
" Temui aku di cafe biasa kita nongkrong. Kutunggu kau disana. "
Sebuah pesan singkat dari Tomy masuk ke ponsel Andreas. Pria yang sedang asyik bermain game itupun terpaksa bangun, mengambil kunci mobil dan segera meninggalkan kamarnya.
Ia menuruni tangga dengan langkah terburu-buru hingga membuat sang ibu merasa heran melihatnya.
" Kau mau kemana, Andreas? Kenapa tergesa-gesa begitu? "
Andreas berhenti lalu membalikkan wajah,
" Aku ada janji dengan Tomy. Dia mengajakku ketemuan sekarang. Aku pergi dulu, Ma. " ucapnya berpamitan.
" Baiklah. Tapi ingat, jangan pulang larut malam. Kau sebentar lagi akan menikah. Jaga kesehatan. " pesan sang ibu setengah berteriak melihat putranya telah diambang pintu. Wanita itu geleng-geleng kepala lantaran tak ada tanggapan sama sekali dari putranya.
" Ya Allah.. Semoga Stevia mampu membawa putraku menjadi lebih baik nantinya. " batinnya berharap.
***
Andreas telah tiba di cafe, ia langsung menghampiri Tomy yang terlihat sedang menyesap rokok di tangannya.
" Hai Bro.. ada apa kau mengajakku kesini?"
Andreas menepuk bahu Tomy dari belakang, tapi tanpa diduga pria itu justru memberikan sebuah bogem mentah di pipinya.
BUG...
Andreas yang tak siap langsung jatuh ke lantai. Seluruh pengunjung cafe ikut histeris melihatnya. Tomy kembali memukuli Andreas saat pria tersebut hendak bangun.
" Dasar kurang ajar! Pengkhianat! Tak kusangka kau tega menusukku dari belakang. " umpatnya dengan tangan mengepal untuk menghajar Andreas.
Kali ini Andreas melakukan perlawanan, pria itu menendang perut Tomy dengan kakinya saat Tomy lengah. Tomy hampir terjengkang dan menabrak kursi tempat duduknya barusan.
Andreas mengusap setetes darah yang keluar dari sudut bibirnya. Ia tak terima dengan perlakuan Tomy padanya barusan.
" Hei,, apa kau sudah gila! Kenapa kau tiba-tiba memukulku tanpa alasan yang jelas. Dasar bodoh!! " umpatnya kesal.
Tomy menegakkan badannya, lelaki itu menatap nyalang pada Andreas.
__ADS_1
" Tanpa alasan kau bilang? Setelah kau mendekati Stevia dan akan menikahinya tanpa sepengetahuanku? Kau keterlaluan Andreas, kau pura-pura benci padanya padahal kau telah menyusun rencana begitu rapi untuk merebutnya dariku. Aku benar-benar kecewa padamu. Cuih. " sanggahnya tak terima.
Andreas terkesiap, ia tak menyangka jika sahabatnya telah mengetahui hal ini. Ia memang tak mengundang pria itu lantaran tak ingin menyakiti hatinya.
" Rupanya kau sudah tahu tentang hal ini. Tenanglah terlebih dahulu, kita bicarakan semua baik- baik. Aku akan menjelaskan kebenarannya padamu. " Andreas berusaha mendinginkan suasana.
Tomy membenarkan jaket yang ia kenakan kemudian duduk kembali kebangkunya. Andreas bisa bernafas lega, setidaknya Tomy bisa diajak bicara dari hati ke hati.
Andreas duduk berhadapan dengan Tomy yang masih menekuk wajahnya hingga saat ini. Ia memperhatikan dengan seksama pria didepannya. Gurat- gurat kekecewaan tergambar jelas diwajah Tomy, garis hitam di kelopak matanya menunjukkan pria itu sulit tidur dengan baik. Sepertinya Tomy benar-benar terpukul atas berita tersebut.
" Dia adalah gadis yang dijodohkan oleh Papa denganku. Wanita sama yang dulu pernah ditunangkan denganku semasa kecil. Ternyata dia Stevia, Si Culun yang pernah aku ceritakan padamu. Akupun baru menyadarinya saat kami bertemu kemarin. " Andreas mulai menjelaskan.
Tomy menegakkan wajahnya, ia cukup terkejut mendengar kenyataan itu.
" Lalu? Sekarang kau setuju menikah dengannya karena dia sangat cantik? " pemuda itu tersenyum sinis tanpa mau menatap Andreas.
Andreas terperangah, ia segera mengelak sebab bukan seperti itu yang sebenarnya.
" Tidak. Aku tidak peduli mau dia cantik ataupun jelek. Aku masih membencinya dari dulu hingga sekarang. Aku terpaksa menyetujui pernikahan kami, sebab Papaku punya penyakit jantung. Penyakitnya akan kambuh kembali saat ia merasa stress karena sangat menginginkan pernikahan kami." jelas Andreas.
