
Babak baru dalam hidup Andreas telah dimulai. Pria itu berusaha dengan keras agar secepatnya bisa sembuh dari cidera kakinya. Dirinya ingin membuktikan pada sang Papa bahwa ia memang bersungguh-sungguh.
Sejak pertengkarannya waktu itu dengan Stevia, dirinya bersikap sedikit acuh pada wanita tersebut. Ia tak lagi meminta Stevia menyiapkan segala kebutuhannya. Beberapa kali Stevia mencoba membantunya untuk berlatih berjalan, tetapi Andreas malah menolaknya dengan alasan ingin berusaha mandiri.
Stevia tidak pasrah begitu saja, ia akan memaksa Andreas agar mau dibantu olehnya kala terjatuh saat belajar berjalan. Ia memapah Andreas dan memaksanya untuk beristirahat jika lelaki itu sepertinya sudah terlalu memforsir seluruh tenaganya.
Wanita mungkin memang berbeda dengan lelaki. Kemarin dirinya marah, namun rasa kesal tersebut mudah menghilang seiring perubahan moodnya. Ia pun tetap membantu sang suami dengan menyiapkan pakaian ganti, obat, sekaligus keperluan pribadi Andreas yang lain. Berbeda dengan Andreas, dalam benaknya kini justru tertanam bahwa Stevia memang benar-benar membenci dirinya meskipun Stevia tidak memperlihatkan secara langsung rasa bencinya itu.
Hampir dua minggu Andreas berusaha dengan keras. Betapa senang dirinya lantaran kini ia sanggup berjalan dengan baik meskipun itu dilakukannya secara perlahan. Ia bertekad sebelum bulan berganti, dirinya harus bisa berjalan dengan normal. Rasanya sungguh memalukan jika sang Papa memperkenalkan dirinya sebagai pimpinan baru dengan keadaan kakinya yang pincang sebelah.
Pak Wildan dan Bu Renata begitu senang saat Andreas memberi kejutan dengan dirinya yang telah mampu berjalan dengan normal. Pak Wildan berencana akan mengumumkan pengangkatan putranya pada saat rapat umum dewan direksi minggu depan. Iapun tetap akan memasukkan Stevia dalam perusahaannya sebagai salah satu kepala bagian disana.
...----------------...
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, Andreas terlihat begitu tampan dan segar pagi ini dengan pakaian formal miliknya. Seperti biasa, Stevialah yang telah mengurus segala perlengkapannya meskipun wanita itu juga harus mempersiapkan dirinya sendiri.
Ia memutuskan untuk meninggalkan dunia modeling sementara waktu. Dirinya kini ingin fokus terhadap pekerjaan barunya. Dari dulu ia memang ingin sekali bekerja di kantor lantaran ia harus mengurus perusahaan Papanya. Namun, apa boleh buat, takdir berkata lain. Perusahaan Pak Aldo mengalami kebangkrutan sebelum dirinya lulus kuliah waktu itu.
Stevia mendekati Andreas yang sedang berdiri di depan cermin. Sepertinya pria itu kesulitan memasang dasinya. Ia berusaha membenahi dasi itu sendiri tanpa meminta bantuan Stevia. Iapun bersikap acuh saat wanita itu berdiri di sampingnya.
Stevia menyingkar tangan Andreas, dengan cekatan ia memasang dasi tersebut. Andreas hanya diam mengamati, Stevia selalu bisa mengerti apa yang ia butuhkan. Tanpa sengaja pandangan keduanya bertemu saat wanita itu mendongakkan kepalanya. Andreas seketika memalingkan wajah. Dirinya tersiksa, jiwa dan hatinya seakan berlawanan. Ia sengaja menghindar dari Stevia agar tak terjerat semakin dalam oleh wanita tersebut.
Andreas sudah siap, ia mengambil tas kerjanya lalu beranjak dari kamar. Stevia yang masih membenahi penampilannya segera memanggil sang suami.
" Andreas?! Tunggu aku. " pintanya setengah berteriak.
Jangankan menjawab, bahkan menolehpun tidak. Andreas justru langsung keluar dari kamar begitu saja. Stevia segera meraih tas kerjanya dan mengejar lelaki itu.
" Andreas, kita berangkat ke kantor bersama-sama ya? " ucapnya sambil melangkah secepat mungkin menghampiri suaminya.
Bu Renata yang melihat keduanya terburu-buru langsung menegur mereka.
" Andreas, Stevia? Apa kalian tidak sarapan terlebih dahulu?"
Andreas menoleh pada sang Mama,
" Tidak, Ma. Kami hampir telat. Kami akan sarapan di kantor saja nanti. Assalamualaikum. " jawabnya sambil berlalu keluar dari rumah.
__ADS_1
Stevia hanya tersenyum sembari melambaikan tangan kepada Mama mertuanya. Ingin berpamitan, tetapi ia takut Andreas akan meninggalkannya nanti.
Bu Renata hanya mampu geleng-geleng kepala, ia cukup bisa memaklumi sebab Pak Wildan sendiri telah pergi ke kantor sejak pagi tadi.
Andreas telah masuk ke dalam mobil. Ia tak ingin Stevia berangkat bersamanya, lebih baik ia mulai menjaga jarak dari wanita itu. Ia mulai menyalakan mesin mobil dan menjalankannya perlahan.
