Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
STEFAN KABUR


__ADS_3

Stefan duduk terpuruk di pojok ruangannya. Pria itu merasa tertekan, dirinya mulai terkenang lagi tentang masa lalunya.


Ia mulai mengingat kebenciannya kepada Andreas, teringat saat Cecile masih berpacaran dengan adiknya, juga teringat saat Cecile menolaknya hanya demi mendapatkan kembali Andreas.


Kepalanya terasa begitu berat, ia mencengkeram lalu menjambak sendiri rambutnya untuk melawan rasa sakit di kepalanya. Pria itu mengeratkan gigi-giginya karena geram, ia teringat bahwa semua orang begitu menyayangi Andreas.


" Aaaarrrghhhh...."


" Andreas! Andreas! Andreas! Yah, ini semua gara-gara Andreas. Gara-gara Andreas, Cecile jadi meninggalkanku. Andreass, aku harus melenyapkan Andreas. Andreas tidak boleh bahagia. Andreas harus sama sepertiku. " ucapannya melemah di akhir kalimatnya.


Pria itu kembali menangisi kepergian Cecile. Kini dirinya bertekad untuk membuat Andreas harus sama sepertinya.


" Andreas harus sama sepertiku! Andreas harus sama sepertiku. "


Kata-kata itu terus berulang daru mulutnya, hingga pandangannya teralihkan saat seorang suster masuk sambil membawa nampan yang berisi makanan dan obat.


Stefan terdiam sesaat, ia menatap suster tersebut dengan penuh kewaspadaan.


Sang suster tersenyum, ia mendekati Stefan untuk menyapa. Laki-laki itu langsung membuang mukanya,


" Tuan Stefan makan dulu ya. Lalu, setelah itu diminum obatnya supaya lekas sembuh. Mari.." bujuknya sembari menuntun Stefan menuju ranjangnya.


Stefan menurut dan patuh. Pria itu berjalan menuju ranjang bersama sang suster, kemudian menerima sesuap demi sesuap makanan yang diberikan suster tersebut. Setelah itu, iapun meminum obat yang diberikan kepadanya.


" Tuan, anda sangat hebat dan pintar. Sekarang beristirahatlah terlebih dahulu. Jika anda patuh, anda pasti akan segera sembuh. " bujuk suster itu kembali.


Stefanpun menurut, namun pandangannya tak lepas dari suster tersebut. Ia berpura-pura memejamkan mata saat suster menatap kearahnya.

__ADS_1


Suster itu lega, sepertinya Stefan telah beristirahat dengan baik. Ia segera membereskan bekas makan Stefan dan berniat beranjak dari sana.


Saat hendak pergi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Suster itu menaruh kembali bakinya, lalu mengangkat teleponnya terlebih dahulu.


Saat sedang asyik menelpon, Stefan kembali membuka matanya. Pria itu menyeringai licik. Tanpa disadari, ia berjalan perlahan mendekati suster tersebut dan...


" BUUGHHH..."


Suster itu seketika terjatuh tak sadarkan diri.


Stevan mengangkat tubuh suster tersebut dan membaringkannya diatas ranjang. Ia menutupi wanita itu dengan selimut agar semua orang mengira bahwa wanita itu adalah dirinya.


Stefan mengendap-endap dan mencari jalan keluar. Saat itu rumah sakit cukup sepi lantaran hari sudah cukup larut.


Seorang cleaning servis terlihat sedang membersihkan lantai rumah sakit. Dalam sekali pukulan, Stefan berhasil melumpuhkan lelaki tersebut lalu menyeretnya menuju kamar mandi. Ia menukar pakaiannya dengan pakaian lelaki itu dan menyamar sebagai cleaning servis disana.


" Hei, kau mau kemana malam-malam begini?" tanyanya saat melihat seorang cleaning servis hendak pergi.


Stefan berhenti tanpa membalikkan wajahnya.


" Mau pulang, Pak. Sekarang sudah waktunya ganti shif." jawabnya sopan.


Security berjalan mendekat, ia merasa asing dengan lelaki berpakaian cleaning servis tersebut.


" Kau siapa? Kenapa aku baru melihatmu sekarang? " tanyanya penuh selidik. Ia berputar sambil memperhatikan Stefan dari atas ke bawah.


" Saya pegawai baru, Pak. Baru tadi pagi mulai bekerja disini. " jelas Stefan.

__ADS_1


Ucapan Stefan cukup bisa diterima, security itupun membiarkan Stefan keluar dari rumah sakit.


" Sekarang aku akan pulang ke rumah dan membalaskan dendamku pada Andreas. " batinnya menyeringai licik.


...----------------...


Andreas dan Stevia tengah berkumpul diruang tengah bersama Pak Wildan dan Bu Renata. Mereka mulai menyampaikan keinginannya yang mendadak untuk berbulan madu besok.


Yah, Pasangan itu rencananya akan pergi ke kota Ririn bersama Tomy besok pagi. Lantaran kota Ririn berada di daerah Bali, mereka memutuskan untuk sekalian mengambil izin berbulan madu pada Papa Wildan.


" Apa cukup di Bali saja? Apa kalian tidak ingin berbulan madu ke luar negeri misalnya? " Pak Wildan memberikan penawaran.


" Tidak, Pa. Menurutku Bali kota yang romantis, pantai- pantai disana juga terkenal cantik. Lagi pula, tujuan kami yang utama adalah membantu Tomy. Jadi, tidak ada salahnya sekali dayung minum air. " pungkas Andreas.


Pak Wildan mengerti, tentu saja ia menyetujui keinginan anak dan menantunya tersebut.


" Baiklah. Jika itu memang keinginan kalian, Papa setuju-setuju saja. "


Merekapun membubarkan diri, Andreas dan Stevia segera kembali ke kamarnya. Mereka harus bersiap-siap karena besok pagi mereka sudah berangkat menuju bandara.


Tanpa mereka sadari, Stefan ternyata sudah berada dirumah dan mendengarkan pembicaraan mereka.


" Aku tak akan membiarkanmu bahagia. Kaupun harus merasakan apa yang aku rasakan. Jika aku kehilangan Cecile, kaupun harus kehilangan istrimu. Cecile sayang, tenanglah. Sebentar lagi aku akan mengirimkan seorang teman untukmu." tekad Stefan dalam hati.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya...

__ADS_1


__ADS_2