
Heum..Heum..Heum..Heum..
Andreas bersenandung ria sambil merapikan penampilannya di depan cermin. Tentu saja dirinya bahagia hari ini, bagaimana tidak? Semalaman penuh sang istri melayaninya masih ditambah lagi olah raga di pagi hari.
Yah, drama pagi ini sungguh luar biasa menjengkelkan sekaligus menggairahkan bagi seorang Stevia. Ia heran, sekelebat saja dirinya bergerak, Andreas seolah memasang empat mata untuk mengawasi gerak geriknya.
Setelah semalam badannya terasa remuk digempur habis-habisan oleh Andreas, dini hari Stevia bangun dan berniat untuk membersihkan diri. Terlebih dahulu dirinya memastikan suaminya benar-benar tertidur supaya kejadian semalam tak terulang kembali.
Stevia lega saat Andreas tak bergeming ketika ia menggerak-gerakkan tangannya dihadapan wajah lelaki itu. Wanita itupun beranjak dan memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai. Dengan tubuh terseok menahan sakit didaerah pangkal paha, ia berjalan menuju ke kamar mandi.
Stevia melucuti pakaiannya kembali, ia memilih berendam air hangat dalam bath up untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya.
Ceklek...
Wanita itu terperanjat ketika melihat Andreas telah berdiri di depan pintu dengan tubuh polosnya. Nampak otot-otot tubuhnya yang kekar serta dada bidangnya yang sudah seperti roti sobek karena sering berolah raga. Pria itu berdiri bak atlet binaraga di depan pintu kamar mandi.
Sesaat Stevia terpana, Andreas terlihat begitu tampan dengan
bentuk tubuhnya yang proporsional. Tapi tunggu, Oh apa itu????
Stevia termangu, dengan segera ia menutup wajahnya saat menyadari apa yang dilihatnya barusan. Semalam dirinya memang melihat, tapi dirinya lebih fokus terhadap sensasi yang ditimbulkan. Namun kali ini, benda keramat itu terpampang nyata di depannya.
Andreas berjalan mendekat, ia berdiri disamping Stevia yang masih menutup matanya. Pria itu berjongkok dan mendekatkan wajahnya pada telinga sang istri.
" Kenapa? Apa kau takut melihat senjata andalanku? Atau ka-u? ingin merasakannya lagi, heum?" godanya pada sang istri.
Stevia benar-benar jengkel, sudah tahu dirinya malu, tetapi Andreas justru lebih gencar menggodanya.
" Andreas, cepat keluar dari sini. Kau benar-benar tak tahu malu. Aku ingin segera mandi, jangan menggangguku lagi. Bukankah aku sudah memuaskanmu semalaman! " rengeknya dengan tetap menutup kedua matanya.
Andreas menyeringai senang, ia kembali berbisik di telinga wanita tersebut.
" Bukankah dulu kau pernah bilang, rasanya pasti menyenangkan bila kita bisa mandi bersama, saling bergantian membersihkan diri dan yang paling nikmat adalah ber-cinta di dalam sana. " godanya kembali.
" I- iya, tapi.. "
Stevia hendak mencari-cari alasan, namun Andreas keburu masuk ke dalam bath up berukuran besar itu.
__ADS_1
Tangannya bergerak nakal mencari-cari sesuatu yang terendam dibawah sana.
Kaki Stevia bergerak tak beraturan, kedua tangannya berpegang erat di pinggiran bath up. Ia mendesah halus sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Ia kembali merasakan gelenyar aneh bernuansa seolah terkena sengatan listrik yang menjalar ke seluruh bagian tubuhnya.
" An- dre-as?!" desahnya pelan menyebut nama sang suami. Ia seperti tak mampu menahan diri merasakan sensasi nluar biasa dari bawah sana.
Andreas menyeringai melihat istrinya yang mulai menggelinjang tak karuan. Wanita itu semakin menikmati permainannya.
" Bagaimana? Asyik bukan? " godanya kembali.
Stevia hanya mengangguk, tubuhnya seolah menuntut untuk mendapatkan yang lebih dari itu.
Andreas segera mengangkat tubuh Stevia keluar dari sana. Ia ingin melanjutkan permainannya di atas ranjang. Lelaki itu menggendong istrinya ala brydal stlye untuk keluar dari kamar mandi sembari menikmati bibir ranum yang menjadi candunya.
Stevia mengalungkan tangannya dileher Andreas. Wanita itu membalas ciuman sang suami dan menikmati alur yang diciptakan lelaki itu didalam mulutnya.
Andreas membaringkan tubuh Stevia tanpa melepaskan pagutan mereka. Tangannya kini beralih di benda kembar yang sangat terasa pas dalam genggamannya.
Tubuh Stevia semakin bergelora saat Andreas mengelus lembut bagian perutnya.
" Sa-yang. Ayo cepatlah. " ia sudah tak mampu menahan diri. Kedua tangannya menjambak rambut Andreas lantaran tak tahan dengan gairahnya yang sudah hampir membucah.
" Aku mencintaimu, Stevia." bisik Andreas setelah memperoleh pelepasannya.
" Kau curang Andreas. " wanita itu tersenyum simpul meskipun ia kesal suaminya berhasil mengerjainya kembali.
***
" Tolong pakaikan. "
Andreas tersenyum sembari menyodorkan dasinya pada Stevia yang masih terduduk di atas ranjangnya. Wanita itu hari ini terpaksa meliburkan diri lantaran ulah suaminya yang telah menggempurnya habis-habisan tadi.
" Kau ini kebiasaan, memakai dasi sendiri saja kau belum bisa." Stevia mencebik kesal, tetapi tetap dengan telaten ia memakaikan dasi sang suami lalu merapikan jasnya.
" Padahal aku masih ingin sekali bekerja ke kantor bersamamu. " tambahnya dengan raut kekecewaan. Saat ini dirinya masih begitu bersemangat untuk bekerja.
Andreas tersenyum seraya mengelus puncak kepala istrinya,
__ADS_1
" Sudahlah. Hari ini kau beristirahat saja, kau bisa bekerja lagi besok. Akupun akan pergi keluar kantor hari ini, aku akan meninjau lokasi proyek yang sudah mulai digarap oleh Greenfield. Semoga semua berjalan dengan lancar." terangnya pada sang istri.
Stevia bisa mengerti kesibukan suaminya sekarang, ia senang sepertinya Andreas mulai serius dalam pekerjaannya.
" Baiklah. Hati-hati dijalan. Aku?? Mencintaimu. " Stevia masih malu-malu mengucapkan kata tersebut.
Senyum Andreas merekah, hatinya seolah bertabur bunga saat ini.
" Aku juga mencintaimu. " keduanya berciuman sekilas sebelum Andreas beranjak.
Stevia memperhatikan kepergian sang suami, tetapi dirinya teringat sesuatu ketika Andreas telah mencapai ambang pintu.
" Tunggu?!Apa kau sudah memeriksa file yang kuberikan waktu itu padamu?"
Andreas berhenti sesaat, lalu membalikkan badannya.
" Aku hampir terlupa, sayang. Hari ini sepulang dari peninjauan aku pasti memeriksanya. Beberapa hari ini aku sangat sibuk, aku belum bisa memeriksa file-file lama. Memangnya file apa yang kau berikan kemarin?" jelasnya pada sang istri.
Stevia tersenyum datar, pantas saja Andreas belum membahasnya sama sekali. Stevia tak ingin jujur, dirinya ingin Andreas tahu dengan sendiri kecurangan Stefan selama ini.
" Nanti kau akan tahu sendiri setelah memeriksanya. Ya sudah, cepatlah berangkat. Jangan sampai kau terlambat lagi seperti kemarin."
ujar Stevia sebelum Andreas menghilang dari pandangannya.
" Semoga semuanya cepat terungkap." batinnya berharap.
Stevia meraih segelas air minum yang tersimpan di nakas. Dirinya ingin tiduran kembali sebelum nanti ia berniat memasak bekal makan siang untuk sang suami.
Ceterrrrr....
" Astagfirulloh hal adzim.. "
Stevia terkejut bukan main saat gelas itu terjatuh dari tangannya. Wanita itu mengelus dada, entah mengapa jantungnya jadi berdetak tak karuan saat ini.
" Ya Tuhan,, kenapa perasaanku jadi tak enak seperti ini? Semoga tidak terjadi apa-apa. " do'anya dalam kecemasan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