
Andreas dan beberapa staff telah tiba di lokasi proyek, dirinya sangat puas terhadap hasil kerja perusahaan Greenfield. Mereka menggarap proyek pembangunan hotel dengan baik dan lebih cepat dari waktu yang ditentukan.
Sang Arsitek menunjukkan denah tata letak bangunan kedepannya kepada Andreas. Mereka berkeliling untuk meninjau beberapa tempat yang sudah mulai dibangun saat ini.
Tanpa mereka sadari, beberapa orang telah mengintainya dari atas sedari tadi.
" Bos, Pak Andreas mulai berjalan kesini." ucap salah satu anak buahnya.
Stefan menyeringai senang, akhirnya saat yang ia tunggu-tunggu datang juga. Yah, mungkin ini saat yang paling tepat untuk menghabisi sang adik yang menjadi sumber petaka baginya.
" Bagus. Cepat kita siapkan semuanya. Kali ini aku tidak mau sampai terjadi kegagalan." tegasnya terhadap beberapa orang anak buahnya.
Andreas dan yang lainnya berdiri diatas bangunan hotel setengah jadi. Sang arsitek memberikan penjelasan tentang pembuatan beberapa taman didekat sana.
Stefan dan anak buahnya yang tak lain beberapa kuli proyek yang ia suap telah bersiap, mereka mengambil sebuah material besi beton dan melemparnya kebawah. Mereka segera pergi dari sana melewati jalan pintas yang ditunjukkan oleh salah satu kuli proyek.
" Pak Awaass!! "
Salah seorang pegawai proyek menyadari hal itu. Ia mendorong Andreas dan sang arsitek hingga terpental tak jauh dari sana.
BRUUGHH.....
Tak sampai hitungan menit besi beton jatuh dan menimbulkan suara yang begitu menggemparkan.
Andreas terkejut bukan main, netranya membulat sempurna melihat seorang lelaki berumur yang meninggal seketika dengan tubuh yang bercucuran darah akibat tertimpa beton. Dua orang staff yang bersamanyapun mengalami cidera akibat tertimpa ujung besi.
" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun."
Ayo cepat singkirkan besi itu dan selamatkan mereka!! " perintahnya dengan teriakan yang bergetar. Ia tak menyangka ada orang yang rela mengorbankan nyawa demi menyelamatkan dirinya.
Andreas mendekati tubuh yang sudah tak bernyawa tersebut. Netranya berkaca-kaca. Dengan segera ia memerintahkan salah satu staff yang selamat untuk menelpon rumah sakit perusahaannya dan segera mengirimkan ambulans kesana. Lelaki itu berdiri dan mengusap kasar wajahnya.
" Bagaimanamungkin ini semua bisa terjadi?" batinnya bertanya-tanya.
__ADS_1
...------------...
" Euumm,, semoga Andreas menyukai masakanku. "
Stevia cukup puas dengan hasil masakannya. Ini pertama kali dirinya memasak untuk sang suami. Tumis capcay dan Beef Teriyaki, dirinya tahu sang suami sangat menyukai daging.
Ia segera mengepak masakan tersebut sebab sebentar lagi memasuki jam istirahat kantor. Dirinya harus berangkat lebih awal supaya tak terjebak kemacetan ibukota.
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, wanita itu langsung turun dari apartemen menuju parkiran mobil. Sudah cukup lama dirinya tak menyetir sendiri.
Benar saja, jalanan cukup padat siang ini. Hampir setengah jam perjalanan, ia baru bisa tiba dikantor Andreas. Stevia segera turun dari mobilnya dan menuju loby hotel dengan hati yang berbunga-bunga.
Betapa terkejut dirinya mendapati beberapa orang yang nampak panik dan berlalu lalang disana. Ada beberapa tenaga medis dan ambulans yang telah bersiap untuk pergi.
Hati Stevia menjadi was-was dan bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi. Dirinya kebingungan harus bertanya kepada siapa. Untung saja, tak berselang lama Raihan keluar dengan wajah tak kalah paniknya.
" Raihan tunggu! " Stevia segera mengejar lelaki yang hendak masuk ke dalam salah satu mobil kantor.
" Vie? Kau disini? Maaf Vie aku harys buru-buru pergi. " ucapnya tergesa-gesa.
