Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
TOMY BERUBAH PENDIAM


__ADS_3

Andreas dan Stevia telah tiba ditaman. Mereka duduk di salah satu bangku yang ada disana sembari menunggu kedatangan Ririn dan Tomy. Stevia memperhatikan sekitar, belum ada tanda-tanda kehadiran keduanya.


Sebuah ide tercetus dalam pemikirannya.


" Apa kau sependapat denganku, jika Ririn dan Tomy sepertinya pasangan yang cocok? " Stevia meminta pendapat sang suami.


Andreas menggidikan kedua bahunya, ia tak mau terlalu ikut campur urusan orang lain.


" Entahlah. Yang terpenting bagiku, dia tidak mengganggumu lagi. " jawab Andreas tegas.


Stevia mencebik sebal, padahal dirinya ingin agar Andreas sepakat untuk mendekatkan keduanya.


Senyum Andreas merekah sempurna, ia memang sengaja menggoda Stevia. Entah kenapa dirinya selalu saja gemas melihat istrinya kesal seperti itu.


" Baiklah. Aku setuju denganmu, mereka memang cocok. Aku sudah pernah mengatakan hal itu pada Tomy. Kau puas sekarang, heum? "


Wajah Stevia kembali berbinar, ia senang Andreas bisa sependapat dengannya. Ia memeluk dengan manja pinggang sang suami.


" Itu artinya kita bisa mencoba untuk menyatukan mereka bukan? Apa kau setuju denganku?" pintanya manja.


Andreas mengangguk pasrah, lagi dan lagi Stevia begitu senang Andreas mau menuruti keinginannya. Pria itu mengecup sekilas puncak kepala istrinya. Hal terindah baginya kini adalah kebahagiaan sang istri.


" Eheermmm...Eheermmm..."


" Maaf disini tempat umum. Dilarang bermesraan disini jika kalian tidak ingin digerebek seluruh penghuni di taman ini. "


Teguran seseorang mengalihkan perhatian keduanya, mereka tak menyadari jika Tomy dan Ririn telah berada disana.


" Kalian?! " ucap pasangan suami istri itu kompak.


" Untung saja Pak Tomy mengajakku. Kalau tidak, Pak Tomy pasti sudah seperti cacing kepanasan sekarang. " goda Ririn.

__ADS_1


Tomy membenarkan apa yang dikatakan Ririn barusan.


" Iya, Rin. Kau benar, untung saja ada dirimu disini. Kalau aku pengen, aku tinggal..."


Tomy tiba-tiba memeluk pinggang Ririn dan mendekatkan wajahnya pada gadis tersebut. Seketika Ririn menutup wajahnya, ia takut atasannya itu main sosor saja.


Andreas dan Stevia mulai bermain mata kembali. Ternyata Tomy sudah mulai menunjukkan sinyal asmara. Pria itu mulai agresif sekarang.


" Pak Tomy mau apa! Jangan main peluk-peluk saja. Kita kan belum muhrim. " gertak Ririn. Ia masih menutupi wajahnya lantaran malu.


" Ya sudah. Kita ke KUA saja sekarang, biar cepet dihalalin. Aku sangat iri dengan kedua orang itu. Mereka selalu saja bermesraan dimanapun mereka berada. " ungkap Tomy beralasan.


Ririn perlahan membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya. Ia tertawa melihat ekspresi Andreas dan Stevia yang terlihat heran menatap ke arahnya dan Tomy. Tomypun ikut menertawai keduanya.


" Baru kali ini aku lihat pasangan mesra iri dengan pasangan lain. Kalian jangan salah paham, aku dan Ririn tadi hanya bercanda dan ingin mengerjai kalian saja. Habisnya jika kalian bersama, dunia serasa milik berdua. " ungkap Tomy pada keduanya.


Steviapun kembali merengkuh pinggang Andreas dengan tak kalah mesranya. Keduanya saling melempar senyum satu sama lain, lalu kembali menatap ke arah Tomy dan Ririn.


" Sebenarnya tidak masalah jika kalian benar-benar berniat serius. Lagi pula, kalian juga masih sama-sama jomblo bukan? Tidak ada salahnya jika kalian mulai pendekatan dari sekarang. " saran Stevia.


Ririn merasakan pergerakan tangan Tomy yang berangsur lepas dari pinggangnya. Ia melirik sekilas pada Tomy, raut wajah pria itu berubah dingin sekarang.


