
Stefan merasa beruntung lantaran Andreas tidak berhasil membuka maskernya waktu itu. Jika dirinya tidak berpikir cepat untuk melukai Stevia, bisa dipastikan pria itu pasti akan mengejarnya sampai tertangkap. Menurutnya, dengan melukai Stevia pasti Andreas akan lebih mengutamakan keselamatan wanita itu daripada harus mengejarnya.
Pria itu kini sedang sibuk berolah raga dan gym. Kebetulan hari ini merupakan hari libur, jadi ia bisa rehat sejenak dan melupakan segala urusan kantor. Dirinya harus lebih sering melatih kekuatan otot dan kemampuan beladirinya agar bisa mengalahkan seorang Andreas Dirgantara.
Tidak bisa dipungkiri, Andreas juga sangat jago dalam hal beladiri. Dulu keduanya sering berlatih bersama-sama, tetapi semenjak ia bekerja di kantor, kini dirinya sangat jarang berlatih gym seperti ini.
" Kau disini juga rupanya. "
Andreas baru saja datang ke tempat gym langganannya. Ia selalu menyempatkan waktu luangnya minimal seminggu sekali untuk berolah raga.
Apalagi di apartemen kini ada Stevia, wanita itu seolah selalu saja membuatnya tergoda. Darahnya selalu saja berdesir saat melihat Stevia berpakaian seksi di dalam rumah. Ia memilih kabur dari tempat yang sukses membuatnya kegerahan setiap saat.
" Sudah lama aku tak berolah raga. Otot-ototku terasa kaku. Aku ingin melatih kekuatan ototku kembali. " Stefan beberapa kali menaik turunkan barbel yang ada di tangannya.
" Iya. Sudah lama sekali kau tak kesini. Mungkin sekarang kau tak akan bisa berkutik jika mendapat serangan dariku. " ejek Andreas menertawakan kakak angkatnya.
Stefan meletakkan barbel ditangannya lalu berdiri. Ia melakukan perenggangan dan berniat untuk menantang Andreas.
" Bagaimana kalau kita coba duel kembali. Aku ingin menjajal kemampuanmu sekarang." Stefan telah mengambil ancang-ancang.
Andreaspun turut mengambil ancang-ancang.
" Dengan senang hati, jangan menangis jika kau kalah. " canda Andreas.
Kini keduanya siap berduel. Stefan memulai beberapa serangan terhadap Andreas. Dengan sigap Andreas berhasil menangkisnya.
" Kemampuan beladirimu bagus juga. Kau sepertinya sudah mulai mengalami peningkatan. " puji Stefan pada Andreas.
" Karena aku tidak ingin kalah darimu, kak. " Andreas tetap berkonsentrasi, ia tetap waspada jikalau Stefan melakukan serangan tak terduga.
Benar saja, kali ini Stefan mempercepat gerakan pukulannya. Ia melancarkan serangan bertubi-tubi pada Andreas. Pertarungan semakin sengit, beberapa kali Andreas terkena pukulan Stefan begitupun sebaliknya.
Keduanya beristirahat sesaat, mereka cukup terengah-engah karena lelah. Kemudian, keduanya kembali bertarung. Andreas mulau menemukan kesempatan untuk bisa mengunci tubuh Stefan. Saat Stefan hendak memukul dengan salah satu tangannya, Andreas menangkap dan mengunci tangan Stefan hingga pria itu kini ia terjatuh dan kalah telak dari Andreas.
Sekelebat bayangan perkelahian antara dirinya dan pria peneror tiba-tiba masuk dalam pikiran Andreas. Kejadian ini sama persis seperti kejadian kemarin, dirinya cukup tertegun memperhatikan postur sang kakak yang sama persis dengan pria peneror itu.
" Tidak, ini tidak mungkin. " Andreas berusaha menyangkal kata hatinya.
Stefan hampir kepayahan karena tak mampu melepaskan diri dari kuncian Andreas. Dalam hati ia teramat kesal, masih saja dirinya kalah dari Andreas seperti sebelumnya.
" Dasar adik durhaka! Apa kau belum puas menyiksa kakakmu ini, hah! " keluh Stefan.
Andreas terbangun dari lamunannya, ia segera berdiri dan melepaskan kunciannya.
__ADS_1
" Maaf. Aku memang senang melihatmu menderita seperti ini. " candanya sembari tertawa lepas.
Stefan mencebik kesal, ia berdiri dan membersihkan debu yang menempel di tubuhnya.
" Kau memang tak beradab. Awas saja, suatu saat aku pasti membalasmu. " gerutunya sebal.
Andreas mengambil dua botol air minum dari dalam tasnya. Ia menyerahkan salah satunya kepada sang kakak.
" Ini sebagai ucapan permintaan maafku."
Stefan langsung menyambarnya, keduanya lalu duduk bersebelahan sambil meneguk air di tangan mereka.
" Kakak. Aku cukup tertekan bekerja di kantor Papa. Semua terasa asing bagiku. Aku minta tolong padamu untuk membimbingku agar dapat memajukan perusahaan Papa. Aku menyesal karena ada banyak hal yang aku lewatkan selama ini. Aku ingin membanggakan Papa. " Andreas mencurahkan segenap isi hatinya.
Stefan mengepalkan salah satu tangannya karena kesal. Jika sampai hal itu terjadi, posisinya akan semakin terancam di kantor. Kesempatan untuk menguasai perusahaan besar itu bisa lenyap karenanya.
Stefan berusaha mengontrol diri, ia akan menjadi duri dalam daging yang kapan saja siap menusuk Andreas.
" Kau tenang saja. Hal seperti itu sudah biasa dialami oleh seorang pemula. Tapi, aku yakin kau akan cepat mengatasinya. Aku pasti akan selalu membantumu. Kau tenang saja. " Stefan berusaha menyemangati.
