
Ambulans membawa Stevia dan Andreas menuju rumah sakit terdekat. Untung saja Tomy bergerak cepat, ia segera melacak keberadaan Stevia saat wanita tersebut terdengar panik dari balik telepon. Yah, waktu itu karena panik juga, Stevia tanpa sengaja mengangkat panggilan Tomy setelah menghubungi nomor darurat.
Pagi tadi, Tomy memang sedang menunggu kedatangan Stevia. Rencananya wanita itu akan menjadi salah satu model untuk iklan pakaian olahraga milik kliennya. Karena tak kunjung datang, dirinya memutuskan untuk menghubungi Stevia.
Namun, Tomy terkejut saat wanita itu mengangkat tanpa bersuara. Yang terdengar hanyalah suara orang panik dan sesuatu yang seolah terlempar dengan keras. Perasaannya berkata bahwa sedang terjadi sesuatu yang tidak baik pada Stevia. Iapun berinisiatif untuk melacak keberadaan nomor tersebut dan untungnya posisi Stevia tak begitu jauh dari lokasi kantornya.
Ia segera menghubungi polisi dan petugas medis untuk meminta bantuan. Ternyata dugaannya benar, Andreas dan Stevia telah mengalami kecelakaan. Mobil mereka terbalik disisi jalan. Dengan dibantu petugas dan warga setempat, ia berhasil mengeluarkan Stevia dan Andreas dari dalam mobil tersebut dan membawa mereka ke rumah sakit.
Keduanya ditandu menuju instalasi gawat darurat. Stevia berhasil meraih kesadaran sesaat, ia melihat Andreas juga ditandu disebelahnya.
Andreas masih pingsan serta terdapat luka dikepala pria itu akibat benturan. Ingin sekali rasanya Stevia turun dan menghampiri Andreas. Namun apa daya, tubuhnya sendiri begitu lemah saat ini. Pandangannyapun memudar, ia tak sadarkan diri kembali lantaran jiwanya yang masih syok.
Setelah menjalani perawatan selama beberapa jam, akhirnya Stevia mulai sadar.
" Dimana aku? An-dreas.."
Stevia mencoba bangun, ia teringat akan Andreas yang sedang terluka. Namun, Ririn mencegah wanita itu karena kondisi Stevia sendiri masih lemah.
" Vie? Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Tubuhmu masih lemah, kau masih perlu beristirahat."
Ririn mencoba membujuk Stevia agar mau berbaring kembali. Tomy sengaja meminta Ririn untuk menjaga Stevia sebab dirinya ada kepentingan kantor yang tidak bisa diwakilkan.
" Rin, bagaimana keadaan Andreas? Apa dia baik-baik saja? Aku ingin melihat kondisinya. "
Netra Stevia berkaca-kaca, hatinya sangat cemas karena mengkhawatirkan kondisi suaminya. Ia melihat kepala Andreas terluka akibat terbentur stir tadi.
" Kau tenang dulu, Vie. Andreas baik-baik saja. Dia sekarang sedang dirawat diruang sebelahmu. Ada sedikit luka dikepala, tapi untungnya luka itu tidak terlalu serius. Hanya saja, ia mengalami cidera di kaki sehingga untuk sementara kemungkinan Andreas belum bisa berjalan dengan normal. " tutur Ririn mencoba menenangkan.
Ada rasa lega yang dirasakan Stevia saat mendengar sang suami baik-baik saja. Namun, dirinya tidak bisa hanya berdiam diri, ia memohon kepada Ririn untuk mengantarnya ke ruang perawatan Andreas.
Karena Stevia tetap bersikukuh, dengan terpaksa Ririn memenuhi permintaan sahabatnya. Ia mengambil sebuah kursi roda untuk Stevia dan mendorong wanita itu menuju ruangan Andreas berada.
Stevia menatap iba pada Andreas yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ada rasa bersalah dalam dirinya, sebab karena kepanikannya mereka mengalami kecelakaan seperti ini. Akan tetapi, jika saja ia tak melakukannya, mungkin Andreas bisa kehilangan nyawa akibat tertembak pengendara misterius itu.
Tak berselang lama, Pak Wildan dan Bu Renata juga tiba disana. Tomy baru saja mengabari mereka tentang kecelakaan yang dialami oleh Andreas dan Stevia. Keduanya sangat mencemaskan anak dan menantunya, dengan segera mereka mendatangi rumah sakit tempat keduanya dirawat.
__ADS_1
Bu Renata segera menghampiri keduanya. Ia memeluk Stevia yang tengah duduk diatas kursi rodanya.
" Syukurlah kau tidak apa-apa, Nak. Mama takut kalian kenapa-napa. " Wanita paruh baya itu menitikan air mata, sedikit banyak Pak Wildan sudah menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
" Maafkan Vie, Ma. Ini semua gara-gara pertengkaran kami tadi pagi." Stevia tak enak hati.
Bu Renata dan Pak Wildan memaklumi semuanya. Merekapun merasa punya andil atas apa yang terjadi pada Stevia dan Andreas. Mereka juga yang memaksakan perjodohan diantara keduanya.
