Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
TABRAKAN


__ADS_3

Andreas dan Stevia ikut pulang ke kediaman Papa Wildan. Mereka sangat mencemaskan kesehatan Papa Wildan yang sepertinya begitu terguncang atas kejadian di kantor tadi.


Mama Renatapun syok ketika mendengar apa yang telah Stefan lakukan selama ini. Air matanya berurai, ia tak menyangka anak yang ia besarkan selama puluhan tahun, yang sudah ia anggap seperti putra kandungnya sendiri tega melukai saudaranya hanya karena rasa iri.


Papa Wildan menghembuskan nafas panjang, ia mencoba mengurangi sesak dalam dadanya.


" Semoga saja Stefan bisa menyadari kesalahannya. Andreas, maukah kau memaafkan kesalahan saudaramu itu? " tanya Pak Wildan ragu. Ia sadar apa yang dilakukan Stefan benar-benar keterlaluan.


Andreas tersenyum datar, sebenarnya ia juga sangat kecewa dan kesal terhadap kakaknya. Sudah berkali-kali Stefan mencoba untuk menghilangkan nyawanya. Namun, dirinya rela berbesar hati demi kedua orang tuanya.


" Tentu saja aku mau, Pa, Ma. Asalkan kak Stefan benar-benar berubah dan tidak mengulangi kesalahannya. Aku akan memaafkan kesalahan-kesalahannya tempo hari." jawab Andreas tulus.


Pak Wildan dan Bu Renata merasa lega mendengar jawaban Andreas. Mereka semakin merasakan banyak perubahan positif pada Andreas semenjak menikah dengan Stevia. Andreas kini semakin dewasa dan bijak dalam menyelesaikan masalahnya.


" Syukurlah kalau begitu. Mama dan Papa berharap Stefan segera menyadari kekeliruannya. Kami juga turut andil hingga membuatnya menjadi seperti sekarang. " tutur Pak Wildan.


" Andreas, mama bangga padamu. Kau sekarang sudah banyak berubah. Untung saja kau bisa membongkar kejahatan Stefan. Mama akan sangat menyesal jika sampai Stefan berhasil melukaimu, Nak. " tambah Bu Renata.


Andreas mengembangkan senyumnya, ia menatap wanita cantik yang ada disampingnya.


" Ini semua berkat Stevia juga, Ma. Dia yang selalu mendukung, mengarahkan dan membantuku dalam setiap masalah yang aku hadapi. Aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia ini karena memiliki istri seperti dia. Jika tahu begini, aku pasti akan menikahinya sejak dalam kandungan. " kelakar Andreas.


Pipi Stevia merona seketika, malu sekaligus senang mendengar pujian dari sang suami. Pak Wildan dan Bu Renata juga ikut tertawa mendengar kelakar Andreas.


" Dia terlalu melebih-lebihkan, Ma, Pa. Padahal dulu dia menolakku mentah-mentah pakai sumpah segala tidak akan pernah jatuh cinta padaku. " sahut Stevia mengerucutkan bibirnya karena malu.


Semuanya ikut tertawa, Andreas senang bisa mengurangi sedikit beban di pikiran orang tuanya.


" Tidak, Vie. Andreas benar, dia sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Kami juga sangat berterima kasih, berkat kau putra kami jadi lebih dewasa dan bijak sekarang. " puji Bu Renata membenarkan.


" Tinggal satu lagi Vie, kau belum memberikan cucu kepada kami. Mulai sekarang jangan terlalu sibuk bekerja. Fokuslah membuatkan bibit-bibit berkualitas untuk kami. Papa dan Mama ingin keluarga ini segera diramaikan oleh kehadiran cucu-cucu yang banyak. " tambah Pak Wildan.


Andreas dan Stevia saling bersitatap. Yah, mereka sama sekali belum menyinggung masalah kehadiran anak-anak. Pasti kebahagiaan mereka akan semakin lengkap dengan keberadaan anak ditengah keluarga mereka.


" Pa, Bagaimana mereka bisa fokus? Stevia dan Andreas sama-sama sibuk bekerja. Bahkan mereka telah melewatkan bulan madu karena pekerjaan. " singgung Bu Renata.


Keduanya kompak tersenyum menanggapi hal itu, dulu Andreas dan Stevia sama sekali tak kepikiran kesana. Namun sekarang, mungkin akan sangat menyenangkan menghabiskan waktu dengan pasangan tanpa terbebani oleh pekerjaan.


" Maaf, Ma. Papa juga sampai lupa berpikir ke arah sana. Andreas? jika kau mau, kau bisa mengambil cuti liburan nanti bersama istrimu. Papa akan menggantikan kalian sementara waktu, Raihan juga bisa dipercaya. Dia pasti akan mengabari jika ada masalah dalam perusahaan." usul Papa Wildan.

__ADS_1


" Terima kasih Pa, Ma. Kami belum ada rencana sekarang-sekarang ini. Kami akan memikirkannya terlebih dahulu. Lagipula, kantor sedang kisruh sekarang." jelas Stevia. Andreaspun setuju dengan pendapat istrinya.


" Baiklah jika itu mau kalian, Papa tidak akan memaksa. Tapi ingat, jangan terlalu memforsir istrimu dengan pekerjaan." pesan Papa Wildan.


" Baik, Pa." jawab Andreas menurut.


Keduanya memutuskan untuk menginap disana malam ini. Mereka lega karena telah berhasil membongkar kejahatan Stefan.


" Semoga ke depannya semua akan berjalan lebih baik."


Keduanya saling memeluk dan menghangatkan satu sama lain. Akhirnya, mereka bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


...****************...


Stefan berjalan terhuyung-huyung, rasa bersalah dan perasaan membenarkan sikap saling beradu dalam pikirannya.


Di satu sisi, ia tak menyangka Papa Wildan telah berbaik hati menyiapkan sebuah perusahaan agar ia bisa berdiri sendiri. Namun disisi lain, rasanya semua seolah terlambat setelah kejahatan yang ia lakukan akhirnya terbongkar sudah.


Bukankah akan sangat memalukan jika ia meminta maaf sekarang? Rasanya ia tak sanggup menatap kedua orang tuanya setelah apa yang ia lakukan sebelumnya.


Satu-satunya tempat yang bisa ia kunjungi hanyalah Cecile. Meskipun wanita itu selalu menolaknya, tetapi di dekat Cecile hatinya sungguh merasa nyaman. Tanpa ia sadari, dirinyapun telah berada di lingkungan apartemen wanita tersebut.


Pria itu melangkah masuk ke dalam tanpa memanggil sang empunya rumah. Netranya tertuju pada secarik kertas yang tergeletak diatas sofa.


Betapa terkejut dirinya saat membaca surat tes kehamilan milik Cecile.


" Jadi dia benar-benar hamil sekarang? Aku harus bertanya langsung padanya." pikirnya.


Stefan hendak melangkah, tetapi tiba-tiba Cecile keluar dari kamarnya sambil menyeret tas koper miliknya.


" Kau mau kemana? " tanyanya penuh curiga.


Cecile tak menyangka jika Stefan berada disana. Ia menjawab tanpa melihat siapa yang bertanya.


" Aku akan pergi dari sini. Harapanku untuk memiliki Andreas sudah tidak ada lagi. Aku ingin menata hidupku yang baru. " jawabnya tegas.


" Tidak! Kau tidak boleh pergi dengan membawa calon anakku! Aku melarangmu untuk pergi dan jangan pernah membantahku! " tegas Stefan kesal.


Cecile tak menyangka jika Stefan sudah tahu bahwa dirinya sedang hamil. Mungkin pria itu membaca surat yang ia letakkan di atas meja tadi.

__ADS_1


Wanita itu menyeringai,


" Kau sudah tidak bisa mengaturku. Kau bukan siapa-siapa. Aku akan pergi dan menggugurkan anak ini. Aku tidak mau membesarkan anak dari orang yang telah menghancurkan hidupku selama ini !" tegas Cecile kembali.


Wanita itu mendorong Stefan, lalu berlalu meninggalkan apartemennya. Jika saja dirinya tidak sedang hamil, mungkin Stefan akan langsung menyeretnya karena kesal.


Lelaki itu berusaha mengejar Cecile,


" Cecile, berhentilah. Tolong jangan pergi. Papa telah menyiapkan perusahaan baru untukku. Aku akan memiliki perusahaan sendiri! " teriaknya mencoba membujuk.


Cecile hanya menoleh sesaat lalu meneruskan jalannya. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan Stefan barusan.


Stefan mempercepat langkahnya saat Cecile hendak masuk ke dalam mobilnya.


Saat wanita itu menyalakan kunci mobil, bergegas Stefan ikut masuk kedalam mobilnya.


" Turun. Jangan pernah kau ganggu aku lagi. " bentak Cecile.


Stefan memelas, ia mencoba mengalah kali ini.


" Aku mohon, kita bisa bicarakan hal ini baik-baik. Tetaplah disini, aku berjanji akan memenuhi semua keinginanmu. " bujuk Stefan.


Cecile tetap saja tak percaya, ia tetap melajukan mobilnya keluar dari apartemen. Bujuk rayu Stefan seolah hanya angin lalu baginya.


Wanita itu menyetir dengan begitu kencang, pikirannya semakin kalut sekarang.


" Cil, tolong pelankan lajumu. Sangat berbahaya kebut-kebutan dijalanan seperti ini. " bujuk Stefan kembali.


Wanita itu hanya menyeringai tanpa mengurangi laju mobilnya. Namun, keduanya begitu terperanjat saat sebuah truk tiba-tiba melintas begitu cepat dari arah tikungan berlawanan.


" Cecile awaass!! " teriak Stefan.


Wanita itu tak kalah terkejutnya, buru-buru ia menghindar dan keluar lintasan.


" BRUUAAKKK"


Mobil mereka kini justru menabrak salah satu pohon besar yang ada di pinggir jalan. Kepala Cecile langsung terbentur stir kemudi. Wanita itu tak sadarkan diri setelahnya.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2