Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
HARI PERTAMA BEKERJA


__ADS_3

Seluruh staf karyawan memberi hormat kepada atasan baru mereka. Andreas dan Stevia menyambut sapaan mereka dengan seulas senyuman tanpa mengurangi kharismanya.


Keduanya segera menuju ke ruangan tempat mereka bekerja. Saat tiba dilorong, tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Cecile. Wanita itu tersenyum sumringah, dirinya begitu bahagia lantaran mulai sekarang Andreas akan satu tempat kerja dengannya. Apalagi posisi Andreas sebagai CEO pasti akan ikut menaikkan pamornya di kantor.


Cecile berjalan mendekati Andreas, ia melirik sekilas kepada Stevia namun dengan segera dirinya mengalihkan pandangan pada Andreas.


" Andreas, selamat ya. Akhirnya kau diangkat menjadi CEO disini. Aku senang sekali, kita bisa berjumpa setiap hari. " ungkapnya kegirangan. Wanita itu hendak memeluk Andreas, tapi dengan segera Stevia menahannya.


Keduanya saling menatap sinis, sampai akhirnya Stevia menegur dengan tegas wanita dihadapannya.


" Ini dikantor bukan dirumah. Tolong jaga sikapmu. Jangan pernah mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.


Cecile mendengus kesal, ia menatap pada Andreas seolah ingin mengadukan Stevia pada sang kekasih. Andreas menarik tubuh Stevia agar mundur ke belakang, lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Cecile.


Cecile merasa diatas angin, kali ini sepertinya Andreas akan membelanya. Terlihat dari sorot mata pria tersebut bahwa sepertinya iapun kesal terhadap Stevia.


" Cicile memiliki hak istimewa disini. Dia adalah kekasihku. Dan aku tidak akan mengijinkanmu untuk mengusiknya disini."


Andreas memberi ketegasan pada Stevia. Sejujurnya, ia hanya ingin membuat istrinya cemburu dan kesal kepadanya.


Stevia sendiri tak menyangka, bisa-bisanya Andreas membenarkan perilaku wanita tersebut. Ia hendak mencari pembelaan, tetapi terdengar seseorang menyapanya dari ujung lorong.


" Stevia! "


Yang merasa terpanggil memperhatikan dengan cermat sosok tersebut. Begitupun Andreas,fokusnya jadi teralihkan saat menyadari ada seseorang yang memanggil istrinya, apalagi ternyata yang memanggil adalah seorang pria.


Senyum Stevia merekah seketika menyadari orang tersebut ternyata sahabatnya sewaktu kuliah.


" Raihan? Kau? Kau bekerja disini juga? " ungkapnya bahagia.


Raihan membalas senyuman sahabatnya. Ia cukup dekat dengan Stevia semasa kuliah dulu. Mereka mengambil jurusan yang sama saat kuliah.


" Iya. Aku sudah lama bekerja disini. Selamat, Vie. Senang sekali bisa bertemu denganmu, aku tak menyangka jika Stevia yang dimaksud Pak Wildan adalah dirimu. Kau semakin cantik sekarang. Aku mencarimu dari dulu, kau menghilang tanpa jejak setelah lulus kuliah. "


Keduanya saling melempar senyum dan berjabat tangan cukup lama. Mereka tak menyadari seseorang sedang memperhatikan tingkahnya.


Hati Andreas memdidih rasanya melihat Stevia begitu senang bertemu dengan pria tersebut. Iapun cukup mengenal Raihan, dia adalah mantan asisten pribadi Papa Wildan. Namun, entah mengapa setelah Papanya berhenti, pria itupun jadi dipindahkan ke devisi lainnya.


" Ehermm...Ehermm. "

__ADS_1


Reihan segera melepaskan tangan Stevia saat menyadari Andreas menatap tajam kepadanya. Ia lupa bahwa sahabatnya itu kini telah menjadi istri dari pimpinan perusahaan.


" Maaf, Pak. Oh ya, saya ucapkan selamat atas pengangkatan anda disini. Kapanpun saya siap membantu jika diperlukan. " ia memberi hormat pada Andreas.


" Terima kasih. Silahkan kembali bekerja ditempatmu. " ucap Andreas dingin.


Dengan terpaksa, Reihanpun berpamitan pada Stevia untuk kembali keruangannya. Sepertinya pimpinan barunya sangat protektif terhadap istrinya.


Stevia mendengus kesal, ia tak terima sebab Cecile diperlakukan berbeda dengan yang lainnya. Apalagi kini, wanita itu berani bergelayut pada sang suami.


" Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama? Apa kau mau, sayang? " ia sengaja memanas-manasi Stevia .


" Baiklah. Datanglah keruanganku saat jam istirahat nanti. "


Andreas membelai lembut puncak kepala Cecile. Wanita itupun berpamitan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Sebelum pergi ia mencium sekilas pipi Andreas untuk membuat Stevia semakin bertambah kesal.


Keduanya pergi begitu saja meninggalkan Stevia yang sedang terbakar cemburu saat ini. Wanita itu menatap penuh kekesalan pada keduanya.


" Kau pikir hanya kau yang bisa berbuat seperti itu Andreas Dirgantara? Kita lihat saja, aku pasti akan membalasmu nanti. " gerutunya kesal.


