Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
MABUK


__ADS_3

" Culun apa yang kau lakukan! " Andreas tak menyangka Stevia tega menampar Cecile di depannya.


Dengan sigap Andreas menolong Cecile untuk berdiri. Cecile memanfaatkan hal ini untuk menarik simpati Andreas supaya pria itu semakin membenci Stevia.


" Andreas. hiks..hiks .." Gadis itu menangis sesenggukan dalam pelukan Andreas seolah dirinya benar-benar teraniaya.


Andreas mengusap rambut Cecile untuk menenangkan.


" Sudah, jangan menangis. Aku takkan membiarkanmu terluka kembali. " tuturnya lembut.


Cecile menyeringai senang, tipuannya ternyata berhasil. Wanita itu tersenyum penuh kemenangan kearah Stevia.


Stevia terdiam mematung. Masih seperti dulu, dirinya sama sekali tak dihargai. Setiap tindakan dan maksud baiknya selalu saja dianggap salah oleh seorang Andreas.


FLASH BACK ON


Cecile dan dua orang teman satu gengnya berniat untuk mengerjai Stevia. Kebetulan gadis tersebut tengah asyik membaca di salah satu bangku taman sekolah.


" Itu dia. " tunjuknya pada kedua temannya. Ketiganya mengangguk tanda sepakat, mereka berjalan mendekati Stevia dari arah belakang.


Tanpa Stevia sadari, salah satu dari mereka merebut buku miliknya. Stevia terkejut, iapun menoleh kebelakang.


" Kau? Kembalikan bukuku. "


Cecile menyeringai licik, ia memberi isyarat pada kedua temannya. Mereka mendekati Stevia kemudian membelenggu kedua tangan gadis itu lalu membuatnya berjongkok dihadapan Cecile.


" Tolong lepaskan aku. Apa maumu? " Stevia berusaha melepaskan diri.


Cecile tersenyum mendengar permohonan Stevia.


" Ka-u mau ini?! "


Ia mengangkat buku ditangannya, lalu dengan sengaja menyobek buku tersebut.


Stevia tercengang melihatnya, itu adalah buku dari perpustakaan yang baru saja dibacanya. Ia pasti akan terkena denda karena telah merusak buku sekolah.


" Kau jahat sekali. " Netra Stevia berkaca-kaca, Cecile sungguh tega padanya.


" Makanya, jadi orang jangan kegenitan. Kau tahu kan, Andreas itu pacarku, tapi kau berani dekat-dekat padanya. Lihatlah dirimu! Harusnya kau berkaca, kau dan aku jauh berbeda. Dasar culun. PLAKK . "


Cecile menampar Stevia dengan cukup kencang. Stevia merasa tak terima, tetapi tiba-tiba saja kedua teman Cecile melepaskannya. Dirinya menggunakan kesempatan tersebut untuk kabur. Ia mendorong tubuh Cecile yang menghalangi jalannya dan berniat pergi dari sana.


Namun, dengan sengaja Cecile menjatuhkan dirinya ke tanah. Stevia terkesiap, padahal tadi dirinya mendorong gadis itu tidak terlalu kencang.


Ia hendak menolong Cecile sebab gadis itu ternyata menangis karenanya. Saat ia mulai mendekat, tiba-tiba saja seseorang mendorongnya hingga iapun terjatuh ke tanah.


" An-dreas. " gumamnya pelan.


Andreas menatapnya dengan penuh kekesalan, ia segera membantu kekasihnya untuk berdiri.


" Andreas. Dia mendorongku barusan. " fitnah Cecile sembari memeluk pria itu manja.


Stevia terperanjat, ia tak menyangka Cecile berusaha membolak-balikkan fakta.

__ADS_1


" Andreas. Dia-"


Belum sempat ia menjelaskan, pemuda itu justru membentaknya dengan tatapan geram.


" Culun! Sekali lagi kau berani menyakiti Cecile? Akupun tidak akan segan berbuat kasar padamu! " ucapnya kasar sambil menunjuk ke arah Stevia.


Gadis itu menahan tangisnya hingga Andreas dan Cecile pergi meninggalkannya.


" *Kenapa kau selalu berpikiran buruk padaku? Kenapa aku selalu saja salah dimatamu? "


Pikirannya berkecamuk, batinnya seperti tertoreh sembilu mengingat kejadian di masa lalu.


FLASHBACK OFF*...


" Culun! Sekali lagi kau berani menyakiti Cecile. Akupun tidak akan segan berbuat kasar padamu! "


Ucapan yang sama kembali dilontarkan Andreas padanya. Pria itupun pergi meninggalkan dirinya bersama Cecile.


Stevia hanya terdiam memperhatikan keduanya berlalu dari hadapannya. Hatinya terasa perih, tanpa terasa bulir-bulir airmata membasahi kedua pipi cantiknya.


" Nona? Anda tidak apa-apa? "


Loly menghampiri atasannya, ia merasa kasihan melihat Stevia yang diperlakukan tidak adil oleh Andreas.


Stevia segera menghapus jejak air mata diwajahnya. Ia tak ingin terlihat lemah didepan orang lain.


" Tidak. Sudahlah, ayo kita pergi dari sini. " perintahnya tanpa melihat ke arah Loly.


