelakaan. Peneror itu memakai Stevia sebagai sandera saat aku hampir menangkapnya. " jelas Andreas menggebu-gebu.
Tomy tetap bersikukuh dengan pendapatnya,
" Oh,, jadi benar dugaanku. Kini kau telah menyeret Stevia ke dalam permasalahanmu. Sebelum ini Stevia ikut mengalami kecelakaan, sekarang lengan Stevia terluka. Lali apa lagi, hah! Kau hanya akan membahayakannya jika dia tetap bersamamu." sanggah Tomy berapi-api.
Stevia tak tahan lagi mendengarkan perdebatan keduanya,
" Sudah, sudah cukup! Jangan berdebat lagi didepanku. Aku hanya ingin segera mengobati lukaku dan beristirahat dengan tenang! " teriak Stevia yang sudah mulai panas telinganya mendengar pertengkaran mereka.
Andreaspun segera mengajak Stevia masuk, tetapi Tomy selalu saja ingin ikut dengan mereka. Tadinya Andreas memaksa ingin menutup pintu, namun ia tak tega dengan sahabatnya. Dengan terpaksa iapun mengizinkan Tomy ikut masuk ke dalam apartemennya.
Dua pria itu seperti anak kecil saja, keduanya sama-sama berebut mengambilkan kotak obat untuk Stevia. Begitupun saat mengobati, keduanya sama-sama ingin ikut membersihkan luka Stevia.
Stevia mendengus kesal, akhirnya ia memaksa keduanya untuk duduk manis dan memperhatikannya membersihkan luka seorang diri.
" Stevia apa kau butuh sesuatu? minum atau makan misalnya. Kau pasti lapar setelah pulang dari kantor." bujuk Tomy mencoba mencari simpati.
" Eummm,, boleh aku ingin sekali minuman dingin bersoda. Andreas apa kau menyimpan minuman dikulkasmu?" tanyanya pada sang pemilik tempat.
" Ini untukmu. " dengan wajah sumringah ia menyerahkan sebotol minuman pesanan Stevia.
Andreas mendengus kesal, sungguh sial nasibnya hari ini. Pagi tadi dirinya telah dibuat cemburu oleh Raihan. Dan kini di apartemenpun ia tidak mungkin bisa tenang dengan kehadiran Tomy disini.
Ia memiliki ide yang brilian untuk mengusir pria itu dari rumahnya.
" Tomy? Stevia sepertinya sedang lapar. Saat dikantin tadi ia hanya makan sedikit bahkan ia sempat pingsan. Bisakah kau membelikannya sesuatu untuk dimakan? Aku kehabisan stok makanan disini. " pinta Andreas.
Stevia terkesiap, bisa-bisanya Andreas menceritakan kejadian tadi siang pada Tomy.
Tomy begitu cemas mendengar hal itu,
" Apa benar kau tadi pingsan? Apa yang sedang terjadi padamu. Apa kau sedang sakit? " ungkapnya khawatir.
" A-aku baik-baik saja sekarang. Mungkin karena aku melewatkan sarapan pagi tadi. Kau jangan khawatir. " Stevia mencoba menenangkan.
Andreas memanfaatkan hal ini untuk mengusir Tomy dari sana.
" Makanya cepat belikan makanan untuknya. Apa kau mau Stevia jadi pingsan lagi? " bujuknya pada Tomy.
__ADS_1
Tomy mencoba memesan makanan lewat online, buru-buru Andreas menahannya.
" Ha ah. Untuk apa membeli online? Itu terlalu lama. Lebih baik kau ke restoran dilantai bawah. Disana makanannya enak-enak. Pasti Stevia suka. " ia langsung meraih ponsel Tomy dan membatalkan pesanannya.
" Tapi? "
Belum sempat Tomy bicara, Andreas langsung menarik dan mendorong pria itu menuju pintu. Tomy hendak masuk kembali, tapi Andreas selalu saja mendorongnya.
" Ayo, cepat. Apa kau mau Stevia pingsan lagi nanti? " Paksa Andreas secara tidak langsung mengusir pemuda tersebut.
Saat Tomy keluar, seketika Andreas mengunci pintunya. Akhirnya ia mampu mengusir pengganggu yang satu itu. Stevia tersenyum, tentu saja dirinya lebih ingin beristirahat daripada mendengar perdebatan Andreas dan Tomy.
" Ayo cepat beristirahatlah. Kau pasti lelah. " ucap Andreas halus.
Hati Stevia menghangat melihat perubahan sikap Andreas kepadanya. Mungkin seperti ini tidak akan lama, pria itu sangat mudah berubah seperti bunglon.
Keduanya masuk ke dalam kamar yang kebetulan hanya ada satu dengan ukuran yang sangat luas. Stevia menatap sekeliling, memang disana hanya ada satu ranjang berukuran king size.
" Apa disini kita akan tidur bersama seperti dirumah?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya.
Mungkin memang sama saja, tetapi disini Andreas memiliki kekuasaan mutlak.
" Kita akan tidur bersama, seperti biasanya.Tapi? Kalau kau merasa terganggu, aku akan tidur di sofa saja. " Andreas mencoba mengalah kali ini, bagaimanapun secara tidak langsung wanita itu terluka karenanya.
" Tidak apa-apa. Kau kan tidak bernafsu padaku. Kau tidak menyukaiku bukan? " Stevia mencoba memancing.
Wajah Andreas memerah karena malu, pria itu jadi salah tingkah. Pertanyaan Stevia terasa menggelitik ditelinganya.
" Oh, Tentu saja tidak. Mana mungkin aku tertarik padamu. " pria itu berbohong.
" Baiklah kalau begitu. Jika kemari aku merawatmu saat kau sakit? Sekarang gantian kau yang harus merawatku disini. " paksa Stevia.
Andreas menelan salivanya kasar, dirinya jadi teringat peristiwa beberapa minggu kebelakang. Apa dia juga akan menyiapkan segala perlengkapan Stevia seperti dirinya waktu itu? Angan Andreas melayang, membayangkan saat dia akan membantu Stevia untuk mengganti pakaiannya. Dia akan melihat benda asing yang terasa menggemaskan itu lagi?
Stevia menggeleng pelan saat melihat Andreas melamun di depannya. Ia mengusap kasar wajah Andreas.
" Hushh.. Jangan berpikir terlalu jauh. Aku tidak mesum seperti dirimu. "
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya untuk karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗
Jang
__ADS_1