
Lebih dari seminggu lamanya Andreas cidera, Stevia selalu setia merawat dan menemani sang suami serta menyiapkan segala keperluannya.
Sebenarnya pria itu sudah mulai berangsur pulih, tetapi entah mengapa ia nyaman dengan kondisinya yang seperti ini. Ia senang lantaran Stevia selalu memperhatikannya dalam segala hal.
" Culun, apa kau sudah menyiapkan baju gantiku? Tolong bantu aku memakai atasan. " pintanya pada Stevia. Pria itu berjalan menuju walk in closed lalu duduk manis sambil menunggu Stevia datang menghampirinya.
Stevia mencebik kesal, padahal menurutnya tangan Andreas normal-normal saja, hanya kakinya yang mengalami cidera. Akan tetapi, hampir setiap hari pria itu meminta tolong padanya untuk memakaikan pakaiannya. Pria itu lebih mirip seperti baby besar yang manja.
Bukannya ia tak mau, ia kesal sebab Andreas selalu saja menyindir dan seolah ingin menggodanya. Ia selalu keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk mandinya. Memamerkan bentuk otot perutnya yang sudah seperti roti sobek itu dengan alasan meminta Stevia menyemprotkan parfum di badannya.
" Hei,, awas ya jangan sampai kau tergoda padaku. Sejak dulu aku memang sempurna dan banyak dikagumi para wanita." sindirnya pada Stevia.
Wanita itu menatap sinis, Andreas terlalu narsis menurutnya. Akan tetapi, ia akui dirinya memang tergoda oleh pemandangan aurat yang terpampang di depannya. Namun, harga dirinya bisa jatuh jika ia sampai benar-benar menunjukkan ketertarikannya.
" Kalau kau tak ingin dilihat, kenapa kau tak memakai pakaianmu sendiri? Bukankah kedua tanganmu masih berfungsi dengan normal?" sindirnya balik sembari menyemprotkan parfum di badan suaminya.
" Angkat. "
Wanita itu memberi kode supaya Andreas mengangkat kedua tangan kekarnya. Steviapun menyemprot bagian ketiak Andreas, ia sangat menyukai aroma maskulin yang kini menempel ditubuh suaminya. Dengan sengaja Andreas menempelkan ketiaknya tepat dihidung Stevia.
" Kau ini apa-apaan! Kau pikir ketiakmu wangi? " Stevia menyengir seolah kebauan oleh aroma tak sedap ketiak Andreas.
Andreas tertawa lepas melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Stevia.
" Jangan pura-pura. Mana mungkin ketiakku bau. Kau pasti senang kan mencium aroma ketiakku yang wangi? " ejek Andreas sembari menyodorkan kembali ketiaknya kepada Stevia.
Stevia berusaha menjauh dari Andreas. Ia kesal, Andreas selalu saja mengerjainya.
" Ya sudah. Kalau kau terus seperti itu, aku tidak akan memakaikan baju untukmu. Mulai sekarang pakai saja bajumu sendiri. " ancamnya kesal.
Andreas akhirnya mengalah, ia meminta maaf pada Stevia. Wanita itupun mau kembali mendekat kepadanya. Stevia memakaikan kaos untuk Andreas, kini terbersit diotaknya untuk gantian mengerjai lelaki tersebut.
Ia memegang ujung handuk Andreas berpura-pura ingin melepaskannya.
" Kau mau apa! " bentak Andreas dengan wajah gugup.
Andreas segera menjauhkan tangan Stevia agar tak sampai menyentuh barang pusakanya. Belum juga diapa-apakan, wanita itu sukses memberikan sinyal pada yang di dalam sana.
" Bukankah kakimu masih sakit, Andreas. Aku hanya ingin membantu memakaikan bawahanmu. " goda Stevia. Ia mencoba ingin memegang handuk itu lagi, tapi buru-buru Andreas memepis kembali tangannya.
__ADS_1
Keringat Andreas mulai bercucuran, Stevia sukses membuatnya gugup kali ini.
" Jangan macam-macam denganku kalau kau tak ingin menanggung akibatnya. Aku tak akan bisa digoda olehmu." Ancamnya sembari menatap kesal pada Stevia.
Wanita itu merasa tak terima,
" Kau benar-benar aneh, Andreas Dirgantara. Tanganmu normal dan baik-baik saja, tapi setiap hari kau memintaku untuk memakaikan baju padamu. Sedangkan kakimu? Aku yakin kau pasti kesulitan untuk memakai celanamu. Bukankah itu tidak masuk akal? Atau kau sengaja ingin mengerjaiku atau mungkin justru kau yang ingin menggodaku?" sindirnya pada Andreas.
Tiba-tiba saja Andreas menarik salah satu tangan Stevia. Wanita itu terkejut bukan main, apalagi Andreas menariknya hingga terduduk diatas pangkuan lelaki itu.
Stevia hendak bangkit, tapi Andreas menahan dengan tangan kekarnya.
" Lepaskan aku kau mau apa Andreas? "
Stevia ketakutan, ia tak menyangka ucapannya telah membangunkan singa yang sedang tidur. Ia mencoba memberontak sekuat tenaga, tapi Andreas tak bergeming sama sekali.
" Memangnya kenapa kalau aku menggodamu? Akupun berhak melakukan hal yang lebih dari ini kepadamu! " tegasnya pada Stevia.
Andreas mencondongkan tubuh Stevia, lalu dengan brutal melahap bibir wanita tersebut. Stevia berusaha melawan, ia sangat tidak suka jika dipaksa seperti ini. Dirinya mencoba mendorong dada Andreas, namun tenaganya sama sekali tak berarti.
Pria itu semakin memperdalam ciumannya, memaksa Stevia untuk membalas ciuman tersebut. Setelah beberapa lama, pria itupun mengakhiri ciuman brutalnya.
