Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
BERSEMBUNYI


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari. Stevia mulai tersadar, wanita itu mencoba untuk duduk, tapi kepalanya masih terasa berat.


Andreas hanya memandanginya dari kejauhan, pria itu telah terlihat rapi dini hari begini. Ia telah membersihkan diri dan membasahi rambutnya untuk mendinginkan kepala setelah menuntaskan hasratnya.


Andreas sama sekali tak bisa tidur malam ini. Bagaimana tidak? Sudah berkali-kali ia menutup tubuh Stevia dengan selimut, tapi wanita itu selalu menendang selimut yang dipakainya.


Akibatnya tubuh Stevia yang molek terpampang nyata dihadapannya. Ingin rasanya ia berpaling, namun netranya selalu menuntunnya untuk melihat pemandangan indah itu.


Sungguh dirinya begitu tersiksa malam ini. Sesekali ia menyesap rokok diluar ruangan lalu kembali ke kamarnya sambil membaca koran untuk mengalihkan pandangannya.



Stevia mulai berdiri, tapi kini perutnya terasa diaduk-aduk. Rasa mual menyeruak dalam tubuhnya, wanita tersebut bergegas menuju kamar mandi untuk mengeluarkan isi dalam perutnya.


Uuwweeekk....Uuwweeekkk...


Rasanya sungguh lega bisa mengeluarkan isi perutnya. Kepalanya mulai terasa ringan dan rasa pusingnyapun sudah sedikit berkurang. Ia melangkah keluar dari kamar mandi hendak kembali menuju ranjang. Namun, langkahnya terhenti saat terdengar suara seseorang yang menyindirnya.


" Heuh,, menjijikkan sekali. Kamar mandiku pasti sudah sangat bau karenanya. "


Netra Stevia mencari dari mana arah sumber suara. Dirinya begitu terkejut saat melihat sosok laki-laki berada dalam kamarnya. Pria itu menutupi wajahnya dengan koran.


" Hei,, siapa kau? Berani-beraninya masuk kesini ! " bentaknya sembari merapikan pakaiannya yang acak-acakan.



Dirinya jadi teringat tadi bangun dengan pakaian yang semrawut dan bawahannya yang sedikit terangkat keatas.


" Apa jangan-jangan semalam?? " wanita itu terbelalak seketika membayangkan apa yang terjadi pada dirinya semalam.


Ia jadi teringat semalam ia mabuk bersama Tomy. Jangan-jangan pria tersebut adalah...


Baru saja ia mengira-ngira, pria itu ternyata telah melipat koran yang dibacanya.


" An-dreas? Ka-u ?"


Ini sungguh diluar dugaannya. Jadi semalam dirinya bersama Andreas? Tapi, bagaimana bisa? Bukankah dia pergi ke club bersama Tomy? Pertanyaan demi pertanyaan mulai bermunculan di kepalanya.


Andreas menyeringai, perlahan ia berjalan mendekati Stevia yang masih terdiam merangkai segala asumsi-asumsinya. Pria itu bersendakap dan berdiri dihadapan Stevia.


" Kenapa? Heran? " sindirnya kembali.


Stevia sangat gugup kali ini, apalagi dengan kondisinya yang masih acak-acakan sehabis bangun tidur.

__ADS_1


" Katakan? Bagaimana bisa kau masuk kesini? Dasar pria tak punya sopan santun. " ucapnya sembari memalingkan wajah karena malu.


Andreas justru tertawa menanggapi pertanyaan darinya.


" Culun...Culun..Cobalah cuci mukamu terlebih dahulu. Sepertinya kau masih belum bangun dari mimpimu. Lihatlah baik-baik. Dimana kau berada saat ini. " ejek Andreas untuk kesekian kalinya.


Netra Stevia berputar mengelilingi seluruh ruangan. Dirinya baru sadar bahwa saat ini ia sedang tidak berada dikamarnya. Dirinya benar-benar malu saat ini.


" Kenapa kau membawaku kesini? A-pa yang terjadi pada kita semalam?" tanyanya sedikit berputus asa.


Entah kenapa Stevia memiliki firasat buruk tentang dirinya. Ia mabuk dan kehilangan kesadaran, sementara sekarang dirinya ternyata bersama seorang pria dalam satu kamar. Ia tak tahu apa yang telah dirinya dan lelaki itu lakukan semalaman.


Andreas terkesiap mendengar pertanyaan tersebut. Memang, telah terjadi apa-apa bahkan hampir tak terkendali. Namun, dirinya berusaha bersikap tenang dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa padanya dan Stevia.


" Apa yang terjadi pada kita katamu? Jangan terlalu percaya diri, Culun. Bukankah sudah berkali-kali kukatakan bahwa aku tidak akan pernah tertarik padamu?"


" Semalam aku menolongmu. Kau memang sangat bodoh, bagaimana bisa kau mabuk-mabukkan bersama pria yang baru kau kenal. Jika aku tak teringat kau akan menjadi calon istriku? Mungkin aku akan membiarkanmu begitu saja dilahap oleh lelaki tak bertanggung jawab itu. " ucap Andreas beralasan.


Ada sedikit kelegaan dalam diri Stevia, itu artinya Andreas tak berbuat apa-apa padanya. Tapi, ucapan pria itu sungguh membuatnya kesal. Dari nada bicaranya, Andreas seolah menganggapnya wanita yang tidak laku.


