Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
MENJAHILI STEVIA


__ADS_3

" Cepat keluarlah. Dasar culun sembunyi bukannya diam malah teriak-teriak. " ketus Andreas kesal.


Untung saja Tomy tidak menemukan Stevia barusan. Kalau saja lelaki itu tahu Stevia bersamanya, Tomy pasti akan marah besar padanya.


Stevia keluar dari balik korden dengan perasaan was-was. Wanita itu memperhatikan sekeliling, barang kali saja hewan kecil menjijikkan itu masih ada disekitar sana.


" Dasar jorok. Kau pasti jarang membersihkan tempat ini. Menggelikan sekali, ada kecoa berkeliaran disini. " Stevia bergidik ngeri, bulu kuduknya seolah meremang mengingat kecoa yang merayap ditangannya.


" Kecoa? Dimana ada kecoa? Aku tidak pernah melihatnya. " sanggah Andreas.


" Itu disana. Cepat kau buang kecoa itu jauh-jauh dariku. " tunjuk Stevia sambil berjalan mengikuti Andreas dari belakang.


Pria itu berjalan mendekati korden, lalu berjongkok untuk mencari keberadaan hewan kecil itu.


" Bagaimana? Apa kau menemukannya?" tanya Stevia was-was.


Andreas menyeringai licik, ini kesempatan baginya untuk mengerjai Stevia.


" Sudah kutangkap. "pria itu membawa sesuatu dalam genggamannya. Namun kini, dirinya justru berjalan mendekat kearah Stevia. Ia tersenyum sambil melirik sesuatu yang ada dalam genggamannya.


Stevia berjalan mundur, dari gelagatnya bukan tidak mungkin Andreas akan mengerjainya saat ini. Dari dulu Andreas memang suka jahil terhadapnya.


" Kau mau apa? Jangan pernah berpikir untuk menjahiliku. Ini tidak lucu Andreas. " ungkapnya gugup.


Semakin ia mundur, Andreas semakin mendekat kearahnya. Hingga tanpa ia sadari tubuhnya telah berhimpit dengan tembok. Andreas menyeringai, secepatnya ia menghampiri Stevia dan memasukkan sesuatu ke bagian belakang baju Stevia.


" Rasakan ini, Culun. "


" Aaaa....Andreas apa ini ?!"


Stevia ketakutan saat merasakan sesuatu bergerak dipunggungnya. Ia yakin si raja tega itu benar-benar memasukkan kecoa ke dalam bajunya. Stevia menggelinjang kegelian, ia berusaha mengambil namun tangannya tak mampu menggapai.


Wanita itupun melompat-lompat berharap hewan itu segera keluar dari bajunya. Alangkah terkejut dirinya saat mendapati segelintir tisue yang keluar dari balik pakaiannya.


Andreas tertawa terpingkal-pingkal, dirinya puas bisa mengerjai Stevia. Tentu saja Stevia sangat kesal padanya, wanita itu mengejar Andreas dan memukul-mukul lelaki itu dengan tasnya.


" Sudah-sudah... Apa kau mau aku mati kau pukuli terus-terusan, Hah!! " bentak Andreas.


" Bukankah kau sendiri yang memulai duluan? Kau yang pertama kali membuat gara-gara denganku. " sangkal Stevia.


Andreas terdiam, namun netranya menatap tajam pada Stevia. Wanita itu beringsut mundur, sepertinya Andreas benar-benar marah kali ini.


Pria itu melangkah menuju ambang pintu, perlahan Steviapun mengikutinya dari belakang. Mungkin Andreas akan mengantarkannya pulang sekarang.


Wanita itu terkesiap saat tanpa diduga Andreas berbalik dan berteriak. " Kecoaa!! "

__ADS_1


" Aaaaa...."


Secara reflek Stevia memeluk Andreas karena ketakutan.


" Andreas, kumohon sudah. Jangan mengerjaiku lagi. " pinta Stevia yang kini bersembunyi dibalik ketiak Andreas. Tangannya melingkar erat dipinggang Andreas hingga pria itu hampir kesulitan untuk bernafas.


Degh...Degh...Deghh...


Jantung Andreas kembali berdetak tak karuan. Dirinya sangat sulit mengendalikan diri saat berdekatan dengan Stevia.


Begitupun Stevia, ia baru menyadari jika saat ini dirinya tengah memeluk tubuh Andreas. Perlahan wanita itu mulai melonggarkan pelukannya.


Saat hendak menengadah tanpa sengaja kedua netra itu saling bertemu. Tatapan mata Stevia seolah mengunci pandangan Andreas.


Lagi-lagi Andreas terhipnotis oleh mata bulat lebar berwarna hitam pekat dengan bulu mata lentik itu.


" Bagaimana apa kau sudah mulai jatuh cinta padaku, Andreas Dirgantara? "


Ucapan Stevia seketika membuyarkan lamunannya. Pria itu mendorong kasar tubuh Stevia menjauh darinya.


" Jangan harap kau bisa menaklukanku ! " tegasnya pada Stevia.


" Benarkah begitu? Kita lihat saja nanti. " Stevia seolah tertantang mendengar perkataan Andreas barusan.


Bergegas Andreas pergi dari sana, ia tak bisa berlama-lama dekat dengan Stevia.