" Kalian perlu tahu, Ririn sebentar lagi akan melepas status jomblonya. Bulan depan dirinya akan dilamar sekaligus dinikahi oleh teman dekatnya sewaktu SMA. " jelas Tomy dengan raut wajah datar.


Stevia terkesiap, dirinya ikut terkejut mendengarnya. Yah, ia dan Ririn mungkin tidak sedekat dulu lantaran terhalang oleh kesibukan masing-masing. Bahkan dirinya tidak tahu jika Ririn akan menikah sebentar lagi.


" Rin? Apa benar yang disampaikan Tomy? Kenapa kau tak mengabariku? Atau kau sengaja ingin menutup-nutupi pernikahanmu? " cecar Stevia seolah tak percaya.


Ririn mencoba memaksakan senyumnya, ia sendiri rasanya ingin merutuki kebodohannya lantaran menerima perjodohan tersebut tanpa berpikir panjang. Namun, ia tak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada mereka semua.


" Be-nar Vie. Aku akan menikah bulan depan dengan sahabat SMA ku dulu. Maaf, aku baru memberitahumu. Semoga kalian semua bisa hadir di pernikahanku nanti. " jawabnya kikuk.

__ADS_1


Stevia termangu, ternyata niatan untuk mendekatkan Tomy dan Ririn hanyalah wacana belaka. Mau bagaimana lagi, Ririn telah menemukan pilihan hatinya. Wanita itu maju selangkah, lalu memeluk sahabatnya.


" Aku ucapkan selamat. Semoga kau bahagia bersama pilihanmu. Kami pasti akan mengusahakan untuk datang di pesta pernikahanmu nanti. Benarkan Tom? "


Mendengar kata pernikahan membuat dada Tomy seakan bergemuruh. Pria itu nampak lebih pendiam dari biasanya. Wajahnya pias seperti tak teraliri darah. Kini dirinya harus kembali menelan kekecewaan.


" Iya, Vie. Kau benar. Aku pasti akan menyempatkan waktu untuk datang kesana. " jawab pria itu datar.


Keempatnya melanjutkan kembali kegiatan olah raga dan menuju ke sebuah tempat kebugaran. Namun kini suasana nampak berbeda. Tomy lebih memilih menyendiri, sedangkan Ririn lebih memilih bersama Stevia dan Andreas. Sesekali ia melirik sang atasan yang terlihat dingin dari biasanya.


" Hei, jangan mencuri-curi pandang. Kau sudah akan jadi istri orang sebentar lagi." Stevia menepuk bahu Ririn hingga wanita itu hampir terlonjak kaget.


" Si-siapa juga yang mencuri pandangan. A-ku hanya tak sengaja menatap ke arah Pak Tomy. Tidak biasanya dia diam seperti itu. " jawabnya gugup.


Stevia tersenyum simpul,


" Tentu saja dia terluka. Siapapun pasti akan kecewa mendengar orang yang dicintai akan menikah dengan pria lain."


Ririn terkesiap,


" Wa-nita yang di-cintai? Menikah? Ah Vie, kau jangan bercanda. Pak Tomy tidak mungkin jatuh cinta padaku. Dia masih susah move on darimu. " Ririn masih saja tak percaya.


Stevia terkekeh melihat sahabatnya yang masih nampak polos,


" Dasar bodoh. Apa kau tidak lihat tadi? Wajah Tomy pucat saat mendengar kau akan menikah. Dan sekarang? Lihatlah, dia langsu g menjauhimu setelah kau menyampaikan hal itu barusan. " jelas Stevia.


" Sekarang tinggal kau bertanya pada hatimu sendiri. Kau mencintai Pak Tomy atau memilih menikah dengan pria lain. Semua pilihan ada padamu, kusarankan dengarkan kata hatimu baik-baik. " tambahnya sambil berlalu meninggalkan Ririn.


Wanita itu mematung di tempatnya, ia melihat Tomypun pergi begitu saja tanpa menghampiri atau sekedar berbasa-basi dengannya.


" Apa benar Pak Tomy menyukaiku? Ya Tuhan, bagaimana ini? Alanpun sudah bersiap untuk melamarku sebentar lagi. " batinnya gelisah .

__ADS_1


Bersambung,


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...


__ADS_2