Terbelenggu Cinta Si Culun

Terbelenggu Cinta Si Culun
PENGGANGGU


__ADS_3

Warning...Dibaca setelah buka ya...atau sebelum sahur wkwkwk


Pemakaman Cecile telah usai, Andreas dan Stevia segera kembali ke kediaman keluarga Dirgantara. Sedangkan Papa Wildan dan Bu Renata langsung menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan Stefan. Rencananya mereka akan bergantian menjaga Stefan di rumah sakit.


Kini keduanya telah tiba di rumah. Mereka segera membersihkan diri sepulang dari pemakaman dan beristirahat di kamar untuk sementara waktu.


" Apa setelah ini kita juga akan menyusul kerumah sakit? " tanya Stevia yang sedang duduk di depan cermin riasnya.


" Tentu saja. Apa kau mau ikut denganku? Aku sangat mengkhawatirkan kak Stefan. Jiwanya masih terguncang atas kematian Cecile." sahut lelaki itu meminta pendapat istrinya.


Stevia berdiri dan menghampiri suaminya, wanita itu duduk disamping Andreas yang tengah berselonjor di atas ranjang.


" Tentu saja. Aku akan menemanimu nanti. Akupun tak tega melihat keadaan kak Stefan kemarin."


Andreas menyeringai, entah mengapa dirinya rindu sekali menggoda istrinya.


" Benarkah? Tapi kenapa kau tega membiarkan adikku terbengkalai akhir-akhir ini. Apa kau tidak merindukannya juga?" goda Andreas.


Pipi Stevia merona seketika, memang beberapa hari ini mereka tidak melakukan hubungan badan karena fokus mengurus permasalahan keluarga mereka.


" Kau ini?! disaat kak Stefan masih berduka sempat-sempatnya kau membahas masalah itu. " ucapnya tersipu malu.


Lelaki itu tersenyum mendengar jawaban istrinya. Ia menarik Stevia dalam pangkuannya lalu mencumbu wanita tersebut dari belakang.


Stevia mencoba menghindar, namun tubuhnya telah didekap erat oleh tubuh kekar sang suami. Kini, tangan Andreaspun mulai menjamah apa yang ada dibalik pakaian tidur istrinya. Bibirnya bergerak dan menyapu lembut leher jenjang Stevia.


" Aku sangat merindukanmu, merindukan wangi semerbak bunga Lily yang menguar dari tubuhmu. Honey,, jalankan kewajibanmu saat ini. Aku membutuhkanmu. " ucap Andreas setengah mendesah di telinga istrinya.


Stevia mulai terbawa suasana, wanita itu membalikkan badan lalu menatap penuh damba pada si penguasa hatinya.


" Apapun untukmu, sayang."


Keduanya saling mencumbu untuk menuntaskan kerinduan yang tertahan, mungkin baru beberapa hari tapi sudah seperti setahun menurut mereka.


Stevia mulai mengusap lembut dada bidang sang suami tanpa melepas ciumannya. Satu persatu ia membuka kancing piyama lelaki itu hingga menampakkan tubuh Andreas yang begitu athletis. Stevia masih saja terpesona oleh kegagahan seorang Andreas Dirgantara.

__ADS_1


Begitu pula Andreas, lelaki itu semakin terbuai suasana. Apalagi sang istri memang senang sekali memakai gaun tidur seksi di dalam kamar. Ia menarik gaun tidur bertali milik Stevia, dalam sekali tarikan gaun itu meluncur jatuh dan menampakkan apa yang ada didalamnya.


Stevia terkesiap, masih saja dirinya malu menunjukkan kemolekan tubuhnya dari sang suami. Ia melepas tautan bibir mereka dan memalingkan wajah dari sang suami.


Andreas kembali tersenyum menanggapi sikap malu-malu sang istri.


" Jangan bilang kau masih seperti perawan yang akan memulai malam pertamanya. Sepertinya kau kurang pengalaman." godanya kembali.


Stevia tak terima mendengar ejekan Andreas, seketika ia menatap pria itu lalu mengalungkan kedua tangannya dibahu Andreas.


" Kita buktikan, siapa yang lebih berpengalaman diantara kita berdua. Aku yang akan memimpin permainan kali ini. " tegasnya menantang.


Andreas ingin tertawa rasanya, memang ini yang ia harapkan, istrinya semakin agresif. Pria itu mencoba merasakan sentuhan-sentuhan yang dibuat Stevia di bagian-bagian sensitifnya. Arrghhh,, benar-benar dahsyat menurut Andreas. Libidonya langsung naik saat wanita itu memainkan inti miliknya.


