Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
MISI


__ADS_3

Stevia kembali ke ruangannya sambil memegangi pinggangnya yang terasa encok akibat ulah Andreas. Ia merutuki sang suami, lelaki itu tega sekali menjatuhkannya dari gendongan.


Tok...Tok...Tok...


" Masuk. "


Raihan memperhatikan sekelilingnya, setelah memastikan tidak ada siapa-siapa disana, iapun masuk ke ruangan Stevia.


" Kau kenapa? " Reihan heran melihat Stevia yang meringis kesakitan.


" Biasa, derita istri teraniaya. " cebik Stevia kesal.


Raihan tertawa hingga menunjukkan deretan gigi-giginya yang putih. Stevia melempar lelaki itu dengan pulpen ditangannya.


" Bisa-bisanya kau tertawa di atas penderitaan teman! Ku harap kau nanti merasakan apa yang aku rasakan setelah menikah nanti." ungkapnya kesal.


Raihan mencoba menahan tawanya,


" Maaf-maaf aku hanya bercanda. Tapi ku pastikan calon istriku itu wanita pengertian." Raihan memang telah memiliki calon saat ini.


" Tapi kulihat sebenarnya Pak Andreas menyukaimu. Dari ketakutannya tadi saat kau pingsan, sudah cukup membuktikan kalau dia memang mencintaimu. Apalagi tatapan pria itu saat kau dekat denganku. Sebagai pria aku tahu dia sedang cemburu." tambahnya.


Stevia terdiam, sampai saat ini dirinyapun tak mengerti kenapa Andreas masih saja tidak jujur pada hatinya. Mungkinkah hanya karena tak ingin menelan ludahnya sendiri, dia rela mengorbankan perasaannya. Yah, satu langkah lagi dia harus bisa merobohkan benteng pertahanan Andreas yakni egonya.


" Hei, jangan melamun saja. Kita masih banyak pekerjaan saat ini. Ini lihatlah, aku sudah mengumpulkan beberapa laporan keuangan perusahaan yang carut marut. " Raihan meletakkan beberapa berkas di atas meja sahabatnya.


Stevia memeriksa sekilas lembaran-lembaran tersebut. Ia tak menyangka jika Papa Wildan juga telah dikhianati oleh orang terdekatnya.


Yah, inilah salah satu alasan Pak Wildan meminta Stevia menikah dengan Andreas. Sebenarnya Papa Wildan menaruh kecurigaan pada anak angkatnya, Stefan. Namun, dirinya juga dilanda dilema yang begitu besar.


Papa Wildan sudah menganggap Stefan seperti anak kandungnya. Apalagi Bu Renata, ia sangat menyayangi Stefan sebab Bu Renata telah merawat dan membesarkan Stefan semenjak bayi. Andreaspun juga sangat menghormati lelaki itu seperti saudara kandungnya.


Pikiran Pak Wildan semakin kalut lantaran ditambah kelakuan anak lelaki satu-satunya itu justru belum mengerti tanggung jawab untuk membesarkan perusahaan. Apa jadinya Andreas jika sampai perusahaan bangkrut akibat ulah Stefan sedang lelaki itu belum memiliki pengalaman apa-apa.


Papa Wildan ingin Stevia membantu Raihan untuk mengumpulkan bukti-bukti kecurangan Stefan. Bukan untuk menjebloskan pria itu ke penjara, tetapi lebih ingin tahu lebih dalam mengapa pria itu tega mengkhianatinya.


Iapun berharap Stevia mampu merubah sifat Andreas menuju ke hal yang lebih positif. Selama ini Andreas sangat sulit diatur dan lebih senang berfoya-foya dengan uang milik keluarganya. Nyatanya Cecile pun bukannya membimbing pria itu, tapi justru ikut bersenang-senang dengan uang milik Andreas.


Yah, itulah alasan terbesar mengapa Stevia mau menikah dengan Andreas. Ia dan keluarganya sudah merasakan pahitnya dikhianati oleh keluarga Papanya. Iapun tahu betapa sakit dan kecewanya Papa Aldo waktu itu akibat keterpurukan hidupnya.


Untung saja nasibnya masih mujur, sedikit banyak ia masih bisa menghidupi keluarganya dengan menjajal dunia modeling. Meskipun, pada ujungnya ia masih tergulung juga oleh hutang orang tuanya.

__ADS_1


" Baiklah. Kita harus bisa mendapatkan lebih banyak bukti yang kuat agar bisa membuat Stefan tak mampu berkutik di depan Papa Wildan. Aku tak mau Papa Wildan bernasib sama dengan Papaku dulu. "tekad Stevia mantap.


" Ya sudah. Aku harus kembali keruanganku. Aku takut ada yang curiga jika kita terlihat bersama seperti sekarang. Oh ya, satu lagi. Aku rasa Cecile ada affair dengan Stefan. Sebelum kedatangan Andreas, wanita itu sangat dekat dan sering keluar bersama Stefan. Tapi, waktu itu aku belum berpikir jika itu merupakan hal yang penting. Aku tidak tahu jika wanita itu adalah kekasih suamimu." jelas Raihan.


Stevia cukup terkejut, tetapi hal seperti itu mungkin saja terjadi. Ia tahu Cecile wanita matre, bukan tidak mungkin dia menduakan kakak beradik itu.


