Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
MENYATAKAN CINTA


__ADS_3

Stevia dan Ririn berdiri di depan pintu apartemen Tomy. Netra keduanya melirik sekitar. Setelah tak nampak siapapun disana, Stevia mencoba memutar gagang pintu.


" Rin, tidak dikunci. " bisik Stevia pada sahabatnya.


Ririn mengangguk setuju, keduanya sepakat melangkah masuk kedalam. Stevia melangkah terlebih dahulu, ruang tamu Tomy nampak lengang, tak ada siapapun disana.


" Rin, tidak ada siapa-siapa. Apa kita akan tetap masuk? " Stevia menengok ke belakang, tetapi sahabatnya itu sudah tidak ada disana.


" Kemana dia? " gerutu Stevia sambil celingukan mencari keberadaan Ririn.


Wanita itu kebingungan, apakah dirinya akan tetap masuk atau pergi dari sana sebelum Tomy mengetahui keberadaannya. Saat ia memutuskkan untuk keluar dari sana, tiba-tiba terdengar suara seseorang dari balik sofa.


" Aaaarrrgghhh..."


Stevia terkesiap, ia hafal betul suara tersebut. Buru-buru ia menghampiri suara yang berasal dari arah sofa.


" Andreas?! Apa yang terjadi denganmu? Apa Tomy menyakitimu tadi?" wanita itu sangat khawatir sebab Andreas merintih sembari memegangi perutnya.


" Vie,, pe-rutku sakit sekali. " rintih Andreas pelan dengan raut wajah menahan sakit.


" Apa? Kenapa? Apanya yang sakit Andreas? Bagaimana ini bisa terjadi?" wanita itu semakin bingung, ia duduk disamping lelaki itu dan berusaha membuka kedua tangan Andreas yang memegangi perut, dirinya ingin memeriksa keadaan perut Andreas.


Saat Stevia hendak membuka kancing baju bagian bawah, dirinya terkejut lantaran Andreas tiba-tiba menangkupnya hingga membuat dirinya terjatuh menimpa lelaki itu.


Keduanya saling bersitatap, Stevia mengerucutkan bibirnya lantaran kesal,


" Kau berbohong. "

__ADS_1


Andreas terkekeh melihat istrinya ngambek,


" Cepat katakan! Kenapa kau begitu peduli padaku?"


Bukannya menjawab, justru kini Stevia balik bertanya pada Andreas.


" Kau juga harus menjawab pertanyaanku dulu sebelum ku jawab pertanyaanmu."


Andreas menautkan kedua alisnya karena penasaran.


" Kenapa kau menciumku saat di gunung tadi?"


Andreas kembali terkekeh, sejujurnya dirinya masih malu untuk mengungkapkan perasaannya.


Stevia kembali memberengkut, Andreas seolah hanya ingin bermain-main dengannya saja. Ia mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan Andreas, namun pria itu malah mempererat pelukannya.


Stevia mematung seketika, apalagi dengan tatapan Andreas yang begitu dalam padanya. Yah, itulah kalimat yang selama ini ditunggu-tunggu oleh Stevia. Kalimat yang menurutnya hanya akan ia temukan dialam mimpinya saja.


" Ka-u serius? " tanyanya tak percaya. Jujur dirinya masih ragu jika Andreas bersungguh-sungguh menyatakan cinta padanya.


Tiba-tiba raut wajah Andreas berubah kecewa, pria itu langsung menegakkan badannya dan mendorong Stevia sedikit menjauh darinya.


" Seharusnya bukan kalimat itu yang ingin ku dengar. Harusnya kau mengatakan aku juga cinta padamu. Kau sama sekali tidak bisa diajak romantis." keluh Andreas.


Stevia kini jadi terkekeh dibuatnya, ia tak menyangka Andreaspun memiliki sisi kekanak-kanakan dalam dirinya.


" Apa kau yakin jika aku memang mencintaimu? Apa kau lupa? Aku selalu berusaha agar bisa membuatmu bertekuk lutut dihadapanku. " goda Stevia.

__ADS_1


Andreas memalingkan wajahnya dari wanita tersebut, ia sudah tak peduli jika Stevia hanya ingin balas dendam terhadapnya.


" Yah, aku sudah kalah. Kau telah membelengguku dengan segala pesonamu. Kau puas bukan? " sesak dada Andreas mengeluarkan kalimat itu dari mulutnya.


Seulas senyum terukir di wajah cantik Stevia. Wanita itu langsung mendekap Andreas yang kini duduk membelakanginya. Ia menyandarkan kepalanya di atas punggung Andreas.


Andreas terkesiap, dirinya merasakan aliran kehangatan dari sentuhan Stevia dalam tubuhnya.


" Aku mencintaimu, Andreas Dirgantara. Cinta yang tak lekang oleh waktu, cinta yang tak terkikis oleh usia. Cinta yang selalu tumbuh dan berkembang meskipun kau begitu membenciku. " ungkap Stevia penuh ketulusan.


Perasaan lega menyeruak dalam diri Andreas. Hatinya teramat bahagia mendengar Stevia juga mempunyai perasaan yang sama dengannya. Ia segera membalikkan badan dan menatap sendu pada istrinya.


Andreas ingin melanjutkan adegan yang tertunda saat digunung tadi. Ia kembali ******* bibir manis yang menjadi candu bahkan sempat ia curi lantaran begitu menggoda imannya.


Keduanya saling menyalurkan rasa cintanya dari bibir ke bibir, mulut ke mulut, menjelajahi setiap inci bahkan satu persatu yang ada didalam sana.


Andreas semakin menggila, tangannya mulai bergerilya menyusup diantara kulit dan pakaian Stevia. Wanita itu mendesah pelan saat merasakan sentuhan Andreas yang lembut diluar namun bagai tersengat aliran listrik di dalam.


Tiba-tiba saja Stevia mendorong tubuhnya menjauh. Wanita itu terengah-engah lantaran kehabisan nafas. Andreas seakan tak mau berbagi oksigen dengannya.


" Jangan disini. Ini dirumah orang. Aku takut Tomy kesini dan melihat apa yang kita lakukan. " wanita itu segera memperbaiki pakaiannya. Ia memberi kode pada Andreas bahwa saat ini pintu apartemen Tomy tidak tertutup dengan sempurna.


" Baiklah. Kalau begitu kita harus cepat pergi dari sini."


Belum juga Stevia menjawab, pria itu langsung menariknya keluar dari sana.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2