Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
MAKAN DI LUAR


__ADS_3

Setelah rapat berakhir, Andreas menemui Stevia yang kebetulan selesai memberikan salam penghormatan untuk para pengusaha yang hadir. Pria itu tersenyum simpul saat tanpa sengaja Stevia menyadari keberadaannya. Iapun mendekati wanita itu setelah kepergian para tamu.


" Aku ingin berterimakasih padamu. Berkat kau perusahaan kita telah menemukan mitra terbaik untuk pembangunan proyek kita kedepannya. " tutur Andreas tulus.


Stevia membalas senyuman tersebut dengan senyum manisnya.


" Kau tak perlu berterima kasih. Semua pilihan ada ditanganmu. Tapi, aku sangat setuju bahwa perusahaan Green Field merupakan perusahaan memang sangat kompeten. Mereka telah banyak membangun hotel, mall maupun apartemen mewah di dalam bahkan sampai ke luar negeri. Peralatan merekapun canggih dan bahan bangunan yang dipakai merupakan bahan berkualitas terbaik. " terang Stevia panjang lebar.


Andreas terkekeh mendengar penuturan Stevia.


" Kau lebih mirip bintang iklan yang sedang memasarkan produk. Kau tak perlu menjelaskan sampai sedetail itu padaku.Aku sudah membaca data-data yang kau berikan, dan itu sesuai dengan apa yang telah dipresentasikan mereka barusan." sahut Andreas.


Stevia merona, baru kali ini Andreas tertawa kepadanya. Bukan tawa mengejek melainkan memuji dirinya.


" Baiklah, aku minta maaf jika penjelasanku tadi mampu merusak gendang telingamu. Kalau begitu aku permisi kembali keruanganku. " candanya sembari berpaling meninggalkan Andreas.


Pria itu menarik tangan Stevia ketika hendak meninggalkannya.


" Maukah kau makan siang diluar bersamaku setelah ini? Anggap saja sebagai ucapan terima kasih atas bantuanmu tadi. "


Stevia terbelalak seketika, ia tak percaya dengan apa yang baru saja Andreas katakan.


" Apa?! Dia mengajakku makan malam diluar?! Apa tidak salah? Apa otaknya sudah terbalik sekarang? Ya Tuhan.. Apa aku tidak sedang bermimpi? " Rutuknya hingga tanpa sadar ia memukul kedua pipinya.


Andreas mengernyitkan dahi karena heran melihat sikap Stevia,


" Kau kenapa?"


Stevia terbangun dari lamunannya, wanita itu salah tingkah saat menyadari apa yang baru saja dilakukannya.


" Oohhh...aaahhh...aku tidak apa-apa. Kupikir ada lalat yang menempel. I, iya begitu. " ia tersenyum kikuk.


Andreas jadi ikut salah tingkah, entah mengapa dirinya jadi gugup menghadapi Stevia, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Ya sudah, kau kembalilah keruanganmu dan aku akan kembali keruanganku. Nanti aku menunggumu di parkiran. " Andreas melangkah pergi. Keduanya berjalan berlawanan arah.


Stevia merasa ada yang aneh dengan pria tersebut.


" Andreas tunggu! "


Andreas menoleh kembali,


" Bukankah kau seharusnya berjalan ke arah sana. Ruangan kita searah." Stevia menunjukkan arah yang benar.


Andreas merona saat menyadarinya, ia terkekeh mengingat tingkahnya sendiri.


" Iya kau benar. Seharusnya kita sama-sama kesana. " ia segera menghampiri Stevia. Keduanyapun berjalan beriringan menuju ruangan masing-masing.


Cecile yang sengaja menguping pembicaraan keduanya merasa kesal. Apalagi dari sikap Andreas sepertinya lelaki tersebut mulai tertarik pada Stevia.


" Ini tidak bisa dibiarkan. Wanita itu harus segera disingkirkan sebelum Andreas benar-benar menyukainya. Aku harus melaporkan semua ini pada Stefan. "


****


Jam kantor telah berakhir, Andreas menunggu Stevia di depan mobilnya. Pria itu membenahi penampilannya dari balik kaca spion.

__ADS_1


Tak berselang lama, Stevia tiba juga disana. Andreas membukakan pintu untuk istrinya lalu iapun masuk kedalam mobil.


" Kita mau kemana?" tanya Stevia penasaran.


