Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
KEKECEWAAN PAPA WILDAN


__ADS_3

Berita kecelakaan di proyek pembangunan hotel yang baru kini telah sampai ke telinga Pak Wildan. Raihan, mantan asisten kepercayaan telah memberikan informasi itu padanya. Lelaki paruh baya tersebut langsung menghubungi kedua putranya untuk meminta penjelasan. Ia mengundang Stevia dan Andreas untuk datang ke kediamannya.


Semuanya telah berkumpul, Andreas dan Stevia dapat melihat raut kekecewaan yang terpancar di wajah sang Papa.


" Seumur-umur selama Papa bekerja, ini pertama kali terjadi kecelakaan saat proyek pembangunan sedang berlangsung. Papa selalu mewanti-wanti kepada pengelola proyek untuk selalu mengedepankan keamanan pegawai. " pria itu mengusap bulir airmata yang hampir menetes disudut matanya.


Tampak kesedihan diwajah beliau . Pak Wildan memang terkenal begitu baik dan dekat terhadap para karyawannya. Ia juga sangat memperhatikan kesejahteraan dan kenyamanan kerja karyawan.


Andreas rasanya tak mampu mengangkat wajahnya di depan sang Papa. Dirinya malu sekaligus kecewa terhadap dirinya sendiri. Baru sebulan ia bekerja, kini dia telah melakukan kesalahan yang cukup fatal meskipun tidak secara langsung.


" Maafkan aku, Pa. Sepertinya aku memang belum becus mengurus sebuah perusahaan." sesal Andreas.


Stevia terkesiap mendengar ucapan suaminya, ia menggenggam tangan Andreas untuk menguatkan. Hatinya ikut berduka melihat Andreas yang sedang terpuruk saat ini.


Stefan menyeringai, dalam hati dirinya puas dengan keadaan seperti ini. Meskipun ia gagal menghabisi Andreas, namun ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjatuhkan adiknya.


" Seandainya kau mendengarkanku waktu itu. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Aku tahu Greenfield memiliki kemampuan teknik yang bagus dan modern, tetapi kita tidak tahu bagaimana kinerjanya di lapangan. Sedangkan Oxford, sudah dua tahun mereka menjalankan proyek kita namun mereka belum pernah mengecewakan perusahaan." Stefan semakin menyudutkan Andreas.


Stevia sungguh geram rasanya, Stefan seperti serigala berbulu domba. Di depan ia bersikap baik, namun dibelakang dirinya sengaja ingin menjatuhkan. Tentu saja Oxford mendapat kepercayaan penuh, sebab Stefan selalu menutupi kejelekan perusahaan itu.Jika saja kondisinya tidak sedang kalut seperti ini, ingin rasanya ia membongkar kecurangan lelaki itu selama ini.


Bu Renatapun sebenarnya ikut kecewa terhadap Stefan. Stefan bukannya membela sang adik, tetapi justru semakin memojokkannya. Namun,dirinya masih bisa memaklumi. Mungkin ucapan Stefan benar, hanya saja diwaktu yang kurang tepat. Lagi pula Stefan telah memiliki pengalaman kerja lebih lama dibandingkan Andreas.


Bu Renata berdiri dan menghampiri Pak Wildan. Ia mencoba menetralkan suasana.


" Sudahlah, Pa. Ini semua sudah terjadi dan lagi pula hal ini bukan sepenuhnya salah Andreas. Yang terpenting adalah mencari tahu bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi. Jika memang ini kelalaian Greenfield, maka kita harus mengambil tindakan tegas dan menghentikan kerjasama dengan mereka. "


Pak Wildan mengangguk setuju, ia mulai terpengaruh perkataan Stefan.


" Benar. Jika memang Greenfield terbukti melakukan kelalaian, kau harus dengan tegas menghentikan kerjasama kita dengan mereka. Kau bisa mencoba untuk bekerjasama dengan Oxford seperti usulan kakakmu. Dia lebih berpengalaman dibandingkan denganmu." perintah Pak Wildan.

__ADS_1


Andreas tersenyum datar, ia mencoba menerima keputusan Papanya. Lelaki itu berdiri gontai, ia seolah menjadi lelaki tak berguna saat ini.