Netra keduanya saling bersitatap, nampak oleh Andreas kedua bola mata Stevia yang kini berkaca-kaca akibat ulahnya.
PLAKK...
Sebuah tamparan keras mendarat disalah satu pipinya. Dirinya tak menyangka Stevia akan menamparnya seperti ini. Ingin rasanya ia membalas, tapi hatinya luluh saat melihat wanita itu berlinang airmata. Andreas mematung, dirinya hampir tersungkur saat Stevia mendorong tubuhnya kasar.
" Aku sangat membencimu." ucapnya penuh kekesalan. Iapun berlari keluar dari dalam walk in closed.
Andreas masih terdiam sambil memegangi pipinya yang terasa nyeri. Pria itu merasa bersalah, tidak seharusnya ia memperlakukan Stevia seperti barusan. Ia berdiri kemudian memakai setelannya lengkap. Dengan segera Andreas keluar dari walk ini closed dan berniat untuk meminta maaf pada Stevia.
Stevia terlihat meringkuk diatas ranjang, ia rasa sepertinya Stevia masih menangis karena ulahnya barusan. Ragu-ragu ia berjalan mendekat kearah ranjang dan dan duduk di tepi ranjang yang berseberangan dengan istrinya.
Sakit hati? Tidak perlu ditanyakan lagi. Wanita mana yang tidak terluka jika diperlakukan kasar seperti barusan. Padahal, jika saja Andreas mau bersikap lembut, bukan tidak mungkin iapun mau memberikan ciumannya dengan sukarela kepada sang suami.
" Mainan yang dibelikan oleh ayahnya?"
Kata-kata itu seakan selalu menggema ditelinga Stevia. Pria itu hanyalah menganggapnya sebagai sebuah mainan yang bisa ia perlakukan seenaknya. Sebegitu rendahnyakah dirinya dimata Andreas? Pria itu berhasil mencabik-cabik perasaannya.
__ADS_1
Stevia menangis tersedu, ia merasa teramat sakit hati kepada Andreas. Lamat-lamat, ia mendengar pria itu mendekat dan menyebut namanya.
" Stevia, maafkan aku. Aku telah berlaku kasar padamu. Jujur, aku sangat kecewa karena kau mau menikah denganku hanya demi uang." jelasnya pada Stevia.
Perlahan Stevia bangun, rasanya ia ingin membalas sakit hatinya pada Andreas. Hatinya masih berliput amarah pada pria yang berstatus sebagai suaminya saat ini.
" Iya. Aku memang menikahimu hanya demi uang. Aku tidak pernah mencintaimu sama sekali. Dari dulu dan sampai kapanpun aku juga membencimu! Kau pria sombong dan arogan yang suka memaksakan kehendak semaunya sendiri! Aku pasti akan membuatmu menyesal suatu saat nanti. " ujarnya penuh kebencian.
DEG..
Ucapan Stevia setajam pedang yang mampu menembus hingga ke jantung Andreas. Ucapan yang hampir sama seperti peristiwa beberapa tahun yang lalu saat ia bersama Cecile dan teman satu geng mereka membuli wanita itu dan menjatuhkannya ke dalam got.
Benar sekali pemikirannya selamaini, Stevia tetap sakit hati padanya sama seperti dulu. Entah mengapa hatinya terasa sakit mendenfar ucapan wanita itu barusan. Perlahan Andreas bangkit dan berniat meninggalkan kamarnya saat itu juga.
Tok...Tok..Tok...
Suara ketukan pintu berhasil mengalihkan fokus keduanya. Stevi segera menghapus airmatanya, ia tak ingin pertengkaran mereka diketahui oleh orang lain.
Andreas berjalan menuju pintu, ia membuka pintu tersebut untuk memastikan siapa diluar sana.
" Tuan. Anda dan Nona ditunggu dibawah untuk sarapan bersama. " ucap salah satu pelayan disana.
Andreas mengangguk, ia melihat Steviapun telah beranjak dari ranjang dan berjalan kearah pintu. Keduanyapun menuju ke ruang makan dan berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa.
Pak Wildan lega melihat keduanya kompak menuju ruang makan. Setelah seluruh anggota keluarga lengkap, mereka mulai menikmati sarapan pagi bersama.
Pak Wildan memperhatikan seluruh anggota keluarganya telah menghabiskan sarapan paginya. Ia ingin mengumumkan sesuatu pagi ini.
" Papa ingin menyampaikan keputusan Papa. Mulai bulan depan, Papa akan mengangkat Stevia sebagai CEO perusahaan kita. Papa sudah tak ingin mengharapkan Andreas yang dari dulu hanya mengulur-ulur waktu saja. Stevia apa kau sudah siap untuk memimpin perusahaan? " tanyanya sambil menatap ke arah sang menantu.
Stevia tak menyangka semuanya berjalan dengan secepat ini.
" Aku,,,aku,,. "
Wanita itu terlihat kebingungan dengan situasi yang dirasakannya saat ini. Namun, pandangannya beralih pada pria disampingnya yang kini berdiri dengan tongkatnya untuk menyita perhatian seluruh anggota keluarga.
" Tidak, Pa. Akupun sudah memutuskan bahwa aku akan mengelola perusahaan milik Papa. Setelah kakiku sembuh, bersedia menjadi pimpinan tertinggi disana. " tegasnya penuh keyakinan.
Semua orang benar-benar tak menyangka. Terutama Stevan, ia mengepalkan erat kedua tangannya untuk menahan emosinya. Sebentar lagi rival hidupnya akan menjadi rivalnya diperusahaan keluarga Dirgantara.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlaanya buat karya ketigaku ya. Dukungan kalian semangat author untuk tetap berkarya. Makasih sebelumnya🤗