" Yang pasti kau akan suka dengan tempat yang kupilih nanti. " Andreas hanya memberikan klu pada wanita tersebut.


Stevia mencebikkan bibirnya, tetapi dirinya pasrah kemanapun Andreas mengajaknya saat ini.


Mobil melaju cukup jauh hingga meninggalkan hiruk pikuk keramaian ibukota. Stevia bahkan sampai tertidur karena lelah. Pria itu membangunkannya saat telah tiba di tempat yang ia maksudkan tadi. Ia menggoyang-goyangkan bahu Stevia.


" Vie, bangunlah. Kita sudah sampai."


Stevia mengeliat saat merasakan pergerakan pada tubuhnya. Ia mulai mengerjapkan mata untuk meraih kesadaran. Wanita itu memperhatikan sekeliling, tempat itu masih asing baginya.


Tampak olehnya sebuah restoran dengan konsep terbuka. Posisi restoran tersebut membelakangi sebuah pegunungan yang asri. Jadi kita bisa menikmati pemandangan sambil menyantap makanan yang tersedia.


Dibeberapa tempat terdapat berbagai tanaman hidroponik yang nampak begitu segar. Andreas mengajak Stevia berkeliling sebentar untuk melihat perkebunan hidroponik yang ada disana.


" Untuk apa kau membawaku sampai jauh-jauh kesini? Bukankah kita tadi hanya berniat untuk makan diluar? " tanya wanita itu heran.


Ia bukannya tak suka, tetapi rasanya sungguh aneh, seorang Andreas Dirgantara repot-repot membawanya kesini jika bukan karena sesuatu yang penting. Apalagi ini bisa dibilang luar biasa, yang ia tahu selama ini Andreas sangat membencinya.


" Apa kau suka tempat ini?"


Buru-buru Stevia menganggukkan kepala. Sejujurnya dirinya memang suka tempat berhubungan dengan alam yang sangat sulit ditemukan di ibukota.


Andreas tersenyum, ia mengusap kepala Stevia karena gemas.


Stevia terkesiap, ia masih bingung dengan perubahan Andreas yang berbanding terbalik dengan biasanya.


" Apa ini? Senyumnya manis sekali. Ohhh..dia mengusap rambutku. Bukankah itu yang sering ia lakukan pada Ce- cile?" ribuan pertanyaan tertanam dikepala Stevia.


Seorang pelayan mendekati mereka, ia memetikkan sayuran apa saja yang mereka pesan langsung dari pohonnya. Stevia begitu senang, tempat ini sangat cocok baginya yang merupakan seorang vegetarian. Baru kali ini dirinya menemukan tempat seperti ini.


Keduanya duduk di gubuk lesehan yang telah disediakan. Stevia memandang hamparan perkebunan dan menikmati semilir angin yang menyapu wajahnya. Andreas tersenyum seorang diri menyaksikan tingkah lucu istrinya.


" Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu? " sarkas Stevia saat menyadari Andreas tengah tersenyum ke arahnya.


Andreas gugup, ia tak menyadari jika wanita itu memperhatikan tingkah lakunya.


" Ti, tidak. Aku hanya senang melihatmu menikmati tempat ini. Kurasa ini cukup bukan untuk membalas kebaikanmu tadi siang? " Andreas mencari-cari alasan.


Stevia tersenyum balik,


" Terima kasih. Aku sangat menyukai tempat ini. " keduanya saling melempar senyuman.


Makanan pesanan mereka akhirnya tiba, netra Stevia berbinar melihat sayuran hijau yang tampak masih segar. Ia mencoba menyuapkan sayuran tersebut ke mulutnya,


" Eeumm...tingkat kematangannya pas. Terkadang ada yang memasak terlalu matang, jadi mengurangi kandungan gizi didalamnya." jelasnya sambil mengunyah sayuran di mulutnya.


Andreas tersenyum, ia membersihkan ujung bibir Stevia yang belepotan dengan ujung jarinya. Stevia tertegun saat pria itu menyesap kembali ujung jari yang dipakai membersihkan mulutnya tadi. Itu artinya ia berbagi a-ir liurnya bersama An-dreas.


" Oh..apa maksud dari semua ini? " batinnya masih bertanya-tanya.


Keduanya telah menghabiskan makanan mereka dan memutuskan untuk kembali ke kota. Jika orang yang benar-benar kelaparan, pasti ia akan pingsan karena harus menempuh perjalanan sejauh ini. Belum lagi, mungkin perutnya akan kembali keroncongan saat tiba dirumah kembali.

