Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
MENEMUKAN KEBERADAAN RIRIN


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Andreas dan Stevia telah bersiap-siap untuk berangkat. Mereka sepakat untuk bertemu dengan Tomy di bandara.


Papa Wildan dan Mama Renata ikut mengantarkan kepergian mereka hingga ke bandara. Tomy ternyata telah tiba disana lebih dulu.


" Ma, Pa. Kami berangkat dulu. " pamit pasangan itu pada kedua orang tua mereka.


" Kalian hati-hati disana, jaga diri dan jangan lupa jaga kesehatan. Dan kau Tomy, semoga kau segera mendapatkan jodohmu. " pesan Bu Renata pada ketiganya.


Setelah berpamitan, ketiganya langsung masuk ke area bandara sebab pesawat akan tinggal landas sebentar lagi.


Merekapun langsung masuk dan duduk dibangku masing-masing. Tomy nampak gugup, pria itu menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya perlahan.


" Aku sangat merindukanmu, Rin. Semoga masih ada kesempatan bagiku untuk bisa mendapatkanmu. " batinnya berharap.


****


Pesawat telah tiba di bandara Ngurah Rai. Mereka segera turun dan merencanakan tujuan mereka selanjutnya.


Yah, semenjak Ririn menghubungi Tomy beberapa hari yang lalu. Nomor ponselnya tiba-tiba sudah tidak aktif. Steviapun ikut mencoba menghubungi, namun hasilnya tetap sama. Ririn menonaktifkan ponselnya.


Mereka datang ke Bali hanya berbekal alamat yang tertera pada kartu identitas Ririn yang dulu dipergunakan untuk melamar pekerjaan di kantor Tomy. Lelaki itu berharap semoga alamat yang tertera disana tidak berubah. Mereka menyewa dua buah mobil untuk dipergunakan selama disana.


Alamat rumah Ririn cukup jauh dari kota, namun pemandangan disana tak kalah indahnya. Mereka melewati beberapa pantai sebelum sampai lokasi yang ditunjukkan oleh maps.


Stevia menikmati pemandangan disisi jalan dengan Andreas yang memegang kemudi. Terlihat asri, pemandangan pantainyapun sangat cantik dan lumayan ramai hari ini. Belum lagi, suasana adat yang kental masih terasa disana.


" Sayang, Jika kita sudah berhasil menyatukan Tomy dan Ririn. Aku ingin sekali berjalan-jalan ke pantai di kota ini. Apa kau setuju? " tanya Stevia sumringah.

__ADS_1


" Tentu saja. Kita akan menyewa sebuah villa dan menghabiskan waktu disana. Ini adalah moment bulan madu kita juga. Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu tanpa terbebani apapun. " sahut Andreas sepakat.


Keduanya nampak bahagia, satu persatu masalah telah terselesaikan. Tinggal satu hal, mempersatukan Tomy dan Ririn. Mereka berharap keduanya akan bersatu dan bersanding diatas pelaminan.


***


Tok..Tok...Tok...


Ririn segera menyapu airmatanya saat terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Selalu begitu, ia menangis tanpa ada seorangpun yang tahu. Gadis itu menyembunyikan kesedihannya lantaran tak ingin membuat ibunya kecewa.


" Iya, Bu. Sebentar. " jawabnya sembari bergegas membukakan pintu.


" Rin, kamu kenapa? Habis nangis? Matamu kok sembab seperti itu? " tanya sang ibu curiga.


" Tidak, Bu. Aku baru saja bangun tidur, tadi tidak sengaja ketiduran waktu membaca buku di kamar. Hooaaamm. " jawabnya mengelak.


Sang ibu percaya saja sebab satahunya Ririn bukanlah tipe orang yang suka berbohong. Iapun menyampaikan maksud dan tujuannya memanggil putrinya.


Ririn tersenyum datar, sebenarnya ia enggan sebab dirinya belum memiliki perasaan apapun terhadap Alan. Namun, demi sang ibu dan keluarganya. Dirinya rela melakukan apapun untuk menyenangkan keluarganya. Lagi pula, Alan pria yang sangat baik, sopan dan mapan. Ia tak enak hati sebab pemuda itu selalu saja membantu keluarganya.


" Suruh tunggu sebentar, ya Bu? Ririn mau mandi dan berganti pakaian. Nanti setelah itu, aku akan menemuinya didepan. " jawabnya halus.


Bu Dian mengerti, iapun segera ke depan dan menyampaikan pesan Ririn barusan kepada calon menantunya. Keduanya saling berbasa-basi dan mengobrol, tak sampai setengah jam Ririnpun keluar. Wanita itu nampak begitu cantik dan anggun dengan pakaian feminimnya sore ini.


Alan terkesima melihat kecantikan wanita yang ia kagumi semenjak dulu.


" Ka-u cantik sekali sore ini. " ucapnya gugup. Kata-kata itu meluncur begitu saja saat pertama melihat kehadiran Ririn.

__ADS_1



Bu Dian tersenyum seorang diri menyaksikan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta. Sedangkan Ririn, gadis tersebut hanya tersenyum datar. Jika saja pemuda yang berkata demikian adalah Tomy, mungkin perasaannya akan lain sekarang.


" Terima kasih. Apa kau jadi mengajakku pergi sekarang? " tanyanya pada Tomy.


" Tentu saja. Aku akan mengajakmu ke pantai. Kita akan menyaksikan keindahan sunset disana. Apa kau setuju?" tanya Alan bersemangat.


Ririn mengangguk mengiyakan, keduanya segera berpamitan pada Bu Dian. Saat didepan pintu, Ririn terkesiap lantaran Alan menggenggam tangannya. Meski kurang nyaman, tetapi ia sadar bahwa sebentar lagi dirinya harus bisa menerima Alan sebagai suaminya.


Keduanya berjalan menuju mobil Alan yang terparkir di halaman. Langkah mereka berhenti seketika saat Ririn menyadari kehadiran orang-orang yang sangat ia kenali.





" Ste-via? Pak An-dreas? Pak To-my? ucapnya gugup sekaligus terperanjat.


Ia tak menyangka jika ketiga orang itu bisa sampai ke rumahnya. Ini seperti sebuah mimpi saja baginya.


Tomy menatap penuh kecemburuan saat Alan terlihat menggandeng tangan Ririn. Pandangan kedua lelaki tersebut saling bersiborok. Alanpun bisa merasakan tatapan dingin yang Tomy perlihatkan padanya.


Tomy beralih menatap sang mantan sekertarisnya,


" Kau pikir kau bisa menghilang begitu saja dariku? Aku akan menemukanmu hingga ke lubang semut sekalipun. " ucapannya yang dingin dan tegas seolah mampu membekukan tubuh Ririn saat itu juga.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dab vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2