
Ceklek...
Andreas masuk kedalam kamarnya setelah semalaman berkeliling tanpa tujuan yang jelas. Ia masih bimbang dalam mengambil keputusan yang Pak Wildan berikan padanya. Disatu sisi, ia rasanya enggan memimpin perusahaan, tapi disisi lain dirinya juga tak ingin kalah dengan Stevia. Sangat tidak lucu jika dirinya hanya menjadi seorang pecundang, sedang sang istri menjadi seorang CEO perusahaan besar.
Ia sempat menuju ke apartemen Tomy untuk meminta saran pada sahabatnya tersebut. Bukan mendapatkan jawaban yang bijak, nyatanya sahabatnya itu jadi tidak karu-karuan hanya karena memikirkan Stevia. Ia selalu mengancam sekaligus menegaskan pada Andreas supaya tidak menyentuh Stevia jika Andreas memang tidak menyukainya.
Heh, jengah. Itu yang Andreas rasakan saat ini. Sang hati sepertinya mulai menemukan tempat berlabuh, tapi raganya telah berjanji untuk menolaknya.
Ia mendekat ke arah ranjang, nampak Stevia telah tertidur diranjang sembari membuat batasan dengannya. Hatinya terkulik untuk melihat wanita itu dari dekat, untung saja lampu kamar dimatikan sehingga kemungkinan wanita itu tidak menyadari keberadaannya.
Sebuah senyum tersimpul manis di wajah tampannya saat Stevia tidak menyadari telapak tangannya yang bergerak dihadapan muka wanita tersebut. Suara dengkuran halus menandakan wanita itu telah terbuai di alam mimpinya. Stevia memang sangat cantik, memandang wajah wanita itu membuat hatinya merasa teduh.
Hampir saja ia kembali ingin mencumbu wanita yang telah sah ia nikahi. Namun, dirinya jadi tak tega melihat keadaan Tomy yang terpuruk lantaran keinginan memiliki Stevia.
Stevia melakukan pergerakan kecil. Huhh,, Ini yang semakin membuat Andreas tak berdaya. Ia merutuki Stevia yang sering memakai pakaian seksi saat berada dikamar bersamanya. Dan wanita itu? Sepertinya dalam tidur juga Stevia tak bisa diam.
Pakaian tidurnya terangkat keatas hingga menampakan pahanya yang halus dan mulus. Kali ini wanita itu memakai baju tidur atas bawah. Dibagian ataspun ikut terselingkap sebagian hingga menunjukkan perutnya yang seksi dan kencang.
Andreas hanya mampu geleng-geleng kepala dan menahan denyutan gairah di otaknya. Buru-buru ia menyambar selimut untuk menutupi tubuh Stevia sebelum otaknya kembali travelling kemana-mana.
Iapun memutuskan untuk segera tidur, dari pada menginginkan sesuatu yang bukan-bukan. Tak menunggu lama, pria itupun langsung tertidur akibat rasa ngantuk yang melanda.
" Andreas, Andreas. "
Terdengar suara wanita yang seolah sedang berbisik ditelinganya. Suaranya begitu seksi hingga membuat jantungnya berdesir dan bangun seketika dari tidurnya.
Dirinya sungguh tak percaya, Stevia saat ini tengah berada diatasnya dengan- pakaian khas andalannya.
" Stevia kau- "
Belum sempat ia meneruskan kata-kata, tetapi Stevia telah berhasil membungkam mulutnya. Wanita itu sangat menggoda iman, sentuhan tangannya bagai sengatan listrik yang menjalar ke sekujur tubuh membawa hawa panas yang berhasil membuat lelaki itu kegerahan.
Akhirnya seorang Andreas Dirgantarapun pasrah. Ia sudah tak mampu mengendalikan dirinya lagi jika disuguhkan hal seperti ini. Iapun menikmati indahnya surga dunia yang diperuntukkan untuknya.
Tubuh Andreas melemas seketika, akhirnya Stevia berhasil meruntuhkan benteng pertahanannya.
" Andreas. Dasar pengkhianat! "
__ADS_1
Dirinya terkesiap mendengar suara Tomy yang seolah menggelegar dikamarnya dengan berliput oleh amarah.
" Kau penghianat ! Pria bermuka dua."
