
Tomy merasa jenuh, hingga menjelang sore Andreas dan Stevia belum juga pulang. Apalagi, Ririn juga seolah menghindar darinya. Ia belum mampu memikirkan bagaimana caranya untuk menyatakan perasaan pada gadis tersebut.
Ia memutuskan untuk beranjak keluar dan mencari udara segar. Sendiri, yah mungkin seperti itulah nasib seorang jomblo. Saat melewati dapur, terlihat Ririn dan Bu Dian tengah memasak disana.
" Nak Tomy mau kemana? Ini sudah menjelang sore, ibu dan Ririn sudah menyiapkan makan malam untuk kalian. Jika berkenan, Nak Tomy dan yang lainnya makan dirumah saja ya." pinta Bu Dian yang masih menyiapkan masakannya.
Tomy berhenti sesaat, ia merasa senang karena begitu dihargai dan dianggap keluarga sendiri disana.
" Makasih Bu. Iya, nanti aku akan segera pulang. Aku hanya ingin menikmati daerah sekitar sini. Kalau Andreas dan Stevia, hari ini mereka akan menginap di hotel. Maklum pengantin baru. " canda Tomy diiringi senyumnya yang merekah. Sesekali Ririn mencuri-curi pandang tanpa sepengetahuan pemuda itu.
Bu Dian ikut tertawa, ia mengerti maksud Tomy barusan.
" Waduh, sekarang lagi musimnya pengantin baru. Nak Andreas dan Stevia pasangan yang sangat serasi. Ririn dan Alan juga akan menyusul sebentar lagi. Nah, giliran Nak Tomy kapan ini? Sudah ada calonnya belum?" kelakar Bu Dian kembali.
Seketika Tomy tertegun mendengarnya. Calon? Siapa lagi calon yang diharapkannya selain Ririn yang dua hari lagi akan menjadi milik orang lain. Hatinya trenyuh membayangkannya, namun kemungkinannya begitu tipis baginya untuk bisa memiliki gadis tersebut. Yah, bisa dikatakan hanya keajaiban Tuhan yang mampu merubahnya.
" Belum ada, Bu. Sepertinya saya kurang laku. Buktinya, belum ada gadis yang kecantol sama saya. " balasnya sambil tertawa renyah.
Ririn tersenyum miris, dalam hati seolah ia ingin menyuarakan perasaannya.
" Ada aku, Pak. Akulah sang pengagum rahasia anda. Aku yang selalu terpesona oleh tatapan anda. Aku yang selalu merasakan jantung ini berdetak tak karuan saat berada di dekat anda. Aku yang sama sekali tidak pernah jadi pilihan anda." batinnya meronta.
Sedangkan Bu Dian, wanita itu merasa kasihan pada Tomy. Sepertinya Tomy sudah mapan, dewasa dan siap untuk menjalin rumah tangga.
" Sabar Nak Tomy. Nak Tomy pria tampan dan mapan, pasti sangat mudah bagi Nak Tomy untuk mendapatkan seorang wanita. Saya do'akan Nak Tomy segera menemukan jodohnya. " Bu Dian menyemangati Tomy, lalu berbalik menghadap putrinya.
" Oh ya, Rin. Lebih baik kau temani Nak Tomy sebentar. Kasihan, dia belum tahu daerah sini. Biar Nak Tomy ada temannya." perintah Bu Dian pada putrinya.
" Ta, tapi Bu?"
Ririn hendak menolak, namun tanpa sengaja pandangannya dan Tomy saling bertemu. Pria itu seolah memohon agar Ririn bersedia menemaninya.
" Baiklah. Sebentar, aku ganti baju dulu. "
Ia melepas efron dan berjalan menuju kamarnya. Entah mengapa, saat ini dirinya begitu gugup untuk jalan berdua bersama mantan atasannya.
