
Seluruh anggota keluarga Dirgantara telah berkumpul di ruang keluarga. Dalam hati mereka bertanya-tanya, apakah gerangan yang membuat mereka dikumpulkan seperti ini? Dilihat dari gelagatnya, Pak Wildan sepertinya akan membicarakan sesuatu yang penting sebab pengacara keluarga juga ikut hadir disana.
Pak Wildan berdiri dari duduknya, ia mulai membuka pembicaraan.
" Hari ini Papa sengaja mengumpulkan kalian semua sebab ada hal penting yang ingin Papa sampaikan mengenai perusahaan." jelas Pak Wildan.
Stevan tampak serius dan tegang, apalagi ini masalah perusahaan. Ia bisa menebak kemana arah pembicaraan pria tua tersebut. Akhirnya apa yang selama ini ia khawatirkan kemungkinan akan segera terjadi.
Andreas mencebik malas, pria itu sama sekali tak tertarik jika topik yang dibahas berhubungan dengan masalah perusahaan. Namun, ia masih menghargai sang Papa. Pria itu memperhatikan secara seksama apa yang akan disampaikan oleh Papanya.
Lain halnya dengan Stevia, sedikit banyak ia dapat menebak arah pembicaraan Pak Wildan. Kemungkinan besar ini mengenai penyerahan saham Pak Wildan padanya seperti yang tercantum di dalam dokumen miliknya. Ia merasa was-was dan takut kalau sampai ada salah satu anggota keluarga yang tidak terima. Ia memilih diam dan mengikuti alur yang ada. Dirinyapun tidak terlalu mengharapkan hal itu sebab ia hanya butuh untuk melunasi hutangnya saja.
Semua mata tertuju pada Pak Wildan , pria itu mulai melanjutkan pembicaraan.
" Hari ini Papa akan menyampaikan mengenai pembagian saham keluarga. Papa akan membagi saham Papa diperusahaan menjadi tiga yaitu untuk Stevan, Andreas dan juga Stevia." ungkap Pak Wildan langsung pada intinya.
Andreas dan Stevan sama-sama terkejut mendengar nama Stevia disebut disana. Andreas langsung mengajukan protes karenanya. Ia rasa Stevia tidak berhak untuk mendapatkan saham milik Papanya.
" Pa?! Kenapa Stevia jadi dibawa-bawa? Dia kan.. Bukan bagian dari anggota keluarga kita. " Andreas menatap sinis pada wanita yang dimaksud.
Pak Wildan menatap tajam pada Andreas,
" Siapa bilang Stevia bukan bagian dari kita? Dia adalah istrimu yang sah dimata hukum negara dan agama. Papa juga sangat berhutang budi sebab Pak Aldo lah yang telah membantu kita saat perusahaan hampir bangkrut dulu. " tegas Pak Wildan.
Andreas terdiam, tapi batinnya masih saja tak terima dengan alasan yang diberikan oleh Papanya. Jika benar Stevia mendapat andil, wanita itu pasti akan semakin merasa di atas angin. Baru menikah saja, wanita itu sudah merasa berkuasa atas dirinya.
Pak Wildan mempersilahkan pengacara keluarga untuk maju dan menjelaskan semua dihadapan putra-putranya. Beliau menyampaikan bahwa saham milik Pak Wildan akan dibagi menjadi tiga yaitu untuk Andreas 50%, Stevan 30 % dan Stevia 20 %.
Andreas kembali protes, sudah berulang kali dirinya menolak untuk bekerja di perusahaan.
__ADS_1
" Pa! Bukankah sudah kukatakan. Aku tidak suka bekerja di perusahaan. Aku ingin mencoba bisnis yang lain, jiwaku bukan disana, Pa. Biar kak Stevan saja yang mengurus perusahaan Papa. "
Lagi-lagi Andreas berhasil menyulut emosi Papanya.
" Bisnis apa, Andreas? Kerjamu hanya berfoya-foya dan menghabiskan uang saja. Kau sudah dewasa dan sekarang kau telah berkeluarga. Cobalah belajar bersikap bijak!" bentak Pak Wildan dengan nada yang dinaikkan satu oktaf.
Stevan menyeringai senang, pria yang menurutnya bodoh itu lagi-lagi menolak memimpin perusahaan. Memang hanya dialah yang pantas menguasai perusahaan tersebut. Pertengkaran ayah dan anak itu seolah jadi melodi yang indah ditelinganya.
Andreas tak mampu menjawab pertanyaan sang Papa. Jujur saja, ia merasa kurang percaya diri dan belum siap untuk memimpin sebuah perusahaan. Dia sudah terbiasa dengan hidup berkecukupan tanpa perlu susah payah bekerja.
Pak Wildan membuang nafas kasar, mau tidak mau dirinya harus mencari cara agar Andreas bersedia bekerja. Bagaimanapun Andreas adalah putra satu-satunya keturunan keluarga Dirgantara. Dialah yang wajib menjadi penerus tampu perusahaan besar tersebut.
