
Stefan mulai jengah, lelaki itu menggebrak meja kerjanya lantaran geram. Dirinya sama sekali tidak bisa fokus bekerja saat ini. Pikirannya buntu, dirinya tak tahu lagi bagaimana caranya untuk membuat Cecile mau kembali lagi bekerja di kantor.
" Aku harus menemui Andreas. Hanya dia yang bisa membantuku untuk membujuk Cecile." gumamnya seorang diri. Ia segera beranjak menuju ruangan Andreas berada.
***
Andreas sedang memeriksa beberapa dokumen, netranya beralih saat melihat seseorang memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Pria itu mengerutkan keningnya ketika melihat Stefan masuk dengan raut wajah gelisah.
" Kenapa kau terlihat cemas seperti itu?" tanyanya datar.
Stefan membuang nafas kasar, jika bukan karena terpaksa, dirinya mana mungkin mau meminta tolong pada adiknya.
" Tolong bantu aku membujuk Cecile agar mau bekerja kembali kesini. Kemarin dia tiba-tiba mengundurkan diri tanpa sebab. Aku sudah membujuknya untuk bertahan, tapi dia sama sekali tak peduli. Sepertinya hanya kau yang bisa membuatnya kembali kesini. Aku masih membutuhkan dia sebagai sekertarisku.
Andreas terkesiap, mungkin Cecile pergi setelah mendengar ketegasannya kemarin. Ada baiknya juga wanita itu kembali bekerja sebab seharusnya ia tak perlu mencampur adukkan urusan kantor dengan masalah pribadi.
Andreas tersenyum tipis,
" Baiklah. Nanti aku akan coba berbicara dengannya. " jawab Andreas mencoba menenangkan.
Tok..Tok..Tok..
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya. Ternyata Stevia yang baru saja masuk ke ruangan tersebut.
" Kak Stefan? Ka-u disini juga? " sapa Stevia sedikit canggung. Ia membawa berkas-berkas penting yang ingin ditunjukkan kepada sang suami.
Stefan menatap Stevia penuh selidik, wanita itu agaknya gugup melihat kehadirannya disana. Dirinya menaruh kecurigaan terhadap file-file yang dibawa Stevia. Ia harus selalu waspada terhadap wanita itu, sebab Stevia membawa pengaruh yang begitu besar terhadap perubahan Andreas.
" Ada apa kau kesini, Vie?" tanya Stefan datar.
" A-aku ingin memberikan beberapa berkas dari klien kita untuk diperiksa dan ditanda tangani oleh Andreas. " jawab Stevia berbohong.
Andreas tersenyum melihat kehadiran sang istri. Jika tidak ada kakaknya, mungkin dirinya akan mengambil kesempatan untuk bermesraan dengan Stevia sekarang.
" Kemarilah. Aku akan memeriksa berkas-berkas itu nanti. " pintanya pada Stevia.
Wanita itu mendekat, Stefan masih enggan beranjak dari sana. Dirinya takut Stevia akan mengadu macam-macam pada adiknya.
Andreas teringat akan permintaan kakaknya tadi, bagaimanapun ia harus meminta izin kepada istrinya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.
" Oh ya. Rencananya nanti malam aku akan ke tempat Cecile. Kak Stefan memintaku untuk membujuknya agar mau bekerja kembali di kantor. Apa kau mengizinkanku?" tanyanya pada sang istri.
__ADS_1
Jangankan mengizinkan, mendengar Andreas menyebut nama wanita itu saja sudah membuat telinga Stevia terasa panas. Ia justru merasa bersyukur jika wanita itu telah keluar dari sana.
" Untuk apa kau harus repot-repot memintanya kembali kesini? Bukankah dia sendiri yang ingin keluar? Lagipula, bisa saja bukan kita membuka lowongan sekertaris untuk kak Stefan? Aku rasa menggaji seorang sekretaris senilai 50 juta/per bulan itu terlalu fantastis menurutku. Rasanya kurang sebanding dengan kinerjanya selama ini." Sindir Stevia.
Andreas tercengang, ia baru tahu jika gaji Cecile sebesar itu.
" 50 juta? Apa aku tidak salah dengar? Dari mana kau tahu gaji Cecile sebesar itu?" tanyanya heran.
Belum sempat Stevia menjawab, buru-buru Stefan memotong ucapannya. Rasanya ia ingin sekali melenyapkan Stevia saat itu juga, wanita itu sepertinya mulai mencium kebusukannya selama ini.
" Bukankah kau sendiri yang menitipkan Cecile padaku saat pertama kali bekerja disini? Kau bilang aku harus memberikan yang terbaik untuk kekasihmu itu. Salah satunya dengan memberikan gaji yang besar pada Cecile." ungkapnya beralasan.
Stefan menatap tajam pada Stevia, wanita itu seolah ingin mengibarkan bendera perang kepadanya.