***
Tomy dan Ririn berpamitan pada Bu Dian, mereka sepakat untuk kembali sebelum jam makan malam tiba.
__ADS_1
Keduanya berjalan keluar, Tomy menoleh ke kiri dan ke kanan. Ia belum memiliki arah dan tujuan.
Ririn yang menyadarinya segera bertanya pada pemuda tersebut,
" Memangnya Pak Tomy mau kemana?" tanyanya berbasa-basi.
" Entahlah, Rin. Aku tidak tahu daerah sekitar sini. Waktu kita tidak banyak, sepertinya kita tidak perlu pergi terlalu jauh. Apa kau punya ide, tempat mana yang sekiranya bisa ditempuh dengan cepat dari sini?" pria itu balik bertanya.
Ririn mencoba berpikir, ia teringat kemarin Alan ingin mengajaknya ke pantai dekat sini. Pemandangan matahari terbenam juga cukup bagus disana.
" Eum,, bagaimana kalau kita ke pantai dekat sini. Sebentar lagi sore, kita bisa berjalan menyelusuri pasir sambil menikmati sunset. Apa anda setuju?" usulnya pada Tomy.
Tanpa berpikir panjang, Tomy langsung menyetujui usulan Ririn. Ia mengajak gadis itu menaiki mobilnya untuk mempersingkat perjalanan.
Tak butuh waktu lama, hanya lima belas menit saja mobil Tomy telah tiba di pantai. Keduanyapun turun, Tomy memperhatikan langit sore ini yang telah tertutup awan kelabu.
" Sayang sekali cuaca hari ini kurang mendukung. Kita tidak mungkin bisa menikmati sunset jika langit mendung seperti ini. " gerutu Tomy.
Padahal, dirinya sudah membayangkan duduk berdua ditepi pantai bersama Ririn sambil menikmati matahari terbenam. Pasti suasananya akan sangat romantis dan kemungkinan ia bisa menyatakan perasaannya di tempat itu.
Ririn tersenyum simpul, sebenarnya iapun sempat memikirkan hal yang sama. Namun, buru-buru ditepisnya pikiran itu saat mengingat bahwa sebentar lagi dirinya akan bersanding dengan pria lain.
Pria itu ikut saja kemana gadis itu membawanya. Keduanya berjalan sambil bercerita dan mengingat masa-masa ketika mereka bekerja bersama. Tampak keduanya saling melempar tawa saat teringat kejadian lucu yang pernah mereka alami.
Tanpa mereka sadari, langit telah berubah gelap. Angin pantai mulai berhembus kencang hingga menyisakan hawa dingin yang menusuk ke dalam tulang. Rintik-rintik air hujan mulai turun dari atas langit.
Keduanya berlari untuk kembali, tetapi mereka baru tersadar telah berjalan cukup jauh dari parkiran mobil. Tomy menggandeng tangan gadis itu sembari menerjang derasnya hujan.
Tomy teringat akan tujuannya yang sebenarnya, pria itu tiba-tiba berhenti hingga membuat gadua disampingnya terheran-heran.
" Pak Tomy kenapa berhenti? Kita sudah hampir sampai dimobil. Sebentar lagi jam makan malam akan segera tiba." tanya Ririn kebingungan.
Tomy berjalan mendekati Ririn, lalu tiba-tiba saja ia memeluk gadia itu dengan begitu erat.
Ririn terkesiap, tetapi entah mengapa dirinya tak mampu menolak saat pria itu mendekap tubuhnya. Ia merasakan kehangatan yang menjalar dari pelukan Tomy. Dirinyapun mampu merasakan detak jantung pria tersebut yang sudah seperti pacuan kuda.
Tomy melonggarkan pelukannya, ia mensejajarkan tubuh Ririn di hadapannya. Keduanya saling bersitatap penuh arti. Derasnya air hujan yang mengguyur tubuh mereka seolah tak terasa lagi.
" Rin, mungkin ini sedikit terlambat. Tetapi, aku benar-benar akan menyesal seumur hidupku jika tak mengatakan hal ini padamu. " ucap Tomy menatap penuh damba.
__ADS_1
Jantung Ririn ikut berpacu, ia belum pernah merasa begitu gugup seperti sekarang. Dalam hati dirinya bertanya, hal apa yang ingin Tomy sampaikan padanya? Namun, bibirnya kelu. Ia hanya mampu memandang dan terdiam sembari menanti kata-kata Tomy berikutnya.
Tomy mencengkram lembut kedua lengan Ririn,
" Rin, aku baru sadar jika selama ini aku telah menaruh perasaan padamu. Aku mulai menyadarinya saat kau telah jauh dariku. Aku merasa sangat kehilanganmu, aku kehilangan semangat dalam hidupku. Rin, maafkan aku. Tapi, aku harus tetap mengungkapkan perasaanku meskipun kau tidak bisa membalasnya. Ririn, a-ku men-cintaimu. " ungkap Tomy tulus.
Ririn begitu terperanjat. Jadi Selama ini cintanya berbalas? Ini adalah hal paling indah dalam hidupnya. Mendapatkan cinta seorang Tomy Rahardian adalah hal yang telah ia impikan sedari dulu.
" A-aku. Aku juga mencintai anda , Pak Tomy. " ucapnya gugup, namun begitu lega saat ia berhasil menyelesaikan kalimatnya.
Tomy benar-benar tak menyangka jika gadis itu memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Ia menarik Ririn kedalam dekapannya, memeluk gadis itu erat-erat seolah Ririn adalah sebuah hadiah yang sangar berharga dalam hidupnya.
Ririn membalas pelukan Tomy, hatinya begitu berbunga-bunga. Apa yang telah ia simpan selama dua tahun kebelakang akhirnya terbayar sudah. Ia berhasil mendapatkan pria yang dicintainya.
Keduanya saling melonggarkan pelukan dan menatap penuh damba. Ragu-ragu Tomy memberikan sebuah kecupan dibibir Ririn.
Gadis itu memejamkan kedua matanya, ia menikmati lembutnya bibir Tomy yang menempel di bibirnya. Dirinya membiarkan begitu saja saat lidah pria itu menerobos masuk ke dalam mulutnya.
Keduanya saling menyalurkan rasa cinta yang tertahan lewat ciuman yang begitu dalam. Derasnya air hujan kini menjadi saksi bersatunya cinta keduanya.
Namun, tiba-tiba Ririn mendorong tubuh Tomy menjauh. Pria itu tak mengerti dengan perubahan sikap gadisnya.
Airmata Ririn mengalir begitu deras saat dirinya menyadari bahwa sebentar lagi dirinya akan bersanding dengan pria lain.
Ia tak mungkin membatalkan pernikahannya yang tinggal dua hari lagi. Lagi pula, Alan dan keluarganya begitu baik dengan keluarganya. Ia tak mungkin mempermalukan keluarga mereka.
" Ini salah Pak Tomy. Ini salah.."
Gadis itu berteriak histeris dalam tangisnya. Ia langsung berlari meninggalkan Tomy secepatnya. Dirinya merutuki nasib yang telah mempermainkannya.
" Cinta.. Kenapa kau datang terlambat? Disaat ragaku akan termiliki oleh orang lain. " batinnya terluka.
Tomy berniat mengejar, tetapi gadis itu menghilang ditengah derasnya air hujan. Tubuh Tomy terjatuh lunglai tak berdaya, iapun sadar jika semuanya hampir bahkan mungkin sudah terlambat. Ririn sebentar lagi akan menjadi milik orang lain.
Aaaaaarrrrghhhhh....
Pria itu berteriak sekencang mungkin ditengah derasnya air hujan. Menggambarkan begitu tersiksanya sang hati untuk menerima kenyataan pahit ini.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