Suara itu terdengar berulang-ulang hingga memekakan telinga Andreas.
" Tidak. Aku bukan pengkhianat. Tidak..Tidak! "
Teriaknya berusaha menyangkal kata-kata yang terus menggema itu.
" Andreas,, Andreas. Kau tidak apa-apa? "
Stevia mengguncang-guncang tubuh Andreas ketika mendengar pria itu mengigau.
Andreas seketika terbangun dan duduk dengan wajah tegang. Mimpi itu seolah nyata baginya.
" Andreas ini minumlah. Kau mimpi apa sampai tegang seperti itu? "
Stevia menyuguhkan segelas air putih pada suaminya. Dari raut wajah dan keringat yang bercucuran, sepertinya Andreas baru saja mengalami mimpi buruk.
Andreas segera meneguk air tersebut hingga tandas. Ia kembali mengingat-ngingat mimpinya barusan.
" Oh tidak. "
Batinnya teringat sesuatu, ia telah mendapatkan kepuasannya tadi. Itu artinya dia?
Andreas meraba-raba area celananya. Ia menelan salivanya kasar saat merasakan celana tersebut basah entah oleh apa. Untung tubuhnya tertutup oleh selimut. Tapi tunggu dulu..
Ternyata cairan itu tembus hingga ke selimutnya.
" Kenapa kau tegang seperti itu? Jangan membuatku takut, Andreas."
Stevia mendekatkan tubuhnya pada Andreas, ia berniat memeriksa barangkali dahi Andreas demam. Akan tetapi, buru-buru pria itu menghindar darinya. Harkat, derajat dan martabatnya akan hancur jika sampai wanita itu tahu dirinya habis mimpi enak.
" Pergi sana. Jangan dekat-dekat denganku. Aku tak butuh perhatianmu. " ia berusaha mengusir Stevia.
Bukannya menurut, Stevia justru menatap sebal padanya.
__ADS_1
" Kau ini. Diperhatikan bukannya berterima kasih malah marah-marah. Dasar pria aneh. "
Netra Andreas membola saat tangan Stevia hampir menepuk bagian selimut yang basah. Dengan segera ia menggulung selimut itu hingga membungkus sebagian tubuhnya.
" Sudah kubilang. Cepat pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu! "bentak Andreas sekali lagi dengan mode tegang.
Sikap Andreas justru memancing rasa penasaran Stevia. Apalagi gelagat pria itu semakin aneh dan nampak ketakutan.
" Kau ini kenapa. Aku tidak akan pergi sebelum memastikan kau baik-baik saja! " tegas Stevia tak mau kalah.
Andreas mendengus kesal, ia berdiri dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Ia hendak menuju kamar mandi untuk bebersih.
Stevia ikut melompat dari atas ranjang dan menyusul Andreas. Ia berusaha menghalangi jalan Andreas.
" Awas. "
Andreas berusaha mencari celah darinya.
" Tidak. Sebelum aku memeriksamu. " Stevia tak ingin kalah.
Andreas terpaksa mendorong Stevia agar tak menghalangi jalannya. Namun, tanpa sengaja Stevia menginjak selimut Andreas yang terjuntai ke lantai. Alhasil Stevia terjatuh dan selimut itu tertarik bersamanya. Andreas pucat pasi saat selimut tersebut telah berpindah tangan pada Stevia.
Apalagi Stevia, dirinya begitu terkejut saat menyadari selimut itu basah dibagian tengah. Ia mendongak keatas dan menatap Andreas dengan penuh keheranan.
" Ohhhh..Andreas kau masih.."
Muka Andreas sudah merah padam saat ini. Malu? Jelas. Apalagi didepan wanita yang menjadi rivalnya.
" Iya, memangnya kenapa? Apa kau sudah puas!! "
Bentaknya seketika lantaran kesal. Iapun segera masuk ke kamar mandi meninggalkan Stevia yang masih terpaku tak percaya.
" 24 tahun dan masih..."
Wanita itu berpikir jika Andreas masih seperti anak kecil yang suka ngompol. Pikirannya masih jauh dari hal-hal yang semacam itu ya teman-teman. Bukan tidak tahu tapi belum terlintas sampai kesana.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima dan vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...