" Aku tak menyangka, kau bisa begitu mudahnya berpaling hanya karena wanita ini. Ya sudah, terserah kau saja. Jika kau masih menghargaiku sebagai kakak, maka tolong turuti kemauanku. Tapi, jika kau memang telah termakan omongan wanita ini. Aku berharap kau tidak akan menyesal nanti! " Stefan sudah tak mampu membendung kekesalannya pada Stevia. Lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan ruangan Andreas.
Kini tinggal Stevia dan Andreas yang berada disana. Andreas nampak kebingungan, disatu sisi ia tak tega kepada kakaknya, tapi disisi lain Stevia sepertinya tak akan pernah mengizinkannya untuk bertemu dengan Cecile.
Lelaki itu menarik Stevia hingga terjatuh ke pangkuannya. Ia mendekap Stevia dan menyandarkan kepalanya di bahu wanita tersebut. Dirinya berusaha merayu, siapa tahu Stevia mau merubah keputusannya.
" Sayang. Apa tidak sebaiknya aku membantu kak Stefan? Hubungan kami akhir-akhir ini kurang baik, siapa tahu setelah aku menuruti kemauannya sikapnya akan kembali seperti dulu. "
Stevia mendengus kesal, ia berusaha bangkit, tetapi Andreas tak mau melepaskan pelukannya.
" Tapi Vie? kak Stefan sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Rasanya sulit dipercaya jika dia tega mengkhianati kita. " sanggah Andreas membela sang kakak.
Stevia kesal, dengan sekuat tenaga ia mampu lepas dari suaminya dan berdiri tegak dihadapan lelaki itu.
" Terserah jika kau memang tidak bisa dikasih tahu. Tapi jangan harap kau akan mendapatkan jatahmu malam ini! " Steviapun segera berlalu meninggalkan Andreas seorang diri seperti orang kebingungan.
" Apa katanya tadi? Jatah malam ini? Apa jangan-jangan dia sudah selesai..."
Senyum Andreas merekah sempurna. Akhirnya apa yang ia tunggu-tunggu akan segera terlaksana. Tentu saja, dirinya tak akan melewatkan malam ini. Bahkan ia bisa melupakan begitu saja apa yang baru ia perdebatkan bersama istrinya.
" Aku pasti tidak akan melewatkannya, sayang. Tunggu kedatanganku nanti. " gumamnya dalam hati.
***
Malam menjelang, Stevia nampak gelisah. Sore tadi, Andreas memintanya untuk pulang terlebih dahulu sebab ia masih ada keperluan penting diluar.
" Apa jangan-jangan dia menemui Cecile? " gerutunya sambil mengira- ngira.
Raut wajahnya nampak kecewa. Yah, ia yakin Andreas pasti menemui
__ADS_1
wanita itu mengingat betapa gigih lelaki itu merayunya tadi siang.
Tanpa terasa air matanya berbulir. Baru saja ia berbahagia, tetapi kini dirinya dilanda ketakutan jika Andreas akan berpaling darinya lagi. Ia akui Cecile juga sangat cantik dan menarik, sangat mudah bagi wanita itu untuk menggoda lawan jenisnya.
Ting...Tong...
Bel apartemen berbunyi, buru-buru Stevia menghapus airmatanya dan membukakan pintu.
Ceklek...
Wanita itu terkejut melihat bucket bunga yang sangat besar dihadapannya, disana juga terselip beberapa coklat batangan.
" Apa kau menyukainya? "
Sang pembawa bucket menunjukkan batang hidungnya. Andreas tersenyum sambil menyerahkan bucket bunga itu kepada sang istri.
Stevia mengangguk seketika, wajahnya tampak berbinar. Ia tak menyangka Andreas bisa se romantis ini.
" He,,eemm. Aku sangat- sangat menyukainya. Cup. " ia meninggalkan sebuah ciuman dibibir Andreas sebelum mengambil alih bucket itu dari tangan sang suami. Wajah Andreas ikut berbinar, istrinya sudah tak canggung lagi untuk menciumnya.
" Makasih, sayang. " iapun membawa Andreas masuk.
Andreas mengajak sang istri untuk masuk ke kamar saja. Ia menarik tangan Stevia dan kini keduanya duduk di tepi ranjang.
" Makanlah coklat itu. Aku sengaja membelikan coklat yang mahal untukmu." godanya pada sang istri.
" Seharusnya kau tak perlu menyebut kata mahal. Kau terkesan perhitungan sekali." ejek Stevia sembari membuka salah satu coklat batangan tersebut.
Andreas merebutnya secara paksa, tetapi dengan segera ia menyuapkan coklat itu pada Stevia.
" Apa kau menyukainya?" tanyanya menyeringai penuh arti.
Wanita itu mengangguk tanpa menjawab, ia sangat menikmati coklat dari Andreas.
Andreas tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke daun telinga Stevia.
" Bagus sekali. Kau tahu? Coklat akan membuat moodmu semakin membaik dan akan membuatmu semakin bergairah nanti."
Netra Stevia membola, ia menelan kasar salivanya. Wanita itu menatap Andreas yang tengah menyeringai kearahnya.
" Bagaimana ini? Apa dia akan menyerangku sekarang juga?"
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment, rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya..