
Stevia dan Ririn nampak gelisah, mereka masih saja memikirkan apa yang sedang diperbuat oleh Andreas dan Tomy saat ini. Tomy sedang terbakar cemburu, bukan tidak mungkin ia berbuat nekad terhadap sahabatnya sendiri.
Stevia mondar-mandir sedari tadi, hatinya tak tenang. Dirinya takut Tomy menyakiti Andreas. Ririn tak tega melihat sahabatnya kebingungan seperti itu, iapun berusaha memikirkan cara agar mereka mengetahui keadaan Andreas dan Tomy saat ini.
" Vie?! Bagaimana kalau kau menghubungi Pak Andreas dan menanyakan keadaannya. Menurutku itu lebih baik dari pada kau hanya mondar-mandir tak tentu seperti ini. " ucap Ririn menyarankan pada sahabatnya.
Stevia menatap jam dinding,
" Ini sudah hampir setengah dua dini hari. Apa pantas aku menghubunginya di jam segini? " jawabnya ragu.
Ririn mendesah halus,
" Bukankah kau khawatir padanya? Kenapa kau masih memikirkan waktu segala? Bagaimana jika Pak Andreas sedang membutuhkan bantuan saat ini? Walaupun,, sebenarnya aku ragu jika Pak Tomy tega menyakiti sahabatnya. Setahuku Pak Tomy itu sangat baik terhadap siapa saja. "
Steviapun menyetujui usulan Ririn. Ia bergegas mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Andreas.
Beberapa kali ia mencoba menelpon, namun tak ada jawaban sama sekali.
" Rin, bagaimana ini? Andreas tidak mengangkat panggilanku. Aku takut terjadi apa-apa padanya." wanita itu semakin resah tanpa terasa bulir airmatanya mulai berguguran. Ia menjatuhkan tubuhnya di sofa tepat disamping Ririn.
Ririn memeluk Stevia untuk menenangkan, namun dirinya penasaran bagaimana perasaan Stevia yang sebenarnya pada Andreas.
Ririn mengusap-usap punggung Stevia,
" Kau tenangkan dirimu dulu. Kita berdo'a saja semoga tidak terjadi hal buruk pada Pak Andreas." ucapnya lembut.
Stevia perlahan melepas pelukan Ririn. Ia mengusap air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Ririn memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
" Eemm, Vie? Tolong jawab dengan jujur. Apa kau men-cintai Pak Andreas?"
Stevia tertegun mendengar pertanyaan sahabatnya. Dalam keadaan seperti ini dirinya sangat sulit menutupi perasaannya.
Ia teringat ketika SMP dahulu, Andreas terjatuh saat sedang bermain sepak bola. Pemuda itu berjalan pincang, bagian lututnya berdarah akibat gesekan dengan kerikil kecil.
Stevia yang tanpa sengaja mengetahui hal tersebut segera menolong pemuda itu. Ia segera meraih lengan Andreas kebahunya, lalu memapah pemuda tersebut.
Bukannya berterima kasih, Andreas justru mendorong dirinya hingga terjatuh. Stevia kecil tak berputus asa, ia kembali melakukan hal yang sama tanpa mendengarkan ocehan pemuda itu.
" Hei culun, aku tidak butuh bantuanmu. Jangan kau coba dekati aku lagi. " Andreas berniat mendorongnya kembali, namun Stevia justru berpegangan erat pada pinggangnya.
Andreas bertambah kesal, ia berteriak disisi telinga Stevia.
" Hai culun, lepaskan aku. Sampai kapanpun aku tetap membencimu! " teriaknya kencang hingga membuat telinga Stevia terngiang karenanya.
" Walaupun kau membenciku, sampai kapanpun aku selalu menyukaimu. Jangan keras kepala." tegasnya tak mau ditentang.
Keduanya saling bersitatap, namun setelah itu akhirnya Andreas mau menurut kepadanya.
***
" Meskipun dia membenciku, sampai kapanpun aku tetap mencintainya. " gumam Stevia tanpa sadar.
Ririn mematung mendengar jawaban sahabatnya. Pantas saja Stevia masih saja menutup diri hingga saat ini, nyatanya sang sahabat masih memendam perasaan pada Andreas.
" Baiklah, Vie. Kau harus memperjuangkan cintamu. Cobalah hubungi kembali nomor Pak Andreas, siapa tahu saja kali ini panggilan terhubung. Jika Pak Andreas tidak juga mengangkat, ada baiknya kita datangi apartemen Pak Tomy untuk memastikan." saran Ririn.
Stevia mengangguk pelan, ia setuju dengan usulan sahabatnya. Wanuta itu mulai memencet nomor Andreas kembali.
__ADS_1
Tut...Tut..Tut...
Stevia begitu senang saat panggilannya kali ini diangkat. Belum juga Andreas berbicara, wanita itu langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
" Andreas?! Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau tak mengangkat panggilanku? Katakan..Apa Pak Tomy menyakitimu? Aku sangat mencemaskanmu. " suaranya berangsur melemah saat mengatakan kalimat terakhirnya.
Andreas yang sejak tadi sedang bermain kartu bersama Tomy begity terkejut mendengar pertanyaan dri Stevia. Dari suara wanita itu yang sedikit serak, dirinya bisa menduga jika wanita itu baru saja menangis.
" Uhuk..Uhuk...Uhuk..."
Stevia terkejut saat mendengar Andreas yang terbatuk-batuk. Ia yakin pria itu sedang dalam keadaan yang tidak baik.
" Andreas kau kenapa? Apa kau sakit? " ucap wanita itu cemas.
" Vie, tolong a-ku..."
Andreas bersuara sedikit terbata-bata seolah sedang sakit. Padahal saat ini dirinya sedang cekikikan lantaran berhasil mengerjai Stevia.
" Tolong da-tang kesini, Vie. " Andreas tiba-tiba mematikan ponselnya.
Stevia semakin ketakutan sekarang. Iapun beranjak dari sofa, lalu berlari menuju pintu. Ririn langsung menyusul sahabatnya yang tengah tergesa-gesa.
" Vie tunggu, ada apa?"
Andreas sedang terluka, aku harus menolongnya sekarang. Ririn terperanjat, dirinya langsung meyusul Stevia yang hendak menuju apartemen Tomy.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasuh sebelumnya🤗
__ADS_1