Andreas tiba-tiba memeluk sang kakak,
" Terima kasih. Aku percaya padamu." ia menepuk punggung pria itu lalu melepaskan pelukannya.
Stefan tak mau ikut terbawa perasaan, pikiran buruk kembali memenuhi isi otaknya. Yah, Andreas adalah saingan terberatnya, Andrea yang selalu dielu-elukan sejak kecil. Andreas,, Andreas sajalah seolah yang paling penting dan dirinya hanyalah anak angkat tak berguna. Bahkan sampai sekarang, Papa Wildan nyatanya membedakan pembagian harta antara dirinya dan Andreas.
...------...
Stefan telah tiba diapartemen Cecile. Saat wanita itu membuka pintu, seketika Cecile ingin menutupnya kembali lantaran tamunya tersebut adalah Stefan.
Ia pikir Andreas akan menemuinya saat libur bekerja seperti ini. Ia telah mengirim pesan pada pria itu untuk datang ke tempatnya, tetapi nyatanya bukan Andreas yang datang melainkan Stefan.
Stefan mendorong pintu itu cukup keras karena kesal. Cecile hampir saja terjatuh akibat dorongannya.
" Mau apa kau kesini? Bukankah sudah ku bilang, aku sudah tidak ingin berhubungan denganmu. " bentak Cecile sembari mengelus lengannya yang nyeri karena terhantam pintu.
Stefan tersenyum bengis, ia sakit hati melihat wanita itu memalingkan wajah darinya.
" Oh, jadi kau anggap aku ini seperti sampah. Yang kau pungut semaumu dan bisa kau buang semaumu, hah! " bentak Stefan mulai tersulut emosi.
Cecile menatap sinis pada pria didepannya,
" Yah, kau memang sampah yang dipungut oleh keluarga Dirgantara. Sampah tak tahu diri yang menjadi parasit dalam keluarga Andreas." sahutnya penuh penekanan.
__ADS_1
Kata-kata Cecile membuat Stefan semakin murka. Ia menutup pintu apartemen Cecile dengan begitu kencang. Pria itu seperti seekor harimau yang hendak menerkam mangsanya.
Cecile bergidik ketakutan, ia merutuki mulutnya yang asal bicara. Padahal ia tahu pria itu mudah sekali marah.
" Kau mau apa! Jangan berbuat macam-macam karena sebentar lagi Andreas akan datang kesini! " ancamnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Stefan menyeringai menyaksikan mangsanya yang begitu ketakutan.
" Kau pikir aku peduli jika Andreas datang kesini, hah! Biar saja dia menyaksikan kekasih murahannya ini kucabik-cabik. Aku akan semakin puas saat melihatmu dicampakkan begitu saja oleh pria itu! " tantangnya.
Airmata Cecile berlinang deras, ia berjalan mundur dan sesekali terjatuh lantaran menabrak perabot rumahnya. Mungkin dirinya sering melayani pria itu, tapi bukan dalam keadaan Stefan yang telah berubah menjadi iblis menurutnya.
Cecile berlari ke dapur dan berniat bersembunyi di toilet yang berada tak jauh dari sana, tapi dengan susah payah Stefan berusaha menangkapnya. Pria itu gagal menangkap wanita tersebut, tetapi berhasil merobek atasan Cecile bagian belakang.
Cecile terkesiap, ia kembali menghindar dari Stefan. Namun, posisinya yang terpojok membuatnya tak mampu pergi kemana-mana.
" Mau lari kemana lagi kau, heum?" sindir Stefan menyeringai senang.
Cecile menangis sesenggukan, ia bertambah takut saat Stefan semakin mendekatinya. Posisinya kini semakin terpojok, tidak ada pilihan lain, dirinya harus meminta maaf pada pria itu agar tak berlaku kasar padanya.
" Kumohon maafkan aku. A-Aku akan melayanimu, tapi jangan berbuat kasar kepadaku. " ucapnya saat dalam keadaan terjepit.
" Kau kira aku pria bodoh yang bisa kau permainkan sesukamu! Mana kesombonganmu tadi! Mana! " bentak Stefan dengan suara menggelegar.
Krek...Krek...
Stefan merobek lengan dan kancing piyama Cecile dengan kasar. Wanita itu berjongkok untuk menutupi dadanya yang terbuka. Tak henti-hentinya Cecile menangis karena takut.
" Lihatlah. Kau sama sekali tak memiliki harga diri sekarang. " Stefan kembali menyeringai.
Aaaa....
Cecile berteriak saat lelaki itu tiba-tiba menarik dan mendekap tubuhnya kencang. Cecile berusaha memberontak, tetapi tenaganya sama sekali tak berarti.
Stefan menyeret gadis itu dan menjatuhkannya diatas meja dapur. Ia mengunci tubuh Cecile dan mencium setiap lekuk tubuh wanita itu dengan brutal. Hati Cecile ingin melawan, namun tubuhnya selalu bereaksi terhadap sentuhan Stefan.
Stefan memperlakukan wanita itu dengan begitu kasar, ia menyiksa Cecile hingga wanita itu nampak tak berdaya. Setelah hasratnya mulai memuncak, pria itu menanamkan benihnya dalam tubuh Cecile.
Selama ini ia selalu menjaga diri saat berhubungan dengan wanita itu lantaran dirinya memang mencintai Cecile. Namun, kali ini wanita itu telah bertindak keterlaluan dengan menghina dirinya. Menurutnya ini adalah hukuman paling tepat untuk wanita itu agar tidak lagi mencampakkannya.
" Aku akan merebutmu dari Andreas dan memilikimu seutuhnya setelah ini."
Ia segera memakai pakaiannya dan meninggalkan Cecile yang tengah tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya untuk karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..