Saat hendak melangkah meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba saja Tomy berdiri dihadapannya.


Pria itu memang mencarinya sedari tadi sehabis acara berlangsung. Namun, dirinya tak kunjung menemukan keberadaan Stevia.


" Aku mencarimu sedari tadi, untunglah kita bertemu disini. "


Seutas senyuman terukir diwajah tampan pria tersebut. Akhirnya ia bisa menemukan gadis pujaannya.


Stevia melangkah mendekati Tomy.


" Maukah kau pergi bersamaku? " pintanya dengan tatapan yang sulit diartikan.


Tentu saja Tomy menyetujuinya, memang itulah yang ia harapkan. Stevia memberi kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.


" Loly, kau pulanglah terlebih dahulu. Aku masih ada urusan dengan Pak Tomy. " perintahnya pada sang asisten.


" Tapi, No-na.. "


Gadis itu berusaha menolak, ia takut Stevia bertindak diluar kendali. Ia bisa melihat gurat-gurat kesedihan dibalik wajah atasannya.


Namun, Stevia justru menatapnya penuh ketegasan. Itu artinya perintah atasannya tidak bisa diganggu gugat. Dengan terpaksa Loly membiarkan Stevia pergi bersama Tomy.


" Ya Tuhan. Semoga Nona tidak berbuat nekad. " do'anya dalam hati.


...---------...

__ADS_1


Hingar bingar musik di sebuah club malam begitu memekakan telinga. Cecile dan Andreas duduk sambil menikmati minuman yang ada dihadapannya.


Tadinya Cecile ingin memesan alkohol untuk mereka berdua. Ia ingin bersenang-senang bersama Andreas. Beberapa waktu yang lalu, mereka sering melakukannya.


Akan tetapi, kali ini Andreas menolaknya. Entah kenapa rasanya ia malas untuk bermabuk-mabukan saat ini. Perasaannya sedang kacau, moodnya pun kurang baik sekarang. Ia memilih menikmati minuman bersoda yang ada disana.


Cecilepun dengan terpaksa mengikuti kemauan kekasihnya. Iapun tak mengerti, mengapa sekarang Andreas seolah dingin terhadapnya.


Gadis itu kembali bergelayut di lengan Andreas,


" Sayang, bagaimana kalau kita menari bersama disana. Sepertinya menyenangkan. " ajaknya manja.


" Tidak. Hari ini aku sangat lelah, lebih baik kita menghabiskan waktu disini saja. " Pria itu tersenyum dan memberikan sebuah kecupan sayang pada kekasihnya.


Cecile mencebik malas, Andreas sekarang banyak berubah. Tidak seperti Stevan yang selalu menuruti keinginannya.


Andreas mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru tempat yang ada disana. Namun, dirinya kini dikejutkan oleh kedatangan dua orang yang sangat dikenalnya. Mereka terlihat sedang mencari tempat duduk.


Cecile memperhatikan raut wajah Andreas yang terlihat tegang.


" Kau kenapa, Sayang? "


" Ti-tidak apa-apa. Kau tenang saja. Kalau kau ingin menari, kau boleh bergabung disana. Aku akan menunggumu disini. "


Andreas berusaha bersikap normal. Dirinya tak ingin Cecile mengetahui kedatangan Tomy dan Stevia disana. Ia menyuruh kekasihnya menari untuk mengalihkan perhatian Cecile.


Netranya Andreas kini disibukkan untuk memandangi dua orang yang berada cukup jauh darinya. Tangannya mengepal erat, rasanya ia tak rela melihat kedekatan Stevia bersama Tomy. Tapi, Bukankah dia sendiri yang mencampakkan Stevia barusan?


" Aku ingin minum. " pinta Stevia pada Tomy saat pria itu memesankan minuman bersoda untuk mereka berdua.


Tomy terkesiap, ia tak menyangka jika Stevia juga suka minuman beralkohol.


" Apa kau yakin? Apa kau sudah pernah minum sebelumnya?" Tomy mencoba memastikan.


" A-ku. Aku sudah biasa minum, kau tenang saja. " jawab Stevia berbohong. Hanya saja pikirannya sedang kalut dengan Andreas, ia ingin sejenak melupakan rasa sakit hatinya pada lelaki itu.


Tomypun akhirnya memesan sebotol alkohol untuk mereka berdua.


Andreas terperanjat ketika melihat sebotol minuman keras tersaji didepan Stevia.


" Shiittt.. Apa dia sudah gila? Bagaimana bisa ia ingin mabuk-mabukan bersama pria itu? " Andreas memukul mejanya lantaran kesal.


Tomy menuangkan minuman kedalam gelas sloki milik Stevia. Ia tercengang melihat wanita itu meminum alkohol seperti meminum air putih saja. Entah berapa gelas yang sudah Stevia habiskan. Merekapun telah memesan minuman itu lagi.


" Kau tidak apa-apa? " tanya Tomy ketika Stevia memukul-mukul kepalanya. Ia rasa gadis itu sudah mulai mabuk.


Kepala Stevia seakan berputar, pandangannya mulai kabur. Gadis itu memukul-mukul kepalanya berharap dapat meraih kesadaran.


Tomy menyeringai senang,


" Apa mungkin aku harus menggunakan cara ini untuk bisa mendapatkannya? "


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya untuk karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2