...----------------...


Sepanjang perjalanan Stevia dan Andreas hanya diam tanpa ada satu patah katapun. Mereka sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Terutama Andreas, ia rasa Stevia sengaja mendekatinya hanya untuk membalas sakit hatinya saja.


Lelaki itu mengerem mobilnya di samping gang dekat kediaman Stevia.


" Untuk apa kita berhenti disini. Bukankah sebentar lagi kita akan sampai? " keluh Stevia .


" Justru karena kita belum sampai, aku ingin kita membuat kesepakatan terlebih dahulu. " tegas Andreas.


" Kesepakatan apa maksudmu? " wanita itu semakin penasaran dibuatnya.


Andreas memiringkan tubuhnya hingga sejajar dengan Stevia.


" Kau batalkan pernikahan ini dan akan kuberikan berapapun yang kau mau. "


Stevia tersenyum sinis,


" Memangnya berapa besar yang akan kau tawarkan padaku? Kau saja bahkan tidak bekerja. " sindir Stevia.

__ADS_1


Andreas mengeratkan gigi lantaran geram, Stevia seolah berani menghina dirinya.


" Aku Andreas Dirgantara. Meskipun aku tidak bekerja, tapi kekayaan keluargaku tidak akan pernah ada habisnya. " jawabnya penuh keyakinan.


" Tidak ada sesuatu yang tidak akan habis. Apapun bisa terjadi, dunia itu berputar Tuan Andreas Dirgantara. Mungkin saat ini kau sedang diatas, tapi bukan tidak mungkin suatu saat kaupun akan merasakan berada dibawah. " sanggah Stevia.


Wanita itu membuka pintu mobil, ia memilih berjalan kaki dari pada


bersama dengan pria sombong yang masih belum mengerti tanggung jawab.


Andreas kesal melihat Stevia keluar dari mobilnya. Sepertinya sulit sekali untuk membuat wanita itu mau membatalkan pernikahan mereka.


" Aarrrghh...Sial !! "


Ia membanting stir mobil, sesaat kemudian menyusul wanita tersebut menuju kediamannya.


Stevia memencet bel rumahnya, diikuti Andreas yang kini telah berada dibelakang wanita tersebut. Keduanya saling bersitatap sesaat, kemudian tanpa sengaja keduanya kompak memencet bel kembali.


Kini tangan keduanya saling bertumpu diatas bel. Hati Andreas kembali berdesir, namun sesaat kemudian ia mampu menguasai diri. Andreas segera menarik tangannya dan menjaga jarak dari Stevia. Tak berselang lama, terdengar seseorang memutar gagang pintu dari dalam.


" Nona? Akhirnya kau kembali. Kami semua mencemaskanmu. " Loly langsung berhambur ke pelukan Stevia. Tentu saja ia khawatir lantaran Stevia pergi dengan perasaan yang sedang terluka semalam.


Ia baru sadar jika ada seseorang disamping atasannya. Loly cukup terkejut melihat Stevia kembali bersama dengan Andreas.


" Nona kalian? " Loly menunjuk keduanya bergantian. Terus terang ia tak mengerti bagaimana bisa keduanya bersama-sama.


" Sudah. Nanti aku jelaskan. Sekarang aku ingin bertemu Mama dan Papa, mereka pasti juga sangat mencemaskanku. "


Ketiganya masuk kedalam rumah. Andreas memperhatikan sekeliling, bangunan itu masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Terlihat Pak Aldo dan Bu Vera sedang duduk diruang tamu. Keduanya nampak cemas menunggu kepulangan putri semata wayang mereka.


" Stevia? Akhirnya kau pulang sayang."


Bu Verra segera berhambur memeluk putrinya. Masih terlihat gurat-gurat kecemasan diwajah wanita paruh baya itu. Ini adalah kali pertama Stevia pergi semalaman tanpa ada kabar berita.


" Kau kemana saja, Nak? Papa dan Mama sangat cemas, kami takut terjadi apa-apa padamu. "


Stevia bingung harus menjawab apa, tidak mungkin ia berkata jujur bahwa dirinya tengah mabuk semalam. Namun, tanpa diduga Andreas menyela obrolan keduanya.


" Sebelumnya aku minta maaf, Om Tante. Semalam aku mengajak Stevia ke acara pernikahan sahabatku di luar kota. Kebetulan kami harus datang membawa pasangan. " terang Andreas berbohong.


" Baiklah. Tidak apa-apa, untung saja kau pergi bersama calon suamimu sendiri. Tapi lain kali, tolong kabari dulu supaya yang dirumah tidak cemas. " Pak Aldo memaklumi.


" Oh ya Andreas, berhubung kau ada disini. Mama dan Papamu telah memberikan kartu undangan pernikahan kalian yang akan disebarkan minggu ini. Jika kalian ingin mengundang sahabat maupun rekan kerja, kalian boleh mengambil beberapa untuk dibagikan." Pak Aldo menunjukkan kartu undangan keduanya diatas meja.


Bak diterjang badai, Andreas tak menyangka jika semua bisa terjadi secepat ini. Rasanya sungguh mustahil untuk membatalkan semuanya, bahkan tanggal pernikahan merekapun telah tertera disana.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...


__ADS_2