
Menjelang petang, Andreas kembali pulang ke apartemennya bersama Tomy. Setelah fitness pagi tadi dirinya memutuskan untuk nongkrong bareng dengan sahabatnya itu. Tadinya Tomy ingin ikut masuk ke apartemen Andreas agar bisa bertemu Stevia. Namun, Andreas berdalih lelah dan tak ingin diganggu oleh siapapun.
Andreas memperhatikan keseluruh ruangan, rumah nampak bersih dan rapi. Beberapa perabot telah berpindah tempat, tetapi dirinya tidak mempermasalahkan hal itu sepanjang ia masih merasa nyaman.
" Kemana dia?" gerutunya pelan saat tak menemukan Stevia disana.
Andreas segera memasuki kamar, terdengar bunyi gemericik air dari dalam kamar mandi. Sepertinya Stevia sedang berada didalam sana.
Andreas merebahkan diri disofa sambil menunggu Stevia keluar dari dalam sana. Iapun ingin membersihkan diri setelah seharian berada diluar rumah.
Ceklek...
Netranya tak berkedip melihat wanita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Apa dia bilang? Beginilah jika ia pulang kerumah, dirinya pasti akan disuguhi pemandangan yang sukses membuatnya kegerahan.
Stevia juga terkejut melihat Andreas telah berada dikamar. Apalagi saat ini dirinya hanya memakai handuk untuk menutup sebagian tubuhnya serta handuk kecil yang menutupi rambutnya yang basah. Biasanya ia mandi pagi sekali saat Andreas masih tidur atau sore saat pria itu berada diluar kamar.
" Ka-u sudah kembali?" ia menyapa sembari memasang senyum yang setengah dipaksakan karena malu.
Andreaspun tak kalah gugupnya, ia mengambil ponsel dari sakunya dan berpura-pura mengotak-atik ponsel tersebut untuk mengalihkan perhatian. Ia sadar jika Stevia sedang malu saat ini.
" Iya. Barusan aku fitnes lalu nongkrong bersama Tomy. " jawabnya tanpa melihat lawan bicaranya.
Stevia membulatkan mulutnya membentuk huruf O.. Iapun merasa kikuk saat ini.
" Kalau begitu aku ganti baju dulu."
Stevia melangkah menuju walk in closed. Diam-diam Andreas masih mengamati seluit wanita itu dari belakang. Bentuk tubuh Stevia benar-benar seksi untuk standar seorang wanita. Kakinya jenjang, terlihat putih mulus dan sangat terawat.
Netranya membola seketika saat melihat seekor kecoa menempel di ujung handuk yang menutupi rambut Stevia.
" Stevia! " teriakan Andreas cukup mengagetkan yang merasa dipanggil.
Stevia mengernyitkan dahinya karena heran,
" Ada apa?" tanyanya penasaran.
" I- tu diujung handuk kepalamu ada kecoa." tutur Andreas perlahan sambil menunjuk kearah yang dimaksud.
Stevia terkekeh mendengarnya, Andreas pasti sedang ingin mengerjainya saat ini. Ia meraba bagian kepala untuk memastikan.
" Ha..ha..ha. Jangan bercanda kau Andreas, mana mungkin ada kecoa disini. Aku sudah membersihkan seluruh ruangan. Kau pikir kau bisa me-nger-ja-i...
Netra Stevia terbelalak saat merasakan tangannya memungut sesuatu kecil yang bergerak. Ia memberanikan diri untuk mengambil dan melihatnya secara langsung.
" Uwaaaaa... "
Teriaknya takut sekaligus jijik saat dirinya melihat tangannya memegang seekor kecoa. Buru-buru ia melemparkan kecoa itu ke sembarang tempat.
Ia melempar handuk dikepalanya yang baru saja ditempeli kecoa dan berlari menuju Andreas. Andreas terperanjat saat tiba-tiba wanita itu melompat dan meminta gendong kepadanya secara tiba-tiba. Ia memangku bobot tubuh Stevia dengan kedua tangannya seperti anak kecil.
__ADS_1
" Aaandreas aku takut."
Tanpa sadar Stevia merangkul pria tersebut dan menundukkan wajahnya dibahu Andreas. Sepertinya ia terkena karma lantaran mengerjai Cecile waktu itu. Padahal dirinya sendiri juga fobia terhadap makhluk kecil tersebut.
Jantung Andreas berdesir, kepalanya berdenyut kencang. Dirinya benar-benar tak tahan, apalagi dengan posisi Stevia yang sangat pas saat ini. Ia berusaha sekuat tenaga agar juniornya tidak terbangun diwaktu yang tidak tepat.
" Ste-via tenanglah. Makh-luk itu tak akan pergi ji-ka kau ke-takutan seperti ini. " susah payah Andreas menahan diri. Namun, dirinya masih nyaman dengan posisi Stevia sekarang.
Stevia mendongakkan kepalanya, ia penasaran dengan keberadaan kecoa tadi.
" Mana? Kemana kecoa itu pergi?" ia memberanikan diri untuk berbalik dan mencari keberadaan makhluk itu. Nampaknya kecoa itu sudah berpindah tempat.
Jakun Andreas naik turun melihat belahan dada Stevia yang terpampang nyata dihadapannya dan hanya terhalang oleh handuk. Sesekali ia memejamkan mata, kemudian membukanya kembali lantaran pemandangan ini sangat sayang untuk dilewatkan.
Stevia heran sebab Andreas tak menanggapi pertanyaannya. Ia kesal ketika dirinya tahu ternyata pria itu kini sedang asik memandangi dadanya tanpa berkedip.