" Baiklah, Pa. Jika memang itu keputusan Papa. Akupun siap untuk mengundurkan diri jika memang kinerjaku dianggap kurang kompeten. Permisi. " Andreas langsung berpamitan dan pergi dari kediaman orang tuanya.


Stevia segera menyusul sang suami, ia tahu Andreas sedang kalut saat ini. Ia harus menyemangati lelaki itu, jangan sampai Andreas kembali seperti dulu.


***


Stevia segera menyusul Andreas masuk kedalam mobil. Lelaki itu nampak dingin, bahkan dirinya sama sekali tak menoleh pada istrinya. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang menyelimuti keduanya.


Stevia memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.


" Aku harap ucapan Kak Stefan dan Papa Wildan tidak kau masukkan ke dalam hati. " ia mencoba menasehati.


Andreas tersenyum datar,


" Aku memang lelaki tak berguna. Aku sama sekali tidak punya keahlian untuk memimpin perusahaan. Mungkin karena dulu aku terlalu sibuk bersenang-senang dan lupa akan belajar. " jawabnya dingin.


Tiba-tiba saja senyuman Andreas mengembang, raut kesedihan di wajahnya telah sirna sudah. Stevia jadi bingung, suaminya seperti bunglon yang bisa merubah suasana hati.


" Kau pikir aku akan menyerah begitu saja?" ejeknya pada Stevia.


Wanita itu terkesiap,


" Maksudmu? "


Andreas kembali mengembangkan senyumnya.


" Aku harus banyak belajar darimu. Selama ini kau selalu bertindak selangkah lebih cepat didepanku. Tapi kali ini, biarkan aku yang menyelesaikan masalah ini. Aku harus bisa membuktikan bahwa seorang Andreas Dirgantara bukanlah pria yang bisa diremehkan dan direndahkan begitu saja. " jawab Andreas bersungguh-sungguh.

__ADS_1


" Lalu apa rencanamu sekarang? " Stevia penasaran.


" Kita lihat saja nanti. Aku dan Pak Bagas pasti akan segera membongkar kasus ini. "


Jawaban Andreas tak membuat istrinya merasa puas. Wanita itu mencebik kesal lantaran dirinya tak diikutsertakan dalam penyelesaian masalah ini.


" Jadi kali ini, aku sama sekali tak diizinkan membantumu? "


Andreas tiba-tiba saja menghentikan laju mobilnya saat jalanan sepi. Ia menatap Stevia dengan pandangan yang sulit diartikan.


" Tentu saja kau bisa membantuku bahkan peranmu sangat besar, sayang. " ucap Andreas dengan mode menggoda.


Stevia mengembangkan senyumnya kembali,


" Benarkah? Kalau begitu cepat katakan, apa peranku? Apa yang bisa aku bantu untukmu? " tanyanya bersemangat.


Andreas semakin mencondongkan wajahnya pada sang istri, Stevia sedikit memundurkan badannya lantaran curiga.


" Peranmu adalah memuaskanku . Supaya aku lebih bersemangat menuntaskan masalah ini."


Seketika laki-laki itu mencumbu bibir manis yang kini menjadi candu baginya. Stevia mengerti, jadi ini peran yang dimaksud sang suami. Iapun membalas ciuman itu hingga keduanya saling memagut cukup lama.


Tangan Andreas mulai menggesek -gesek dress milik istrinya. Wanita itu seketika memukul tangan suaminya saat pria itu hampir menyentuh area terlarangnya.


" Jangan disini. Kita lanjutkan dirumah saja." mohonnya pada Andreas. Ia melirik sekitar, takut jika ada yang sedang memperhatikan.


Keduanya saling melempar senyum, Andreas kembali melajukan mobilnya. Dirinya tak sabar untuk kembali menikmati indahnya surga dunia untuk kedua kalinya. ( Maklum pengantin baru wkwkwk...)


Bersambung...

__ADS_1


Maaf ya selanjutnya bayangkan sendiri😁 soalnya sudah mau memasuki bulan puasa. Author mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila dan pasti banyak salah kata yang kurang berkenan dihati pembaca sekalian. Ini semua hanya sekedar hiburan saja, tolong jangan dibuly apalagi dimasukkan hati.


Akhir kata, Author ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankannya. Jangan lupa sedekah like, koment, rate n vote seikhlasnya buat karya Author. Makasih sebelumnya🤗


__ADS_2