" Bagaimana Tuan Andreas Dirgantara? Apa kau masih mau meremehkanku? Atauuu? Kau ingin merasakan yang lebih dari ini. " goda Stevia dengan suara seksinya.


Andreas benar-benar tak tahan lagi,


" Kali ini aku pasrah padamu. Lakukan apapun yang kau mau. Kau yang berkuasa sekarang. "


Saat keduanya hampir mendapatkan kenikmatannya, sebuah panggilan tiba-tiba masuk ke ponsel Andreas. Pria itu menggerutu kesal saat membaca nama yang tertera disana. Ia langsung merijek panggilan dari Tomy.


" Dasar pengganggu." gumamnya kesal.


Stevia tak kalah penasaran, ia menghentikan sejenak aksinya diatas tubuh kekar Andreas.


" Siapa?"


Andreas mengerucutkan bibirnya, sedikit kenikmatannya terganggu akibat ulah sang sahabat.


" Tidak penting, biarkan saja. Aku tak ingin melewatkan saat ini bersamamu." jawabnya dengan tatapan mendamba.


Keduanya kembali melanjutkan aksinya, tapi telepon tersebut kembali berbunyi. Andreas mengacuhkan panggilan tersebut, namun telepon itu berbunyi berkali-kali hingga membuat telinganya risih.


" Siapa? Angkat saja siapa tahu penting. Akuuu-akan tetap melanjutkannya. " jawab Stevia sembari menggigit bibir bawahnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa Andreas mengangkat panggilan itu, Tomy langsung nyerocos begitu panggilannya diangkat oleh Andreas.


" Bro, bagaimana ini? Ririn benar-benar mengundurkan diri. Acara lamarannya dipercepat katanya, minggu depannya ia akan langsung menikah. " ungkap Tomy panik dari seberang telepon.


Andreas mendengus kesal, ia heran padahal Tomy sangat pintar tapi kenapa ia bisa sampai hilang akal mengatasi hal ini.


" Kenapa kau tak menahannya? Sebenarnya kau cinta padanya atau tidak? Lagipula, harusnya kau nyatakan perasaanmu, jadi kau tidak kalah sebelum berperang. " sahut Andreas menasehati.


Tomy menggaruk kepalanya lantaran bingung,


" Ya, ya Bagaimana? Situasinya terlalu mendadak. Aku masih bingung dengan perasaanku. Tapi, sekarang aku baru sadar setelah Ririn meninggalkanku. Bro tolong bantu aku, aku tak mau Ririn menjadi milik orang lain. " ungkap Tomy memelas.


Andreas membuang nafas kasar, namun dirinya terkesiap saat merasakan rangsangan yang mulai mendesak dari sang istri. Ia mencoba untuk tetap menahannya.


" Bro, bagaimana? Apa kau mau membantuku? Aku tidak tahu lagi harus meminta tolong pada siapa selain kau dan Stevia." tutur Tomy kembali.


" Ba-iklah. Aku akan me-nolongmu. Kita pikirkan i-ni nanti saja. " jawab Andreas dengan suara serak menahan hasratnya yang hampir membuncah.


Tomy merasa ada yang aneh dengan suara sahabatnya,


" Bro? Kau kenapa? Apa kau sedang sakit? Tapi, aku masih bingung dengan tindakan yang harus kita ambil selanjutnya. " Tomy masih saja tak mau mematikan teleponnya.


Konsentrasi Andreas benar-bemar ambyar. Ia sudah hampir mencapau puncak kenikmatan. Dirinya sudah tak mau menghiraukan suara Tomy yang berkali-kali memanggil dari balik teleponnya.


Ia segera mematikan panggilan dari Tomy, jangan sampai pria lajang itu jadi kepincut ulah mereka. Andreas dan Stevia kini mendesah hebat setelah mendapatkan kepuasannya.


Wanita itu terjatuh lunglai diatas tubuh sang suami. Andreas tersenyum puas, ia meraih kembali ponselnya lalu mengirim pesan kepada Tomy.


" Dasar pengganggu. Aku pasti akan membalaskan dendamku saat kau sudah menikah nanti. Tentunya, dengan Ririn. "


Tomy membaca notifikasi di ponselnya, awalnya ia tak mengerti maksud Andreas. Tetapi kini dirinya mulai paham.


" Dasar gila. Bisa-bisanya bercinta sambil menelpon. Aku pastikan ponselku akan mati semuanya. Jangan sampai ada pengganggu di malam pertamaku. Thanks Bro,, atas dukungannya. " balasnya sambil tersenyum senang. Ia berusaha menghapus saat otaknya hampir berfantasi membayangkan apa yang dilakukan sahabatnya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya,,


__ADS_2