" Sabar Stevia..Saabaaar...Andreas memang lelaki tak berperasaan. Tapi tunggu! Mama? Papa? "


Stevia segera mengambil tasnya yang tergeletak diranjang. Andreas hanya mengamati perubahan sikap wanita itu. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Loly, Mama Verra dan juga Papanya.


Andreas jadi terkulik melihat raut wajah Stevia yang berubah pucat. Gurat-gurat kecemasan dan kegelisahan tergambar jelas di wajah cantiknya.


" Kau kenapa? " Andreas ikut penasaran karenanya.


" Mama, Papa dan Loly sudah menghubungiku puluhan kali. Mereka pasti mencemaskanku karena belum pulang kerumah. Aku harus segera pulang. " ia merapihkan rambutnya dan menenteng tas berniat hendak segera pergi.


Namun, tanpa diduga-duga Andreas tiba-tiba menggandeng tangannya dan berjalan didepan.


" Lebih baik aku yang mengantarmu jika kau tidak ingin terkena masalah. " ucapnya dengan tatapan penuh ketegasan.


Stevia mengangguk, ia menuruti perintah Andreas. Entah mengapa pria itu tampak semakin tampan dengan tatapan serius seperti barusan.


" Stevia ingat...Dia pria sombong yang tak pantas mendapatkan cintamu. Jangan pernah mengharapkannya lagi. " batinnya menasehati. Dengan segera ia melepaskan tautan tangan mereka.


" Aku bisa jalan sendiri. "


Andreas berhenti sejenak, sebenarnya ia sangat nyaman saat menggandeng tangan Stevia, tapi ia tak mungkin menghalangi ketika wanita itu merasa tak nyaman bergandengan dengannya.


Saat hendak menuju pintu, tiba-tiba bel apartemen berbunyi. Keduanya saling bersitatap penuh tanya, siapa gerangan yang bertamu dini hari begini?

__ADS_1


Andreas mencoba melihat dari lubang pintu, betapa terkejut dirinya saat mendapati Tomy ada didepan pintu apartemennya. Beberapa kali Tomy memencet bel apartemen, pria itu tampak tak sabar untuk dibukakan pintu.


" Tomy kesini, cepat sembunyi. Jangan sampai dia melihatmu. " perintah Andreas tiba-tiba.


Stevia ikut terkejut mendengar kedatangan Tomy. Ia mengedarkan pandangan mencari tempat yang pas untuk dirinya bersembunyi. Akan tetapi ia tak tahu harus bersembunyi dimana.


" Sembunyi? Dimana? " tanyanya kebingungan.


" Terserah kau saja. Yang jelas jangan sampai ketahuan. " jawab Andreas sekenanya.


Stevia langsung berhambur, karena iapun kebingungan maka dirinya memilih bersembunyi di belakang korden.


Andreas segera membuka pintu, dan mempersilahkan Tomy masuk.


" Membuka pintu saja lama sekali. Kakiku sampai kesemutan menunggu didepan. " gerutu Tomy sambil berjalan dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Ia heran melihat Andreas sudah berpenampilan serapi ini saat dini hari begini.


" Siapa suruh kau kemari. Lagi pula belum tentu juga aku menginap disini. Memangnya ada apa kau mencariku? "


Andreas bersikap sedikit acuh, ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Stevia. Betapa terkejut pemuda itu saat melihat sepatu Stevia terlihat dari balik korden.


Tomy hendak berdiri mengambil minuman di kulkas dekat Stevia bersembunyi, namun dengan segera Andreas mengambil minuman dingin untuknya.


" Tumben kau baik sekali hari ini. Aku sedang sangat kesal sekarang. Semalam aku pergi ke club bersama Stevia. Gadisku itu mabuk, saat aku tinggal ke toilet ada laki-laki yang mengaku suaminya membawanya pergi. Semalaman aku mencari tapi tak kunjung menemukannya. Jika sampai ketemu akan kuhajar pria itu hingga babak belur." ungkapnya kesal.


Stevia sedikit banyak mendengarkan obrolan dua pria itu. Ia tak menyangka jika Andreas mau mengakuinya sebagai istri. Tanpa ia sadari, tangannya menyentuh sesuatu yang bergerak disampingnya. Ia begitu terkejut lantaran tangannya menyentuh seekor kecoa.


" Aaaaa.. .uu" ia berteriak lantaran kaget, namun segera menutup mulutnya saat sadar dirinya sedang bersembunyi.


" Apa itu ? " Tomy hendak berbalik mencari asal suara, tapi dengan cepat Andreas menghalanginya.


" Hei,, Sudahlah itu cuma suara kucing. Tak perlu dihiraukan. " Andreas berusaha menutupi keberadaan Stevia.


" Kucing? Mana ada kucing bersuara seperti itu? Jangan-jangan kau,, " Tomy berpikir sahabatnya sedang berkencan dengan seorang wanita. Sekilas ia melihat sepatu wanita di balik korden.


" Aahhh.. sudahlah. Cepat pergi dari sini. Kau telah merusak acaraku disini. " Andreas menarik tangan Tomy dan berusaha menyeretnya keluar. Pria itu dengan terpaksa keluar dari apartemen sahabatnya.


Otaknya mulai bekerja, ada sesuatu yang janggal menurutnya disana.


" Kenapa sepertinya aku tak asing dengan sepatu itu? Tapi, milik siapa?" batinnya bertanya-tanya.


Bersambung....


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like, koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗

__ADS_1


__ADS_2