
Harap dibaca saat sahur ya.. Biar pikirannya tidak travelling kemana-mana.
Andreas dan Stevia kembali ke apartemen mereka. Keduanya sengaja meninggalkan Ririn dan Tomy di tempat kebugaran untuk memberi mereka ruang agar bisa berduaan dan menyelesaikan masalah mereka.
Andreas mendudukkan tubuhnya yang masih berbalut keringat diatas sofa. Stevia berjalan ke dapur dan mengambil dua minuman dingin untuk melepaskan dahaga keduanya.
" Ini. Kau pasti haus." Stevia menyodorkan sebuah minuman untuk Andreas. Kemudian, iapun ikut duduk bergabung disebelah suaminya.
" Menurutmu, apa kau yakin Tomy berani mengungkapkan perasaannya pada Ririn? " tanyanya sembari mereguk air dari dalam botol minumannya.
" Entahlah. Tapi, biasanya dia tak akan mudah menyerah sebelum mendapatkan incarannya. Tomy pria yang ambisius, aku yakin dia tak akan membiarkan Ririn menikah dengan pria lain jika benar ia mencintainya. " pikir Andreas.
Stevia manggut-manggut tanda mengerti. Ia cukup lega jika memang begitu adanya.
" Baguslah. Semoga saja mereka berjodoh. Aku rasa Tomy pria yang tepat untuk Ririn. "
Stevia berniat beranjak dari tempat duduknya. Ia ingin segera mandi dan membersihkan diri setelah berolah raga.
" Tunggu. Kau mau kemana? Kau masih harus menyelesaikan hukumanmu. " cegah Andreas menahan kepergian istrinya.
Stevia mengernyit heran, ia langsung berbalik menghadap sang suami.
" Hukuman? Hukuman apa maksudmu? Aku tak merasa punya dosa padamu. Kecuali kau!" Stevia jadi teringat kejadian di apartemen Cecile waktu itu.
Andreas menyeringai, ia tiba-tiba menarik tubuh Stevia hingga jatuh dan menindihnya. Keduanya saling bersitatap, Stevia mulai bisa membaca gelagat mesum dari suaminya.
__ADS_1
" Hukuman karena kau telah membiarkan orang lain melihat keindahan tubuhmu. Seharusnya kau menunjukkan hal itu hanya padaku." jelas Andreas menatap penuh hasrat pada sang istri.
" A-Andreas aku belum mandi dan berkeringat." Stevia jadi gugup dipandang seperti itu.
" Aku tak peduli."
Pria itu telah berkabut gairah. Perlahan Andreas membuka sweater yang menutup tubuh Stevia. Kini nampak jelas lekuk tubuh wanita itu dengan pakaian olah raga ketat yang memperlihatkan sebagian perutnya yang rata.
Pelan-pelan Andreas menegakkan tubuh istrinya hingga kini nampak jelas olehnya kemolekan sebagian tubuh wanita itu. Ia menyapu perut Stevia yang terbuka dengan bibir dan lidahnya.
******* halus keluar dari mulut sang istri. Stevia merasakan geli yang luar biasa saat pria itu memainkan lidahnya di sekitar sana.
" An-dreas! "
Ia berusaha menyingkirkan bibir itu karena tak tahan dengan rasa geli aneh yang sudah tak karuan. Namun, Andreas justru semakin gencar memberikan sensasi- sensasi sensual pada istrinya.
Pria itu mulai menaikan pakaian atas dan menurunkan bagian bawah. Yah, semua yang ada pada istrinya tak ada yang luput satupun, ia benar-benar menyapunya dengan lidah dan meninggalkan jejak kepemilikan di beberapa tempat yang ia sukai.
Steviapun kini telah berkabut gairah. Awalnya ia menolak, tapi lama-lama aksi Andreas menjadi candu baginya. Raut wajah kecewa dan seolah menuntut nampak diwajahnya saat pria itu secara tiba-tiba menghentikan aksinya.
" An- dreas?! " ia menggigit bibir bawah lantaran malu mengutarakan hasratnya.
" Bagaimana enak bukan?"
Andreas menyeringai, istrinya bahkan sudah basah sekarang. Stevia mengangguk pelan lantaran tak sanggup lagi menunggu lama.
__ADS_1
" Baiklah. Teruslah seperti tadi, agar aku bisa melakukan yang lebih dari ini." sindirnya kembali.
Stevia langsung menarik tubuh sang suami, ia sudah tak tahan menahan gejolak yang hampir membucah. Keduanyapun segera mereguk kenikmatan tiada tara. Andreas rasa ini merupakan hukuman paling menguntungkan baginya.
***
Menjalani rutinitas seperti biasanya, pagi ini Andreas dan Stevia sedang bersiap untuk berangkat kerja. Tentu saja, Andreas nampak cerah dan bersemangat lantaran telah mendapatkan suplemen penguatnya.
Stevia membantu Andreas memasang dasi dilehernya, senyumnya mengembang saat telah berhasil memakaikan dasi tersebut dengan rapi.
" Beres. " ungkapnya senang setelah memastikan penampilan suaminya.
" Siang ini akan diadakan rapat direksi. Aku harap kau bersiap jika seandainya kak Stefan berusaha menjatuhkanmu nanti." nasehat Stevia cemas.
Andreas tersenyum simpul.
" Kau tenang saja. Aku pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk menghadapi semuanya. Asal kau selalu berada disisiku, aku pasti kuat menghadapi semuanya. " sahutnya bersemangat.
Stevia turut senang, Andreas sepertinya tak terbebani dengan apa yang akan terjadi nanti. Memang masalah bukan hanya perlu dipikirkan, namun juga perlu dicarikan solusinya.
Keduanya bersiap menuju kantor, Andreas optimis dalam rapat nanti dirinya telah siap menghadapi kakaknya.
Untung saja dirinya berhasil memasang cctv tanpa diketahui oleh Cecile waktu itu. Ternyata ide yang ia cetuskan berhasil juga.
" Aku tak menyangka wanita itu mengkhianatiku. Jika saja dihatiku belum ada Stevia sekarang, pasti aku akan benar- benar terluka saat ini. " batin Andreas bersyukur.
__ADS_1
Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini ya. Kasih like koment rate lima n vote seikhlasnya buat karya ketigaku. Dukungan kalian semangat author untuk terus berkarya. Makasih sebelumnya🤗