" Eeuuhhh.."
Seluruh perhatian kini tertuju pada pria yang terbaring diatas ranjang.
Andreas mulai sadar, pria itu merasakan nyeri dibagian kepala dan kaki sebelah kirinya. Bu Renata langsung mendekati putranya lantaran senang pria itu telah siuman.
" Andreas. Kau sudah sadar, Nak? Syukurlah, kami semua mencemaskanmu. " ungkapnya dengan berlinang airmata.
" Ma, Kepala dan kakiku rasanya sakit sekali. " keluh Andreas mencoba untuk bangkit.
" Pak Andreas beristirahatlah telebih dahulu. Anda mengalami luka di kepala dan cidera di kaki. Untuk sementara, anda tidak bisa kemana-mana. " sahut Ririn menyampaikan apa yang dikatakan oleh Dokter yang memeriksa Andreas.
" Ini semua gara-gara kecerobohanmu, Culun! Aarrgghh. " pria itu memegangi kepalanya yang semakin berdenyut. Stevia ikut berlinang airmata, rasa bersalah kembali menghantuinya.
Bu Renata memegangi kedua bahu Andreas.
" Sudahlah. Tenangkan dirimu, Nak. Anggap saja ini musibah. Stevia juga tidak mengharapkan kalian celaka seperti ini. " tuturnya menasehati.
Andreas terdiam, mungkin yang dikatakan Mamanya benar. Lagi pula semua telah terjadi, iapun menyadari dirinya tadi ikut terbakar emosi. Hatinya masih tak mampu membendung kekecewaannya terhadap Stevia.
Ceklek...
Semua perhatian kini tertuju ke arah pintu. Nampak Stefan dan Cecile yang datang dengan raut kecemasan. Mereka segera mendekati Andreas untuk memastikan keadaannya.
Tadi Pak Wildan mengabari Stefan bahwa Andreas mengalami kecelakaan. Kebetulan Cicilepun sedang berada di ruangan Stefan. Keduanya langsung menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan Andreas.
Stefan teramat kesal, tadinya ia berharap Andreas meninggal pada kecelakaan tersebut. Hampir saja dirinya berhasil membunuh pria itu, tapi gara-gara Stevia semua rencananya gagal. Ia ingin meneruskan aksinya, tapi mobil polisi keburu tiba disana.
__ADS_1
Cecile memeluk Andreas dihadapan semua orang. Andreas membiarkan wanita itu menangis dalam pelukannya, ia sengaja ingin membuat Stevia cemburu.
" Apa yang terjadi? Kenapa kau sampai seperti ini? Aku takut kau kenapa-napa. " tuturnya disela-sela tangis.
Andreas berusaha menenangkan Cecile, ia mengusap lembut puncak kepala wanita itu sambil menatap Stevia yang saat ini juga tengah memandangnya.
" Sudahlah, aku tidak apa-apa. Hanya ada sedikit pertengkaran tak berarti antara aku dan Stevia. " ucapnya dengan nada lembut.
Hati Stevia serasa terkoyak melihat kemesraan mereka. Andreas bahkan selalu berbicara dengan nada tinggi saat bersamanya, jauh berbeda dengan sikapnya terhadap Cecile.
Cecile menatap penuh kebencian pada Stevia. Ia menghampiri Stevia dan hampir menampar wanita itu didepan orang banyak. Akan tetapi, tangannya tertahan oleh tangan kekar yang mencengkeram pergelangan tangannya.
" Jangan halangi aku. Wanita ini pantas diberi pelajaran, dia selalu membuat Andreas tertimpa sial. "
Cecile menatap nyalang pada Tomy yang baru saja datang. Steviapun terkesiap, rasanya ia sudah pasrah saat Cecile hendak menamparnya.
Tomy membalas tatapan itu dengan tatapan setajam elang.
" Pembawa sial kau bilang? Berkali-kali Stevia menyelamatkan kekasihmu, tapi pria itu sama sekali tak tahu balas budi. Dan sekali lagi, hari ini dia menyelamatkan Andreas dari orang yang hampir membunuhnya. Tapi apa yang dia dapat! Dia sama sekali tak dihargai ! " bentak Tomy yang kini berliput amarah.
Semua orang terkejut mendengar pengakuan Tomy, begitupun Andreas, dirinya tidak sadar bahwa Stevia sedang melindunginya barusan. Ia berniat untuk meminta maaf pada istrinya, namun saat ia hendak berkata Tomy keburu membawa istrinya.
" Lebih baik kau pergi bersamaku. Kau tidak akan ada harganya disini."
Tomy tiba-tiba menggandeng Stevia, wanita itu terkesiap. Lantaran sedang kebingungan, Steviapun akhirnya pergi bersama Tomy keluar dari ruangan tersebut.
Andreas mematung menyaksikan kepergian keduanya. Entah mengapa hatinya seakan teriris melihat istrinya digandeng oleh pria lain.
Kini iapun bingung bagaimana harus menentukan sikapnya.
Bersambung....
Galau authorš¤£š¤£
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment rate lima n vote seikhlasny buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..
__ADS_1