
Tomy dan Ririn bagai sepasang raja dan ratu malam ini. Binar-binar kebahagiaan nampak tersirat di wajah keduanya. Kedua sejoli itu sangat bersyukur, akhirnya jalinan cinta mereka berakhir di pelaminan.
Andreas dan Steviapun tak kalah senangnya. Mereka bahagia setelah berhasil mempersatukan cinta kedua sahabatnya. Kini mereka tengah asyik menikmati jamuan makan yang tersedia disana.
Setelah menyantap hidangannya, Stevia meminta izin ke toilet pada sang suami. Wanita itu berjalan melewati lorong yang cukup sepi sebelum akhirnya tiba di toilet gedung.
Wanita itu membenahi dandanannya sambil bercermin disana. Namun, betapa terkejut dirinya ketika melihat seorang pria bertopi berdiri di belakangnya saat ini. Netranya membulat sempurna menyaksikan lelaki yang sudah tidak asing baginya.
" Kak Ste-fan?" gumamnya tak percaya.
Kaki Stevia terasa lemas, rasa takut menjalar dalam dirinya ketika Stefan menyeringai dan berjalan mendekat kearahnya.
" Kak Ste-fan mau apa? Jangan macam-macam atau aku akan berteriak! " gertaknya dilanda kegugupan.
Stefan terus berjalan mendekat dan memojokkan Stevia. Saat wanita itu hampir berteriak, dengan segera Stefan memukul tengkuk Stevia hingga tak sadarkan diri.
" Sebentar lagi kau akan menyusul Cecileku. Cecile, tenanglah. Aku dan wanita ini akan menyusulmu. Biarkan Andreas menikmati kesendiriannya di dunia ini. " gumamnya sembari memasukkan Stevia kedalam kantong sampah dan membawanya dengan troly.
Pria itu bergegas meninggalkan gedung, ia sengaja menyamar sebagai petugas kebersihan agar tidak ada yang menaruh curiga padanya.
***
Andreas melirik jam yang melingkar ditangannya. Perasaannya sungguh tidak tenang saat ini. Sudah lebih dari setengah jam, Stevia belum juga kembali dari toilet.
Akhirnya pria itu berinisiatif untuk menyusul sang istri ke toilet. Ia menunggu beberapa lama didepan toilet wanita, tetapi Stevia tak kunjung keluar dari sana. Hingga seorang wanita keluar dan menatap heran kepadanya. Wanita itu memperhatikan keberadaan Andreas yang telah berada disana sebelum hingga setelah ia keluar dari toilet.
" Maaf Tuan? Apa yang sedang anda lakukan disini? Kenapa anda terlihat seperti menunggu seseorang? " tanya wanita tersebut.
Andreas menjelaskan bahwa ia sedang menunggu istrinya yang telah berpamitan pergi ke toilet hampir sejam yang lalu. Lantaran tak kunjung kembali, iapun menyusul istrinya kesana.
Wanita itu terkejut sebab menurutnya di toilet sudah tidak ada siapa-siapa. Andreas semakin panik, dengan segera ia masuk ke dalam dan memastikan sendiri. Tenyata benar, sudah tidak ada siapa-siapa disana. Merekapun segera melaporkan hal ini pada bagian keamanan gedung.
Karena tak ingin merusak pesta sang sahabat, Andreas berinisiatif untuk tidak menyampaikan hal ini pada Tomy dan Ririn. Bergegas pria itu menghubungi petugas kepolisian setempat untuk melaporkan hilangnya sang istri.
Saat hendak menelpon, tiba-tiba saja panggilan dari Papanya masuk. Betapa terkejut dirinya saat mendengar bahwa Stefan telah kabur dari Rumah Sakit Jiwa. Andreas segera menutup sambungan teleponnya, ia harus segera bertindak cepat sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
" Tidak salah lagi, ini pasti ulah Stefan." gumamnya yakin.
Untung saja ponsel Stevia terhubung dengan GPS. Pria itu segera melacak keberadaan istrinya lewat ponselnya.
" Ya Tuhan. Semoga tidak terjadi apa-apa pada istriku. " Batinnya cemas.
__ADS_1
...****...
" Kak Stevan, kumohon jangan lakukan ini! " teriak Stevia ketakutan. Ia melirik kebawah, betapa ngeri dirinya menyaksikan derasnya air sungai yang ada dibawah sana. Dan saat ini, dirinya berada di tepi sungai dengan keadaan kaki dan tangan yang terikat.
Semenjak pertemuannya semalam di toilet gedung dengan Stefan, Stevia sudah tidak sadarkan diri. Alangkah terkejut dirinya saat terbangun dengan keadaan kaki dan tangan terikat dan kini ia telah terbujur di tepian sungai.
Jantung Stevia berdegub tak beraturan saat Stefan berjalan mendekat sambil menyeringai kearahnya. Ia yakin kakak iparnya yang sedang depresi itu mampu berbuat hal buruk kepadanya saat ini.
" Kumohon kak, lepaskan aku. Aku, aku istri dari adikmu. Kumohon, sadarlah. Jangan lakukan ini padaku." pinta Stevia memelas.
Namun, Stefan justru malah menertawainya. Pria itu semakin berjalan ke arahnya dan berdiri dihadapan Stevia yang terbaring di tanah.
" Pasti Cecile akan senang, sebentar lagi aku akan mengirimkan teman untuknya. Bantu istriku untuk merawat putri kecil kami. Akupun akan menyusulmu setelahnya. " ucap lelaki itu senang.