" Tunggu, Raihan. Memangnya apa yang sedang terjadi? Ada apa ini?" tanyanya was-was.
Raihan terpaksa mengatakan yang sebenarnya, tadinya ia belum ingin bercerita sebelum tahu dengan pasti kejadian yang sesungguhnya.
" Vie,, ada kecelakaan di lokasi proyek pembangunan kita yang baru. Ada korban meninggal dan beberapa orang mengalami kecelakaan. Tapi, aku belum tahu siapa saja yang mengalami kecelakaan kerja. " jelas Raihan.
Stevia terperanjat, tanpa sadar ia menjatuhkan bekal yang ia bawa. Dirinya benar-benar khawatir sebeb Andreaspun kini sedang berada disana.
" An- dreas?"
Wanita itu segera berlari menuju parkiran mobilnya. Dirinya akan ikut rombongan tersebut untuk memastikan keadaan.
" Ya Alloh..semoga tak terjadi apa-apa. " batinnya resah.
__ADS_1
****
Rombongan Ambulans dan beberapa mobil perusahaan telah tiba dilokasi kejadian. Mereka segera mendatangi tempat kejadian perkara. Beberapa oknum polisipun telah berada disana.
Petugas kesehatan segera membungkus jenazah pegawai proyek yang meninggal akibat tertimpa beton. Sedangkan beberapa staff yang terluka segera ditandu dan dibawa ke rumah sakit agar cepat ditangani.
Stevia ikut menyaksikan kejadian tersebut, netranya berkeliling mencari keberadaan sang suami. Dirinya cukup lega saat mendengar Andreas baik-baik saja, perasaannya sudah tak enak sedari pagi.
Netranya tertuju pada sosok yang ia cari, Andreas nampak mengobrol dengan pimpinan perusahaan Greenfield. Tak berselang lama, pimpinan perusahaan itu segera pergi dari sana.
Stevia langsung menghampiri dan memeluk sang suami dari belakang. Andreas terkesiap merasakan hangatnya pelukan sosok yang begitu ia kenali. Dirinya hendak berbalik, namun Stevia semakin mengeratkan pelukannya.
Wanita itu menangis dibalik punggung sang suami. Andreas bisa merasakan rembesan airmata yang menembus jas dan kemejanya. Perlahan ia berbalik dan memeluk erat istrinya.
" Sudah, tenangkan dirimu. Jangan menangis lagi. Aku tidak apa-apa. " ucapnya menenangkan.
Stevia mengangkat wajahnya, dirinya bersyukur lantaran masih bisa melihat wajah tampan itu tersenyum manis kepadanya.
" Aku benar-benar takut, aku? Aku pikir kau menjadi korban barusan. Perasaanku sungguh tidak enak sedari pagi." ungkapnya cemas.
Andreas mendesah pelan,
" Akupun tak menyangka jika ada orang yang rela menolongku tadi. Jika tidak? Mungkin akulah yang berada disana saat ini. Akan tetapi, sayang nyawanya tak selamat. Aku berencana untuk memberikan santunan pada keluarga korban. " sesalnya.
" Bagaimana semua ini bisa terjadi? Apa ini kelalaian dari Greenfield?" Stevia ikut penasaran dengan duduk kejadian sebenarnya.
" Entahlah, tapi Pak Bagas selaku pimpinan perusahaan telah meminta maaf atas kejadian ini. Dia berjanji akan memberikan ganti rugi pada keluarga korban. Dan akan menyelidiki masalah ini lebih lanjut." terang Andreas yang baru saja mengobrol dengan Pak Bagas.
Stevia bisa sedikit bernafas lega, namun entah mengapa dirinya merasa ada yang tidak beres dalam hal ini.
" Ya sudah. Sekarang kita kembali ke kantor. Masih ada berkas-berkas yang harus aku urus. Aku juga harus menjenguk para staff yang menjadi korban tadi. " ajak Andreas sembari melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.
Stevia jadi teringat bekal yang ia bawa untuk sang suami. Ia menjatuhkannya saat terkejut mendengar berita kecelakaan proyek tadi. Sayang sekali padahal dirinya sudah repot-repot memasak untuk Andreas. Mungkin belum saatnya ia menunjukkan hasil masakannya untuk sang suami tercinta.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