" Baiklah. Jika kau tak mau memegang perusahaan. Maka Papa akan mencoretmu dari daftar pemilik saham dan akan memberikan seluruh saham milikmu pada Stevia istrimu." gertaknya kembali.
Seluruh penghuni ruangan terperangah, keputusan Pak Wildan benar-benar gila. Ia mempercayakan sebuah perusahaan besar pada seorang model yang sama sekali belum berpengalaman pada bidang tersebut.
Seketika Stevia ikut angkat bicara, ia tak ingin terjadi perselisihan di keluarga ini.
Stevan mengeratkan gigi-giginya karena kesal. Rasanya ia ingin membunuh pria tua dihadapannya saat itu juga. Ia telah berjuang untuk melebarkan sayap perusahaan, namun dirinya justru tak dianggap sama sekali. Ia lebih memilih perempuan yang baru kemarin masuk dalam keluarga untuk menjalankan usahanya.
" Aku bersumpah akan menghancurkan keluargamu, Wildanta Dirgantara ! " gejolak dalam batinnya berliput amarah.
Andreas akhirnya mencoba bernegosiasi kembali.
" Benar kata Stevia, Pa! Dia sama sekali tak berpengalaman. Apa Papa rela jika perusahaan hancur karena memiliki pemimpin yang tidak tahu apa-apa? Menurutku itu benar-benar tak masuk akal! " ia mencoba menyampaikan argumentnya.
Pak Wildan menatap tegas pada Andreas, sorot matanya yang dingin seolah membekukan siapa saja yang menatapnya.
" Keputusan Papa tidak bisa diganggu gugat. Kau memegang perusahaan atau istrimu yang akan mengelolanya. Papa tidak peduli meskipun perusahaan jadi hancur. Papa kecewa memiliki putra yang tidak bertanggung jawab sepertimu. Mari Pak Reno ikut saya. " Pak Wildan beranjak dengan sang pengacara dibelakangnya.
__ADS_1
" Pa. Tunggu Pa! " Andreas masih ingin menjelaskan, ia hendak beranjak namun Stevia menahannya.Wanita itu menggandeng lengan Andreas untyk menenangkan.
" Sekarang Papa sedang terbakar emosi, percuma kau mengejarnya. Lebih baik kita ke kamar dan memikirkan masalah ini baik-baik. " Stevia menasehti sang suami dengan tutur kata yang lembut.
Kali ini Andreas menurut padanya. Iapun bersama Stevia pergi meninggalkan ruang keluarga menyisakan Stevan seorang diri.
Dari tadi pria itu sedang dilanda amarah. Namun, ia selalu saja berusaha menahan karena tak ingin dicap buruk di depan keluarganya.
" Brengsek! Tua ban*ka sialan. Dia sama sekali tak menganggapku. Aku harus segera menghabisi Andreas sebelum aku benar-benar kehilangan semuanya. Aargghhh..
Stevanpun akhirnya pergi meninggalkan ruangan tersebut. Disaat seperti ini hanya Cecile yang mampu merubah moodnya menjadi baik kembali.
...-----------...
Andreas duduk diatas sofa dengan perasaan gelisah. Ucapan Papanya tadi tidak bisa dianggap enteng. Jika benar Stevia menjadi pemimpin perusahaan, maka dirinya akan dianggap sebagai pecundang yang tak berguna. Ia memperhatikan wanita yang kini datang membawakan secangkir kopi untuknya.
" Minumlah ini. Siapa tahu pikiranmu akan tenang setelahnya. " Stevia menyuguhkan kopi tersebut diatas meja kemudian duduk disamping Andreas.
Ada sedikit kekaguman Andreas terhadap wanita itu, Stevia nampak tenang saat dalam situasi yang kurang nyaman. Dia nampak dewasa dan bisa mengayomi. Apa mungkin Stevia lebih tepat untuk memimpin perusahaan Papanya? Ia mencoba memancing wanita tersebut.
" Bagaimana jika seandainya aku benar-benar menolak dan Papa memaksamu untuk mengelola perusahaan? " ia ingin tahu pendapat Stevia.
Stevia menggeleng seraya menunjukkan senyum manisnya dihadapan Andreas. Wanita itu menggenggam tangan sang suami untuk menguatkan.
" Aku akan selalu berada dibelakangmu untuk mendukung dan menyemangatimu. Kita kelola semua bersama-sama dibawah naunganmu. Aku yakin seorang Andreas Dirgantara bukanlah orang lemah. Percayalah, perusahaan akan semakin berkembang ditanganmu. "
Keduanya saling bersitatap, masih terasa genggaman tangan Stevia yang begitu hangat. Wanita itu seolah menyalurkan energi positif dalam dirinya.
Sejenak Andreas kembali terlena, namun lagi-lagi akal sehatnya ikut berbicara. Dengan kasar ia menarik tangannya dari genggaman Stevia. Ia harus membatasi dirinya demi sahabatnya, Tomy. Ia memilih keluar untuk mencari udara segar yang siapa tahu mampu membawa pergi segala permasalahan hidupnya.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat Author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..