" Turunkan akuuu!! "
Teriakan Stevia sukses memekakan gendang telinga Andreas. Pria itu segera menurunkan Stevia dari gendongannya.
" Apa yang sedang kau lihat?! " gertak Stevia kesal.
Andreas berpura-pura tak mengerti,
" Apa yang ku lihat? A-ku hanya mencari dimana kecoa itu berada. " ia berusaha membela diri dan bersikap seolah tak mengerti maksud istrinya.
" Dasar pria mesum! " ia berniat memukul Andreas dengan salah satu tangannya.
Andreas tentu dengan mudah mampu menangkap tangan Stevia. Handuk Stevia sedikit melorot akibat gerakannya tadi. Andreas kembali mendelikkan matanya saat gunung kembar Stevia sedikit mengintip di balik handuknya.
Stevia semakin kesal, ia mencoba memukul pria itu kembali. Namun, Andreas mampu menangkapnya lagi. Pandangannya sama sekali tak beralih, apalagi handuk itu kembali melorot sedikit.
" Andreas lepaskan aku. "
Telinga Andreas seolah tuli, matanya sudah tidak mampu beralih dari pemandangan didepannya.
Stevia merasa risih ditatap seperti itu, ia mencoba untuk melepaskan kedua tanganya dari cengkraman Andreas. Karena terlalu banyak bergerak, handuk itu semakin melorot dan tambah melorot.
Jantung Andreas semakin berdetak tak menentu, apalagi kini hanya tersisa separuh dari gunung kembar Stevia yang belum terlihat olehnya.
Ini benar-benar luar biasa bagi seorang Andreas. Mungkin ia seperti pria kebanyakan yang pernah menonton video asusila atau mungkin beberapa bule yang biasa menunjukkan auratnya. Akan tetapi, dirinya belum pernah melihat secara langsung, apalagi dari dekat seperti sekarang.
Stevia semakin tak tahan dengan Andreas, dengan sekuat tenaga dirinya berusaha melepaskan diri. Namun, apa yang terjadi selanjutnya? Bukannya ia yang mampu lepas, tetapi justru handuknyalah yang terlepas dan terjun payung ke lantai.
Haaaaaaaa....
Keduanya sama-sama terkejut bukan main. Andreas menatap ekspresi Stevia yang terkejut dengan wajah yang memerah seperti tomat matang. Ia menurunkan kembali pandangannya kebawah. Terpampang dengan jelas tubuh polos Stevia yang hanya tertutup segitiga bermuda.
" Andreas tutup matamu! Lepaskan aku! " Stevia berteriak penuh kekesalan. Dirinya malu bukan main sekarang.
__ADS_1
Andreas buru-buru melepaskan kedua tangan Stevia, tapi netranya masih tak ingin melewatkan hal luar biasa didepannya.
" Andreas apa kau tuli! Tutup matamu! " Seketika pria itu menutup mata dengan kedua telapak tangannya.
Stevia segera berjongkok dan mengambil handuknya yang terjatuh. Matanya seolah waspada kalau-kalau Andreas mengambil kesempatan lagi.
" Andreas! "
Pria itu segera merapatkan jemarinya kembali saat ketahuan oleh Stevia bahwa dirinya tengah mengintip.
Stevia langsung memakai handuknya, lalu berdiri dengan sempurna. Wanita itu menyeringai,
" Balikkan badan! " gertaknya kembali.
Andreaspun menurut, ia tak ingin membuat istrinya semakin marah.
Duuughhhhh...
Andreas hampir saja terpental saat Stevia menendang bokongnya dengan cukup kencang. Wanita itupun langsung kabur kedalam walk in closed karena khawatir Andreas akan membalasnya.
Andreas meringis sembari memegangi bokongnya yang nyeri. Ternyata wanita yang sedang marah tenaganya ikut naik berlipat ganda dari biasanya.
Lelaki itupun berjalan menuju ranjang. Ia duduk lalu berselonjor di atas sana.
Huh....
Andreas membuang nafas kasar. Pikirannya kembali mengingat kejadian barusan. Tubuh polos Stevia membuat urat-uratnya menjadi tegang dan sekarang adik kecilnya juga jadi ikut bangun gara-gara membayangkan Stevia.
" Andreas..."
Pria itu terkejut mendengar suara lirih Stevia yang sedikit mendesah. Ia langsung menarik selimut, jangan sampai Stevia melihat sesuatu aneh didalam sana.
Wanita itu naik keatas ranjang, tiba-tiba ia mendekatkan wajahnya pada Andreas dan merangkul suaminya.
Andreas mulai terbawa suasana, ia sudah tak mempedulikan apapun saat ini. Dirinya sungguh tergiur oleh bibir merah muda Stevia yang terlihat basah. Pria itu mulai mengikis jarak diantara keduanya. Ia membaringkan tubuh Stevia dan menopang dengan salah satu tangannya. Lalu, ia hendak mencumbu bibir manis istrinya. Namun, Stevia menahan bibir Andreas dengan salah satu telunjuknya.
" Katakan..Kau sudah kalah Andreas. Kau tergoda olehku. Kau telah jatuh cinta padaku." pintanya penuh damba.
Andreas langsung menarik tangannya, ia membungkus tubuh Stevia kemudian mendorong wanita itu menjauh ke tepi ranjang hingga nyaris terjatuh.
" Kau hanya ingin menjebakku! Aku tak akan terjebak olehmu lagi setelah ini. " Pria itupun buru-buru keluar dari kamar untuk mendinginkan hasratnya.
Stevia celingukan memperhatikan kepergian Andreas. Ia sendiri kecewa, Andreas masih saja mengedepankan egonya.
" Aku tak akan pernah menyerah, Andreas. "
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaķu. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗
__ADS_1