...----------------...


Andreas menatap meja kerjanya, diatas meja tertulis CEO. Sungguh diluar dugaan, ternyata saat ini ia mendapatkan jabatan tersebut setelah kesekian tahun ia menolaknya. Ternyata seorang Stevia Suryatamalah yang berhasil membuatnya terpaksa menerima jabatan tersebut.


Tok...Tok...Tok...


Andreas mempersilahkan seseorang diluar sana untuk masuk ke dalam. Stefanpun masuk dan memberikan ucapan selamat pada adik angkatnya .


" Akhirnya kita bisa menjadi mitra kerja di perusahaan ini. Selamat bergabung Andreas. Aku yakin kau akan membawa perubahan besar pada perusahaan ini. "


" Terima Kasih, Kak. Tentu saja aku masih banyak memerlukan bimbinganmu nanti. Aku masih awam dalam memimpin perusahaan."


Keduanya berpelukan cukup lama. Dalam hati ,Stefan sangat benci dengan situasi seperti ini. Akan tetapi, apa boleh buat ia harus tetap bersikap baik sampai rencana yang ia susun telah berjalan dengan lancar.


Lelaki itu diutus oleh Papa Wildan untuk menjelaskan seluk beluk perusahaan, tanggung jawab terhadap perusahaan serta beberapa nama klien penting yang harus diketahui oleh Andreas.


Iapun memberikan beberapa berkas untuk dipelajari dan ditanda tangani oleh Andreas. Ia berharap bisa menjadikan Andreas sebagai boneka yang bisa ia atur untuk menggerogoti perusahaan dari dalam.


Setelah selesai menjelaskan semuanya, Stefanpun berpamitan untuk pergi. Andreas meneliti setumpuk berkas yang ada dihadapannya. Ia mengusap rambutnya kasar, ternyata menjadi pimpinan perusahaan tak semudah membalikkan telapak tangan.

__ADS_1


Tak terasa jam istirahat telah tiba, Andreas masih berkutat di atas meja kerjanya. Bahkan, dirinya tak menyadari jika Cecile telah berada diruangannya saat ini.


" Apa kau begitu sibuk hingga melupakan jam istirahatmu, sayang? " cebiknya sebal.


Sudah hampir setengah jam ia menunggu pria itu datang ke ruangannya, tapi Andreas tak kunjung datang. Terpaksa iapun mendatangi ruangan Andreas untuk mengajak pria itu makan siang bersama.


Andreas hampir terlupa, iapun menyingkirkan sementara dokumen didepannya lalu mengajak Cecile makan siang bersama di kantin untuk mempersingkat waktu.


" Maaf. Aku benar-benar sibuk dihari pertamaku bekerja. Kuharap kau memakluminya." bujuknya pada Cecile.


Pria itupun berdiri dari kursinya, ia beranjak keluar ruangan, namun tiba-tiba Cecile langsung menyambar salah satu lengannya. Pria itu berhenti sembari menatap kekasihnya.


" Tolong lepaskan tanganmu. Aku tidak ingin hubungan kita jadi skandal di perusahaan. Ingat, aku pria beristri, Papa bisa mencopotku dari jabatan ini jika sampai aku berani mencoreng nama baik keluarga. " tegurnya pada Cecile.


Wanita itu mendesah, apa boleh buat? Iapun sangat mengharapkan Andreas yang memimpin perusahaan. Ia harus bisa bersabar sampai pria itu menceraikan Stevia.


Keduanya menuju kantin yang berada dilantai dasar. Netra Andreas berkeliling mencari bangku yang nyaman untuk mereka. Namun, alangkah terkejut dirinya saat melihat Stevia makan siang bersama Reihan. Keduanya nampak akrab dan saling bertukar tawa.


Andreas mengeratkan gigi dan berusaha menahan amarahnya. Ia mengajak Cecile untuk duduk di meja yang paling nyaman untuk mereka. Wanita itu tak menyangka jika Andreas mengajaknya menemui Stevia.


" Bolehkah aku duduk disini? Kurasa meja ini merupakan meja paling nyaman. Kalian bisa pindah ke meja yang lainnya. "


Ucapan Andreas mengalihkan perhatian Stevia dan Raihan. Mereka terkejut melihat Andreas disana. Reihan merasa tak enak hati, apalagi istri pimpinan sedang bersamanya saat ini.


" Pak An- dreas?! Maaf, silahkan jika anda ingin duduk. Saya akan mencari tempat duduk yang lain.


Reihan hendak berpindah, tapi dengan segera Stevia menahan dan menggenggam lengannya.


" Kita tetap disini. Lihat itu masih ada bangku kosong untuk mereka berdua. Biar saja kita makan bersama-sama. Benar kan Pak Andreas?"


Stevia menarik lengan Reihan kebawah hingga pria itu terpaksa kembali duduk disampingnya. Keringat dingin menguar dari tubuhnya saat Andreas menatap dengan rasa tak suka terhadapnya.


Stevia menyeringai senang, akhirnya ia berhasil membuat Andreas terbakar cemburu.


" Kita lihat saja seberapa besar rasa cemburumu itu, Andreas. " batinnya penasaran tak sabar untuk memulai permainannya.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗

__ADS_1


__ADS_2