Betapa terkejut dirinya sebab Stevia telah memasang badan di depannya. Ia segera menginjak ram untuk menghentikan laju kendaraan. Pria itu kesal, disaat ia berniat buru-buru, Stevia justru menghalangi jalannya.
Andreas turun dari mobil dan menghampiri Stevia.
" Hei, apa kau sudah gila? Cepat menyingkir dari sini. Kita berangkat sendiri-sendiri! " gertaknya pada Stevia.
" Tidak, aku harus berangkat bersamamu. Kita suami istri, sudah sepatutnya kita berangkat bersama-sama. " sanggah Stevia tak mau kalah.
Andreas mendengus kesal, wanita ini benar-benar keras kepala.
" Baiklah jika kau memaksa. Jangan salahkan aku jika sampai kau tertabrak nanti. " ancamnya sekali lagi.
Stevia mencebikkan bibirnya,
" Silahkan saja kalau kau tega. " balasnya kembali.
" Baiklah. Akan ku buat kau menyesal sekarang! "
Keduanya masuk bersamaan, Stevia duduk di bangku depan bersebelahan dengannya. Lagi dan lagi, Stevia membuat Andreas bertambah kesal.
" Keluar dari dalam mobilku. " tegasnya pada Stevia.
Namun, wanita itu tetap saja melawan.
" Tidak. Kita berangkat bersama-sama. " tegas Stevia tak mau kalah.
Andreas berusaha mendorong tubuh Stevia agar menyingkir dan keluar dari dalam mobil. Namun Stevia masih saja berontak dan berusaha untuk tetap bertahan. Saat wanita itu mulai terdesak, iapun mencabut kunci mobil dan menyimpan dalam gengamannya.
" Kembalikan kuncinya! Culun, kita bisa terlambat nanti! " Andreas mulai kehabisan akal.
" Tidak! Sebelum kau berjanji untuk membiarkanku satu mobil denganmu. " wanita itu mengancam balik.
Kini keduanya berebut kunci, Andreas berusaha menggapai kunci yang ada di tangan Stevia. Lantaran tenaganya yang lebih kuat, pria itu hampir berhasil meraih kunci ditangan Stevia.
Wanita itu kembali terdesak, spontan ia memasukkan kunci tersebut di balik atasan bajunya. Andreas berhenti seketika, tidak mungkin ia mengambil kunci yang berada di dalam sana.
__ADS_1
" Bagaimana Andreas? Apa kau sudah menyerah sekarang?" ledek Stevia. Ia merasa berada diatas angin sekarang.
" Berikan kuncinya padaku. " Andreas meminta secara baik-baik.
" Ambil saja kalau kau bisa, heumm?" ejek Stevia kembali, ia sedikit membusungkan dada dimana kunci itu berada saat ini.
Andreas menarik nafas dalam-dalam, secepat kilat ia memasukkan tangannya kedalam pakaian Stevia.
" Aaaaaa..."
Stevia berteriak saat merasakan sesuatu bergerak di sekitar bulatan kenyal miliknya. Andreas terkesiap, ia menghentikan gerakan saat tanpa sengaja menyentuh gunung kembar milik Stevia. Jakunnya naik turun, ini pertama kali ia menyentuh benda bulat, kenyal dan terasa begitu halus menurutnya.
Wajah Stevia sudah memerah seperti tomat, ia benar-benar malu kali ini. Ia tak menyangka jika Andreas berani melakukan tindakan barusan.
" Singkirkan, keluarkan tanganmu dari situ! " teriaknya kesal.
Andreas kembali terkesiap, ia langsung menarik tangan sambil mengambil apa yang ia cari barusan.
Keduanya jadi salah tingkah dan mengalihkan pandangan berlawanan arah. Nampak wajah Andreaspun memerah karena malu.
Stevia segera membenahi pakaiannya, mungkin setelah ini ia akan menyembunyikan wajahnya saat berhadapan dengan Andreas.
" Kau yang memancingku. Jangan salahkan aku." Andreas berusaha membela diri.
Stevia mengerucutkan bibir tanpa berani menatap lelaki itu.
" Dasar pria mesum. " gerutunya kesal.
Setelah itu akhirnya merekapun pergi ke kantor bersama-sama.
...--------...
Andreas dan Stevia telah tiba di kantor. Sepanjang perjalan keduanya jadi salah tingkah. Baik Andreas maupun Stevia sama-sama malu atas kejadian tadi.
Pria itu berjalan di depan, sementara Stevia mengikuti dari belakang. Seluruh karyawan memberikan sambutan penghormatan kepada pimpinan baru mereka. Banyak yang terbius oleh kecantikan dan ketampanan Stevia Suryatama dan Andreas Dirgantara.
Pak Wildan memberikan pelukan selamat pada keduanya. Ia memperkenalkan anak dan menantunya dihadapan seluruh anggota direksi dan karyawan DIRGANTARA COMPANY.
Hanya ada satu orang yang tidak senang, siapa lagi kalau bukan Stefan. Pria itu teramat kesal, apalagi kini Cecile jadi acuh padanya setelah tahu bahwa ia bukanlah putra kandung keluarga Dirgantara.
" Awas saja kau Andreas. Aku akan membalasmu lebih dari ini. " tekadnya memendam kekesalan.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kaluan disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