" Kalau begitu kau harus menceraikannya nanti. " pinta Tomy penuh penegasan.
Andreas tak mengerti. Belum juga ia menikah, tapi Tomy sudah memintanya untuk menceraikan Stevia.
" Apa maksudmu? " ungkapnya kebingungan.
" Kalau kau tak mencintainya, ceraikanlah dia setelah kalian menikah nanti. Dan aku akan mengambilnya darimu. Kuberi kau kesempatan selama setengah tahun, tapi berjanjilah jangan menyentuhnya selama kalian bersama." jelas Tomy menekankan.
Andreas terdiam, ia bingung harus menjawab apa pada sahabatnya ity. Tapi dirinya memang tak berniat melakukan hubungan suami istri dengan Stevia. Sebisa mungkin ia harus bisa mengendalikan diri karena Cecilepun masih berharap padanya.
Tomy sadar jika sahabatnya itu masih ragu, ia harus tegas terhadap Andreas supaya pria tersebut mau mengikuti kemauannya.
" Bagaimana? Apa kau masih ragu? Atau memang sebenarnya kau juga sudah jatuh cinta padanya? Akui saja kalau kau juga sangat mengharapkan pernikahan itu. " sindirnya kembali untuk memancing Andreas.
" Tidak, aku tidak pernah mengharapkan pernikahan ini. Aku setuju dengan apa yang kau katakan barusan. Setelah genap enam bulan pernikahan kami, aku akan menceraikannya untukmu. " jawabnya yakin. Ia mencoba memantapkan diri, meskipun bisikan kecil seolah tak membenarkan hal itu.
Tomy tersenyum senang,
__ADS_1
" Baiklah. Ini kesepakatan kita. Sebagai lelaki sejati kau harus bisa memegang kata-katamu sendiri. Aku akan menagih ucapanmu ketika tiba saatnya nanti. "
Keduanya beradu tos kekompakan. Andreas lega melihat Tomy tersenyum kembali, sebenarnya iapun tak tega mengambil wanita yang dicintai oleh sahabatnya sendiri.
Dalam hati ia bertekad untuk membatasi diri dari Stevia. Ia tak ingin terjerat pada wanita yang dirinyapun yakin hanya sebatas ingin balas dendam kepadanya.
...--------...
Aaahhhhh...Sialan!!
Cecile mengobrak-abrik seluruh isi apartemennya. Dirinya sangat frustasi menghadapi pernikahan Andreas yang hanya kurang beberapa hari lagi.
" Ini semua gara-gara Si Culun itu. Yah, dia pasti sengaja ingin menghancurkan kebahagiaanku dengan Andreas. Tidak, tidak! Aku tidak terima dengan semua ini. Aku harus merebut Andreas dan membawanya kembali ke sisiku! Haahh! " wanita itu mengacak-acak rambutnya karena kesal.
Tiba-tiba seseorang masuk kedalam apartemennya. Siapa lagi yang memiliki kunci duplikat rumahnya kalau bukan Stevan.
Pria itu mengernyitkan dahi, ia benar-benar tak habis pikir menyaksikan apartemen Cecile yang awut-awutan.
" Hei,, kenapa semua jadi berantakan seperti ini? Ada apa denganmu?!" pria itu mengamati penampilan Cecile yang nampak berantakan.
Cecile menatap tajam pada Stevan,
" Ini semua gara-gara kau! Kau yang merusak hidupku, kau yang membuatku jauh dari Andreas. Aku sangat membencimu!" teriaknya dengan suara serak. Ia mendekati Stevan lalu memukul-mukul dada pria itu berkali-kali.
Stefan merasa geram, ia menangkap kedua tangan Cecile hingga wanita itu tak dapat bergerak lagi. Cecile menangis tersedu-sedu, rasanya kesempatan untuk bisa bersama Andreas sudah nyaris habis.
Stevan menarik wanita itu kepelukannya, dalam hati ia terluka melihat Cecile yang seperti ini. Namun, iapun kecewa sebab selama ini ternyata ia belum mampu mendapatkan hati wanita tersebut.
Cecile mulai sedikit tenang dalam pelukan Stevan. Memang dirinya butuh tempat bersandar saat hatinya sedang terpuruk seperti sekarang.
" Kau tenang saja. Aku akan membalaskan sakit hatimu suatu saat nanti. Aku tak akan membiarkan siapapun melukaimu sedikitpun. " ucap Stevan menenangkan. Namun, dalam hati amarahnya menggebu. Untuk kesekian kali, Andreas dan selalu Andreas yang diagungkan oleh semua orang.
" Andreas! Aku tidak akan tenang sebelum menghabisi nyawamu dengan tanganku sendiri. " tekadnya dalam hati.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya....
__ADS_1