__ADS_1


Andreas mulai melajukan mobilnya keluar dari restoran. Ia mendongak keatas, langit terlihat mendung gelap malam ini.


" Sepertinya akan turun hujan, kita harus buru-buru pulang. Jalanan disini sangat licin saat hujan. " terangnya dengan raut wajah nampak cemas.


Stevia hanya mengangguk, mana ia tahu bagaimana perjalanan tadi? Sementara dirinya hanya tidur saja selama perjalanan.


Derrr...Derrr....


Bunyi petir mulai menyambar, hujan tiba-tiba turun begitu lebat. Stevia merasa takut lantaran malam begitu pekat dan derasnya hujan menghalangi jarak pandang mereka.


Andreas cukup hati-hati dalam melajukan mobilnya, ia merutuki cuaca yang sangat tidak mendukung menurutnya. Seharusnya Stevia senang, tapi nyatanya wanita itu tampak ketakutan saat ini.


" Kau jangan cemas. Kita pasti akan sampai kerumah dengan selamat. " ucapnya menenangkan.


Stevia mengangguk, setidaknya saat ini dirinya sedang bersama Andreas.


Citz..Citz ..Citz...


Tiba-tiba mobil berhenti dengan sendirinya. Andreas merasakan ban mobilnya tak seimbang.


" Sepertinya ban mobilku kempes, aku akan memeriksanya sebentar." Andreas membuka jasnya dan berniat hendak turun, tetapi Stevia menggelayuti lengan kemejanya.


" Tunggu. Aku ikut denganmu." pinta Stevia memelas. Ia takut sendirian dengan suasana seperti ini.


" Pakaianmu akan basah nanti. Lebih baik kau didalam saja." bujuk Andreas.


Stevia tak berani melawan saat Andreas menatap penuh ketegasan. Perlahan ia melepaskan tangannya dari lengan baju Andreas.


Pria itu keluar. Benar saja, salah satu ban mobilnya kempes terkena paku jalanan. Dirinya bingung dengan apa yang harus ia lakukan sebab disana jauh dari perkampungan.


Buru-buru ia masuk kedalam mobil dan menelpon Papanya untuk menyuruh orang menjemput mereka disana.


" Maafkan aku. Kau pasti tidak nyaman dengan semua ini. Tapi tenang saja, anak buah Papa akan segera menjemput kita kesini. " ia kembali menenangkan.


Stevia mengangguk pelan, lama keduanya terdiam sambil menatap kesisi jalan. Suasana hening, keduanya nampak diam seribu bahasa dengan pikiran menerawang tak menentu.


Derrr...Deerrrrr...


Tiba-tiba suara petir kembali menggelgar. Stevia langsung berteriak ketakutan dan tanpa sadar memeluk tubuh Andreas.


" Andreas aku takut. "


Wanita itu menyembunyikan kepalanya di balik bahu lelaki itu. Stevia perlahan mengangkat kepalanya, nampak olehnya Andreas yang tengah menatap kearahnya.


Pria itu tiba-tiba mendekatkan wajah kearahnya. Ia menarik dagu Stevia dan mencium bibir ranum yang sedari dulu selalu menggodanya. Tubuhnya yang basah seolah mendapatkan sentuhan hangat dari pelukan Stevia.


Awalnya Andreas ragu, namun ternyata Stevia justru membalas ciumannya. Itu artinya Stevia telah memberi lampu hijau kepadanya.


Suasana yang dingin ditambah derasnya hujan membuat keduanya terlarut dalam perasaan. Stevia tak peduli, ia menepis jauh-jauh pikiran buruknya terhadap Andreas. Nyatanya, iapun memang benar-benar menginginkan sentuhan lelaki itu.


Keduanya saling mencurahkan hasrat yang terpendam selama ini. Menikmati sentuhan bibir satu sama lain.


Saat tengah terbuai dalam ciumannya, tiba-tiba sorot mobil menyilaukan pandangan keduanya. Buru-buru keduanya melepaskan pagutan dan saling berjauhan satu sama lain. Stevia merutuki kebodohannya barusan.


" Bodoh sekali kau Stevia. Dia bahkan belum menyatakan perasaannya kepadamu."

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya untuk karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...


__ADS_2