Netra Stevia membola lantaran tegang, ia yakin Stefan akan berbuat nekad sekarang. Wanita itu mencoba meronta dan melepaskan diri. Namun apa daya, tambang itu terlalu kuat melilit di badannya.
Bulir bening berjatuhan membasahi pipinya, dirinya belum siap untuk meninggal seperti ini. Setidaknya, ia masih ingin bertemu dengan suami dan orang-orang yang ia sayangi.
Stevia memejamkan mata ketakutan saat tiba-tiba Stefan mencengkeram tubuhnya dan hampir saja mendorong.
" Kakak,, Hentikan! "
Teriakan seseorang membuat pria itu urung menyelesaikan aksinya. Begitupun Stevia, wanita itu langsung membuka mata saat mendengar suara yang sangat ia kenali.
Hampir saja jantung Andreas terlepas, bila saja ia datang sedikit terlambat. Ia pun tak kan sanggup bila harus kehilangan istrinya.
Stefan mengeratkan giginya lantaran geram,
" Kau lagi! Kenapa kau selalu saja menghalangi kebahagiaanku. Apa tidak cukup kau mengambil Cecile dariku! " Teriaknya kesal sambil menjambak ujung rambut dengan kedua tangannya.
Andreas mencoba untuk tenang, ia tidak boleh terpancing emosi sebab kakaknya sedang dalam gangguan kejiwaan.
Pria itu sedikit mundur, mencoba memancing Stefan sedikit menjauh dari istrinya.
" Kak, kumohon sadarlah. Cecilepun tak ingin kakak seperti ini. Kalau kau mau membalas, balaslah aku. Pukul saja aku, kak. Mungkin dengan begitu Cecilepun akan senang karena aku telah mendapatkan hukuman. " bujuknya memelas.
Stefan menyeringai, iapun berjalan mendekati Andreas. Tanpa pria itu sadari, beberapa orang telah menolong Stevia dan membawanya pergi menjauh.
Stefan mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya. Andreas terkesiap melihat pria itu mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari dalam sana.
" Kau benar, kaulah yang harus dihukum atas segala masalah ini." ucap Stefan menyeringai.
__ADS_1
Saat hendak mengayunkan pisau ke arah Andreas, tiba-tiba netra pria itu membola, ia berbalik sesaat kemudian jatuh tidak sadarkan diri.
Yah, Andreaspun tadi langsung menghubungi Rumah Sakit Jiwa terdekat untuk menangani kakaknya. Pihak Rumah Sakit akhirnya menyuntikkan obat bius dan membawa Stefan kembali ke rumah sakit Jiwa.
Andreas bisa bernafas lega, untung saja rencananya berjalan dengan sempurna.
Stevia langsung menuju sang suami dan memeluk pria tersebut erat-erat.
" Terima kasih. Tadinya aku pikir tidak akan pernah bertemu denganmu lagi. " ungkapnya lega diiringi bulir air mata yang berjatuhan.
" Tenanglah. Tidak akan ada lagi orang yang akan menyakitimu. Aku akan selalu jadi perisai untukmu dimanapun kau berada." Andreas tersenyum tipis untuk menenangkan.
Keduanya beradu pandang, binar-binar cinta kembali meliputi pasangan suami istri tersebut. Tanpa peduli apapun Andreas segera melahap bibir manis candunya untuk melepas segala kegelisahan hatinya barusan.
Keduanya saling bercumbu, hingga suara seseorang membuyarkan kemesraan mereka.
" Eherm,, Eherm.. Sayang, sepertinya kita pasangan baru masih kalah dengan dua sejoli ini. " ungkap Tomy menyindir. Ririn hanya menyengir sambil memeluk pinggang suaminya.
" Apa perlu kita contoh mereka?" wanita itu mengkode sambil mengerlingkan mata. Namun, ia segera mendorong bibir Tomy saat pria itu mau ikutan menciumnya.
Andreas dan Stevia berbalik, betapa terkejut mereka saat melihat Ririn dan Tomy beserta beberapa orang ada di belakang mereka.
Wajah Stevia terasa memanas, ia mengibas-ngibas kedua tangannya di wajah lantaran menahan malu. Sang suami segera menyembunyikan sang istri di balik punggung untuk menenangkan istrinya.
" Sudahlah, Vie. Tidak perlu bersembunyi, lagian kalian sudah sah sebagai suami istri. " sindir Tomy kembali.
Steviapun akhirnya menunjukkan batang hidungnya sambil menyengir kuda.
Tomy dan Ririnpun segera mendekati keduanya. Tomy tahu apa yang terjadi pada kedua sahabatnya setelah berhasil memaksa salah satu petugas keamanan untuk memberitahu apa yang terjadi pada Andreas dan Stevia.
" Lain kali kalau ada masalah, beritahukanlah pada kami. Kita ini sahabat, sudah sepantasnya saling membantu. " kritiknya pada Andreas.
Andreas merasa tak enak hati, ia hanya tidak ingin merusak kebahagiaan sahabatnya.
" Maafkan aku. Tapi, yang terpenting sekarang istriku sudah selamat. Semoga setelah ini, hanya kebahagian yang akan meliputi kita semua. "
Keempatnya mengangguk setuju, merekapun saling merangkul pasangan masing-masing dan beradu tos.
" Hanya ada kebahagiaan setelah ini. "
Keempatnya saling melempar tawa, rasa lega dan bahagia terpancar di wajah mereka. Semoga hanya ada masa indah setelah mendung menyelimuti.
__ADS_1
HAPPY ENDING...
TAMAT