" Terima kasih. Aku pasti akan menyelidiki hal ini juga. Siapa tahu ini bisa memperbaiki hubunganku dengan Andreas. " Stevia mengembangkan senyumnya. Ia seolah mendapat titik terang terhadap masalah rumah tangganya.


Raihanpun hendak keluar dari ruangan Stevia, tetapi saat tiba dipintu dirinya dikejutkan oleh Andreas yang tiba-tiba masuk keruangan tersebut.


Raihan seolah kembali membeku ditempat, atasan barunya itu menatap dingin kepadanya. Raihan segera menunduk dan memberikan penghormatan pada Andreas.


Andreas menatap lelaki itu penuh selidik,


" Apa yang kau lakukan di ruangan ini? Tempatmu bukan disini!" tegas Andreas penuh penekanan.


Stevia segera menghampiri sang suami, ia takut pria itu berpikir macam-macam tentang mereka.


" Raihan hanya ingin tahu keadaanku. Dia sangat khawatir melihatku pingsan barusan. " ujar Stevia beralasan.


Andreas terdiam, ingin marah? Jelas. Cemburu? Iya. Stevia selalu berusaha membela lelaki itu. Dirinya tak menyangka selain Tomy ternyata ada makhluk lain yang sepertinya dekat dengan Stevia.


" Aku tak peduli. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku ingin tinggal di apartemen mulai hari ini. Dan kau? Terserah kau mau ikut atau tetap dirumah Papa. "


" Memang tidak sepatutnya aku menyukai Stevia. " keluhnya dalam hati.


...----------...


Jam kantor hampir berakhir, Andreas keluar dari kantor sebelum waktunya. Moodnya hari ini cukup buruk di hari pertamanya bekerja.


Ia menuju parkiran mobil dan setelah ini dirinya ingin menenangkan diri di apartemen. Ia yakin jika dirinya keluar saat jam kantor berakhir, pasti Stevia akan kembali membuntutinya.


Pria itu menyalakan kunci mobilnya, suasana cukup sepi sebab karyawan belum ada yang bubar. Ia hendak membuka pintu mobil, tapi tiba-tiba pria peneror itu menyerangnya dari belakang.


Untung saja Andreas sempat melihat kehadiran lelaki itu dari pantulan kaca spion. Buru-buru ia menendang pria tersebut saat peneror itu hendak menghujamkan pisau kepadanya.


Buuughhh...


Andreas menendang pria itu sekuag tenaga. Kali ini dirinya harus berhasil meringkus peneror tersebut.


Peneror itu langsung jatuh tersungkur akibat tendangan Andreas yang tepat mengenai ulu hati.

__ADS_1


Andreas segera mendekati lelaki itu untuk menghajar kembali sekaligus membuka masker yang menutupi wajahnya.


" Kali ini kau tak akan bisa lolos lagi!"


Andreas tak ingin melewatkan kesempatan. Dia langsung memhajar peneror itu sebelum peneror itu berdiri dengan sempurna.


Baku hantam tak terelakkan lagi, Pria peneror sudah mulai kewalahan menghadapi Andreas. Netranya memperhatikan sekeliling untuk menemukan pisaunya yang terjatuh barusan.


Belum sempat ia mendapatkan senjatanya, Andreas kembali menghujaninya dengan serangan bertubi-tubi. Tubuh pria peneror itu mulai lemah, Andreas memanfaatkan hal ini untuk segera membuka masker yang menutupi wajah lelaki itu.


" Andreas! "


Stevia terkejut saat melihat suaminya berduel dengan pria peneror. Wanita itu buru-buru menuju parkiran saat tahu Andreas sudah tidak ada diruangannya.


Andreas terkesiap, keadaan ini dimanfaatkan si peneror untuk kabur.


Dugh...


Pria itu menendang perut Andreas, lalu melepaskan diri dari kuncian Andreas. Ia mengambil pisaunya lalu menjadikan Stevia sebagai sanderanya.


Keadaan jadi berbalik, Andreas begitu cemas saat pisau tersebut berada dibagian leher Stevia.


" Lepaskan istriku atau kau akan menyesal nanti! " ancamnya pada si lelaki peneror.


" An-dreas aku takut. " Stevia menangis karena takut. Ia melihat pisau tajam itu begitu dekat dengan lehernya.


" Stevia kau tenanglah. Aku pasti menolongmu. Hai, jangan main-main. Ini tempat umum, kau tak akan bisa selamat disini! " gertak Andreas kembali.


Peneror itu berjalan mundur sambil menyandera Stevia. Tiba-tiba ia melukai bagian lengan Stevia dengan pisaunya, kemudian kabur dari sana.


Andreas terkejut bukan main saat darah segar mengalir dari lengan Stevia.


" Hei, jangan kabur!" teriaknya saat peneror itu melarikan diri. Ia hendak mengejar, tapi keadaan Stevia jauh lebih penting saat ini.


Iapun lebih memilih mengurus Stevia dari pada mengejar peneror itu.


" Kau tidak apa-apa? Aku akan membawamu ke rumah sakit." Raut wajah Andreas penuh kecemasan. Ia ngeri melihat darah yang merembes dari lengan Stevia.


" Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Lebih baik kita obati ini di apartemen. " pinta Stevia berusaha menahan sakit. Untung saja dirinya hanya tergores barusan.


Dengan segera Andreas memapah istrinya menuju mobil dan berniat mengobati luka Stevia disana.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Maaf ya selalu telat up nya🙏


__ADS_2